THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
PULANG



Kepulangan Manya disambut tangisan semua anak-anak. Mereka begitu khawatir dengan keadaan ibu mereka. Manya jadi sedih dan memeluk semuanya.


"Sayang, biarkan Mama istirahat ya. Jangan buat Mama cape," pinta Jovan.


Manya di dorong kursi roda. Jovan menunda kembali pindah rumah. Pria itu menemukan sebuah mansion besar yang banyak kamar hingga cukup bagi semuanya untuk menginap. Sampai kamar Manya merebahkan diri. Semua anak ikut berbaring di sisi ibu mereka Ten A, Aislin, Liam, Reece, Tita, Maiz dan Pram. Sedang anak-anak Aldebaran dan Ramaputra menciumi wanita itu juga perutnya.


"Yang sehat ya Dek, kami semua menyayangi kalian," ujar Anwar.


Manya tersentuh, wanita itu mengusap pucuk kepala adiknya itu. Kini semua keluar kamar, hanya tersisa ten A, Reece, Liam, Tita, Aislin Maiz dan Pram. Jovan membiarkan mereka. Maira masuk, Jovan memintanya.


"Mami," Maira mengecup kening menantunya dengan sayang.


"Biar Mami urus suamimu dulu ya. Anak ini memang tidak bisa mengurus dirinya sendiri," ujar Maira.


"Maaf ya Mi, Manya ngerepotin," ujar Manya merasa bersalah.


"Hei ... jangan katakan itu sayang," pinta Maira mengelus pipi menantunya itu.


Jovan memang kepayahan, pria itu hanya mampu menjalankan bisnis dengan sangat baik. Tapi sosok kuatnya tersimpan laki-laki manja, baik pada ibunya terlebih pada istrinya.


Jovan sudah ikut merebahkan diri bersama semua anak-anak. Ukuran ranjang mereka luxurious size benar-benar besar jadi mampu menampung semuanya.


"Papa nggak makan dulu?" tanya Manya pada suaminya. Maira sudah keluar dari tadi.


"Aku belum lapar," jawab Jovan malas.


"Sayang," Manya memohon pada suaminya agar makan.


"Jika kau sakit juga, siapa yang menjagaku?" lanjutnya bertanya.


Maira datang bersama maid yang membawa banyak makanan. Wanita itu memang akan menyiapkan semua di kamar menantunya.


"Ayo semua makan, tadi kata suster kalian belum makan!" titahnya.


Semua bangkit dari ranjang. Jovan membantu istrinya duduk di tempat tidurnya. Ia menyuapi sang istri dan dirinya sendiri. Anak-anak sudah bisa makan sendiri, hanya Aislin yang ingin disuapi oleh Maira.


Usai makan, maid membawa kembali troli berisi piring kotor. Semua kembali merebahkan diri, Manya dipeluk semua anak dan tangan besar Jovan ikut memeluk semuanya.


"Sehat terus ya Ma ... jangan sakit-sakitan lagi," pinta Abraham lirih.


"Iya sayang," jawab Manya menenangkan anak-anaknya..


Sesekali ia mengelus perutnya yang besar, wanita itu cukup terkejut dengan pemeriksaan jika ada tiga janin di kandungannya.


"Sehat terus ya sayang," pintanya lirih.


Sore menjelang, Manya sudah duduk di taman menikmati suasana riuh dan ramainya anak-anak. Bibirnya tak berhenti mengulas senyum lebar. Wanita itu memang sangat menyukai keramaian. Betapa semua adik angkatnya begitu mengurusi semuanya. Bahkan Aqila yang cerewet bisa dilayani dengan sabar oleh semua paman dan bibinya itu.


"Sayang, jika kamu lelah, kamu boleh beristirahat," ujar Amertha pada putrinya.


"Aku bisa lumpuh jika di kamar terus Mom," jawaban Manya membuat Amertha berdecak.


Manya hanya terkekeh, punggungnya sudah panas jika tiduran terus, ia yakin kemarin adalah terakhir kandungannya bermasalah. Wanita itu mengelus perutnya yang sedikit besar.


Malam, rumah Manya kembali.sepi, tapi bukan anak-anak yang sudah pulang melainkan mereka sudah tidur semua. Manya menciumi semua anak sebelum tidur mereka menyambangi wanita itu di kamarnya.


"Selamat malam Ma, selamat tidur," ujar Laila, anak terakhir yang mencium Manya.


"Selamat tidur sayang," sahut wanita itu mengusap pipi kemerahan milik Laila.


Jovan merebahkan dirinya dan membawa sang istri kedalam rengkuhannya. Pria itu menciumi sang istri penuh cinta.


"Aku mencintaimu sayang ... aku tak bisa hidup tanpamu," ujar Jovan jujur.


"Aku juga sangat mencintaimu sayang," ujar Manya.


"Kau melahirkan banyak keturunan untukku. Habis ini lahir, sudah ya ... aku takut sayang," ujar pria itu dengan bibir bergetar.


Karena semua anak yang cepat besar dan ia ingin sekali menimang bayi. Wanita itu nekat program hamil, walau ia tak merencanakan kembar, siapa sangka jika janinnya lebih dari satu.


Pagi menjelang, rencana mengunjungi kebun binatang gagal, semua anak menolak jalan-jalan karena ibu mereka tidak ikut. Mereka menghibur Manya hingga wanita itu senang luar biasa.


"Jangan buat ibumu tertawa berlebihan sayang!" peringat Abraham.


"Tidak masalah Papi," sahut Manya membolehkan semua anak berekspresi.


Sarapan sudah siap. Manya kembali disuapi suaminya. Jovan benar-benar menjaga sang istri. Ia menyerahkan penuh perusahaan pada Praja.


Usai sarapan anak-anak memilih berenang dan bermain. Para bodyguard ikut mengawasi anak-anak.


Ada juga pengawal wanita yang membantu para suster menangani anak perempuan yang sedikit kesulitan menaiki pinggiran kolam.


"Jangan lama-lama di air sayang!" peringat Demira.


"Iya Moma!" sahut semua anak.


Kini baik anak Manya atau anak Amertha juga Maira serta semua anak angkat memanggil Demira dan Aldebaran Moma dan Popa sedang untuk Ramaputra, Abraham, Jovan, Rudi dan Praja dipanggil Papa. Sedang Manya, Maira dan Amertha dipanggil Mama.


"Mama ... Dery nya nih!" adu Neni kesal.


Dery menyipratkan air pada Neni yang tidak berenang. Gadis kecil itu tengah melihat-lihat saudaranya dari pinggir kolam.


"Dery!" peringat Jovan.


"Hanya bercanda Papa," ujar bocah itu.


Jovan hanya menggeleng dan meminta Neni menjauh dari pinggir kolam. Anak-anak menolak tidur siang, mereka masih ingin bermain.


"Babies!" perintah Manya begitu tegas.


"Ayo sayang ... nurut ya," ujar salah satu pengawal.


Akhirnya semua menurut, Manya benar-benar tegas perihal tidur siang. Ia mau semua anak tumbuh kembangnya sempurna.


"Kamu juga istirahat sayang," ajak Jovan pada istrinya.


Manya pun menurut, semua istirahat siang. Para maid bergantian menyiapkan kudapan untuk sore hari.


"Huh ... pegel amat ya. Baru kali ini kerja di keluarga besar," dumal salah satu pelayan sambil memijit pinggangnya.


"Baru juga kerja berapa jam udah ngeluh!" sindir salah satu maid.


"Nih lihat Neneng, dia dari subuh nggak berhenti kerja!" lanjutnya. "Tapi nggak ngeluh!"


"Lagian gaji kita juga setimpal sama kerjaan. Mana ada pembantu yang gajinya tembus sampai lima juta sebulan?" sahut lainnya lagi. "Belum bonus dan reward kalo kita jujur!"


Maid yang mengeluh tadi hanya diam. Memang gaji besar yang ia incar ketika masuk mansion ini sebagai asisten rumah tangga. Tetapi ia tak menyangka pekerjaannya sangat banyak. Walau ada pergantian maid.


"Ayo kerja yang bener. Semakin kita giat, semakin kita dipercaya!' sahut Neneng menyudahi perdebatan.


Pembangunan masjid yang diwakafkan kini dalam proses peletakan batu pertama. Kepala desa setempat yang melakukannya mengatasnamakan nama para orang tua pemberi donor pembangunan masjid.


Sidik melaporkannya pada seven A, sebuah tayangan video ditonton oleh semua anak. Denta, Anton dan Nita datang bersama teman-teman sekumpulan mereka membawa buah tangan untuk Manya.


"Sehat terus ya Tante!" ujar Denta mewakili teman-temannya.


"Makasih sayang," ujar Manya dengan senyum indah.


Wanita itu sangat bersyukur tujuh anak kembarnya memiliki teman sebaik Denta.


Bersambung.


next?