THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
NGAMEN



Bima, Hasan, Bernhard dan Lektor datang bersama anak dan istri mereka. Gerard tentu senang melihat empat sahabatnya itu.


"Bro!"


Mereka berpelukan dan menepuk lengan. Para istri juga saling berpelukan. Rudi datang bersama istri dan dua anak kembarnya. Begitu juga Irham, istri dan putranya.


Para bayi dikumpulkan, Tita, Mai, Raiden, Raichia, Pramana dan Lasyid berusia sama hanya beda hari dan bulan saja. Bayi-bayi itu duduk di atas karpet tebal. Sedang anak-anak Hasan, Bernhard, Lektor dan Bima baru satu tahun setengah. Reece jadi ketua bayi-bayi itu.


"Pom ... atana au nyinyi!" ujar Celia, bayi Lektor.


"Biya ... banti ya ... bawu sipsapin dulu,"


"Siapin baby," ralat Gerard gemas pada adik ipar sepupunya itu.


"Sipasin!" rupanya Reece belum bisa berbicara lancar.


"Belum bisa ngomong, gimana mau sekolah," ledek Hasan.


"Siap ... coba bilang?" ajar Hasan.


"Sisap!" ulang Reece.


"Si!"


"Si!"


"Ap!"


"Ep!" ulang Reece kesal sendiri..


"Ah ... alamat nggak diterima sekolah nih," ledek Hasan.


Hasilnya Reece melempar Hasan dengan bantal kursi. Gerard terbahak melihatnya, balita itu marah pada Hasan yang meledeknya.


"Baby!" peringat Manya.


"Mama ... Less peman peulum pisa," balita itu mau menangis.


Hasan merasa bersalah, ia pun meminta maaf pada bocah belum lima tahun itu.


"Nanti juga bisa kok," ujar Neni, istri dari Lektor.


"Mommy ... tuh udha ndat sisa omon!" sahut Celia juga.


"Iya sayang," sahut sang ibu.


Empat bayi satu tahun berkumpul dengan bayi belum satu tahun. Mereka mengobrol ala bahasa mereka. Triple A menjadi pendengar yang baik. Sedang Liam dan Reece tampak sibuk meminta ayahnya memasang alat karaoke.


"Pita mawu namen Papa!"


"Sabar Baby," ujar Praja.


Rudi membantu Praja menyiapkan mik. Leticia membantu Manya menyiapkan makanan di piring.


"Aku juga bawa kue tart!" ujar wanita itu menyerahkan satu kotak besar.


"Terima kasih, Leti. Ini pasti jadi rebutan anak-anak," sahut Manya senang.


Kue dibuka, Abi melihat kue dengan berbagai warna menarik perhatiannya.


"Mama ... mau buah di atasnya dong!' pinta bocah itu.


Leticia mengambil buah pear dengan garpu. Abi membuka mulut lebar ketika Leticia menyuapkan potongan buah itu.


"Makasih Mama," ujar Abi senang.


"Sama-sama sayang,"


Reece melihat keponakannya memakan buah, ia juga mendatangi Leticia, hampir semua bayi mau buah.


Manya sudah memotong buah dan memberikannya pada para suster agar menyuapi anak-anak.


Reece memegang mik, ia sudah tak sabar menampilkan dan menyanyikan lagu.


"Pemamat malam semuanya!" terkadang balita itu lancar berbicara.


"Atuh atan beunyanyi tan ladhu untut semuana!" lanjutnya lalu menggoyangkan tubuhnya.


"Cicat-cicat silindin ... piam-piam lelayap ... datan setotol manut ... hap ... lalu sitantap!"


Hasan, Bima dan Lektor nyaris menyemburkan kopi yang baru saja mereka minum. Mulut mereka nyaris melepuh karena ketumpahan kopi yang masih mengepulkan asap.


"Astaga ... kukira mereka sudah lancar bicaranya!" protes Hasan.


"Tapi seru mendengar ocehan para bayi ... aku sudah lama nggak denger bayi bicara seperti itu," ujar Bernhard.


Lana mengangguk setuju, ia dan suami tak pernah mengajari bayinya bicara, bahkan keduanya bicara ala bayi pada putra mereka.


"Aku kurang suka dengan bayi yang dipaksa bicara bahasa orang dewasa," lanjut Bernhard.


"Ah ... kau ini, aku juga suka bicara para bayi!" tukas Lektor kesal.


"Halap Om-om semua mempayal seitlasna," tiba-tiba Liam menyodorkan gayung.


Gerard hanya menggaruk kepalanya, Eddie dan Clara tak mempermasalahkan cucu mereka yang memang diluar nalar jika bertindak.


"Kau baru nyanyi satu lagu baby,' sahut Bima menaruh uang satu lembar lima ribuan.


"Nggak salah uangmu itu Bim?" ledek Jovan.


"Ck ... anak kecil nggak boleh pegang uang besar!" sahut Bima sengit.


"Janan peulit Om Pimpa ... tubulanna banti pempit!" sahut Reece di mik.


Semua terbahak mendengar hal itu dan meledek Bima. Mai yang tak suka jika ada suara yang lebih keras dari dirinya langsung berteriak.


"Sanan isit!"


"Eh ... ada bayi galak?" Lektor gemas sekali.


"Ah ...adikmu Jovan, mirip sekali denganmu!" ujarnya.


"Ya, bibitnya kuat,' sahut Jovan.


"Oteh ... setalan Liam atan beulpanyitan ladhu bandut!" seru Reece.


"Ladhu pa'a!?" pekik Liam panik.


"Panelan Pandut!" jawab Reece.


"Atulah balenan Pandut yan atan beuldunsan puniaaa .... wewat ladhu yan tubanyitan ... wewat busit yan tubain tan ... sepelah atuh peusal nanti ... atan sadhi si laja Pandut ... bandut ... Pandut ... dan dan dandut!"


Liam bernyanyi sambil bergoyang pinggul. Gerard mengikuti goyangan putranya itu, Rudi pun turut serta membawa putranya berjoget.


Raidan terpekik senang, mik disodorkan pada bayi itu.


'Wawaawawawa!"


Raichia merangkak cepat mendekati ayahnya begitu juga bayi lainnya. Mereka juga mau bernyanyi.


"Wooo .... woooo!"


"Atu ini salon si laja dandut leupih teltenal dali si maladona ...." Liam menggoyang pinggul.


Triple A pun ikut bergoyang begitu juga seven A. Reece sibuk dengan gayung dan menyorongkannya pada semua orang dewasa.


"Suala tu teuldenal bimana-mana ... dali desa ... pampai seluluh tota ... ipulah sita-sitatu ... inin sadhi supelslat Pandut!"


Semua heboh, Reece sibuk dengan uang yang ada di gayung. Irham begitu gemas dengan anak besannya itu. Pria itu mendekati dengan tampang sedih.


"Popa ... janan pawa selita pohon talo Popa bantlut!" seru balita itu mengingatkan.


"Inat ... usapan ipu ladalah doa!" lanjutnya setengah mengancam.


Renita menyukuri suaminya, wanita itu meledek sang suami yang kini cemberut dan menciumi Reece gemas.


Malam telah larut, Leticia diminta untuk menginap di mansion Ramaputra bersama ayah dan ibunya. Manya tak pernah keberatan dengan itu begitu juga Jovan.


Kini sepasang suami istri itu menatap semua anak-anak yang tak mau berpisah satu dan lainnya. Hanya para bayi saja yang dibawa oleh ibu mereka. Jovan memeluk istrinya.


"Mereka luar biasa sayang," ujar pria itu.


"Ya, mereka memang luar biasa," sahut Manya.


"Terutama adikmu, Reece!" ujar Jovan gemas sendiri dengan adik iparnya itu.


"Kau tau dia dapat berapa hari ini?" tanyanya.


"Ada lima juta, Bima memanjakan anak ini," keluh Manya.


"Aku senang, dia memberikan uangnya pada Mommy," sahut Jovan.


"Ya, apa lagi dia meminta Mommy untuk menyimpannya jika ada kebutuhan mendadak," sahut Manya lalu kembali mencium adiknya yang super itu.


"Dari mana dia punya pikiran jika nanti kita tiba-tiba butuh uang?" Manya mengendikkan bahu.


"Apa pikirannya, ia takut jika orang tuanya tak punya uang?"


"Bisa jadi sayang, aku seumur dia tak punya pikiran seperti itu. Tapi Reece, ia takut jika nanti kedua orang tuanya tak punya uang dia belum bisa memberikannya," sahut Manya.


"Tujuh anak kita juga luar biasa sayang, mereka kini lebih sayang menghamburkan uang, karena memiliki teman yang seusia mereka harus mencari uang," ujar Jovan.


Kini mereka dalam kamar saling berpelukan. Manya menatap wajah sang suami yang sudah terlelap.


"Aku mencintaimu," ujarnya lalu mengecup bibir sang suami.


Netra Jovan terbuka, ia pun langsung menyambar bibir istrinya dan kemudian. Kamar itu pun menjadi panas dengan kegiatan ranjang.


Bersambung.


Anak-anak itu akan belajar cepat jika diarahkan yang benar.


Next?