
"Pes ... atu, puwa dida!" ujar Maiz di depan mik.
"Sepetan Ante Maiz ... Iden bawu anyi sudha!" seru Raiden tak sabaran.
"Sapal ya Paypi ... dantian!" sahut Maiz.
"Sini duduk sama Mama!'
Manya menarik, bayi mau dua tahun itu. Ia sudah selesai muntah, wanita itu menghitung tanggal siklusnya. Ia yakin jika dirinya tengah berbadan dua. Tapi, ia berencana untuk membuat kejutan.
"Apa kau tidak apa-apa sayang?" tanya Jovan masih cemas.
"Aku sudah tidak apa-apa Mas," jawab Manya sambil mengangguk meyakinkan suaminya.
"Puwa ... bata saysa ... pidun saysa zatu ... duwa tanan saysa yan Sili tan nanan ... zatu bulut saysa ... didat lembenti matan!"
Lirik berubah, semua tersenyum lebar mendengar lagu tersebut. Akhirnya semua ikut bernyanyi, tapi tentu dengan lirik yang benar.
"Beri tepuk tangan!" seru Laina.
Semua bertepuk tangan, Raiden sudah maju, bayi itu ternyata tak sabaran untuk ikut menyumbangkan suaranya.
"Tit ... tit ... tit ... punyi jujan ... pilatas sentil ... bailna sulun ... sidat selila ... soba wah tenot ... pahan san lantin ... bohon tan pebun sapah pemua!"
"Uhuk!" Rudi tersedak.
Leticia menyembunyikan wajahnya di dada sang suami. Wanita itu tertawa tertahan di sana. Sedang yang lainnya memilih membuang muka. Hanya ten A, Liam dan Reece yang ikut bernyanyi dengan Raiden.
"Selima tasyih ... selima tasyih!" ujar bayi itu sambil membungkuk hormat.
Semua bertepuk tangan, bayi tampan itu menengadahkan tangannya pada Aldebaran. Rudi membelalakkan matanya.
"Mau apa kau bayi?" tanya Aldebaran gemas.
"Payal puyut ... tan Iden pudah anyi!" jawab bayi tampan itu berani.
Leticia memalingkan mukanya, wanita itu terkikik geli. Ia tak menyangka jika putranya itu mengikuti perintahnya.
"Siapa yang menyuruhmu!!" tanya Ramaputra gemas.
"Mami suluh ... tatana Iden binta wuwit ama yuyut!" jawab bayi itu santai.
"Aku hanya bercanda," kilah Leticia.
"Anakmu langsung mengikuti sayang!" sahut Amertha gemas.
Rupanya putri susunya itu sudah kembali seperti sedia kala, usil, manja dan cerdas. Amertha senang dengan perubahan putri susunya itu.
Aldebaran memberi Raiden uang seratus ribu. Reece langsung semangat, ia juga mau bernyanyi. Sebuah lagu dangdut yang membuat semua orang bergoyang.
"Yang ... yang ... digoyang-goyang yang ... dut ... dut ... dut ... yok kita berdangdut ... yang digoyang-goyang yang!"
"Hobah!" seru Abraham kecil bergoyang pinggul.
Tita, Maiz, Liam dan bayi lainnya ikut bergoyang heboh, begitu juga ten A.
"Ayo Papa kita goyang!" ajak Liam.
"Dangdut ... dangdut ... dangdut!" Reece kembali bernyanyi dan bergoyang pinggul..
"Uyut sawer kita dong!" seru Reece.
Lagi-lagi Aldebaran mengeluarkan uang dari dompetnya, tak hanya pria uzur itu tapi, Ramaputra, Rudi, Jovan, Praja dan Abraham ikut menyawer semua anak-anak.
Kini semua anak bergelimpangan di karpet tebal dengan banyak bantal. Para ayah menggendong semua anak masuk ke kamar. Semua kelelahan dan terlelap, begitu juga para ibu. Tak lama Irham datang bersama istri dan putranya. Mereka baru saja dari luar kota. Irham membawa anak dan istrinya turut serta.
"Papa terlambat melewatkan keseruan anak-anak," ujar Rudi.
"Tadi macet di jalan arteri, hujan hanya lima menit tapi bisa menenggelamkan ruas jalan jadi macet!" jawab Irham sambil menggerutu.
"Untung Lasyid tak rewel karena banyak makanan dan susu," lanjutnya kesal.
"Ya sudah, Mama sepertinya lelah. Istirahat saja di kamar," ajak Denna.
Wanita itu membawa Renita dan putranya yang sudah tertidur di gendongan. Denna mengambil alih Lasyid dari tangan Renita.
"Terima kasih sayang," ujar wanita itu.
"Sama-sama, Ma," sahut Denna ramah.
Setelah mengantar Renita ke kamar, Irham pun menyusul istrinya, pria itu juga kelelahan.
"Jov, aku dengar seven A memiliki perusahaan dengan beberapa temannya. Apa itu benar?" tanya Gerard.
"Aku sering diberi laporannya setiap bulan oleh penanggung jawab dari managemen seven A," lanjutnya.
"Aku lihat iklan produknya banyak yang meminati, aku yakin semua anak itu kini sudah kaya raya," sahut Gerard memberi laporan.
"Ini dia iklannya," lanjutnya memberi ponsel yang mempertontonkan iklan produk seven A.
"Wah ... aku belum dapat laporan tentang itu," sahut Jovan ketika melihat ada wajah salah satu putranya bermain iklan.
"Masa sih?" tanya Gerard.
"Iya aku belum memberi ijin untuk tujuh anak kembarku bermain iklan!" jawab Jovan.
Pria itu lalu menelepon Dania selaku manager perusahaan anaknya. Ternyata, Dania sudah memberitahu bahkan melayangkan surat ijin dan telah ditandatangani.
"Di berkas nomor tujuh tiga kosong dua, saya melampirkan surat ijin itu, Tuan!" ujar wanita itu.
Tak lama foto salinan surat ijin diterima di pesan milik pria itu. Ternyata benar, itu adalah tandatangan Jovan.
"Ah ... maaf Nyonya. Saya lupa jika telah memberi ijin, sepertinya saya tidak membacanya," jelas Jovan.
"Jadi apa Seven A bisa bermain iklan lagi atau diberhentikan. Saya memberi kontak lensa yang ramah untuk anak-anak, agar mengaburkan identitas mereka," jelas Dania lagi.
"Tidak usah diberhentikan. Teruskan asal keamanan data semua anak-anak aman!" sahut Jovan lega.
"Saya menjamin Tuan. Lagi pula anak-anak itu hanya sebagai pelengkap cerita sedang tokoh utamanya adalah orang-orang dewasa," jawab Dania dari seberang telepon.
Jovan mengakhiri sambungan teleponnya. Praja memang tak pernah ikut andil dengan perusahaan yang melibatkan anak dari Jovan. Jadi dia tidak tau menahu.
"Besok, suruh Daniel yang memeriksa semua berkasmu Jov!" sahut pria itu.
Jovan mengangguk. Pagi menjelang, anak-anak kembali makan bersama kali ini nasi goreng menjadi menu sarapan mereka.
"Mama pastel kemarin nggak ada?" tanya Liam.
"Habis sayang. Nanti sore ya kita makan pastel. Sekarang sarapan dulu ya," jawab Manya lalu menaruh nasi goreng sosis kesukaan semua anak-anak.
"Mama yan panyat ya bastelna!" ujar Maiz.
Manya mencium adik iparnya gemas. Bayi itu sangat cantik dengan iris hazelnya, wajah Jovan tercetak di sana, begitu juga wajah Aldebaran.
Sehabis sarapan, Lasyid ingin berenang, karena ia kemarin tak ikut serta. Tentu saja, semua anak-anak ikut menceburkan diri ke kolam. Para ayah langsung mengawasi semua anak.
"Asyid mawu seljun!" pekik Lasyid.
Bayi itu naik tangga seluncuran, lalu dengan enteng tubuhnya merosot dan tercebur ke kolam. Gelak tawa terdengar, para ibu harus menyiapkan kembali makanan.
"Ayo sudah ya!" teriak Renita.
"Mama ... sedidit ladhi!" seru Lasyid.
"Baby, bibirmu sudah biru!" seru Renita lagi.
"Ayo nurut yok!" titah Irham.
Akhirnya semua anak kembali mandi dan berganti pakaian. Susu coklat hangat tersedia untuk mereka. Manya kembali muntah dan membuat semua kembali cemas.
"Bawa istrimu ke dokter, Jov!" titah Abraham.
"Ayo sayang," ajak Jovan.
Manya menggeleng, ia memberikan satu benda pipih pada suaminya. Jovan tertegun dengan benda yang ada di tangan istrinya.
"Sayang?" tanyanya tak mengerti.
"Aku hamil, Mas," jawab Manya dengan senyum indah.
"Apa?!" teriak semua orang tak percaya.
"Kau serius?" Manya mengangguk kuat.
Jovan terpekik senang, menangis dan memeluk istrinya. Ia mengucap banyak terima kasih.
"Terima kasih sayang, terima kasih!"
bersambung.
eh ... kan?
next?