
Abi berlari sambil menangis, bocah itu memegang sesuatu. Manya sampai panik.
"Baby ... kamu kenapa?"
"Mama ... huuuwaaaa!" Abi menyerahkan giginya yang copot.
Wanita itu menghela napas lega. Ia mengira putranya kenapa-kenapa.
"Ini tidak apa-apa baby," ujarnya.
"Berarti gigi bayi kamu sudah berganti gigi susu," jelasnya.
"Sakit Ma ... hiks ... hiks!"
Manya mencium putranya, semua saudaranya jadi ikutan sedih. Agil tampak diam, ia juga merasa giginya goyang. Tapi karena sakit, gadis kecil itu diam saja.
'Coba Mama lihat,"
Manya membuka mulut Abi. Satu gigi seri tanggal hingga membuat giginya ompong. Tak ada luka serius kecuali warna merah karena sedikit bengkak.
"Makan es krim ya,"
"Mawu judha Mama!" seru triple A, Liam dan Reece.
Manya memberikan semua anak-anak eskrim. Agil tampak menahan sesuatu setiap ia menyuap eskrimnya..
"Sayang, apa kamu sakit gigi juga?" Agil menggeleng.
"Baby ... tidak apa-apa, lebih baik dicabut," ujar Manya memberi pengertian pada salah satu putrinya itu.
"Sakit Mama," sahut Agil lirih.
"Apa mau ke dokter gigi?" tawar Manya.
Agil tampak mengangguk. Reece meraba giginya dengan lidah.
"Mama ... apa nanti gigi Lees sopot judha?" tanyanya.
"Iya baby, nanti ketika usia sekitar tujuh hingga delapan tahun. Sebelah gigi seri akan tanggal terlebih dahulu," jawab Manya.
"Pa'a didi pita atan sopot semuwa Mama?" tanya Aidan dengan mata bulat.
"Tidak sayang, tapi bertahap hingga usia dua belas tahun," jawab Manya sekaligus menjelaskan.
"Jadi sampai dua belas kita akan selalu copot giginya?" tanya Abraham.
"Iya Baby," jawab Manya.
Semua tanda mengerti, Reece tampak mengusap dagunya. Balita itu berpikir akan lebih baik jika gigi copot sekaligus jadi tidak terasa sakit setiap tahunnya.
"Talo beudithu Lees mawu disopot semua didina!"
Manya tertawa lirih. "Kenapa mau dicopot semua Baby?" tanyanya.
"Bial eundat satit didi piat tahun Mama," jawab Reece begitu sok tahu.
"Kalau baby dicopot semua nanti makannya pakai apa?" tanya Manya.
Reece menggaruk kepalanya. Ia sudah selesai dengan eskrimnya, Manya akan membawa mereka semua ke dokter gigi. Sekaligus memberi pelajaran pada semua anak-anak betapa pentingnya merawat gigi. Tita dan Maiz ada bersama ibu mereka. Mereka datang ketika Manya hendak membawa semua anak ke dokter gigi.
"Mau ke mana sayang?" tanya Amertha.
"Ke dokter gigi Mom. Agil giginya goyang," jawab Manya.
"Mami ikut!" ujar Maira.
"Mommy juga deh, Habis ke dokter gigi kita ke mall ya, bahan-bahan kebutuhan dapur Mommy sudah mulai menipis," ujar Amertha.
Mereka pun pergi ke dokter gigi. Liam paling antusias jika berpergian begitu juga dengan Ten A dan Reece. Tak butuh waktu lama untuk sampai ke klinik dokter gigi. Hanya mengantri sebentar mereka semua masuk, semuanya diperiksa giginya.
"Semua bagus, tidak ada yang berlubang," ujar dokter senang melihat gigi anak-anak semua sehat.
Agil telah dicopot giginya. Gadis kecil itu hanya merengek sedikit.
"Tuh udah copot," ujar dokter memperlihatkan gigi seri yang tanggal.
"Dok jelasin mereka bagaimana menggosok gigi dengan benar," pinta Manya.
"Baik, jadi begini ya anak-anak!"
Dokter menjelaskan bagaimana cara menggosok gigi dengan benar. Semua mendengarkan dengan seksama.
'Jadi selain kita nggak boleh jajan sembarangan dan makan permen kebanyakan. Gigi juga tak boleh melakukan kegiatan yang diluar kemampuannya, seperti mengigit paku, batu atau benda keras lainnya," jelas dokter itu lagi.
"Doptel, Atila bawu panya!"
"Ya tanya apa Nak?"
Dokter menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal. Semua mata menatap dokter seakan menuntut jawaban.
"Drakula itu hanya di dalam dongeng, Nak. Tidak ada di dunia nyata," jawab dokter pada akhirnya.
"Pasa sih? Yan beunel?" cecar Aqila tak percaya.
"Watu ipu lehen Papa belah-pelah tatanya dididit dalatula," sahutnya lagi.
Manya tersenyum kikuk. Wanita itu tentu malu dengan pertanyaan balitanya yang memang sangat penuh ingin tahu itu.
"Babies, kita ke mall yuk!" ajak Manya mengalihkan perhatian semua anak-anak.
"Bayo!" pekik Liam senang.
Akhirnya pertanyaan tentang drakula tak lagi mereka ingat. Semua sibuk berjalan di koridor mall. Semua anak bergandengan tangan di awasi para suster. Saskia menggendong putranya di dada dan menggandeng Aqila. Maira dan Amertha juga membawa suster untuk mendorong kereta bayi mereka.
Selesai berbelanja mereka pun pulang ke rumah. Jovan dan lain belum pulang dari luar kota. Pertemuan antar pemegang saham PT Triatmodjo akan diselenggarakan selama tiga hari.
"Babies ayo cuci tangan, kita makan siang!"
Semua mencuci tangan mereka lalu duduk di bangku khusus. Usai makan Manya meminta semua untuk tidur siang.
Sore menjelang Gerard datang bersama istri dan putrinya. Pria itu mau menjemput Liam tentunya.
"Papa bialin Iam di syini sama Lees sih!" ujar Reece kesal.
'Iya Papa, Iam eundat mawu pulan!' tolak Liam.
"Baby ... Papa kan juga mau kamu di apartemen, jagain Mommy," ujar Gerard.
"Mommy tan ada Papa yan jadhain!" sahut Aidan.
"Biya ... teultadan Papa ipu aneh ya," sahut Adelard.
"Aneh bagaimana Baby?" tanya Gerard gusar.
"Biya aneh ... beumana pa'a yan Papa halaptan dali Iam yan pasih teusil puwat jadhain Mommy?" lanjutnya bingung.
Gerard gemas dengan perkataan salah satu keponakannya itu. Ia tak bisa menjawab atau menyahuti perkataan Adelard yang ada benarnya.
"Kalian menginaplah di sini. Kami semua perempuan," pinta Maira.
Gerard mengangguk, ia pun menginap di rumah Manya sampai kepulangan Jovan dan lainnya.
Besok pagi semua sibuk. Gerard mengantar seven A ke sekolahnya bersama para suster. Pria itu juga mau lihat bagaimana sekolah itu menjalankan fungsinya. Ia akan menilai apakan putranya nanti akan disekolahkan yang sama dengan triple A.
"Tapi, melihat bagaimana Seven A yang begitu peduli. Sepertinya tempat ini cocok untuk Liam sekolah dan membaur jadi satu dengan anak-anak pribumi," gumamnya.
Pria itu pun pulang dan nanti akan menyerahkan Pak Sidik yang menjemput mereka semua. Tak lama bel istirahat berbunyi. Sudah satu bulan mereka menjalani sebuah usaha yang dibantu oleh ibu dari Denta.
"Eh ... ini hasil usaha kita!" ujar Denta.
Semua anak yang terlibat berkumpul. Wajah-wajah antusias dan senang tampak di wajah Anton, Nita, Dwi, Angga dan lainnya mereka semua anak kurang beruntung. Anton dan Nita sebenarnya masih dikategorikan anak berkecukupan baik. Tetapi mereka hanya anak angkat. Anton memiliki pikiran untuk tidak terlalu menyusahkan orang tua angkatnya begitu juga Nita.
"Keuntungan kita ternyata banyak, bahkan Mamaku sudah mengembangkan usaha kita jadi sedikit lebih bervariasi," lanjut Denta senang.
"Kata Mama, seorang dari kita bisa mendapat tiga ratus ribu rupiah," lanjutnya lalu memberikan uang sesuai apa yang dijumlahkan.
"Alhamdulillah ... bisa nolong Emak beli susu adek!" seru Dina senang.
"Aku bisa beli sepatu!" seru Dwi.
Seven A melihat uang di tangan mereka. Semua kebutuhan sudah dipenuhi oleh ayah dan ibu mereka.
"Kita simpan aja, nanti tanya Mama, kita apakan uang ini!' ujar Bhizar memberi saran.
Semua mengantungi uang mereka. Waktunya pulang, Manya kaget ketika seven A memberinya uang cukup banyak.
"Kami bingung buat apa Mama," jelas Bhizar. .
"Ini uang kalian sayang, kalian berhak menggunakan untuk apa," ujar Manya terharu.
"Mama pegang aja deh, siapa tau Mama butuh uang tunai, jadi nggak pusing lagi," ujar Abraham.
Manya mengecup semua anak-anak. Ia begitu bangga pada semuanya.
"Kalian memang anak-anak yang berbudi," pujinya bangga.
Bersambung.
Tentu Mama, Mama kan yang ajarin semua anak agar tidak terlalu bangga dengan kekayaan yang dimiliki.
Next?