THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
WELCOME BARA REECE ARTHA



Hari berganti. Pesta pengenalan pewaris baru sedang diselenggarakan. Banyak wartawan datang dan mengabadikan acara. Semua bingung, Artha adalah pebisnis yang kaya raya. Tentu tak masalah jika ia mengadakan pesta di sebuah hotel berbintang lima dengan dekorasi mewah.


"Tuan, ini adalah pesta yang ke sekian kalinya anda mengadakan di mansion. Bisa jelaskan kenapa begitu?" tanya wartawan.


Ramaputra mengerutkan kening sambil terkekeh.


"Saya malah bingung dengan pertanyaan anda. Apa ada yang salah jika saya mengadakan pesta di mansion saya?" tanya pria itu balik.


"Tidak ada Tuan!"


"Ya sudah," sahut Ramaputra kemudian membalikkan badannya.


"Tapi apa anda tidak malu citra anda buruk, karena mengadakan pesta hanya di mansion secara sederhana. Anda tidak sedang kekurangan uang kan?" tanya wartawan lagi.


Ramaputra abai akan pertanyaan itu. Abraham datang bersama istrinya dan juga Praja yang membawa kado. Ketiganya tak luput dari pertanyaan wartawan.


"Tuan Dinata. Besan anda telah memiliki bayi di usia senjanya. Apa anda tak kepikiran untuk mencetak penerus baru?"


"Cucuku banyak. Itu penerusku!' jawab pria itu ketus.


Pria itu sama sekali tak berhenti ketika ditanya oleh wartawan. Ia tetap berjalan dan menggandeng erat tangan istrinya.


"Tuan Praja, bagaimana dengan anda? Apa sudah memiliki kekasih?"


"Sudah!" jawab Praja pendek.


"Siapa Tuan?!"


"Tuan ... Tuan!" panggil para wartawan karena Praja tak juga berhenti.


Para Bodyguard menghalangi laju para pemburu berita itu. Mereka berdecak kecewa karena ternyata acaranya tertutup dan akan diumumkan via pembicara keluarga.


"Ah ... tau tadi kita mengejar berita perselingkuhan selebriti yang menjadi daun muda salah satu pebisnis," keluh salah satu wartawan menggerutu.


"Ya sudah, kau pergilah ke sana!" usir salah satu wartawan.


"Hanya dua wartawan yang membawa undangan bisa masuk dan meliput acara!" sahut Rudi memberitahu.


Dua orang memang membawa undangan. Mereka pun masuk ke dalam pesta, sedang lainnya menunggu.


"Selamat datang di pesta syukuran atas kelahiran anak kami yang ke dua," sahut Ramaputra memberi sambutan.


Amertha keluar dengan balutan biru laut, menggendong putranya dengan baju kaos warna senada dengan dress ibunya.


"Ini perkenalkan putra saya yang kedua yakni Bara Reece Artha yang artinya semangat hidup yang membara," lanjutnya.


"Nama yang indah Tuan!" sahut salah satu kolega.


"Nyonya Manya apa anda tidak ingin mengganti nama anda?" tanya wartawan.


"Karena nama anda bukan pemberian dari orang tua kandung anda," lanjutnya.


"Tidak, saya sudah nyaman dengan nama saya," jawab Manya santai.


Jovan menatap datar wartawan yang bertanya hal yang sangat tidak enak.


"Apalah arti sebuah nama. Walau sebagian nama itu adalah doa terbaik dari orang tua bagi anaknya," sahut Jovan bijak.


Semua wartawan pun terdiam. Sedang para anak sudah mulai sibuk ingin mempertunjukkan yang telah mereka latih selama dua hari ini.


"Sustel ... pa'a pemuana pudah syiap?" bisik Abraham.


"Belum Baby. Popa masih memperkenalkan om kecil," jawab Leni.


Lektor, Bima, Hasan, Bernhard dan istrinya hadir begitu juga Gerard bersama putra yang ia gendong juga istrinya. Praja tengah membantu para anak atasannya.


"Tuh udah selesai wawancaranya,," ujar pria itu.


"Halo ... semamat sian semuana!" sapa Abraham.


Semua menoleh arah panggung kecil. Setiap pesta mereka pasti akan melakukan pertunjukan kecuali ketika ibu mereka merayakan pesta pernikahan dengan ayahnya.


"Selamat siang!' seru semua pebisnis yang mengetahui akan apa yang terjadi.


"Pohon maap jita tami pidat ladhi beulnyanyi," lanjutnya.


"Aaahhh!" teriak kecewa para tamu yang menjadi penonton dadakan.


"Pohon maap yaa ... pati pita atan peulsembah tan sepuah dlama!"


"Horeee!" seru semua penonton sambil bertepuk tangan.


"Denan judhul cinta tuh peuldi panta sepan!"


"Pergi tanpa pesan!" ralat salah satu penonton sambil tersenyum lebar.


"Ya matsudna ipu!" sahut Abraham.


"Pada pautu hali ... lada seetol dajah yan sanat sedih ... pia teuhilanan pasanan na!"


"Atuh ... dajah ... peumana teutasih tu beulada?" Abi datang dengan baju kostum gajah.


"Bimana ... atuh beuncali tetasih hati tuh ...?" tanyanya sedih.


"Dajah beuljalan ... pia beultemu jelapah,"


"Atuh beuncali tetasih tu," jawab Abi lagi.


"Pati tamu peman eundat ada tetasih ... tamu pasih somblo peubelti Pom Luldi," sahut Jerapah.


Semua nyaris tertawa, sedang Rudi tampak kesal dengan perkataan Bhizar.


"Ck ... kenapa mesti gitu," dumalnya pelan.


"Pati pia beuntal ladhi atan beunitah," sahut Gajah.


"Pemana ada yan pawu pama Pom Luldi?" tanya Jerapah.


"Hahahaha!" semua tamu terbahak mendengarnya. Suara Ramaputra yang paling keras.


"Tuan," cicit Rudi malu setengah mati.


"Peulcaya pama atuh. Pebeuntal ladhi Pom Luldi atan meunitah," sahut Gajah yakin.


"Bemana sama spasa?" tanya Abraham ikut-ikutan bertanya.


"Pama Pante pestisida," jawab Gajah.


"Kamu mau nikah sama pembunuh hama wereng Rud?" tanya salah satu kolega lalu semua tertawa.


Rudi hanya diam. Tentu semua tau siapa yang dimaksud oleh Abi.


"Ahlina dajah pisa hidup pahadia!" ujar Abraham mengakhiri drama.


Semua berdiri bertepuk tangan. Masing-masing tamu memberi mereka uang satu lembar senilai seratus ribu rupiah.


"Telima tasyih!" sahut seven A.


Para tamu masih duduk, mereka pun beranjak ke arah meja untuk mengambil makanan. Aldebaran masuk memberi salam.


"Masuk Dad," ajak Abraham.


"Aku bawa tamu," ujar pria gaek itu.


"Siapa Dad?" tanya Ramaputra.


Dua sosok laki-laki tampan. Ramaputra dan Abraham membelalak sempurna, begitu juga semua tamunya. Sosok tampan dengan mata biru berdiri di sisi pria bermata coklat terang.


"Tuan Kean Black Dougher Young dan Tuan Rion Hugrid Dougher Young!" pekik semua tamu dan wartawan.


Sedang di luar para wartawan heboh mereka berteriak memanggil kakak beradik itu.


"Tuan ... Tuan!"


Sedang di dalam terjadi keheningan sesaat. Para bayi menatap pria tampan dengan sejuta pesona yang tersenyum dengan mata berbinar.


"Wah ... batana pilu!" tunjuk Abi pada Kean.


"Tamu nanat spasa?" tanyanya.


Rion dan Kean menyamakan tingginya dengan para batita. Maira kini percaya pada rumor yang mengatakan jika Rion adalah rajanya bayi.


"Aku Rion dan ini Kean. Kalian siapa?"


"Ah ... Pom Pion pama Pom Tean. Peultenaltan, atuh namana Apijal, imi Api, imi Adil, imi Syah, imi Laina, imi Lita, imi Aplaham, imi Aiden, imi Aqila, dan yan teulahil Adelad!' jawab Bhizar memperkenalkan seluruh saudaranya.


Rion terkekeh mendengar nama yang berubah jika di mulut para bayi, begitu juga Kean.


"Baby, mereka seperti kamu dulu bayi," ujar Rion pada Kean.


Pria itu mengangguk setuju. Kini keduanya bersalaman dengan pemilik pesta. Ramaputra begitu terharu, usianya terpaut sepuluh tahun lebih tua dari Rion. Abraham juga disalami oleh Rion dan Kean.


"Ini putra kami," ujar Ramaputra menggendong bayinya.


Reece membuka matanya ketika ia merasa tubuhnya diambil alih oleh Rion.


"Hai Baby, ba bowu," sahut Rion.


"Hai!" sahut Reece.


"Oh ... kata-kata pertamanya," seru Amertha.


Rion mencium bayi itu gemas begitu juga Kean. Rion lebih sering berinteraksi dengan para bayi, entah apa yang mereka bicarakan tetapi gelak tawa tercipta dari mulut para bayi.


"Om pulang dulu ya Babies," pamit Rion.


"Pye ... pye Papa Pion ... banti datan ladhi ya ... hiks ... hiks!"


"Insyaallah ... mari semuanya!"


Rion dan Kean pun pergi diiringi lambaian tangan pada bayi dengan derai air mata.


"Papa Pion ... ba bowu!" pekik semua bayi.


bersambung.


Ba bowu pu ...


next?