
Hari ini triple A ingin ikut kakak-kakaknya sekolah. Mereka menangis tersedu-sedu. Reece yang baru datang juga ikut menangis.
"Itut Ata' setolah ... huuaaa!"
"Babies, di sana nggak boleh main, banyak yang belajar," terang Manya memberi pengertian.
"Mama ... pita hiks ... panji eundat matal ... hiks!" ujar Reece terisak.
"Mama ... hiks ... hiks ... mawu itut Ata' setolah!" rengek triple A sampai terbatuk.
Manya luluh, ia pun membolehkan anak-anaknya ikut ke sekolah. Kebetulan ia tak ada operasi dan jadwal praktek hari ini. Ia pun ikut mengantar semuanya bersama ibu kandungnya.
"Anton, kamu tampan sekali!" puji Amertha.
"Makasih Nyonya," ujar Anton dengan senyum indahnya.
Amertha yang gemas menciumi pipi bocah kecil itu hingga tergelak. Manya suka suara tawa Anton yang renyah. Sedang Sidik begitu bahagia putranya disayang oleh sang majikan.
Mereka turun, tak lama semua berbaris rapi. Ternyata triple A plus Reece ingin ikut belajar. Keempat bayi itu memohon pada wali kelas kakak mereka.
"Poleh ya Bu dulu .. piss!" pinta Adelard dengan puppy eyes nya.
Bu guru mengangguk, ia tak tega melihat bagaimana empat bayi lucu itu memohon. Wanita itu memanggil tukang kebun mengambil empat bangku untuk keempat murid baru itu.
Manya sangat tidak enak hati. Tetapi sang guru tak mempermasalahkan.
"Tidak apa-apa, Ibu seven A. Sedini mungkin anak-anak harus menyukai sekolah, berarti mereka suka belajar," ujar guru.
"Makasih ya Bu," ujar Manya lega.
Akhirnya pelajaran dimulai. Kali ini pelajaran mengenal angka. Paling keras dan riuh adalah suara triple A dan Reece.
"Ini angka berapa anak-anak!?"
"Dua!"
"Puwa!" teriak triple A beda sendiri.
"Dua Babies, butan eh bukan puwa," ralat Abi sang kakak.
'"Biya puwa! Beunel tan Bu dulu?" ujar Aqila meminta pembenaran pada gurunya.
"Bener Baby eh Nak," ujar guru tersenyum.
"Khusus untuk triple A dan Reece ya!" sahutnya pada semua anak muridnya.
"Iya Bu Gulu!" sahut semua anak kompak.
Mereka pun kembali berhitung. Semua anak menjawab dengan benar angka-angka yang tertulis di papan. Bahkan ketika di suruh maju ke depan untuk menulis angka semua benar.
"Imi pidat pisa bipialtan!' seru Adelard protes.
"Loh kenapa Nak?" tanya Guru yang sudah gemas pada tingkah triple A dan juga Reece.
"Teunapa pemua pisuluh baju tedepan, pita eundat?!" lanjut Adelard protes.
"Biya ipu beulnal seutali!" sahut Reece setuju.
"Memang kalian sudah bisa menulis?" tanya Bu guru sudah gemas ingin mencium pipi bulat empat bayi cerdas itu.
"Beyum!" sahut keempatnya kompak.
"Nah, sekarang kenapa kalian mesti maju ke depan kalau tidak bisa menulis?" tanya Bu guru.
"Tan pisa ditasih pate tanan Bu dulu!" sahut Aqila dengan suara kecilnya.
"Biya ... tan pisa pate tanan, talo beupuluh tindal tasih pelunjut pama anta nol bedini!" sahut Aidan mempraktekannya dengan tangan.
"Biya beulnal ipu!" sahut Reece lagi.
"Atuh yatin pemua Ata'-Ata' pi simi beultujuh!" sahut Aidan yakin.
"Beutul tan Ata'?!" serunya kembali bertanya pada semua kakak di kelas.
Para anak melihat guru mereka. Semua hendak mengangguk setuju. Guru begitu gemas akan kepintaran tripel A plus Reece. Sebagai seorang guru, ia sangat salut akan keberanian empat bayi yang memprotes dan tidak diberi kesempatan untuk maju.
"Tapi kan Ibu suruhnya menulis, agar tau kepintaran kalian di bidang itu?" sahut Guru tak mau kalah.
"Bu dulu yan banis dan syantit!" sahut Aqila.
"Bu dulu pahu tan talo pita peulum pisa beunulis, penata pita eundat bi tasyih teupesatan yan pama untut beuldunjutan beupintalan tami!" debatnya.
"Oke deh, kalian boleh maju, tapi perwakilan aja ya!" ujarnya.
"Teunapa?" tanya Aidan heran.
"Kan kalian sama menunjuk angka dengan tangan," jawab Bu guru.
"Ata' pemua judha syama pisa bulis. Balahan padhi lada yan zalah, pasa anta pida tayat pulun peulban!"
"Oke ... oke .. kalian maju bersamaan!" putus Bu guru begitu gemas.
Akhirnya, keempat bayi maju dan memperlihatkan kepintarannya. Semua bertepuk tangan meriah. Bel istirahat berbunyi. Semua keluar untuk makan bekal mereka. Anton membawa bekalnya keluar kelas.
"Nton tukeran bekal mau nggak?" tawar Denta.
"Boleh," sahut Anton.
Mereka pun bertukar bekal. Anton diberi sarapan nasi kuning dengan ayam goreng. Sedang Denta makan nasi bento yang berisi sosis goreng dan telur mata sapi.
"Mama ... teunapa ipu bipilan pelul bata pasi? Apatah talo dolen pelul bata pasi yan bi pasi ilan?" tanya Reece begitu penasaran dengan telur mata sapi itu.
"Itu istilah Baby, dibilang mata sapi karena bentuknya bulat seperti mata sapi," jelas Amertha.
"Kalau bahasa lainnya itu telor ceplok Baby," sahut Denta terkekeh.
"Telol peclot?" ulang Aqila dengan mata bulat.
"Butan telun seplot!" ralat Reece.
Denta tertawa mendengarnya, makanan habis. Lalu mereka pun bercanda sambil main tebak-tebakan. Seluruh pertanyaan diberikan pada empat bayi sok tau itu.
"Nah, sekarang tebak ya. Hewan apa yang selalu membawa rumahnya?" tanya Denta.
Empat bayi berpikir keras. Manya lupa memberi pelajaran tentang hewan-hewan yang memiliki cangkang di atas tubuhnya itu.
'Tundu pulu!" sahut Aidan tak terima.
"Sejat tapan wewan lada lumahna?!" lanjutnya.
"Ada Baby!" sahut semua kakak.
"Bemana wewan pa'a yan pisa beli lumah?" tanya Aqila.
"Pa'a lumahna lada dalasi tayat lumah pita?" tanyanya lagi.
Denta tertawa terbahak-bahak. Bocah itu langsung melihat hewan yang bergerak lambat di dekat pot besar.
"Ini dia hewan yang bawa rumah ke mana-mana!" ujarnya.
Empat anak begitu penasaran. Mereka takjub dengan hewan kecil itu.
"Pa'a namana Ata'?" tanya Reece penasaran.
"Ini namanya keong," jawab Denta.
"Teon?" ulang Reece lagi.
"Ya ... begitulah!" sahut Denta.
"Wah ... dalanna peulan ya!" sahut Aidan takjub.
"Ipu butan dalan, pati meulantat!" sahut Aqila.
"Balo teon ... pumah tamu beulapa haldana, Peuli bi pana?" tanya Adelard.
Bel berbunyi. Triple A memilih tak masuk kelas. Mereka mengaku bosan dan sedikit mengantuk. Denta mengembalikan lagi hewan Moluska itu ke tempat asalnya.
Tak butuh waktu lama anak-anak keluar kelas karena jam pelajaran berakhir. Triple A sedikit mengantuk ketika kakak mereka keluar kelas.
Sampai di rumah, baik Reece dan triple A sudah tidur. Amertha mencium keempat bayi cerdas itu. Ia senang membiarkan putranya tadi ikut bersekolah bersama keponakannya.
"Cepat besar ya Nak, gantikan Daddy menjadi pemimpin di perusahaan," ujarnya penuh harap dan doa.
"Kalian juga cepat besar ... Moma sudah tak sabar siapa-siapa gadis atau pria yang patah hati karena ditolak oleh kalian!" kekehnya pada triple A yang terlelap.
bersambung.
Duh .. triple A ... pinter amat sih!
next?