THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
WELCOME TO THE WORLD BABIES



Di sebuah ballroom hotel berbintang lima. Tampak suasana begitu meriah. Dekorasi mewah tampak menghiasi ruangan besar itu. Banyak pebisnis handal, bahkan Aldebaran mengundang keluarga Dougher Young.


"Tuan Rion, Nyonya Azizah!" sapa Aldebaran.


"Tuan Dinata!" balas Rion.


Mereka berjabat tangan sedang Azizah yang menggunakan hijab lebar tampak menakup tangan di dadanya. Sepasang suami istri itu tampak berbincang.


"Jadi, ini adalah cucuku yang ke tiga yakni Maizah Almahyra Dinata, yang satunya adalah Miquita Ariani Artha, yang ini adalah putra dari Tuan Wijaya bernama Lazid Irhamputra Wijaya dan anak kembar dari Rudi Hardiansyah adalah Raiden Putra Hardiansyah dan Raichia Putri Hardiansyah!"


Aldebaran tampak bangga memperkenalkan cucu dan juga semuanya. Rion tau siapa Rudi, pria itu sering menjadi ajudan dari Ramaputra. Pria yang begitu cerdas dan sangat kompeten, Rion juga sering bertemu dengan Rudi. Sedang Leticia juga sama, seorang pebisnis wanita yang terbilang sukses.


"Mereka cantik dan tampan sekali Mas Baby," puji Azizah mengecup semua bayi.


"Balo Tante syantit namana spasa?" tiba-tiba Aidan datang dan bertanya pada Azizah dengan sangat centil.


"Hei ... boy ... dia istriku!' sahut Rion sebal dan gemas bersamaan.


"Dantenan Atuh ... mayi Tante pita noblol peultenaltan atuh namana Aidan, umul tuh syudah pida tahun. Atuh pisa peulpanyi," ujar Aidan memperkenalkan dirinya dengan begitu berani.


Rion kesal sekali dengan batita tampan ini. Azizah pun menyamakan dirinya dengan tinggi bayi itu.


"Hai ... assalamualaikum, nama Tante Azizah. Boleh dong dengerin suara Baby," ujarnya.


"Bait lah,"


Aidan langsung menuju panggung. Semua saudaranya bingung terlebih Reece yang panik karena rencananya ia penampil pertama hari ini.


"Baby ... tan peustina Pom yan sampil puluan!" ujarnya protes.


Aidan berbisik pada om kecilnya itu. Reece tiba-tiba melihat pada Azizah. Wanita cantik itu melambai padanya dengan senyum indah. Reece membalas lambaian tangannya ikut tersenyum dengan begitu menawan.


"Astaga mereka genit-genit sekali!" gerutu Rion gemas pada bayi-bayi tampan itu.


Seven A mendatangai Rion. Pria itu tentu mengenal bocah yang mirip semua itu.


"Om Baby ... apa kabar?" sapa Bhizar.


Rion sempat berdecak mendengar panggilan itu. Sedang istrinya tertawa. Jovan dan Manya tak enak hati.


"Jangan ambil hati. aku memang seperti ini," ujar Rion menenangkan pasangan suami istri itu.


"Balo mamat sian pemuana!" seru Aidan di atas panggung.


Semua tamu langsung duduk dan menonton. sajian yang dipersembahkan oleh para perusuh Dinata, Artha dan juga Downson itu.


"Atuh Aidan yan panpan atan meumpelsempahtan peubuah ladhu puat Tante syantit peulteludun," ujar Aidan menunjuk Azizah.


Musik mengalun semua menahan tawa mendengarnya. Aidan sudah menggoyang badannya.


"Pihat tebuntu ... benuh penan buna ... lada yan butih dan lada yan melah ... petiap hali ... tusyilam pemua ... bawal, lelati ... pemuana pindah!"


Rion hampir tersedak mendengar lagu itu. Ia jadi mengingat masa kecilnya dulu di mana ia bernyanyi lagu itu dan membuat mendiang Babanya langsung berhenti dan keluar mobil karena tertawa. Ia pun menitik air matanya, mengingat masa kecil penuh dengan kasih sayang semua keluarga.


Perlahan Rion mengingat Terra, mamanya, wanita yang sangat ia cintai, lalu Haidar pria yang dipanggil Papa, Virgou yang ia panggil Daddy. Ia mengusap cepat titik basah di pipi.


"Ma, Pa, Dad, Ayah, Bunda, Baba, Papi Bommy, Mami Mommy. Semoga kita berkumpul lagi di Jannah membentuk keluarga bahagia di sana, aamiin!" doanya dalam hati.


"Atuh Lees judha Atan beulpanyi!" sahut bayi tampan itu.


"Atuh butan penemis sintaaa ... yan plalu peunalah ... pila bi butus tan syinta ... dali san tetasih!"


Semua terbahak-bahak, Ramaputra hanya bisa menghela napas panjang. Ia melihat Manya ikut berjoget di sana. Rion pun maju ikut bergoyang heboh. Ia menyawer untuk batita tampan itu.


"Blima tasih ... blima tasih ... payo yan walin, Lees denan senan hati beultelima uanna!" ujar Reece mengajak semua orang menyawer padanya.


Reece mendapat uang banyak begitu juga semua anak. Liam senang luar biasa mendapat lembaran uang dolar.


"Yah ... Pom Baby!" cebik Aqila.


Rion mengecup gemas pipi bulat bayi cantik itu. Akhirnya semua anak melambai padanya ketika pria dan istrinya pergi.


Pesta masih berlanjut dengan nyanyian para bayi. Seven A juga mempersembahkan lagu untuk semuanya. Akhirnya acara perkenalan selesai.


"Eh, tadi anak-anak dapat uang berapa?" tanya Irham usil.


"Mau apa kau dengan uang anak-anak?" tanya istrinya ketus.


"Ck ... aku hanya bertanya saja," jawab Irham kesal.


"Reece paling banyak, bayi itu dapat dua juta dua ratus ribu dan dua ratus dolar. Liam dapat satu juta rupiah dan lima puluh dolar. Seven A masing-masing dapat lima ratus ribu dan seratus dolar, triple A dapat masing-masing satu juta dan tiga ratus dolar," jawab Manya.


Maira dan Amertha menghitung uang anak-anak, mereka telah memisahkan semuanya dalam amplop dan diberi nama.


"Hei ... pinjamkan aku uang itu!" ujar Irham.


"Apaan sih Pa!" sungut Renita sebal.


Irham terkekeh, ia ingin sekali mengerjai Reece anak dari Ramaputra. Ia ingin tau reaksi bayi itu jika ia meminjam uangnya.


"Reece," panggilnya.


Reece tampak mengantuk, semua kelelahan karena telah mempersembahkan pertunjukan yang luar biasa pada penonton hingga mau merogoh kocek mereka. Semua sudah mempersiapkan uang cash untuk para anak-anak cerdas itu.


"Pa'a Papa Ilham?" sahutnya sambil menguap.


"Papa minjem uang Reece ya," ujar pria itu memohon.


Mata Reece yang tadi mengantuk jadi terbuka sempurna mendengar kata pinjam itu.


"Bemana Papa eundat lada uan?" tanyanya.


"Uang Papa habis untuk pesta ini Baby," jawab Irham sedih.


"Pemana Papa putuh peulapa?" tanya Reece sok punya uang banyak.


"Nggak banyak, hanya seratus juta," Irham nyaris mencium gemas melihat tampang bayi tampan itu.


Reece tampak menggosok dagunya berpikir keras. Mengira bayi itu akan mengoceh panjang pendek, tetapi satu jawaban yang membuat Irham tersentuh.


"Papa Ilham ... Lees eundat bunya uan sepanyat ipu. Pati uan yan padhi poleh tot puat Papa, eundat usyah bitempalitan," ujar Reece dengan lembut.


Irham sampai terharu mendengarnya. Ia mencium pipi bayi tampan itu. Semua pun terharu melihat kebaikan dari Reece.


"Pati lada syalatna,"


"Eh kok pake syarat?" sahut Irham protes.


"Woh ... pimana-mana talo binjam ipu tan lada palan yan bipuat zaminan!" sahut Reece yang membuat semua melongo.


"Eundat pelat-pelat tot!" lanjut bayi itu dengan gaya bossy.


Semua berdecak melihat gaya Reece yang duduk santai dan menaikan kaki kiri dan meletakkannya di paha kaki kanannya.


"Apa syaratnya?" tanya Irham gemas.


"Adet Chia halus padhi bistli Lees!" jawab Reece santai.


Bersambung.


Eh ... Reece ... kek tau istri itu apa 🤦


next?