THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
ULANG TAHUN



Pesta meriah diadakan di sebuah hotel berbintang. Tema outdoor dengan banyak balon warna-warni menjadi ornamen hiasan. Ada manusia robot menjadi sorotan anak-anak. Mereka semua ingin berfoto dengan manusia robot itu. Ten A juga heboh dengan manusia robot.


"Mama ... ini lobot apa?" tanya Laina.


"Transformer Optimus prime," jawab Manya.


"Popmitus laim!" ulang Liam.


"Anton, sini!"


Abraham menarik sahabatnya, bocah lelaki itu tadinya hanya duduk diam di sudut ruang. Abraham langsung menariknya dan mengenalkannya pada yang lain. Seluruh teman sekolah seven A datang. Denta menyalami semuanya. Mereka memberikan kado.


"Makasih ya!" ujar Laina mewakili semua saudaranya.


Sebuah kue besar datang, nama seven A ada di sana. Lagu happy birthday dinyanyikan oleh semua anak-anak, Liam dan Reece juga triple A semangat menyanyikannya.


"Bepi pesdey puyu ... bepi pesdey puyu! Bepi pesdey bepi besdey bepi besday puyu!"


"Holee!" pekik lima bayi itu meriah.


Reece ingin sekali membuka semua kado yang diberikan pada keponakannya itu. Bayi itu membidik pada Liam.


"Iam!"


"Pa'a!" sahut Liam.


"Pa'a tamu eundat pawu pahu pa'a yan lada pibuntus ipu?" tanya Reece.


"Batsudna tadona Ata' peben e?" tanya Liam.


"Biya," sahut Reece.


"Pati ipu tan tado bunya Ata', pita eundat poleh buta!" sahut Liam mengingatkan.


"Teusuali Ata' pinta peultolonan pita puat butain tadona!" lanjutnya.


Reece berdecak, ia memang sangat ingin membuka kado-kado itu. Bayi tampan itu selalu mengikuti kemana kado-kado itu diletakkan.


"Baby, nanti kalau kamu ulang tahun, kamu pasti dapat banyak kado!" sahut Ramaputra.


"Lees beunalasan eh pelanasan," jawab bayi itu.


Ramaputra mengangkatnya, ia menciumi putranya. Liam yang melihatnya juga ingin digendong oleh pria itu.


"Iam mo dendon judha!" pekiknya.


"Sini Baby, sama Om Rudi!"


"Eundat pawu!" pekik Liam.


Rudi berdecak kesal, ia geregetan dengan bayi tampan itu. Ia mengingat sang istri yang tengah mengandung. Leticia tak ingin datang, karena tak mau mengganggu ketenangan keluarga angkatnya itu.


"Balo mamat padhi pemua!" pekik Aidan di depan mik.


Semua heboh di bawah panggung. Para orang tua bersiap dengan kameranya.


"Pemamat lulan pahun Ata' peben e ... memoda pansan sumul!" lanjutnya.


"Peultenaltan Atuh Aidan!"


"Atuh Atila!" pekik Aqila.


"Atuh Elald!" sahut Adelard.


"Atuh Iam!" Liam ikut memperkenalkan diri.


"Atuh Lees!" Reece ikut memperkenalkan diri.


"Pami atan beupanyitan ladhu puntut Ata' peben e ya belulan pahun!" ujar Aidan lagi.


"Pom Teusil atan beulpanyi pebih pulu!"


Reece terkejut namanya dipanggil pertama kali, ia belum mempersiapkan lagu apapun.


"Iam pulu lah!" elaknya.


"Oteh Iam puluan!" sahut Liam.


"Ladhu poson pepet tansa!"


Musik pun terdengar dari sebuah layar.Jovan memang sengaja membuat panggung kecil dan akan direkam lalu ditayangkan di layar utama. Reece menyanyikan lagu potong bebek angsa.


"Soton pepet sansa ... lansa pisuali ... bona pinta pansa, pansa pempat tali ... solon te tili ... solon te tanan lalalalalala ....!"


Semua bertepuk tangan sambil bergoyang. Para orang tua pun ikut bernyanyi. Liam selesai bernyanyi, semua bertepuk tangan meriah. Kini giliran Aidan.


Musik berbunyi, semua bayi bergoyang dan bertepuk tangan.


"Picat-picat bilindin, piam-biam mewawap ... datan seetol panyut ... hap ... palu pitantap!"


"Bayo panyi pemuana!"


"Picat-picat bilindin piam-biam mewawap patan setotol bamut ... hap palu pitantap!"


Lagu berakhir, anak-anak bertepuk tangan. Semua menolak makan ketika diminta makan. Kini Adelard bernyanyi.


"Atuh bunya tansin peusil ... tubeli pana heli ... biya suta peulpain-bain ... pambil peulali-lali ... heli ... dut ... dut ... dut ... teumali ... dut ... dut ... dut! Payo lali-lali ... heli ... dut ... dut ... dut ... teumali ... dut ... dut ... dut! Payo lali-lali!"


Reece kini tau apa yang ingin dia nyanyikan. Bayi itu langsung menyambar mik.


"Ladhu punyi bujan!"


Semua anak kembali heboh bergoyan. Para pelayan diminta untuk menyuapi anak-anak. Sedang para perawat naik ke panggung menyuapi bayi-bayi itu.


"Tit ... tit ... tit ... punyi bujan, patatas lentin ... pailna pulun ... pidat pelila ... sobalah tenot ... pahan dan lantin ... bohon lan tebun ... pasah pemua!"


"Holeee!"


Akhirnya semua telah menyumbangkan suaranya. Anak-anak sibuk makan, Anton selesai makan, ia pun ingin mempersembahkan sebuah lagu.


"Kupandang langit penuh bintang beltabulan ... belkelap-kelip seumpama bintang belyan ... ada sebuah lebih telang cahayanya ... itulah ... bintangku bintang kejola yang indah selalu!"


Semua bertepuk tangan. Suara Anton begitu indah dan merdu. Manya menyukai suara bocah itu. Jovan lalu memeluk gemas anak angkat dari supirnya itu.


"Suaranya indah sekali!" puji pria itu.


"Makasih Tuan!" sahut Anton tersenyum lebar.


Acara pun akhirnya selesai. Anak-anak pulang membawa bingkisan dari yang empunya ulang tahun.


"Anton, nginep di sini aja ya," pinta Abraham.


"Nggak ah. Kasihan ibu," tolak bocah itu.


"Yah,"


Abraham sedikit kecewa. Padahal anak laki-laki itu ingin sekali mengobrol dengan sahabatnya itu. Tetapi, ia mengerti. Akhirnya Anton pulang bersama ayahnya.


Kini semua anak di kamar, hadiah seven A menumpuk diujung ruang. Hal ini adalah yang sangat dinantikan oleh Reece. Yakni pembukaan kado.


"Buka kado!" pekik Abi senang.


"Pom pantu!" pekik Reece semangat.


Mereka semua membuka kado. Kado kecil dari Anton disimpan dengan baik oleh seven A. Walau hanya sebuah kotak pensil sederhana. Tapi Abraham begitu senang mendapatkannya. Ia berencana menukar tempat pensil dengan pemberian dari sahabatnya itu.


Lalu kado-kado lainnya. Ada boneka, sepatu, tas, baju lucu, dan banyak lagi. Tapi paling banyak adalah peralatan sekolah. Itu semua hadiah dari teman sekelas seven A.


"Tasnya bagus sekali!" puji Laina ketika mendapatkan tas lucu bergambar kucing.


"Aku juga dapat tas lucu. Warna pink lagi!" seru Lika.


"Aku juga, warnanya ungu!" sahut Agil.


"Wah ... lada yan tasih painan pa'a imi?" tanya Liam.


Mereka membukanya. Sebuah benda bulat dan ada tali, semua berteriak ketika benda itu berputar ke bawah ketika talinya ditarik.


"Mama ini apa?" tanya Bhizar menunjukkan mainannya.


"Oh itu yoyo, Baby," jawab Manya.


"Yoyo?" semua anak sampai miring kepalanya.


"Sini Mama mainkan," Manya mengambil mainan itu dan memainkannya.


"Wah ... kelen!" pekik semua anak takjub.


Manya mengajarkannya pada Abhizar. Hanya beberapa kali, bocah itu pun bisa memainkannya. Lalu Abraham, kemudian Abi lalu Syah. Tapi baik Agil, Lika dan Laina tak bisa memainkan benda itu.


"Nggak apa-apa. Nggak wajib buat bisa mainin itu," ujar Manya.


Hampir seluruh kado sudah dibuka. Anak-anak kelelahan, mereka tidur dengan kertas kado yang berserakan. Manya memungut kertas-kertas itu dan mengangkat semua anak agar tidur di tempat tidur. Ia menciumi satu persatu, ia begitu gemas dengan para bayi yang semakin pintar itu.


"Cepat besar ya sayang," pintanya penuh harap. "Terus jagain Mama dan Papa nantinya."


bersambung.


next?