
Hari berlalu begitu cepat. Kini semua bersiap untuk melamar Denna suster yang menjaga seven A. Tak memiliki ayah dan ibu, membuat gadis itu tak tertekan dengan segala bentuk perijinan dan perundingan akan mahar atau pesta yang diinginkan.
Rumah Manya dijadikan tempat, karena ibu dari seven A yang memintanya.
"Denna tak memiliki keluarga, sepupunya sudah menikah dan tinggal jauh di kota,," jelas Manya.
"Lagi pula, Suster Denna sudah kukenal semenjak tujuh anak kembarku baru berbentuk embrio," jelasnya.
"Jika berkenan, aku yang akan menjadi walimu, nanti suster," tawar Abraham.
"Terima kasih tuan," Uje gadis itu.
Kini mereka ada di ruang keluarga. Eddie sangat senang dengan pilihan putranya. Pria itu tak pernah mempermasalahkan asal-usul calon menantunya. Terlebih Denna seorang perawat dan sayang dengan anak-anak.
"Jadi kami datang ke sini untuk melamar Denna Apriani untuk dijadikan istri dari putra saya Gerard Dirga Downson," jelas Eddie langsung melamar gadis yang berpenampilan sangat cantik itu.
Denna tersipu. Abraham sebagai wali menyerahkan jawaban pada sang gadis. Denna mengangguk pelan. Gerard ingin sang kekasih menyatakannya dengan kata-kata.
"Apa arti anggukanmu Denna?" tanya pria itu gusar.
"Saya menerimanya," jawab gadis itu akhirnya.
Semua mengucap syukur, para bayi keluar. Amertha dan Ramaputra juga hadir di acara lamaran itu.
Gerard sedikit lega. Tinggal prosesi pernikahan mereka. Semua sepakat diadakan dua bulan mendatang.
"Bagaimana jika mengucap sumpah dulu baru pestanya?" ujar pria itu tak sabar.
"Kenapa buru-buru?" tanya Ramaputra heran.
"Biar aku bebas memeluk dan menciumnya ... oh ... ayolah ...!" jawabnya makin gusar.
"Astaga ... nak!" Eddie berdecak kesal pada putranya itu.
Denna tertunduk, mukanya memerah. Agil menatap susternya itu. Ia juga menatap pria yang ia klaim sebagai miliknya.
"Hiks ... hiks!" Agil terisak.
"Eh?" semua panik melihat bayi cantik itu menangis.
"Baby? Kenapa sayang?" tanya Leni.
"Bustel Penna ... Papa yayah Lelat puat Adil aja ya ...," pintanya.
Semua mengerutkan keningnya. Denna baru ingat jika Agil menyukai Gerard.
"Tapi, Suster sayang sama papa yayah Gerard baby," ujar gadis itu.
Agil menangis ia mendekati pria kesayangannya. Semua tersenyum lebar. Sedang enam anak lainnya tengah kebingungan kenapa saudaranya menangis.
"Tamuh teunapa syih Dil?" tanya Syah bingung.
"Papa yayah bawu meunitah ... hiks ... hiks!" ujar Agil.
Gerard menciumi bayi cantik itu gemas.
"Baby, sama Om Hasan aja yuk!" ajak Hasan.
Agil teralihkan. Ia pun mendekati salah satu sahabat ayahnya itu. Laina dan Lika juga ingin ikut. Sedang Bhizar, Abi, Syah dan Abraham mencebik pada saudara perempuannya.
"Mama ... meuleta denit mama!" adu Syah.
"Babies boy ikut Om Bernhard aja yuk,"
"Pohon ... euntal Om dodain sewet-sewet!" tolak Bhizar.
Jovan terkikik geli. Sedang Bernhard berdecak kesal campur gemas.
"Udah yuk sama Om Lektor aja," kali ini Lektor yang mengajak.
"Om Petol ladi ... pawa tita buma pawu bidedetin sewet!" sahut Abraham kecil sebal.
Jovan tak tahan untuk tertawa. Sedang yang lain hanya tersenyum lebar. Dua tersangka cemberut kesal. Tinggal Bima saja yang belum menawarkan diri.
"Kalo Om Bima sayang?" tanya Ramaputra usil.
"Om Pimpa mah beulit popa ... eundat beulnah peliian pa'a-pa'a talo zalan-zalan," sahut Abi yang diangguki semua bayi.
"Hei kemarin yang bayar es krim siapa?" sahut pria itu kesal.
"Tata Papa yayah Lelat, Papa yayah Lelat beuldili yan payalin ez plimna," kini Lika yang bersuara.
Gerard terkikik. Bima kesal bukan main.
"Om yang bayar buka papah lalat mu itu!" gerutunya kesal.
"Balat pa'a?" tanya semua bayi.
"Lalat sayang," ralat Manya.
Ibu dari tujuh bayi kembar itu berkali-kali menghela napas panjang dengan aduan pada bayi tentang sahabat suaminya. Memang baik Gerard, Lektor, Bima, Bernhard dan Hasan sering mengajak anak-anak untuk menarik para gadis-gadis baik.
"Blalat!" seru semuanya.
"La!"
"Bla!"
"Pla!"
Abraham menggaruk pelipisnya. Akhirnya membiarkan para bayi mengucapkan sesukanya.
"Lalat itu binatang yang ada di makanan busuk, sampah dan benda kotor lainnya," jelas Manya.
"Oh ...," sahut semuanya.
"Pati pasa Papa yayah Lelat pama syama balat?" tanya Abi bingung.
"Jangan dengarkan itu ya baby, itu perkataan tidak baik, oke!?" nasihat Manya.
"Oteh Mama," sahut semuanya kompak.
"Eh ... papa yayah, pita banat wuwan woh!" sahut Syah mengingat masalah uang kemarin.
"Ah ... piya ... pita tan pawu buta beulusahaan!" sahut Agil.
"Mama uan teumalin bana?" tanya Bhizar.
"Ada baby, memangnya kalian mau buat usaha apa?" tanya Manya.
"Pitu yan pita binun mama, pusaha pa'a yan panyat puntunna!' sahut Abi sok.
Bunyi gemerutuk karena gigi beradu terdengar. Para pria dewasa begitu gemas dengan perkataan sok dewasa para bayi yang baru dua tahun beberapa minggu lalu.
"Usaha yang banyak untung, belum ada baby. Tapi mau nggak kalau uangnya jadi berkah untuk semua orang?" ujar Manya memberitahu.
"Beltah pa'a ma?" tanya Syah.
"Berkah itu sesuatu yang baik dari Tuhan," jawab Manya.
"Ah ... seupelti bahala ya ma?" sahut Lika dengan mata bulat.
"Benar sayang, seperti pahala," sahut Manya membenarkan.
"Mawu mama ... tata Bustel Pleni talo pita eundat matal pita bapat bahala," sahut Laina.
"Ih ... kalian pinter-pinter amat sih. Yuk, ikut Moma Lala main ke mall!" ajak wanita itu.
"Kita makan es krim, kentang goreng dan sosis!"
"Talo puat matan ipu pi lumah judha lada Moma Lala!" sahut Abraham bijak. "Eundat syusyah te mboll. Puan-puan puit!"
"Oh ... astaga, anakmu Manya!" gerutu Clara kesal dengan perkataan Abraham itu.
"Sudah lah ... semua sudah diputuskan. Pernikahan akan dilaksanakan awal dua bulan mendatang," ujar Abraham menyudahi percakapan yang tak berujung.
"Aku harap kau bersabar Gerard! Juga jaga mata dan hatimu, jauhi klub jika semuanya ingin lancar!" tekan pria itu lagi.
Gerard menatap gadisnya. Ia memang jatuh cinta dan belum berkeinginan untuk menikahinya. Ia masih ingin lebih mengenal Denna lebih dalam.
Gerard mengangguk setuju apa perkataan dari pamannya itu. Walau ia merasa berat meninggalkan kesenangan itu, tapi kemarin sang ibu memberi ancaman padanya jika tak mau menikahi Denna secepatnya. Terlebih salah satu sahabatnya juga menyukai gadis itu.
"Jangan mempermainkan perempuan!" tekan sang ibu.
"Jika kau hanya ingin berpacaran dan bersenang-senang. Putuskan Denna sekarang juga!" tekan Clara pada putranya.
"Dia akan jadi istriku tiga bulan mendatang. Aku harus memperbaiki diri," tekadnya dalam hati.
"Kalian juga, harus berubah nak!" nasihat Abraham pada sahabat-sahabat putranya itu.
"Tak ada wanita baik-baik yang nyasar di klub, hidup ini bukan seperti novel ketika masuk klub ada gadis baik-baik yang patah hati dan mabuk lalu bisa kau tiduri," sahut pria itu lagi.
Hasan, Bima, Lektor dan Bernhard diam menunduk. Semenjak bertemu Manya Hasan sudah memutuskan dua kekasihnya juga tiga selingkuhannya. Begitu juga yang lainnya, walau klub masih menjadi tempat mereka mencari hiburan ketika penat.
"Pulang dalam keadaan mabuk itu bukan solusi, bro aku sudah katakan itu dari dulu. Aku ikut kalian karena masih ingin kalian selamat dari para predator wanita penjebak," ujar Jovan memperingati.
"Mama ... blup ipu pa'a?" tanya Abi ingin tau.
"Biya ... mabut judha pa'a?" kini Syah yang bertanya.
"Ah ... atuh pahu pa'a ipu semua!" sahut Abraham.
"Pa'a?" tanya semuanya.
"Talo blup ipu bempat lolan jodet-jodet ... tlus talo mabut ipu talo pita nait bomil buntah ... huek ... dithu!" jawabnya yakin.
bersambung.
yang klub benar baby ... tapi mabuk kok itu? 🤦
next?