THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
TERUNGKAP



Kondisi Leticia memang mengalami kemajuan. Sayang, gadis itu kembali koma setelah kedua orang tuanya datang.


Ramaputra dan Amertha terhenyak mendapat putri mereka berdua kembali antara hidup dan mati.


"Jadi kenapa putri kami menjadi koma setelah kemarin dokter bilang telah ada kemajuan?" tanya pria itu dengan pandangan kosong.


"Kami mengobservasi pasien langsung. Pergerakan kemarin adalah traumatik belakang yang diidap oleh putri anda, jadi menurut dugaan kami, Nona Leticia sadar jika sesuatu hal buruk terjadi padanya dan mengakibatkan dia bergerak seperti ingin melarikan diri," jelas dokter menyesal.


"Jadi kemarin kalian salah diagnosa?"


"Maaf tuan, gejalanya mirip dengan orang yang sadar, karena respon panggilan sangat cepat bereaksi pada tubuh nona!" ujar sang dokter dengan nada permohonan maaf.


"Aku akan bawa dia ke luar negeri!" ujar pria itu.


"Maaf, bukan kami melarang. Tapi kondisi pasien tidak bisa dipindahkan kemanapun, jika pun tuan memaksa, kami tak bertanggung jawab!" tolak dokter sekaligus melarang.


Amertha mendekati putrinya yang berbaring lemah. Suster menuntun wanita itu duduk di pinggir ranjang. Ada terjadi pembengkakan pada tubuh Leticia akibat kurang gerak dan pelemasan otot.


Amertha menggenggam tangan Leticia lalu mengecupnya. Air matanya sudah mengajak sungai deras membasahi pipi.


"Sayang, bangun nak," pintanya lirih.


"Mommy kangen kamu, nak. Kangen sama suara manjamu, kangen dengan senyummu, sebelum kau berpacaran kau adalah gadis yang manis, jadilah seperti itu sayang," pinta Amertha sedih.


Ia mengecup kening putrinya yang masih terbungkus kain perban. Rambut hitam panjang bergelombang milik gadis itu harus dicukur habis agar operasi berjalan mudah dan tak ada kendala.


Rudi datang dengan banyak berkas di tangan. Ramaputra harus menyelesaikan semua pekerjaan di rumah sakit.


"Tuan, saya menemukan amplop ini di meja kerja tuan di mansion," ujar Rudi memberikan amplop putih.


Ramaputra baru teringat akan amplop dengan logo rumah sakit itu.


"Baiklah terima kasih, Rud. Kau bisa menggantikanku pada rapat jurnal di perusahaan nanti?" pria itu mengangguk.


Rudi pergi, suster dan dokter yang menangani Leticia juga sudah keluar dari tadi.


"Sayang, apa isi amplop itu?" tanya Amertha.


"Duduk sini sayang,"


Amertha duduk di sisi suaminya. Ramaputra melihat gadisnya yang masih setia memejamkan mata.


"Ini adalah hasil tes DNA," bisiknya pelan.


Amertha menatap suaminya dengan pandangan bulat. Mata indahnya menitikkan air mata. Ia sudah tau perkara golongan darah sang putri yang sangat berbeda dengan mereka berdua.


"Apa pun hasilnya, dia adalah putriku!" tekan Amertha juga berbisik.


Rama membuka amplop dan mengeluarkan kertas. Membuka lipatan dan mulai membacanya.


Beberapa bacaan dan angka tak dimengerti oleh keduanya, dan ketika di paragraf akhir di sana tertulis hasil dari semua pemeriksaan yang dilakukan oleh Ramaputra.


Amertha menutup mulutnya. Penyelidikannya selama ini akhirnya terjawab. Ia menggeleng kuat dan menolak percaya dengan hasil yang baru saja ia baca.


"Sayang ... putri kita ...."


Ramaputra tak dapat lagi menyembunyikan tangisnya. Keduanya berpelukan dan saling menangis. Ramaputra meminta maaf pada istrinya.


"Kita ke rumah sakit itu untuk menanyakan kebenarannya," ujarnya sambil tergugu.


"Iya sayang, lakukan lah, agar semuanya jelas," sahut Amertha.


Ramaputra menatap wajah cantik istrinya. Ia juga heran kenapa dirinya dulu mengkhianati cinta sang istri. Padahal dua wanita yang menjadi selingkuhannya tidak lebih cantik dan lebih baik dari istrinya.


Ramaputra mencium bibir sang istri. Amertha membalas pagutan itu. Keduanya larut dalam ciuman yang dalam dan lama.


Sementara di tempat lain. Satuan polisi menemukan di mana anak dari pasangan suami istri kaya raya itu.


"Kami telah menemukan bayi anda, tuan!" ujar kepala tim penyidik.


Keduanya saling berpelukan, entah berapa banyak uang yang digelontorkan keduanya hingga penyelidikan bisa secepatnya diungkap.


"Lalu di mana putri kami berada pak?" tanya sang pria tak sabaran.


"Jika menurut data yang kami peroleh, putri kalian ditukar dengan bayi yang lahirnya di hari dan waktu yang sama dengan putri anda," lanjut polisi itu.


"Iya, kemarin juga pihak rumah sakit mengatakan itu!" pria itu mengeraskan suaranya.


Ia begitu kesal dengan jawaban yang bertele-tele.


"Putri anda berada di tangan keluarga Artha!"


"Ah, dia adalah pebisnis nomor satu di Asia, bahkan juga perusahaan utamanya ada di kota ini kan?" polisi itu mengangguk.


"Syukurlah, putri kita tak kekurangan," ujar sang wanita lega.


"Tapi dalam kasus ini ada dugaan pencurian bayi. Dan bayi yang dicuri adalah milik keluarga Artha," lapor polisi itu.


"Kami tak peduli dengan bayi pasangan itu. Yang terpenting kami akan mengambil putri kami!" seru sang wanita tak peka dengan masalah orang lain.


"Baik lah, kami akan memberikan semua berkas dan dokumen dalam menunjang proses semuanya. Perlu anda ingat, putri anda diasuh penuh cinta oleh keluarga lain, sebaiknya anda memperlihatkan empati anda," terang polisi mengingatkan.


"Sudah jangan banyak bicara! Penjarakan semua orang yang bekerja di rumah sakit ini!" titah sang pria tak ambil pusing.


Polisi diam. Mereka menghentikan penyelidikan sementara kasus bayi ditukar ini.


Irham Wijaya dan Renita Akhsan adalah pasangan suami istri kaya raya. Keduanya merupakan pengusaha ternama di kota, bahkan kekayaan mereka menyamai keluarga Artha. Walau tak pernah saling bekerja sama, karena bisnis yang mereka geluti sangat berbeda.


Irham memeluk istrinya erat. Pria itu bahagia setelah menemukan keturunannya. Begitu juga Renita.


"Kita akan terima apapun hasil didikan Artha pada putri kita ya sayang," ujar pria itu.


"Iya, pasti dia manja sekali," ujar wanita itu dengan pandangan menerawang.


Mereka saling berciuman dan melakukan penyatuan cinta di kamar mereka yang hangat.


Sementara di mansion, Jovan bermain bersama tujuh anak kembarnya. Pria itu mengajarkan warna-warna.


"Ini warna apa?"


"Bunin!" jawab Bhizar semangat.


"Kuning baby, bukan bunin," ralat Jovan.


"Coba ulangi, ku-ning!'


"Pu-nin!' sahut Bhizar.


"Ku," ulang Jovan. "Ning!"


"Pu ... min!" sahut Syah membeo.


"Baby ... say Ku ..."


"Tu!" koor semua kompak.


"Ning!" lanjut Jovan.


"Min!"


"Bin!"


"Nin!"


Lanjut Syah, Abi dan Abraham meniru perkataan ayah mereka.


"Baby ...."


"Sayang ... mereka belum bisa bicara, jangan dipaksa!" tegur Manya pada sang suami.


Jovan menciumi bayi-bayi lucunya itu hingga tergelak.


"Mama palpal!" seru Laina mengelus perut buncitnya.


"Ini, makan buah ya," ujar Manya memberi potongan buah pada putra dan putri kembarnya.


Semua memakan dengan lahap. Habis makan buah, pada suster menghidangkan pie buatan Manya.


"Wah, enak sekali sayang," puji Jovan ketika memakan kue buatan istrinya.


Manya hanya tersenyum lebar dengan semburat rona merah di pipinya. Jovan mencium gemas pipi istrinya hingga menimbulkan protes pada seven A.


"Papa yayah janan pium-bium mama!" Larang Bhizar menjauhkan wajah ayahnya.


Bukannya mengikuti perkataan putranya, Jovan malah berusaha keras mencium pipi istrinya lagi. Hingga Manya harus memarahi sang suami karena gara-gara itu Bhizar menangis.


bersambung.


ah ... kan ...


next?