THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
PERISTIWA



Kini makin banyak anak yang bergabung di studio milik Seven A. Banyak anak memiliki talenta yang sangat bagus namun belum ada tempatnya.


Beberapa guru secara suka rela mengajar anak-anak berbakat itu. Banyak di antaranya mengikuti even-even atau pertandingan untuk mengasah bakat mereka.


"Ada delapan anak dibawah asuhan studio kita mengikuti lomba melukis di salah satu even internasional termasuk Wiwid," lapor Denta.


"Apa yang di medsos itu Den?" tanya Abraham.


"Iya nih, kita vote lukisannya yuk," ajak Denta.


"Kau lupa Den, kita kan belum bisa punya akun medsos," Denta menepuk keningnya.


"Kita minta orang tua kita aja sama guru-guru sekolah!' sebuah ide brilian dituangkan Laina.


"Boleh juga, kan bisa buat sekolah kita ikut terkenal ya?" ujar Hery salah satu teman mereka.


Angga dan lainnya mengangguk setuju. Mereka akan bilang pada orang tuanya untuk mendukung salah satu teman mereka yang sedang ikut berkompetisi.


Setelah melakukan pertemuan, Pak Sidik ikut melaporkan pembangunan masjid yang berlangsung. Pria itu tentu sering melakukan kontak dengan semua yang terlibat, Pak Sidik sendiri yang membeli tanah lalu mewakafkan pada desa dan dibangunkan masjid agar orang-orang tak jauh-jauh menuju masjid raya yang jaraknya cukup jauh.


Seven A menyerahkan penuh pembangunan masjid pada supir mereka itu. Semua uang telah diberikan pada pria itu jadi Pak Sidik yang merinci semua pengeluaran.


"Assalamualaikum ... kami pulang!" seru Seven A berhamburan masuk ke mansion Abraham.


Kini mereka semua berada di istana Dinata. Setelah mencium semua orang tujuh anak kembar itu mencari keberadaan ibu mereka. Semua masuk kamar lalu mencium ibu mereka.


"Sayang," Manya senang semua anak begitu sayang padanya.


"Oh ya, kalian mau nggak rumahnya dituker sama mansion ini. Kan nggak begitu jauh kan kalo ke sekolah?" tanya Maira.


"Terus Moma tinggal di mana?" tanya Lika.


"Moma tinggal di rumah kalian sayang," jawab Maira. "Jadi kita tukeran."


"Ya terserah Mama sih. Kita kan ikut Mama," sahut Abi.


""Nah ... anak-anak sudah menjawab sayang, bagaimana?" tanya Maira pada menantunya.


Manya mengangguk setuju. Wanita itu juga perlu kamar banyak karena anaknya bertambah tiga. Memang rumah sebelumnya cukup besar dan mampu menampung semuanya. Tetapi, jika menginap mereka harus tidur berdesakan.


"Di sini semua anak bisa punya kamar sendiri-sendiri," ujar Maira lagi.


Jovan pun setuju, ia tak jadi membeli hunian baru karena mereka akhirnya hanya tukar tempat dengan kedua orang tuanya.


"Tuan ... ini perincian pengeluaran pembangunan masjid," ujar Sidik menyerahkan laporan itu.


Ramaputra menerimanya, memeriksa sesaat, pria itu kagum dengan laporan Sidik yang begitu teliti dan terperinci.


"Baik Pak, makasih ya. Kamu bisa pulang," ujar Ramaputra meminta pria itu untuk segera pulang.


Sidik membungkuk hormat. Pria itu pun pulang ke rumah menggunakan motornya. Ramaputra berpikir untuk memberikan pria baik itu sebuah mobil sederhana.


"Untuk hadiah loyalitasnya," gumamnya dalam hati.


Sore menjelang, Manya menatap semua anak-anak yang asik bermain dan ribut seperti pasar. Wanita itu tak pernah merasa berisik dengan keributan itu. Demira datang dan mengelus perut cucu menantunya.


"Sehat terus ya sayang," doanya berharap..


"Makasih Grandma," ujar Manya.


"Ayo sini makan kemilan dulu!' teriak Maira.


Amertha duduk di sebelah putrinya. Jika hari libur begini Rudi tidak bersama mereka, ia tentu ada di rumahnya bersama anak-anak yang mulai berisik, karena putra dari Irham dititipkan di sana.


Bayi itu tergelak karena dikejar oleh salah satu saudaranya.


"Baby ... sini jangan ngumpet!" ujar Alisa.


'Eundat bawu!" pekik Aislin dengan napas terengah.


Amertha mengecup sayang cucu dari besannya itu. Aislin bayi cantik bermata biru, sama dengan Liam sang kakak yang menurun gen dari ayah mereka.


"Main lagi sama Kakak sana sayang," pinta Amertha.


Aislin digendong oleh Alisa. Bayi itu begitu senang karena kakaknya itu menciuminya dengan gemas. Ia berlari karena Alisa ingin mencium ketiaknya.


"Ma ... tiga adik Elald bakalan milip spasa?" balita tampan itu mengelus perut ibunya.


"Pastinya mirip kalian," jawab Manya.


"Lees yatin eh yakin kalo yang ini milip Mama semua!" terka Reece.


"Mau mirip Mama atau siapa tidak masalah, yang penting lahir dengan selamat,' sahut Jovan.


Pria itu menggendong salah satu putranya itu lalu menyembur perut bulat Adelard. Tentu saja gelak tawa terdengar.


"Padanna peusal ... tananan teusil ... talo benaum ... yan lain lansun mundul ... pilet ... pilet ... pilet ipu manana!" Aislin menyanyikan lagu baru.


Anwar terkekeh mendengar lagu itu. Ia pun ikut menyanyikan lagu dengan benar dan bergaya ala hewan dinosaurus itu. Semuanya mendadak jadi dinosaurus.


"Kak ajarin kita apa aja itu dinosaurus!" pinta Bhizar antusias.


"Oh tentu!" sahut Azlan semangat.


"Dilansir dari Natural History Museum, dinosaurus pertama kali muncul pada periode trias zaman Mesozoikum, tepatnya sekitar 252 hingga 201 juta tahun yang lalu ...," Azlan memulai ceritanya.


Semua duduk menyimak sambil makan cemilan yang dibuat oleh para maid.


"Dinosaurus diketahui telah punah 66 juta tahun lalu. Dari hujan meteor sampai aktivitas vulkanik, apa penyebab spesies raksasa ini punah? Beberapa ilmuwan meyakini komet atau asteroid yang jatuh ke Bumilah yang menyebabkan punahnya dinosaurus dan kehidupan lain," lanjutnya.


"Nama-namanya seperti, Albertosaurus, Allosaurus, Coelophysis, Deinonychus, Oviraptor, Spinosaurus, Tyrannosaurus, dan Velociraptor."


"Tyrannosaurus rex atau T-rex bisa dibilang sebagai spesies dinosaurus paling populer di dunia. Reputasi mereka sebagai predator raksasa ganas membuatnya sangat terkenal!" lanjut Azlan.


"Wah ... apa T-rex itu hewan karnivora?" tanya Abraham.


"Iya, bahkan T-rex bisa disebut hewan kanibal yang juga memangsa sesamanya jika berebut makanan dan kekuasaan!' jawab Azlan.


"Memang berapa besarnya T-rex Paman?" tanya Abigail.


"Tubuh berotot T. rex membentang sepanjang 12 meter, dari moncongnya hingga ujung ekornya, dengan berat hampir 8 ton," jawab Azlan.


"Wah ... besar sekali!" sahut Syah dan Laina takjub.


"Ada hewan lebih besar dari T-rex Giganotosaurus. Hidup puluhan juta tahun lebih dulu dari T-rex, Giganotosaurus juga merupakan dinosaurus theropod dengan ukuran sedikit lebih besar dan berat dari T-rex. Spinosaurus bahkan lebih besar, tapi mungkin takkan bisa berbuat banyak di darat," jawab Azlan lagi.


"Kalo Sauropoda adalah jenis hewan besar pemakan tumbuhan (herbivora). Contoh jenis hewan ini adalah Apatosaurus dan Diplodocus. Jenis dinosaurus pemakan tumbuhan yang lain adalah ornithopoda. Hewan ini bertubuh lebih kecil dan berjalan menggunakan dua kaki, seperti Iguanodon," jelasnya panjang lebar.


Semua anak bertepuk tangan Aldebaran begitu takjub akan pengetahuan salah satu putranya itu tentang makhluk purbakala.


"Kamu pintar sayang," pujinya.


Bersambung.


Ah ... guys ... seven A sebentar lagi akan habis ya ... nikmati episode-episode terakhir seven twins!