THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
PREWEDDING



Semua bersiap. Leticia sudah datang dan menginap di rumah Amertha bersama suami dan dua anak kembarnya. Begitu juga Renita dan Irham.


"Wah ... Daddy tampan sekali!" puji Irham.


"Dad, apa perlu kuberikan obat kuat?" bisiknya usil.


"Kau kira aku impoten?" sahut Aldebaran sengit.


"Ayolah Dad, usiamu sudah mau sembilan puluh," ledek Irham meledek.


"Jangan salah, jika Tuhan berkenan. Aku akan membuat hamil ibumu!" sahut pria itu.


"Dad, jangan macam-macam! Mommy sudah tua, jangan menyiksanya untuk hamil!" tekan Praja.


Aldebaran cemberut, pria itu tau jika usia Demira tak memungkinkan untuk hamil. Besok pagi mereka akan pergi ke sebuah studio besar. Aldebaran telah memilihnya karena pernikahan Manya dan Jovan lalu Gerard dan Denna. Keluarga Downson juga hadir mengikuti prewedding.


"Tidurlah Dad. Istirahat, aku tak mau kau jatuh sakit ketika hari H!" suruh Abraham.


Hari sudah mulai larut. Semua telah tidur. Akhirnya para pria juga kembali ke kamar mereka masing-masing. Irham dan Renita menginap di rumah Amertha.


Pagi hari setelah sarapan, semua mulai berangkat ke tempat pemotretan, Praja dan Abraham menjemput calon ibu mereka. Para bayi difoto terlebih dahulu. Fotografer sangat tau apa yang harus dilakukan. Ia sudah berkali-kali memotret Kekuarga kaya raya itu.


Gaya natural para bayi jadi sorotan fotografer. Maiz, Tita, Reiden, Raichia, Pramana bergaya sesuka mereka. Seven A pun bergaya ala mereka begitu juga triple A, Liam dan Reece.


"Astaga ... mereka menggemaskan sekali!" ujar pria itu.


"Kak, kita ambil sebagian gambar mereka," bisik asistennya yang begitu cantik dan seksi.


"Aku tidak berani," ujar pria itu juga berbisik.


"Bisa-bisa aku dan studio ini jadi tanah." lanjutnya ketakutan.


Aldebaran kini berfoto dengan Demira. Wanita itu duduk di sebuah ayunan, sedang Aldebaran berdiri sedikit berjarak. Keduanya selain memandang dengan senyum indah.


Beberapa pose diambil, lalu kini semua keluarga jadi satu, mereka berfoto ala mereka. Gaya yang diarahkan dan gaya terserah mereka.


"Akhirnya selesai juga!" ucap Demira lega.


"Belum sayang, kita belum menikah," sahut Aldebaran.


"Ah ... iya, bagian paling penting adalah itu," sahut wanita itu.


"Uyut, nanti ada panggung kan?" tanya Reece.


"Tentu saja, ada panggung khusus untuk kalian!" jawab pria gaek itu.


"Holeee!" pekik para bayi senang.


"Mana Chia dan Maiz?" tanya Manya.


Semua kepala menoleh, dua bayi itu memang senang berpetualang sendiri. Mereka berada di sebuah box foto dan mencoba berbagai atribut di sana.


"Mama ... otlet Chia!" pekik Raichia.


Bayi itu memakai topi koboi yang tentu menenggelamkan seluruh wajahnya. Semua tertawa. Leticia tentu langsung memfoto mereka. Bahkan Mai memakai kumis yang menutupi mulutnya.


Akhirnya sesi foto-foto selesai. Mereka kini pergi ke sebuah restoran milik Abraham. Di ruang VVIP, mereka kembali bercengkrama. Seven A senang karena tidak tidur siang.


"Grandpa, kita harus pulang. Anak-anak harus tidur siang!" ujar wanita itu.


"Ma ... sekali-kali sih!" pinta Agil.


"No baby!" tolak Manya tegas.


Jovan tidak akan membela anak-anak, jika tidak mau dimarahi istrinya.


Usai makan siang mereka pun pulang, setelah mengantar Demira ke rumahnya.


"Daddy nanti tinggal sama Mommy?" tanya Praja menoleh pada ayah angkatnya itu.


"Menurutmu?" tanya Aldebaran memutar mata malas.


"Kok kesannya numpang ya?" sahut Praja.


"Praj!" tegur Abraham.


Praja hanya mencebik, pria itu meledek Aldebaran. Pria itu tentu kesal dibuatnya.


"Aku akan beli rumah bagus untuknya!" sahutnya gusar.


Maira dan Abraham memutar mata malas. Saskia ada di sisi suaminya. Jangan tanya putranya, Pram tidak mau ikut dengan mereka.


"Huek!" Saskia mual.


"Sayang?" semua langsung khawatir.


"Saya tidak apa-apa, Pi, Mi," sahut Saskia cepat.


Sampai di rumah Manya. Irham langsung pamit begitu juga Leticia. Walau anak-anak menangis, tapi Leticia berhasil membujuk semuanya.


"Nanti benel ya, ke sini lagi!" ujar Aqila sedih.


"Iya sayang," sahut Leticia lalu mencium gemas pipi gembul Aqila.


Kini anak-anak disuruh tidur siang. Manya benar-benar keras. Wanita itu tidak mau dibantah.


"Nurut sayang," ujar Jovan pada semua anak.


"Sayang," panggil Jovan cemas.


"Ini biasa bagi ibu hamil sayang," sahut Manya lalu tersenyum.


Jovan mencium lembut bibir sang istri. Pria itu merasa sudah lama tidak berciuman dengan Manya. Akhirnya, pria itu ikut merebahkan badan dan tidur bersama istrinya.


Sore menjelang, anak-anak sudah bersih dan wangi. Mereka bercengkrama, rupanya semua ingin mempersembahkan sesuatu di pesta pernikahan uyut mereka.


"Jadi kita nyanyi dangdut untuk menghibur semua?" tanya Abraham memastikan.


"Selain dangdut pastinya lagu anak-anak," sahut Abi.


"Ah ... pasti semua bayi mau bernyanyi," sahut Abraham lagi.


"Bagaimana pertunjukan drama juga?" Lika memberi usul. "Yang main Aunty Maiz dan Aunty Tita juga Om Reece!"


"Masa cuma beltiga?!" sahut Reece tak setuju.


"Baby Liam juga boleh, sama Reiden dan Raichia sama Pram!" sahut Laina.


"Atuh itut?" tanya Pram.


"Iya Baby, kamu juga ikut," jawab Syah.


"Atuh papain?" tanya Pram mulai bingung.


"Bisa nyanyi?" Pram menggeleng.


"Main drama?"


"Plama pa'a?" tanya Maiz.


"Ah ... atuh eundat pisa pa'a-pa'a," keluh Pram.


"Kamu pasti bisa Baby, Kakak latih mau?" tawar Laina.


"Aiz bawu judha!"


"Iya judha!"


"Ais sudha!" sahut Aislin kesal karena kakaknya melupakan dirinya.


"Oh sayang ... maaf, kami nyaris melupakanmu," ujar Abi.


'Bebebwnhgsv shshs wbajsnjamshs vsvsbsksibevusnwusvbvhushms!" omel Aislin dengan bahasanya sendiri.


"Ah ... atuh eh aku bingung ngajarin Baby Ais ngomong," keluh Liam.


"Sudah biarkan," ujar Abraham.


"Kita latihan nyanyi yuk!" ajaknya.


"Ayut!" seru Tita, Maiz dan Aislin juga Pram.


"Papa Praj, tolong pasangin karaoke dong," pinta Laina.


"Oke sayang," Praja pun memasang alat karaoke.


"Makasih Papa," sahut Laina dan lainnya senang.


"Sekarang latihan, Pram nyanyi ya!" ujar Abi.


Saskia merekam aksi anak-anaknya. Pram mulai bergoyang ketika mendengar musik. Pinggulnya ke kiri dan ke kanan.


Bait pertama Syah mengajari Pram bernyanyi. Setelah dua kali diajari akhirnya bayi tampan itu bisa bernyanyi.


"Satu lagi putar Papa!" pinta Abraham.


Praja mengulang lagu sama. Bayi itu kembali bergoyang berikut Maiz, Tita dan Aislin.


"Lada lali dindu tululut Yayah tepota ... bait lelman sistibewa su dudut pimuta ... lududud muta pasutil yan ledan peuleja ... lempelalai duda pupaya pait salan na ... hei sulilalilut lilalilut ... sulilalilut lilalilut ... fuala saptu duda!"


"Uhuk!" Praja tersedak.


Semua memilih menahan tawa mereka bahkan Ramaputra tak tahan sampai menyembur.


"Astaga Praja!" gemas Jovan.


"Beri tepuk tangan pada Baby Pram!" seru Syah di depan mik.


"Macacih ... macacih!" seru bayi itu.


"Sekarang Aunty kecil nyanyi!"


Musik bermain, lagu naik delman kembali berputar karena Maiz hanya ingin lagu itu.


"Slada bali nindhu sululut bayah selota ... sait lelman listisewa sululut pituta ... sululut muta pasusil yan sedan seleja ... lendalali suda puyaya pait salanna ... hey ... tutitatitutitatut ... slulilalilutlilalilut ... sala patu duda!"


Bersambung.


Atur aja itu lagunya kek apa. 🤭


next?