
Waktu memang tak bisa dihentikan. Kini seven A akan merayakan ulang tahun ke tiganya. Sedang kandungan Manya kini sudah berusia delapan bulan.
Bhizar, Abi, Agil, Syah, Laina, Lika dan Abraham duduk di sofa sambil bertepuk tangan. Beberapa anak dari kolega, Jovan, Abraham, Ramaputra.
"Hadiah pita banat woh!' sahut Agil menatap tumpukan kado di pojok ruang.
"Pototna atuh bawu bomil!" lanjutnya.
"Agil ... tamu ipu sewet ... pasa bainan bomil!" sahut Abraham protes.
'Mama ... poleh ya Agil hadiahna bomil," pinta bayi cantik itu.
"Baby jika bonekanya lebih, masa mau saudara laki-laki mu yang main boneka?" ujar Maira memberi pengertian.
"Nanti kalau mau mobil-mobilan, Papa Yayah Gerard yang belikan, oteh?" sahut Gerard.
Agil akhirnya mengangguk setuju. Ia juga tak mau saudaranya yang laki-laki bermain boneka.
Lagu happy birthday dinyanyikan. Semua anak bertepuk tangan meriah. Setelah tiup lilin, semua anak-anak makan bersama.
Acara dihibur oleh pertunjukan sulap. Anak-anak tak suka badut, jadi Manya tak menyewa badut untuk meramaikan pesta ulang tahun ketujuh anaknya.
"Atuh bawu banyi!" pekik Abraham ketika acara sulap berakhir.
"Ladhu imi atuh peulsempahtan puntut Tata-tata pemuana!" ujarnya.
"Batahali teundelam hali pudah balam ... teuldenal pulun hantu pualana beuldu ... tutut ... tututututut ... tutut ... tututututut!"
Semua bertepuk tangan meriah. Abraham melanjutkan lagunya hingga selesai. Usai Abraham, salah satu anak maju juga mempersembahkan lagu berbahasa Inggris. Kening tujuh batita mengerut mereka tak paham bahasa Inggris.
"Abi, dia banyi pa'a?' tanya Syah berbisik.
"Eundat pahu, beubeltina ladhu pahasa blanet!" jawab Abi juga berbisik.
"Mama ... lolan ipu panyi pa'a ma?" tanya Lika dengan mata bulatnya.
"Itu lagu twinkle-twinkle little star, baby," jawab Manya.
"Ladhu pa'a tata Mama?" tanya Laina.
"Pintel-bintel pites tal," jawab Lika.
"Oh ... altina pa'a?" tanya Laina lagi.
Lika menoleh pada ibunya.
"Bintang kecil baby," jawab Manya lagi.
"Tot peda ya busitna?" gumam Lika bingung.
"Atuh bawu panyi!' seru Lika kini.
Bayi cantik itu mengenakan dress kembang warna jingga dengan gambar potongan buah semangka. Sangat cantik dan lucu serta menggemaskan.
"Lagu apa baby?" tanya pemain musik.
"Pinta teusil!" jawab Lika yakin.
Musik mengalun, bayi itu sudah menggoyang tubuhnya.
"Bintan teusil ... pi lanit yan pilu ... lamat banat beunpias lantasa ... atuh pinin ... peulban ban meulani ... pauh tindi teutempat tau belada!"
Semua ikut bergoyang dan bernyanyi bersama Lika. Lagu selesai. Bayi cantik itu, membungkuk hormat.
Bingkisan dibagikan. Semua tamu pulang dengan senyum indah dan ucapan terima kasih dari pemilik acara.
"Moma ... ladiahna Pana?" tanya Lika meminta hadiah dari neneknya.
"Tentu ada dong baby," ujar Maira.
Amertha sudah membawa tujuh bungkus kado ukuran besar. Maira juga sama.
"Wah ... bisina pa'a ya?' ujar Abraham..
Bhizar langsung merobek bungkus kado, ia tak sabar untuk melihat isinya. Sebuah mobil remote. Bayi itu bersorak, begitu juga Abi, Syah dan Abraham. Sedang Abigail, Laina dan Lika mendapat satu set boneka Barbie.
"Matasih Moma!" sahut semua bayi kompak.
"Jangan makasih aja. Ayo, cium!" titah Manya.
Semua bayi mencium dua nenek mereka. Gerard datang bersama istrinya. Membawa satu kado besar yakni mobil listrik. Semua anak bersorak kesenangan.
"Papa Yayah Lelat, ladiahna peusal setali!" sahut Syah dengan mata berbinar.
"Kalian suka?" tanya Denna dengan senyum lebar.
"Sutaaa!" pekik seven A sambil melompat.
"Papa ... pidupin!' pinta Laina.
Semua anak masuk dalam mobil. Denna masuk ke dalam rumah mantan majikannya yang kini sudah menjadi saudara ipar sepupunya. Leni, Neni, Retta dan Saskia memeluk mantan rekan seprofesinya itu.
"Kau tambah gemuk," ledek Retta.
"Iya nih,," keluh Denna.
"Sudah tidak apa-apa, nanti pas menyusui juga kurus lagi kok," sahut Saskia.
Mereka mengelus perut Denna yang membuncit. Usia kandungannya sama dengan usia kandungan Manya. Hanya saja jumlah janin yang berbeda. Jika Manya tiga, Denna hanya satu.
"Gimana caranya Dok?" tanya semua perempuan.
"Suaminya selama ingin program harus konsumsi sehat dan olah raga teratur. Bukan hanya itu saja, pola hidup harus sehat juga!" jelas Manya.
'Duh ... mana bisa Mas Gerard disuruh makan sehat dan olah raga," keluh Denna.
"Udah nggak apa-apa, nanti bisa hamil lagi kan?" sahut Neni.
'Ya nggak langsung juga keles!" ketus Denna.
"Ini satu berat, apa lagi tiga seperti Dokter Manya!" lanjutnya.
Tak lama Gerard masuk bersama anak-anak. Disusul Lektor, Hasan, Bima dan Bernhard. Mereka juga membawa kado.
"Wah ... pobot!" seru Abi senang.
"Yah ... boneta ladhi ... boneta ladhi!' keluh Agil.
"Baby ... nggak boleh gitu!' tegur Amertha.
'Harus bersyukur baby!" lanjutnya.
"Mamap Moma!" sahut Agil minta maaf.
"Jangan lagi ya?" Agil mengangguk.
"Jangan lupa bilang apa babies!?" kini Maira yang mengingatkan para bayi.
"Matasih Pom Pasan, Pom Pimpa, Pom Letol, Pom Penhad!" sahut semua bayi.
Para pria menggaruk kepala mereka. Semua nama jadi berubah di bibir seven A.
"Terima saja ya," sahut Gerard.
"Namaku lebih parah bukan?" lanjutnya dengan mata pasrah.
Keempat sahabat pria itu mengangguk dengan senyum lebar. Tak lama Rudi dan Praja datang membawa kado. Kali ini yang dibawa berbeda dengan hadiah lainnya.
"Wah ... imi Ledo ya Engkel Lalja?" tanya Abraham antusias.
"Benar baby, ini lego kereta api, kalian bisa membangun stasiun kereta api," jawab Praja.
"Ajalin Engkel!" sahut semua antusias.
"Om Rudi juga bawa mainan logo loh!" sahut Rudi.
"Talo Om Luldi Ledona pa'a?" tanya Bhizar.
"Ini Monas!" jawabnya membuka bungkusan.
"Wah ... pita banun pimana imi?" tanya Syah bingung.
"Kalau begitu kita buat di lantai dua, di sana khusus semua mainan kalian Babies!" ujar Jovan.
Semua bayi naik ke lantai dua, salah satu kamar paling besar akan di buat ruang bermain khusus mereka. Pada bayi ingin membangun stasiun kereta.
"Ini gambarnya, kita ikutin ya!" ujar Praja.
Semua pria membantu, selama nyaris dua jam, baik stasiun kereta api dan juga Monas akhirnya selesai di susun. Para bayi malah tertidur karena kelelahan.
Pada orang dewasa menggendong masing-masing satu bayi, lalu meletakan mereka di boks tidur masing-masing.
Kini semua ada di ruang tengah menikmati kudapan. Semua bercengkrama dengan santai.
"Ben!" panggil Aldebaran.
"Ya, Om!" sahutnya.
"Kenapa kau dulu menolak Lana?' tanya pria itu.
"Oh ... ayolah Om ...?'' sahut Bernhard malas.
"Kau tau, dia jadi semakin sukses sekarang!" ujar Aldebaran memberitahu.
"Yang benar saja, mana mungkin?" desis Bernhard tak percaya.
"Kau meremehkan wanita jika begitu Nak!" timpal Amertha.
"Sepertinya kesusksesan Lana ingin balas dendam pada seseorang," ujar Aldebaran.
"Waktu awal bertemu, aku memang kurang suka dengan presentasinya. Tapi seiring waktu, Lana jadi lebih baik, bahkan kini aku menjalin tiga proyek kerjasama dengan gadis itu," sahut Abraham, Ayah dari Jovan.
"Dia bukan gadis!' sahut Bernhard ketus.
"Lalu kau bujangan?" tanya Ramaputra menyindir.
"Biar aku yang mendekatinya jika begitu," celetuk Lektor.
Bernhard menoleh dan mendengkus kesal pada sahabatnya itu.
bersambung.
lah ... kok kesel Ben?
next?