
Seperti janjinya pada Leticia, Amertha tidur bersama sang putri begitu juga Renita. Kedua perempuan itu begitu lembut memperlakukan putri mereka yang sedang masa penyembuhan.
"Mommy rambutku pasti bagus lagi kan?" tanya gadis itu sedih.
"Tentu sayang, setelah kau sembuh. Kau boleh memanjangkan rambut lagi," jawab Amertha.
Leticia akhirnya tenang dan bisa tidur dengan lelap. Renita sangat sedih mendengar perkataan putrinya itu. Ia mencium pelan kening putrinya.
"Aku akan memberikan yang terbaik untukmu sayang. Kau akan jadi putri kebanggaan kami," tekad wanita itu.
Pagi menjelang. Amertha meninggalkan putrinya lagi. Ia membiasakan sang putri bersama ibunya yang asli. Gadis itu pun tak banyak protes seperti pertama kali. Pembawaan Renita yang lembut dan penuh kasih sayang bisa menggantikan sosok Amertha.
"Ma," panggilnya.
"Ya sayang," sahut Renita dengan senyum indah.
Irham belum datang, pria itu juga tengah mengerjakan pekerjaannya. Ia akan datang sore hari.
"Apa mommy marah padaku ya?" tanya gadis itu dengan mata menerawang.
"Kenapa kau bisa berkata begitu sayang?" tanya Renita sedih.
"Mommy lebih sering pergi meninggalkan aku dibanding mama," jawab Leticia parau.
"Oh sayang ... mommy mu tidak meninggalkan mu. Ia harus menjaga banyak hal bukan. Kalau mama tidak, ada yang mengurus semuanya di sana," jawab Renita berbohong.
"Apa yang lebih penting dari putrinya sendiri, Ma?" cicitnya.
"Aku akui, aku telah banyak mengecewakan mommy dan daddy. Tapi, tak bisakah ia tak meninggal diriku di sini ... bersama ...."
Leticia tak melanjutkan perkataannya.
"Orang asing," lanjutnya berbisik sangat pelan.
Satu titik bening jatuh di sudut mata gadis itu. Ia seperti tak diinginkan lagi oleh kedua orang tuanya. Ia merasa dibuang dan diserahkan pada orang lain.
Isakan kecil terdengar dari mulut gadis itu. Hatinya terasa begitu sakit ketika menyadari dirinya tak lagi dimaafkan hingga ayah dan ibunya tak peduli dengannya.
Renita membiarkan asumsi putrinya. Dengan begitu ia lebih mudah merebut hati putrinya dari Amertha. Wanita itu tak terima jika anak gadisnya masih menginginkan Amertha di sisinya.
"Perlahan saja, aku akan memilikinya penuh. Bencilah pada ibumu, nak. Karena aku lah ibumu!" tekan Renita dalam hati.
Sedang di tempat lain. Ramaputra mendatangi rumah sakit yang dulu di mana istrinya melahirkan. Pria itu datang bersama pengacaranya. Ia akan mengusut tuntas semua kasus. Walau sebagian telah diungkap oleh Irham Wijaya. Pria itu juga akan menuntut rumah sakit tentang kejadian dua puluh sembilan tahun lalu.
"Kepala rumah sakit dan seluruh jajaran dokter dan staf telah ditahan atas kasus ini tuan," ujar kepala rumah sakit baru.
"Bahkan rumah sakit' ini sedang dalam pengawasan dinas kesehatan setempat. Penutupan bisa saja terjadi. Namun, karena sudah lamanya beroperasi dan banyaknya pasien yang dirawat membuat kendala baru yang harus diselesaikan segera!" lanjut staf itu memberi keterangan.
Ramaputra bernapas lega. Ia dan pengacara mendatangi kantor polisi. Memberikan laporan penangkapan pada Aprilia atas dugaan penculikan dan pemerasan.
"Tuan, apa maksud anda adalah Nona Aprilia Yuslianto?" tanya petugas.
"Benar pak, dia tinggal di xx. Saya bisa menunjuk jika dia pelakunya, karena terekam jelas pada cctv!" lapor Ramaputra.
"Tuan, Nona Aprilia sudah tewas kecelakaan lalulintas di kota JJ dua puluh sembilan tahun lalu," ujar polisi memberitahu ketika mencari data orang di komputernya.
"Apa?" Ramaputra tak percaya.
Pria itu terkejut bukan main. Pupus sudah ia dalam pencarian putrinya. Sang penculik sudah tewas.
"Kota JJ sangat jauh dari sini. Seingatku, Aprilia tak memiliki saudara atau apapun di sana. Apa jangan-jangan?"
"Tuan, tolong bantu saya untuk bertanya pada polisi daerah sana, apa ada ditemukan bayi perempuan dua puluh sembilan tahun lalu?" pinta Rama.
"Tunggu sebentar pak, kenapa bapak yakin jika putri bapak ada di sana?" tanya polisi.
"Saya yakin pak. Aprilia adalah mantan karyawati saya yang dendam. Dia tak memiliki kerabat. Dalam video jika wanita itu membawa bayi saya entah kemana!" terang pria itu.
Polisi mengangguk. Mereka segera menanyakan perihal pembuangan bayi di sekitar lokasi kecelakaan hingga radius dua kilometer.
"Baiklah jika begitu. Saya akan beritahu pada yang bersangkutan!" ujar polisi lalu menutup sambungan telepon.
"Kami akan mengawal anda hingga ke sana!" Ramaputra mengangguk setuju.
Ia segera menelepon asisten pribadinya jika ia tengah ke luar kota dan juga menelepon istrinya agar tak mengkhawatirkan dirinya.
Pria itu berangkat bersama pengacara dan dikawal oleh beberapa polisi menuju kota JJ.
Amertha kembali ke rumah sakit. Ia membawa makanan untuk Renita dan suaminya. Sepasang suami istri itu mengucap terima kasih walau Renita masih saja sinis pada Amertha.
"Tak perlu repot, kami tidak kekurangan uang untuk hanya sekedar membeli makanan!"
Amertha hanya diam. Ia tetap menata piring di meja dan membiarkan Renita dan Irham memakan makanan yang ia bawa. Ia mendekati sang putri dan menciumnya.
"Mommy, kau datang?" Amertha mengangguk dan memberikan senyuman manis.
Suster datang membawa perlengkapan mandi. Semua alat-alat yang menempel pada gadis itu telah lepas.
"Biar saya yang membersihkan tubuh putri saya, sus!" pintanya.
"Baiklah nyonya," sahut suster. "Kami akan mengawasi saja."
Amertha membuka pakaian pasien hati-hati. Ia membasuh tubuh putrinya juga sangat pelan. Usai dibasuh. Leticia kembali memakai baju pasien.
"Tiga hari lagi kita akan lihat bekas operasinya ya," ujar suster memberitahu.
"Iya sus, makasih," ujar Amertha ramah.
Tiga suster keluar dari ruangan. Renita dan Irham telah selesai makan.
"Kami sudah selesai makan!" ketus Renita.
Amertha mengangguk. Ia hendak berjalan membereskan bekas makanan.
"Mommy, kenapa harus mommy yang bersihkan? Mereka kan bisa sendiri!" protes Leticia menatap tak suka pada sepasang suami istri itu.
Hal itu membuat Renita makin membenci Amertha. Ia ingin sekali berteriak jika dirinya adalah ibunya.
"Tidak apa-apa sayang," sahut Amertha dengan senyum indahnya.
Leticia menatap tak suka pada sepasang suami istri itu.
"Tuan, nyonya ... sebelumnya saya mengucap terima kasih karena telah mendonorkan darah untuk saya. Tapi saya tekankan di sini. Wanita yang membersihkan bekas makanan anda adalah ibu saya!" tekan gadis itu dengan nada marah.
"Jadi tolong hormati ibu saya!" lanjutnya.
Renita baru membuka mulutnya, tapi Irham langsung menghentikan aksi istrinya.
Wanita itu menatap sang suami dengan protes. Irham menggeleng untuk tetap menahan emosi dan ego.
"Jangan membuat dia tambah membencimu," bisiknya.
"Sayang, kenapa bicara seperti itu. Mommy tak suka!" tegur Amertha lembut.
"Mommy!" protes gadis itu masih kesal.
"Sayang, ingat. Tanpa darah dari mereka, kami bisa kehilangan dirimu sayang," bohong Amertha mengingatkan putrinya.
"Minta maaf," pintanya lembut.
"Maaf," cicit gadis itu.
Amertha mencium putrinya.
"Good girl!'
bersambung.
ah ... Ramaputra menuju fakta terang.
next?