THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
SEKOLAH 2



Pagi menjelang, anak-anak sudah ribut. Mereka meminta satu bekal tambahan untuk salah satu temannya kemarin yang ibunya baru saja meninggal dunia.


"Apa temanmu masuk baby? Ibunya kan baru meninggal dunia?" tanya Jovan runtun.


"Basti eh pasti masut Pa," jawab Agil yakin.


Baik Manya dan Jovan belum tau jika teman anaknya itu sudah diambil anak oleh supir mereka. Sidik sudah bekerja menggantikan supir Jovan terdahulu, yang pernah membawa Manya dan bertemu dengan Leticia di jalan.


Sidik sudah bekerja selama tiga tahun setengah. Pria berusia lima puluh tahun, begitu jujur dan sangat tulus juga lugu. Jovan seperti menemukan ayah baru jika bersama pria itu.


Tak lama pria itu datang bersama istri dan anak kecil yang tidak dikenali Jovan, ia mengernyit.


"Siapa ini Pak?" tanya pria itu.


"Ini ...."


"Anton!" pekik Abraham memanggil anak itu.


"Ablaham!" sahutnya dengan senyum lebar.


"Kamu kok sama Pat Sidit?" tanya anak itu heran.


"Dia sudah jadi anak saya Den," jawab pria itu dengan senyum lebar.


"Yuk, Nak!' ajak sang ibu, istri dari Sidik.


"Mari, Tuan," pamit wanita itu.


"Loh kalian mau kemana?" tanya Jovan.


"Saya nganter Anton sekolah, Tuan," jawab istri Sidik.


"Kenapa nggak bareng aja?" wanita itu menggeleng.


"Nggak Tuan, makasih. Masa anak supir ikut majikan," cicitnya merendah.


"Pak, mulai besok nggak apa-apa kok anakmu ini ikut pulang pergi sama anak-anak," perintah Jovan.


"Tapi Tuan," Sidik masih tidak enak.


"Nurut aja ya!" titah Jovan lagi tegas.


Akhirnya Sidik pun mengantar anak majikan dan istri juga putra angkatnya itu ke sekolah. Seven A dan Anton duduk di kursinya masing-masing.


Tinah, istri Sidik menunggui mereka bersama para suster. Mereka bertanya perihal Anton yang menjadi anak angkat supir itu.


"Kata bapak kemarin, belum satu jam ibu Anton dikebumikan. Anak malang itu sudah diusir dari rumah kontrakan Mba," jelas Tinah.


"Masha Allah, tega sekali!" runtuk Wati marah.


"Saya pikir, pemilik kontrakan ingin menguasai harta anak ini. Suami saya langsung mengambil semua barang yang disetujui oleh para warga yang tak suka dengan pemilik kontrakan, Mba," sahut Tinah lagi.


"Kasihan Anton," ujar Lena iba.


"Tapi, syukur lah, sekarang Anton sudah memiliki keluarga baru yang sayang sama dia," lanjutnya.


"Iya, alhamdulillah," ujar Tinah.


Wanita itu sangat bahagia ketika mendengar suaminya akan membawakannya seorang anak. Ia sangat antusias, ia langsung setuju. Ketika Anton datang, ia sangat yakin jika anak laki-laki itu adalah putranya.


Sedang di tempat lain. Sidik meminta ijin pada tuannya untuk mengurusi adopsi Anton ke dinas sosial.


"Jadi Bapak mau adopsi Anton sungguhan?' tanya Praja.


Pria itu sudah kembali dari bulan madu. Jovan memberinya cuti cukup lama. Sidik mengangguk tegas.


"Ketika melihat air mata anak itu di atas jenazah ibunya kemarin. Saya langsung tersentuh dan mengambilnya anak. Terlebih ia juga sudah yatim sejak usianya masih lima bulan," lanjutnya menjelaskan.


"Kasihan Anton. Apa dia nggak punya paman atau bibi?" Sidik menggeleng.


"Kata tetangganya, mereka orang perantauan dan tak pernah pulang kampung. Ketika menikah dan punya anak. Kedua orang tua Anton sudah di sana tak pernah pindah," jawab Sidik lagi.


'Ya sudah, setelah menjemput anak nanti, Bapak boleh kok ngurus adopsi," sahut Jovan.


"Makasih Tuan," ujar pria itu dengan binaran mata bahagia.


"Saya yang harusnya terima kasih sama Bapak!" ujar Jovan.


Sidik mengerutkan keningnya. Ia tak mengerti perkataan majikannya itu.


"Terima kasih karena sudah jadi orang baik," jawab Jovan.


"Jika melihat Anton. Saya jadi ingat diri saya sendiri Pak," sahut Praja.


"Cuma bedanya saya ditinggal oleh kedua orang tua ketika sepuluh tahun," lanjutnya.


"Eh ... sudah jangan cerita sedih lagi!" sela Jovan tak suka mengingat kisah pilu pria kepercayaannya itu.


"Maaf Tuan!" sahut Praja.


Mobil berhenti di rumah sakit, Jovan masih memimpin rumah sakit itu. Ketika anak-anak sudah tak perlu pengawasan ibunya secara penuh. Ia akan menyerahkan kepemimpinan rumah sakit itu pada istrinya nanti. Manya juga tengah menjalankan S3 program management rumah sakit.


Setelah mengantar majikannya. Sidik memutar kembali mobil dan menjemput anak-anak pulang sekolah, setelah itu mengantar anak dan istrinya pulang lalu kembali mengurus surat adopsi Anton.


Di kamar seven A, tiga adiknya tengah menatap tujuh kakak mereka yang sedang membagikan pengalaman sekolah masing-masing.


"Tadi ada yan natain Anton loh!' ujar Syah sedih.


"Anton spasa Ata'?" tanya Adelard dengan mata bulat.


"Kamu panggilnya harus kakak, karena dia adalah teman Kakak di sekolah!" sahut Syah.


"Oh Ata' Anton spasa?"


"Ya tadi Kaka bilan, temen satu kelas Kakak," jawab Syah lagi.


"Pemanan bitatain pa'a?" tanya Aqila dengan suara kecilnya.


"Ditatain eundat bunya Ibu, telus ditatain eundat punya Ayah," jawab Syah sedih.


"Woh ... tan eman eundat bunya?" sahut Aidan tak mengerti di mana masalahnya.


"meman si beunel judha ... tapi eundat usyah pate tetawa lah pilanna!" sahut Agil kesal.


"Atuh pelain don, atuh pilan aja talo Anton basih punya ibu dan ayah!' sahut Abraham.


"Iya tapi betep eundat poleh natain lolan tua yan udah menindal!" sahut Lika kini menimpali.


"Beustina beuditu. Meuleta eundat nelasain jita eundat bunya Papa syama Mama," sahut Bhizar kini.


"Atuh beuldoa, pupaya atuh hidup selamanya syama Mama dan Papa Yayah!" timpal Abi.


"Iya lah ... atuh judha. eundat bawu tayat Anton yan ditindal Mama sama Papanya," sahut Laina.


Lalu sepuluh anak itu terdiam dalam hening. Suasana mendung di hati mereka, Manya masuk kamar dan membawa penganan untuk cemilan anak-anaknya.


"Mama!" pekik Ten A berbarengan.


Semua berlari memeluk ibunya dengan bibir yang mencebik dan mata menggenang.


"Mama ... janan tindalin pita ya ... hiks!" ujar Bhizar terisak.


"Baby ... Mama nggak akan ninggalin kalian," ujar Manya sedikit heran.


"Iya Mama ... hiks. .. hiks ... janan nindalin pita taya Ibuna Anton ... hiks!"


Manya menutup mulutnya, kematian memanglah rahasia. Tetapi ia juga tak mau meninggalkan anaknya begitu cepat. Ia langsung memeluk ten A erat. Semua menangis, keenam suster ikut menangis di sana.


"Sayang ... kita sama-sama berdoa ya ... biar umur Mama dan Papa Yayah panjang, hingga mengantar kalian sampai dewasa," ujar Manya dengan suara tercekat.


"Mama ... ba bowu ... huuuu ... uuuu!'


"Oh ... sayang ... ba bowu pu Babies!" Manya mencium satu persatu anaknya dengan penuh kasih sayang.


"Sayang dengar Mama. Kalian adalah belahan jiwa Mama, Mama akan selalu minta sama Tuhan agar Mama diberi umur panjang dan menyayangi kalian hingga rambut mama memutih nantinya," ujar Manya penuh harap pada sang maha pencipta.


"Aamiin ... hiks!' sahut para suster.


"Mama ... eman bambut Mama bi cet pial putih?" tanya Adelard.


bersambung.


maksudnya bukan begitu Adelard! 🤦


next?