
Bhizar tengah menonton sebuah konten anak-anak di ponsel milik Leni. Ia berpikir keras, usia anak-anak itu sepertinya lebih kecil darinya.
"Bustel ... pitinin pita bonten don!" pinta bayi tampan itu.
"Untuk apa baby?" tanyanya.
"Tatana pisa bapet buit banat!' jawabnya yakin.
"Ijin dulu sama mama ya baby," ujar Leni.
"Ah ... basti eundat batalan poleh bustel ... talo pilan mama bulu!" decaknya keberatan.
"Tapi, semua itu harus seijin mama sayang. Mama nggak ijinin kan karena untuk kebaikan juga," sahut gadis itu.
Bhizar kesal pada susternya. Ia mengajak semua saudaranya untuk berembuk agar boleh buat konten.
"Pemana tonten ipu pa'a?" tanya Abraham.
"Ipu woh ... tayat lolan puat bidio!" sahut Bhizar.
"Oh yan selin pita pihat bi ponpel bustel?" tanya Agil.
"Biya ipu!" sahut Bhizar.
"Pemana pita eundat bunya bonsel syih, padhi eundat pisa puat dithu-dithu!" sahut Syah sedikit kecewa.
"Ah ... badhaibana jita wuwan teumalin pita puat peli bonsel!" ide Lika.
"Wuwana pan syama mama! Badhaibana pita bambil wuwanna?!" tanya Laina.
"Ah ... atuh pahu!" seru Abraham.
"Pa'a?"
"Pita pilan aja wuwanna bawu pita laja yan pedan wuwana," ujarnya.
"Tlus?"
"Nah pita peuli beuldili bonselna!" jelas Abraham.
"Ah ... pita binta pantuan Om Pimpa puat peuliin bonsel!" sahut Syah.
Semua bertepuk tangan meriah. Mereka akhirnya memiliki solusi bagaimana memiliki ponsel.
Leni tertawa dengan bagaimana akal otak kecil seven A ingin mendapatkan ponsel.
"Bustel kanan pilan-pilan mama!' sahut Lika tiba-tiba.
"Biya, wawas palo pilan-pilan!' lanjutnya mengancam.
Bukannya takut, Leni tertawa mendengar ancaman bayi itu karena memasang wajah lucu.
"Tot palah betawa?!" sahut Lika tak suka.
"Maaf baby, iya suster nggak bilang mama," sahut Leni.
"Badhus!' angguk bayi itu puas.
Leni mencebik kesal. Gadis itu begitu gemas hingga menciumi bayi cantik itu. Laina protes hingga mengoceh tak jelas.
Petang datang, Jovan datang bersama istrinya. Keduanya tampak lelah, usai membersihkan diri. Mereka makan malam bersama para bayi mereka.
"Mama ... pisa pita picala beubental?" pinta Abraham setelah mendapat kode dari para saudaranya.
Memang jika untuk juru bicara Abraham yang paling vokal suaranya. Manya mengerutkan kening begitu juga Jovan.
"Apa yang ingin baby bicarakan?" Manya bertanya dengan serius.
"Oke kita bicara," ujar Manya.
Ketujuh bayi menuju kamar mereka. Ketujuh bayi cerdas menghadap wanita yang melahirkannya. Jovan gemas dengan tingkah tujuh anaknya itu.
"Apa papa yayah nggak diajak bicara juga?'
"Papa yayah poleh dabun picala," ajak Lika.
"Astaga anak-anak kita sayang," geramnya gemas.
Manya hanya tersenyum. ia juga merasa gema sendiri melihat betapa seriusnya seven A.
"Mama pita bawu pinta wuwan yan teumalin," ujar Bhizar.
"Minta uang yang kemarin? Yang kemarin mana?" tanya Manya menggoda bayi-bayinya.
"Uan basil pita namen!" jawab Bhizar gusar.
"Oh ya, memang kapan kalian ngamen? Kok mama nggak ingat ya?"
"Mama, peulna pilan jita pita beulpohon pita atan basut neulata tan?" sahut Abraham mengingatkan.
"Biya ... talo mama lupa, mama peulum puwa judha peulum pitun!" sahut Syah menimpali.
Manya tak berkutik. Ia seperti berhadapan dengan tujuh pengacara handal. Jovan terkikik melihat ketidak berdayaan istrinya itu. Kecerdasan seven A benar-benar di luar batas.
"Untuk apa memangnya kalian meminta uang itu kembali, bukannya sudah diputuskan jika ingin diberikan pada orang yang membutuhkan?" ingat Manya.
"Tapan pita beupujuh mama?" tanya Laina kini.
"Abi binat talo pita peulum pilan mawu wuwan ipu bi tasyih te lolan yan beulputuhtan!" kini Abi yang bersuara.
Memang kemarin seven A hanya mengangguk saja setelah Manya menerangkan tentang berkah jika diberikan pada yang membutuhkan.
"Ini uangnya mau diapakan?" tanya Jovan pada akhirnya.
"Mawu puat busaha!' jawab Abi.
"Usaha apa baby?" tanya Jovan tak suka. "Papa yayah banyak uang, kalian tak perlu punya usaha!"
"Papa yayah, pita bawu bandili!"
"Kalian masih bayi!" sahut Jovan dengan suara keras.
Tujuh bayi diam. Manya memperingati suaminya. Jovan mendengkus kesal. Tujuh bayi mulai takut bersuara. Jovan meminta maaf pada anak-anaknya.
"Maafkan papa yayah babies ... jika masalah uang kalian tak perlu bekerja, kebutuhan kalian biar papa dan mama yang mengurus," jelas pria itu.
"Pita bawu bunya wuwan tayat dini papa yayah," ujar semuanya menunduk.
"Babies ... kalian masih kecil ... uang itu untuk apa?" tanya Manya.
"Pita mawu pantu Mama ban papa yayah," jawab Abraham.
Jovan dan Manya terharu. Ketujuh anaknya ingin membantu orang tuanya mencari uang.
"Sayang, mama dan papa yayah tak perlu bantuan kalian untuk mencari uang," jelas wanita itu.
"Iya sayang, papa yayah udah ada pekerjaan yang bisa menyekolahkannya kalian hingga ke jenjang manapun," jelas Jovan itu.
Akhirnya para bayi tak mempersoalkan uang itu lagi.
bersambung.
mohon maaf ya .. up nya dikit.