
Waktu berlalu begitu cepat tak terasa beberapa bulan lagi adalah hari ulang tahun seven A yang ke enam tahun. Jovan akan merayakan hari lahir tujuh anak kembarnya. Kali ini pria itu akan mengadakan ulang tahun yang meriah di sebuah hotel milik mertuanya. Sedang Ramaputra dan Amertha bahagia mendengar kabar kehamilan Leticia. Rudi yang memberitahukannya.
“Jadi sebentar lagi kau akan memberiku cucu?” tanya pria itu pada Rudi.
Rudi mengangguk dengan senyum lebar. Kehamilan Leticia membuat Amertha senang luar biasa, ia memberitahu kabar bahagia itu pada Manya, putri kandungnya.
“Syukurlah, semoga ibu dan bayinya sehat hingga melahirkan keduanya juga selamat!” doa dari wanita yang berprofesi dokter itu tulus.
“Aamiin, makasih sayang,” sahut Amertha tersenyum.
Wanita itu memeluk putrinya, ia sangat yakin pergolakan hati sang putri mendengar kabar kehamilan Leticia.
“Sayang,” panggilnya.
Manya hanya berdehem, wanita itu sedang melamunkan sesuatu. Amertha dapat melihat kekosongan di mata sang putri. Ia memeluk wanita beranak sepuluh itu.
“Kau adalah putriku. Tak ada yang bisa menyangkal itu, aku sangat mencintaimu sama dengan Reece. Tak ada yang lebih penting selain kalian berdua di hidup Mommy,” tekan wanita itu.
“Mommy ... aku tidak ....”
“Sayang, aku paham. Selama tiga puluh tahun kau kehilangan kasih sayang dariku dan juga ayahmu. Banyak kisah yang tak kami lewati bersamamu,” ujarnya mengusap kepala putrinya penuh kasih sayang.
“Jujur Mom. Aku iri dengan Leticia yang mendapat cintamu dari bayi hingga saat ini,” aku Manya.
“Oh sayangku,” Amertha sangat memahami apa yang dirasakan Manya.
”Tapi jika aku melihat sepuluh anak kembarku. Rasanya penderitaanku tiga puluh tahun itu terbayar sudah,” lanjutnya lirih.
“Aku bangga memilikimu sayang,” ujar Amertha.
“Moma ... teunapa pelut-pelut Mama, pambil nayis?” tanya Reece yang dari tadi memperhatikan keduanya.
“Tidak apa-apa sayang,” sahut Amertha.
“Mama ... pa’a Momma malahin Mama?” tanya bayi itu sambil melipat tangannya di dada.
Bayi gembul itu sangat lucu dengan ekspresi galaknya. Manya pun langsung bermain drama agar ibunya dimarahi adiknya yang tampan itu.
“Iya ... hiks ... hiks ... Moma marahin Mama!”
“Hei ... aku tidak ....”
“Moma ... pa’a yan teulzhadi?” tanya Aidan tiba-tiba.
Semua anak jadi mendekati ibu dan nenek mereka karena Manya menangis. Amertha mendengkus kesal dengan apa yang diperbuat putrinya.
“Manya!”
“Moma ... jangan sakiti Mama kami ... hiks ... Mama nggak jahat sama olang!” pinta Laina sedih.
Manya langsung menghentikan akting sedihnya. Ia langsung memeluk putrinya yang begitu perasa. Laina memang paling tak bisa melihat ibunya menangis. Bocah perempuan yang sebentar lagi berulang tahun itu memang sedikit cengeng.
“Sayang ... Mama nggak apa-apa kok,” ujarnya lalu memeluk salah satu putrinya itu.
“Mama tadi hanya bercanda ... Mama nggak diapa-apain sama Moma,” lanjutnya.
Amertha sedih, ia sangat yakin jika salah satu cucu kembarnya itu pernah melihat ibunya menangis di suatu hari ketika mereka belum bertemu dengan ayahnya. Ia memeluk dan menciumi semua cucu dan putranya.
“Kalian memang luar biasa,” pujinya.
“Moma ... peuliin tue sus don,” pinta Aqila.
“Oh kalian mau kue sus?” semua mengangguk.
“Bagaimana kalau kita masak sendiri saja?” ajak Manya.
“Pita masat?” tanya ulang Reece.
“Iya Baby,” jawab Manya sambil mengangguk dan tersenyum.
“Ayo Mama ... pita masat tue!’ seru para bayi senang sambil berjoget.
Semua bahan kini ada di meja, sebelas anak mengerumuni meja dengan duduk di atasnya. Semua bertanya apa saja yang dipegang oleh Manya.
“Ipu yan tayat bedat pa’a Ma?” tanya Aidan.
“Itu namanya tepung!” jawab wanita itu.
“Petun!” tiru Aidan pastinya salah.
“Te-pung!” Manya mengeja perkataannya.
“Pe-tun!” ulang Aidan dan Reece.
“Tepung Baby,” ralat Abhizar.
“Biya ... petun Ata’” sahut Aqila membenarkan perkataan saudaranya.
“Atu pahu imi pa’a!” sahut Adelard memegang telur.
“Apa yang kamu pegang Baby?” tanya Abi.
“Pelul,” jawab Adelard.
“Telul Baby,” ralat Lika sambil tersenyum.
“Talo yang di totat panzan pa’a Mama?” tanya Reece.
“Ini susu cair,” jawab Manya.
Wanita itu sibuk mengadon semua bahan jadi satu. Wajah seluruh anak sidah penuh dengan tepung bahkan rambut mereka. Amertha suka mencoleti mereka dengan itu.
“Moma ... muta atuh padhi butih pemua!” protes Aidan kesal.
“Bisa dihapus lagi Baby,” sahut Manya tersenyum.
Amertha juga memfoto kegiatan memasak ini, ia akan membagikannya pada semua orang. Hari ini besannya tak datang, wanita itu ikut suaminya ke luar kota. Sedang Aldebaran juga pergi ke kota lain.
Sebuah panggilan video di ponsel Amertha. Rupanya Maira ingin melihat lansgung wajah semua bayi yang putih karena tepung. Wanita itu tertawa ketika muka-muka penuh tepung itu bermunculan di layar ponsel.
“Moma janan wupha pawa lohe-lohe!” sahut Reece.
Maira dan lainnya langsung mengerutkan kening mendengar bahasa baru bayi tampan itu. Begitu lama mereka mencerna arti dari perkataan yang keluar dari mulut Reece barulah mereka tertawa.
“Astaga kenapa kau begitu pintar seali sih!” gemas Maira pada adik dari menantunya itu.
“Piya don, atuh tan aditna seupolan doptel. Padhi halus pintan dan seldas!” sahutnya jumawa.
“Hei kau anaknya siapa?” protes Amertha geregetan.
“Nanat Moma pama Popa,” jawabnya tak merasa bersalah.
Sambungan video berakhir. Maira harus menemani suaminya pergi ke sebuah gala dinner di hotel berbintang. Manya memanggang kue yang telah ia cetak di atas loyang. Semua tinggal menunggu matang.
“Sekarang kita bikin vla nya ya,’
“Pla ipu pa’a Ma?” tanya Adelard.
“Isiannya Baby,”
“Pahana pa’a?’ tanya Aqila kini.
“Susu cair, rhum, maizena, mentega dan telur juga gula dan sedikit garam,” jawab Manya mencampurkan semua adonannya.
“paisena pa’a?” tanya Reece.
“Itu tepung jagung Baby,” jawab Manya.
Manya memasak isian kue sus di api kecil dan mengaduknya secara perlahan. Para suster berdatangan untuk membersihkan semua anak-anak.
“Ayo mandi, habis mandi kita makan kuenya,” ajak Saskia.
Semua anak menurut, mereka juga sudah merasa gatal dan mulai menggaruk tubuh mereka. Kini para suster memandikan semuanya. Para maid membersihkan semua kekacauan yang terjadi hingga semuanya bersih.
Usai mandi aroma kue sudah tercium di seluruh ruangan. Semua anak mulai ribut ingin makan makanan yang baru saja mereka buat.
“Mama ... atuh pudah tat pahan!”
pekik Reece.
“Biya Mama ... halum tuena puat peyut pita selonsonan!” sahut Aidan.
“Sabar Baby, ini baru matang masih panas,” sahut sang ibu.
“Oh ... ada tue yan pain ladhi eundat?” tanya Aqila.
“Ini ada keripik bawang Baby,” tawar Wati menyerahkan setoples keripik bawang pada semua anak-anak.
“Atuh seupenalna eundat beudithu suta. Pati peubih bait dalipadha atuh bati teulapanan,” sahut Reece.
“Baby ... jangan bicara sembarangan!” peringat Amertha tak suka.
“Mamap Moma,” sahut Reece langsung menyesal.
Akhirnya kue sus sudah jadi. Anak-anak memang tak begitu suka makanan asin, semua sukanya makanan manis.
“Tuena enat seutali ... matasih Mama!” sahut Aidan, Adelard dan Reece.
“Makasih Ma!” sahut seven A kompak.
“Sama-sama sayang,” sahut Manya dengan senyum bahagia.
Bersambung.
Next?