THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
MENCARI TAU



Hari berganti, Ramaputra masih kepikiran hal kemarin. Bagaimana Jovan seperti ingin memusnahkan Leticia. Bahkan bukan itu saja, baik Bernhard, Hasan, Bima, Lektor terlebih Gerard dan Praja. Ke enam pria itu menatap jijik anak perempuan yang ia asuh dari bayi merah.


"Apa yang mereka sembunyikan?" gumamnya pelan.


"Tuan?!" panggil Rudi yang heran atasannya banyak melamun hari ini.


Ramaputra bergeming. Pikirannya masih melayang entah kemana. Pria itu seperti tak berada di tempatnya.


"Tuan!" panggil Rudi lebih kuat suaranya.


Ramaputra tergagap, pria itu lalu menatap asistennya seperti ingin mengetahui sesuatu. Rudi mengernyit dengan tatapan bossnya itu.


"Apa ada yang ingin anda ketahui Tuan?" tanya Rudi lagi.


'Ah ... kau pasti tidak tau, Rud!' jawab Ramaputra sambil menghela napas panjang.


"Tentang apa jika boleh saya tau, Tuan?"


Ramaputra terdiam. Lalu ingatannya kembali ke masalah kasus yang menimpa putrinya dua tahun lalu.


"Astaga ... apa karena itu?" tanyanya tiba-tiba.


"Apa tuan?" Rudi makin tidak mengerti.


"Kau ingat masalah tuduhan pada Leticia dua tahun lalu?"


Rudi terdiam dan mulai mengingat. Kemudian ia terasa tercerahkan sesuatu.


"Nona Leticia dituduh terlibat pembunuhan Tuan Muda Dinata!" ujarnya kemudian.


"Ya ... selama ini pengacaraku yang mengurusnya. Tetapi bukti tidak cukup dan putriku dibebaskan dengan kekasihnya Rendi Irawan ... tunggu dulu!"


Tiba-tiba Ramaputra seperti tengah mengaitkan semuanya. Pria itu belum yakin dengan semua asumsinya saat ini.


"Apa lagi tugasku hari ini Rud?" tanyanya lagi.


"Tidak ada Tuan," jawab sang asisten


"Ikut aku Rud, kita ke tempat Jovan!" titahnya kemudian.


Rudi membungkuk, lalu ia mengikuti tuannya. Keduanya naik mobil dan menuju rumah sakit di mana Jovan bekerja sekarang.


Hanya butuh waktu dua puluh menit untuk sampai tujuan. Keduanya turun dan langsung menuju ruangan pria itu.


"Tuan, Mertua anda dan asisten pribadinya datang," ujar Praja memberitahu.


"Suruh masuk saja, Praj!"


Jovan tersenyum lalu memeluk ayah mertuanya. Ramaputra langsung duduk di hadapan menantunya itu. Ia tak mau berbasa-basi, ia ingin tau semuanya tanpa ada yang ditutupi.


"Jadi apa yang terjadi kemarin Nak?" tanya Ramaputra.


'Kalian seperti membenci putriku, Leticia?" lanjutnya bertanya.


Jovan terdiam. Pria itu menatap asisten sekaligus paman angkatnya itu.


"Leticia bilang kalian pernah punya hubungan!" tembak Ramaputra langsung.


"Benar Dad, aku dulu adalah mantan kekasih Leticia," jawab Jovan pada akhirnya.


"Awalnya kami saling mencintai, saya begitu menghormati dirinya hingga suatu hari saya menemukan dia bercinta dengan saudara tiri saya," jelas Jovan.


"Jadi begitu ceritanya?" ujar Ramaputra pada akhirnya.


"Bukan itu saja, dad, aku juga mendengar perencanaan pembunuhan atas diri saya," lanjut Jovan yang mengagetkan ayah mertuanya. Jovan memberikan satu map dari brankas.


"Ini semua bukti keterlibatan Leticia dad," ujarnya.


Ramaputra menatap map biru yang tebal. Pria itu membacanya dengan jantung yang berdegup kencang. Matanya membelalak dan ia mulai sesak napas.


Ramaputra langsung menenangkan mertuanya.


"Dad," panggilnya lirih.


Ramaputra langsung menutup berkas itu dan menenangkan dirinya. Ia tak menyangka putri yang ia rawat bisa sekeji itu, hanya karena harta.


"Padahal, aku memanjakannya nak," ujar pria itu dengan mata menerawang.


"Dad, dengar. Aku memang tak mengungkit kemarin karena aku memandang mu sebagai ayah dari istriku," jelas Jovan.


"Ada bagian syukur di masalah ini dad," lanjutnya.


Netra lamur pria itu menatap mata hazel menantunya.


"Aku bertemu Manya, istriku, putrimu dad!"


Ramaputra menangis dan memeluk menantunya. Ia tak menyangka jika Jovan begitu besar hati tak mengangkat kasus ini ke kepolisian karena ia bertemu dengan Manya.


"Kau benar nak. Andai tidak begini mungkin, lain lagi ceritanya," jawab pria itu.


"Aku minta kopian berkas ini!" ujar Rama.


Praja mengambil satu berkas kopian bukti. Ramaputra mengambilnya. Ia akan pergi dan menemui Irham sebagai ayah kandung Leticia.


"Terima kasih atas kebaikanmu nak, aku berhutang banyak padamu," ujar pria itu.


Ramaputra dan Rudi pergi. Jovan menghela napas panjang, Praja duduk di hadapannya.


"Apa kita benar melakukan ini? Membiarkan Nona Leti?"


"Sepertinya begitu Praj. Aku memang tak akan bisa mengungkit kasus itu, aku kasihan dengan mommy, ibu mertuaku," jelas Jovan.


Sedangkan di rumah Manya, tampak seven A tengah berunding.


"Plaham, Papa yayah Lelat, banti meunitah pita tasyih ladiah pa'a?" tanya Abi.


"Pita banyi aja!" saran Bhizar.


"Banyi pa'a? Pita jalan banyi!" sahut Lika.


"Pita eundat pisa banyi," aku Agil.


"Telus napain? Jodet?"


"Nali aja!' usul Laina kini.


"Tayana eundat usyah tasyih pa'a-pa'a," ujar Syah menimpali.


"Pasa pita eundat nasyih pa'a-pa'a?" sahut Abi tak suka dengan ide saudaranya.


"Telus bawu tasyih pa'a?" tanya Abi kini.


"Pita peulajan banyi!" usul Abraham kemudian.


"Oteh bawu banyi pa'a?" tanya Bhizar.


"Eumm ... pita panya Bustel Bleni!" sahut Abraham.


Ketujuh bayi itu mendatangi suster mereka bertanya lagu apa yang cocok untuk pesta pernikahan.


"Kalau di pernikahan sih, biasanya lagu barat dan lagi dewasa baby," jawab Leni.


"Ah ... pita bitin petpot taya teumalin laja!" seru Agil mengingat hari di mana salah satu saudaranya beat box.


"Ah ... lide padus!" sahut Abraham antusias.


"Atuh pisa talo pitpot," sahut Syah sombong.


"Pelain ipu ladhu pa'a ladhi bustel?" tanya Lita.


"Kalo di kampung sih kebanyakan lagu dangdut dan qasidah," jawab Leni lagi.


"Ipu tayat pa'a ladhuna?" tanya Laina.


Leni mencari lagu-lagu dangdut terlebih dahulu. Para bayi menggoyangkan tubuhnya.


"Wah, ladhunya asyit pisa puat jodet-jodet!" seru Lika senang.


"Selamat malam duhai kekasih ... sebut lah namaku menjelang tidurmu ...."


Satu tembang cantik dari salah satu penyanyi dangdut ternama, begitu indah didengar.


"Bustel ajakin ladhu imi don!" pinta Lika.


"Pita anat sewet bawu panyi imi!" lanjutnya.


Dua saudaranya mengangguk setuju. Leni menggaruk kepalanya. Namun, ia ingin tau apa jadinya panggung pernikahan salah satu rekannya jika dikacau oleh para bayi luar biasa ini.


Sedang di tempat lain, Amertha terhenyak ketika mengetahui kebenaran yang ia dengar dari suaminya. Wanita itu tak percaya dengan semuanya, hingga ketika bukti kuat menunjuk jika putrinya bersekongkol dengan pembunuh menantunya.


"Sayang, aku tak percaya jika putriku jadi sejahat ini!" ucapnya tak terima.


"Sayang, aku juga tak percaya. Tapi, bukti ini benar adanya, Leticia bisa dihukum dua puluh lima tahun penjara!" tekan Ramaputra juga tak habis pikir.


"Apa ... apa alasannya ia ingin membunuh Jovan, kekasihnya sendiri?" tanya Amertha gusar.


"Jovan bilang, Leti juga membenci menantu kita yang begitu lurus dan munafik karena tak mau menyentuhnya," Amertha menangis mendengar penjelasan suaminya.


"Aku mengajarinya untuk menghormati dirinya sendiri, kenapa dia jadi liar seperti itu!" teriaknya tak percaya.


Ramaputra memeluk istrinya. Ia juga tak habis pikir dengan putrinya. Apa kerena terlalu dimanja oleh mendiang ibunya, membuat Leticia liar dan tak terkendali.


bersambung.


next?