THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
RENCANA LIBURAN



Aldebaran pulang ke rumah cucunya. Jovan sudah menyuruh istrinya mengepak koper karena akan membawa semua anak dan suster ke Bali. Mereka akan pergi berlibur.


"Apa liburan di Bali?" tanya Manya tak percaya.-


"Iya sayang, kita bawa juga para suster untuk ikut serta, nggak lama, hanya seminggu," jawab Jovan santai.


"Tapi kenapa mesti jauh-jauh sih!" protes wanita itu pelan.


"Sayang. Grandpa yang merencanakan semuanya. Kita harus menurut jika tak mau kena marah!" sahut Jovan memperingati.


Seven A hanya menatap ibunya. Mereka sangat ingin pergi. Di bayangan mereka, pasir putih dan ombak. Laina bahkan berencana akan mengumpulkan kerang-kerang cantik untuk dijadikan aksesoris. Lika juga sudah berencana membeli beberapa aksesoris cantik dan akan dia jual di sekolah. Sedang Agil sudah berencana ingin melukis di sana. Bhizar, Abi, Syah dan Abraham berencana bermain semua banana boat dan aktraksi ekstrem laut lainnya.


"Mama Atila banti bawu pate bitini walna pin ya," sahut batita cantik itu centil.


Manya melengos, Jovan terkekeh, ia pun mengangkat dan memangku putrinya.


"Tentu baby, kamu nanti pake bikini warna pink, hijau dan orange!" sahutnya lalu mencium pipi Aqila yang kemerahan.


"Papa," keluh Manya kesal.


"Sudah lah sayang. Kasihan anak-anak. Mereka jarang loh liburan ke luar," ujar Jovan.


Manya menatap tujuh anak kembarnya yang paling besar. Mereka semua memandang ibu mereka penuh dengan harapan besar. Manya tak tega mematahkan harapan semua anak-anaknya.


"Oke, tapi kalian diawasi oleh para bodyguard ya!" tekan Manya.


Seven A langsung bersorak kegirangan. Mereka memeluk ibunya dan mengucap terima kasih. Manya sedih, kesibukannya sebagai dokter bedah membuatnya jarang mengajak seluruh putra dan putrinya jalan-jalan.


'Habis mereka banyak banget!' keluh Manya dalam hati.


Namun sejurus kemudian senyumnya tercipta melihat keceriaan di wajah seven A.


"Mama, pial banti Lees yan atan mempelhatitan peben e!" sahut Reece begitu percaya diri.


"Om kali yang minta diperhatikan!" ledek Syah.


"Pidat!" elak Reece.


"Baitlah talo talian eundat mawu Om peulhatitan!" lanjutnya santai.


"Uh ... ngambek nih?" goda Lika memjawil pipi chubby pamannya.


"Eundat ... spasa yan banbet!" elak Reece membuang muka.


Jika sudah begitu maka seven A akan kalah. Mereka pun meminta maaf pada om kecilnya itu.


"Reece!' peringat Manya pada adiknya.


"Mama ... meuleta peundili yan eundat bawu bitelhatitan!" sahut Reece membela diri.


"Mereka kan hanya bercanda Baby," sahut Manya tersenyum lalu mencium adiknya itu.


Akhirnya batita itu mengangguk, ia memaafkan tujuh keponakannya itu. Lalu tiba-tiba.


"Non Tita!" teriak salah satu maid.


Semua menoleh, Manya dan Jovan berlari ke dapur. Di sana Tita sudah penuh dengan tepung terigu. Bayi tujuh bulan itu sudah bisa naik lemari dan kini duduk dengan tertawa nyaring.


"Baby," keluh Manya.


Tita memang jauh lebih aktif dibanding Maizah yang kalem dan duduk manis di kursi bantalnya.


Jovan mengambil adik ipar cantiknya itu dan menciumnya gemas. Tita tertawa dan mengoles wajah tampan Jovan dengan tepung di tangannya.


"Kamu habis apa sayang?" tanya Manya menghela napas panjang.


"Hacehebbsnydvusnndhsnshebebsejeeh!" jawab bayi itu entah apa artinya.


Jovan memandikan bayi itu, Manya menyiapkan baju untuk adik juga untuk sang suami. Setelah meletakkan Tita untuk dipakaikan baju, Jovan membersihkan diri.


Kini Tita sudah tenang duduk di kursi khususnya. Manya membuat adonan kue pancong dan kue laba-laba. Butuh waktu satu jam untuk menghidangkan kue-kue tersebut di meja teras.


"Mama ini apa?" tanya Abi.


"Kue pancong baby,"


"Wah kue kesukaanku!" sahut Lika.


"Ini kue laba-laba!" pekik Abi.


"Itu bunya Atuh!" teriak Reece.


"Ada banyak Baby," ujar Manya.


"Ma, bikin kue cubit yang setengah mateng. Enak tau Ma!" sahut Agil.


"Kue cubit setengah mateng?" tanya Manya.


"Iya Ma, Laina pernah nyoba, waktu Nita jajan itu," jawab gadis kecil itu.


"Apa?" desis Manya membola.


Laina menutup mulutnya, semua saudaranya hanya diam. Manya tau jika anak-anak itu juga jajan hal yang sama.


"Babies ... bukannya Mama tidak membolehkan kalian jajan. Tapi, itukan belum tentu sehat. Kalian masih kecil jika jajan sembarangan," keluh Manya.


"Tapi kami makan sekali kok Ma. Udah itu nggak lagi, karena Nita nggak jajan-jajan lagi," sahut Laina.


"Loh kok kalian malah minta jajan sama Nita?" tanya Jovan tak suka.


"Kitakan nggak pernah dikasih uang jajan Pa," cicit Laina.


"Sayang ... Mama kan pernah bilang kalau masalah jajan!" sahut Manya tegas. "Mama melarang keras!"


"Kalian juga diberi bekal berbeda tiap hari kan?"


Seven A menunduk, mereka mengangguk. Semuanya merasa bersalah. Manya dan Jovan hanya menghela napas panjang. Anak-anak memang penuh warna. Manya mengerti jika tujuh anak kembarnya itu hanya penasaran dengan rasa jajanan yang dibeli oleh teman-temannya.


"Lain kali nggak boleh ya Nak. Kalau kalian sakit, Mama yang sedih," peringat Manya lagi.


"Iya Mama," sahut ketujuhnya kompak.


"Mama ... teunapa sih balah-balahin peben A!" protes Reece.


"Baby, Mama marah kalau tidak ada yang menurut sama Mama. Ini demi kebaikan semua, mengerti?"


"Baitlah!" angguk Reece menurut.


Manya akhirnya menyiapkan semua baju suami dan bajunya. Aldebaran sudah mewanti-wanti mereka semua sudah bersiap.


"Nanti kita ke Bali naik apa Pa?" tanya Abraham.


"Naik pesawat jet pribadi uyutmu sayang," jawab Jovan.


"Oh ... kirain naik kereta api," sahut Abraham.


"Kenapa mau naik kereta api?" tanya Jovan pada salah satu putranya itu.


"Asik aja, Pa. Abe sering denger cerita temen yang naik kereta ke rumah neneknya di kota lain,"


"Mungkin lain waktu kita bisa jalan-jalan naik kereta eksekutif. Kita tak mungkin naik kereta ekonomi," sahut Jovan.


Abraham mengangguk tanda mengerti. Jumlah mereka yang banyak tentu merepotkan semua orang. Tak ada bantahan, yang terpenting liburan kali ini akan terwujud.


Sementara Maira sudah menyuruh para maid menyusun baju bayinya. Ia menyusun baju-baju milik suaminya. Ia juga sangat menantikan liburan ini. Leticia juga akan ikut bersama anak kembarnya.


"Mereka semua lucu-lucu," gumamnya gemas membayangkan para bayi akan berkumpul.


Sementara itu Ramaputra dan Rudi masih mengecek semua pekerjaan proyek. Pria itu meliburkan karyawan untuk rehat sejenak. Lalu melanjutkan pekerjaan mereka lagi.


"Tuan, saya mau ambil cuti lebih awal. Apa boleh?" pinta Beatrice.


"Silahkan Nona, tidak ada yang melarang," sahut Ramaputra hanya melihat sekilas wanita itu.


Beatrice hanya tersenyum kecut. Semua perbuatannya tentu membuat pria itu merasa jijik. Rina pun ikut mengambil cuti lebih awal.


"Jadi kau benar menerima perjodohan itu?" tanya Beatrice ketika dalam mobil.


"Aku sudah mengatakan keadaanku yang buruk. Pihak pria tak masalah," jawab Rina.


"Apa kau akan mengundurkan diri?" Rina mengangguk.


"Tapi bagaimana jika pria itu hanya memanfaatkan mu?" lanjut Beatrice.


"Aku sudah punya rumah sendiri di kota lain dan beberapa butik juga toko makanan tanpa sepengetahuan ayah dan ibuku. Jika suatu saat aku tau dimanfaatkan, aku tinggal mengajukan cerai dan pergi ke kota itu dan menjalani hidup baru," jawab Rina santai.


"Kenapa kau tak bekerja lagi denganku, aku pasti menerimamu?" Rina menggeleng.


"Aku sudah berencana seperti itu, aku pastikan aku punya anak dipernikahan ini. Aku mau fokus membesarkan anakku dengan baik agar tak seperti ibunya," jawabnya.


Beatrice pun akhirnya pasrah, Rina merupakan sekretaris terbaiknya, ia mungkin akan kesulitan mencari sekretaris baru lagi nantinya.


Bersambung.


next?