THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
EMPAT TAHUN REECE, LIAM DAN TRIPLE A



Ulang tahun ke empat Reece dijadikan satu oleh Ramaputra dengan tiga cucunya, tak disangka jika Gerard ingin merayakan ulang tahun putranya bersama.


"Mama!" pekik Aislin pada Manya.


"Apa bayi galak!" sahut wanita itu gemas.


"Nih ... nan auh-auh!" titah bayi cantik sebelas bulan itu menepuk tempat di sisinya.


Denna benar-benar kesal pada semua anaknya. Wanita itu sampai harus memohon jika ingin mencium bayinya yang sok sudah besar itu.


"Baby ... ada Mommy di sini ... apa mau Mommy pergi saja?" sahut wanita itu ngambek.


"Denna!' peringat Clara.


"Mommy janan dithu!" peringat Liam juga.


"Astaga Dok!" keluh Denna.


Manya hanya menertawai mantan susternya itu. Ia memang jadi magnet semua bayi, Manya memang sangat penyayang saking sayangnya sampai ia jadi over protektif.


"Kita rayakan di taman bermain saja, bagaimana?" usul Praja.


Pramana juga kini sudah merambat kemana-mana. Saskia harus mengawasi ekstra putranya itu. Reece mendatangi Pram, seperti mendapat anak buah baru.


"Hai Baby ... atuh Pom Teusil!' ujarnya memperkenalkan diri.


"Bom Sisil!" sahut Pram manggut-manggut.


"Ah ... poleh lah!' angguk Reece tak masalah.


Kini bocah empat tahun itu mentatah Pram melangkah dengan memegangi jarinya. Tinggi Reece sudah mencapai satu meter, lebih tinggi dibanding anak seusianya, begitu juga tinggi Liam dan Triple A.


"Mamamamamama!" pekik Pram sambil berjalan tertatih.


"Hati-hati Baby!" peringat Manya.


"Syini dudut syini!" ajak Aqila.


Mereka duduk, seven A sedang bermain mobil-mobilan. Laina, Agil dan Lika juga bermain permainan anak laki-laki itu.


"Mbin!" pekik Pram.


"Bain imi!"


Reece memberikan mobilan berukuran besar. Bahkan bocah itu mengajarkan bagaimana menggerakkan mobilnya. Pram yang memang belum mengerti malah menepis mainan beroda empat itu jauh-jauh.


"Butan tayat dithu Baby!" Reece sepertinya marah.


Pram menatap Reece dengan mata bulat.


"Baby Pram belum ngerti Om," sahut Abi memberi pengertian.


"Oh iya ... lupa," sahut Reece.


Sementara para ayah sudah membooking satu taman bermain dengan beberapa wahana yang aman dimainkan untuk anak usia empat hingga tujuh tahun.


"Cukup satu kelas seven A saja yang kita undang. Toh, Reece, Liam dan triple A belum punya teman," ujar Gerard.


"Iya, berapa jumlah anak di kelasnya?" tanya Ramaputra.


"Empat puluhan," jawab Jovan tak yakin.


"Kita buat untuk seratus anak. Toh kita juga mau bermain kan?" semua mengangguk sambil nyengir.


Akhirnya sebuah pesta akan dirayakan di sebuah taman bermain, ada delapan wahana yang bisa dimainkan oleh anak-anak usia empat hingga tujuh tahun. Abraham menyewa sebuah EO yang ada di wahana tersebut untuk perayaan empat cucu dan satu anak besannya itu. Sebuah tema Disney Donal bebek jadi hiasan pesta itu.


"Kita mau private party ... usahakan tak banyak orang asing datang ke wahana, makanya kami mengambil hari biasa bukan hari libur!" pinta Ramaputra ketika membooking wahana itu.


"Baik Tuan, kami akan menutup setengah hari. Tentu budgetnya ...."


"Kalau begitu aku bayar selama dua puluh empat jam. Tutup wahana itu!' tukas Ramaputra kesal.


Pria itu merasa disepelekan. Jika ia mau, wahana itu ia bisa beli sahamnya dengan mata tertutup.


"Kenapa Dad?" tanya Gerard.


"Ini, pihak wahana minta budget tambahan jika mau ditutup setengah hari, tapi dengan nada mengejek kalau Daddy nggak bisa bayar!" adunya kesal.


"Trus?" tanya Jovan dengan kening berkerut.


"Daddy booking satu hari penuh tempat itu sekalian!" jawab Ramaputra kesal.


Jovan menggeleng pasrah. Mertuanya kena trik panic marketing. Orang kaya seperti Ramaputra tentu tak bisa dianggap sepele orang-orang dengan bahasa uang atau bayaran.


"Daddy kena trik panic marketing," ujar Jovan.


"Aku tak peduli!" sahut pria itu kesal.


"Jika perlu aku beli sahamnya dan aku jual dengan harga semurah-murahnya, agar jatuh nilai jual wahana itu!" lanjutnya masih dendam.


Jovan, Gerard dan Praja menggeleng. Kini mereka tau dari mana sifat Reece berasal. Bahkan kini ia memborong semua tiket masuk wahana, pria itu berencana akan membawa beberapa bodyguard untuk mengawasi anak-anak teman sekelas cucunya.


Hari yang dinanti tiba. Satu wahana memang sepi dan hanya ada para pekerja dan petugas yang ada di tempat lima hektar itu. Banyak wahana tidak beroperasi, karena kelakuan Ramaputra yang memborong semua paket permainan yang ada. Ramaputra benar-benar melaksanakan dendamnya.


Semua anak begitu antusias, tak ada hiburan. Ramaputra membiarkan semua anak-anak bermain sepuasnya tentu diawasi dan dibantu oleh para bodyguard.


"Ayo kita menyanyikan lagu ulang tahun untuk Reece, Liam dan Triple A!" ajak Ramaputra.


Semua anak-anak bernyanyi lagu selamat ulang tahun.


"Selamat ulang tahun, kami ucapkan. Selamat panjang umur Kitakan doakan, selamat sejahtera sehat sentosa! selamat panjang umur dan bahagia!"


Semua bertepuk tangan sambil bernyanyi. Satu kue besar datang, lima bocah berusia sama itu dibantu oleh para orang tua untuk memotongnya.


"Selamat ulang tahun Reece, Liam, Aidan, Aqila dan Adelard!' ujar semua murid.


Anton memberikan satu kado sederhana, begitu juga Nita. Sedang Denta memberi lima kado ukuran besar untuk mereka.


"Telima tasyih Ata' Anton, Ata' Nita dan Ata' Denta!" sahut Triple A dan Liam.


"Makasih ya!" sahut Reece juga.


Ramaputra memang tidak mengundang kolega-koleganya, ia sudah menyiapkan banyak kado yang ia kumpulkan untuk ulang tahun mereka semua.


"Ayo, makan dulu baru kita makan kue ya, habis itu kita pulang!" ujar pria itu.


Makanan terhidang, semua makan dengan lahap. Bahkan sisanya dibagikan dalam kotak besar untuk dibawa pulang. Para guru juga hadir dan diberikan bingkisan oleh Abraham. Aldebaran hanya santai menikmati pesta.


Akhirnya pesta selesai, mereka semua pulang dengan wajah bahagia. Setelah main sepuasnya semua wahana yang tak akan mereka naiki lagi seumur hidup mereka. Bahkan mereka mendapat souvernir cantik dan juga makanan enak untuk dibawa pulang. Belum lagi potongan besar kue ulang tahunnya.


"Kau bahagia, Daddy?" tanya sang istri ketika melihat kepuasan suaminya.


"Tentu," jawab pria itu menatap sinis pada layar ponselnya.


Berita besar tentang kerugian sebuah wahana karena tak bisa membuka kembali permainan karena paket habis dimonopoli oleh Dinata corp membuat saham wahana itu jatuh.


"Aku sangat bahagia sayang," ujar pria itu.


"Kau hampir saja membuat satu perusahaan bangkrut akibat ulahmu sayang, dan membuat ribuan pekerja jadi pengangguran," sahut sang istri mengingatkan.


"Aku gak peduli!" sahut pria itu.


"Sayang," Amertha memeluk sang suami.


Sebuah arogansi seorang pebisnis dikeluarkan. Tak ada yang boleh menyepelekan Ramaputra. Jika dengan memakai trik panic marketing bisa membuat pria itu menggelontorkan banyak uang. Maka dengan trik push down and burried the bussines..


"Jika kalian jahat padaku ... aku bisa lebih jahat dari yang kalian pikirkan!" seringainya sadis.


Amertha memeluk sang suami untuk menenangkan pria itu.


Bersambung.


Hohoho ... jika berurusan dengan bisnisman tangguh ya bersiaplah usahamu gulung tikar.


next?