
Darren dan Saf menikmati hidangan. Di sana Aldebaran bisa melihat bagaimana ketulusan dari pebisnis ternama itu.
Darren tak ragu menyuapi salah satu anak yatim yang tak bisa memotong daging, bahkan Saf merayu dan menenangkan satu anak yang menangis. Begitu juga Izzat, pria itu juga menyuapi beberapa anak yatim dan membantu mereka makan.
"Sekali lagi saya ucapkan selamat atas pernikahan Tuan Dinata, semoga sakinah mawadah dan warohmah," ujar Darren ketika mau pamit.
"Mas, kita ambil mereka beberapa yuk," bisik Saf ketika melihat tatapan beberapa anak yatim di sana.
"Iya sayang, kau bawa saja mereka semua ya," ujar pria itu.
Senyum terbit di seluruh wajah anak yatim yang belum mendapat ayah dan ibu adopsi. Lagi-lagi Aldebaran belajar lagi. Saf meminta putranya mengurus semua.
"Tuan Izzat kan masih punya adik kembar ya?" tanya Jovan.
"Iya bahkan ada yang masih usia tiga tahun," jawab Izzat.
"Maksud saya adik kandung," ujar Jovan.
"Semua adalah adik kandung saya Tuan," jawab Izzat tersenyum.
Jovan terdiam, Manya belajar banyak. Setelah ibu Denta yang begitu baik, masih ada orang yang lebih baik lagi hatinya. Keluarga Dougher Young tak membedakan semua anak. Mereka dengan bangga mengatakan jika semuanya adalah darah mereka.
Darren pulang bersama istrinya. Izzat masih di sana. Aislin masih mencoba merayu pria itu.
"Wayolah Pom danten zadhi pasal Ais," paksa bayi cantik itu.
"Om sudah menikah sayang," jawaban Izzat membuat Aislin patah hati.
"Mama ... shinta atuh pitolat ... hiks!"
Denna menghela napas panjang. Kebanyakan nonton drama bersamanya membuat putrinya cepat besar, walau ia yakin jika Aislin tidak tau apa yang ia ucapkan.
Izzat terkekeh melihat bayi cantik itu merajuk. Pria itu tengah berbicara pada Aldebaran dan kepala panti yang ikut serta.
"Dua ratus anak yatim telah diadopsi empat puluh lima anak oleh Tuan Dinata dan Tuan Artha. Sisanya ada seratus lima puluh lima anak Tuan, apa itu tidak terlalu banyak?" tanya kepala panti.
"Memang jumlah itu banyak, tapi Uma saya mau semua anak yang tersisa, maka semua harus jadi adik saya!" tekan Izzat tak mau kompromi.
Aldebaran menelan saliva kasar. Ia bisa membayangkan betapa kayanya keluarga Dougher Young ini. Begitu banyaknya anak dan saudara yang mereka miliki.
"Pantas mereka dijuluki the giant familly!" decaknya penuh kekaguman.
"Oh ya, saya akan membawa mereka semua langsung ya, jadi siapkan semua surat menyurat dan pindahan sekolah mereka!" ujar Izzat lagi.
Kepala panti mengangguk, hanya dalam satu hari pantinya kosong. Semua anak diangkut oleh keluarga pebisnis terkaya di Indonesia.
"Dari seratus lima puluh lima anak ada dua puluh yang masih bayi berusia delapan hingga lima belas bulan Tuan," ujar kepala panti menjelaskan.
"Lalu?" tanya Izzat bingung. "Masalahnya di mana?"
Kepala panti menggeleng cepat. "Tidak ada masalah Tuan!"
"Ya, sudah ... siapkan semuanya. Kapan selesainya?" tanya Izzat lagi.
"Paling lama satu minggu Tuan," jawab kepala panti.
"Baik, saya masih di sini selama satu minggu!" ujar Izzat santai.
"Tuan tidak pulang?" tanya Irham.
"Bisa dimarahi Uma kalo pulang nggak bawa adik-adik!" jawab Izzat bergidik ngeri.
"Tuan tak bisa membawa mereka semua sendiri," ujar Irham lagi masih ternganga takjub.
"Nanti adik-adik saya datang membantu!" jawab Izzat tenang.
Pria itu pamit, tadinya Aldebaran meminta pria itu menginap di mansionnya. Tetapi langsung ditolak.
"Kapan kita dekat dengan mereka Daddy?" tanya Irham pada Aldebaran.
"Mereka begitu jauh jika bersama orang lain. Namun dengan saudara mereka. Semua merasa memiliki satu dan lainnya," lanjut pria itu.
Aldebaran mengangguk. Kini ia menatap semua anak-anak. Kepala panti mengajak anak yang tersisa. Dua puluh anak bayi juga dibawa serta pulang.
"Rupanya ini yang membuat kita tak bisa menyamai mereka," ujar Abraham.
"Apa Pih?" tanya Jovan.
"Cinta,"
Pesta berakhir, satu bus sedang sudah disewa oleh Ramaputra untuk mengangkut semua anak-anaknya. Amertha dan Reece juga Tita jadi mau ikut bersama saudara barunya.
"Mama anaknya banyak!" sahut Reece lalu melambaikan tangan pada kakaknya itu.
"Mommy kita nggak ambil saudala gitu kek Lees?" tanya Liam pada ibunya.
"Mommy belum sanggup sayang," jawab Denna.
Eddie dan Clara tak berbuat banyak, mereka orang-orang sibuk. Jika mereka mengambil anak asuh takut tak terurus. Pestapun selesai.
"Daddy langsung pulang bersama Mommy?" tanya Praja pada ayah dan ibunya.
"Iya sayang, Daddy pulang bersama Mommy dan adik-adikmu," jawab pria gaek itu.
Praja melepas ayah angkatnya. Abraham memeluk ibu sambungnya dan juga dua puluh adik-adiknya.
"Jangan nakal ya, nurut sama Daddy,"
"Iya Kak," jawab salah satu anak.
Manya mencium semua adik barunya begitu juga semua Ten A. Liam dan Aislin ikut pulang bersama orang tua mereka. Begitu juga Maizah ikut pulang bersama ibu dan ayahnya.
"Sayang, andai Nyonya Terra masih hidup, aku mau sekali belajar mengurus anak sebegitu banyak," ujar Manya.
Jovan mengangguk, pria itu juga salut akan pebisnis ayah dari Darren yakni Haidar. Bagaimana pria itu bisa menyalurkan semua kasih sayang yang sama besar.
Kini mereka sampai rumah. Ten A langsung diurus oleh para suster mereka. Manya seperti orang bingung karena tak ada Reece dan Liam di rumah itu.
"Ah ... mereka pasti sudah nggak mau ke sini karena udah ada adik-adik!" keluhnya.
"Kalo gitu gantian dong Ma, kita yang ke sana!" sahut Bhizar.
"Iya Ma, di sana kita banyak Om dan Tante!" sahut Lika begitu semangat.
'Ide bagus itu!" shut Jovan semangat.
"Kita juga bisa berkumpul dengan om dan tantenya Papa!" lanjutnya.
Manya langsung membayangkan Keluarga Dougher Young jika berkumpul, belum lagi Triatmodjo, Starlight, Sanz Dewangga, Pratama, Budiman dan keluarga lainnya.
"Mereka pasti repot sekali!" gumam Manya.
"Tapi jika dilihat ekspresi Tuan Izzat Dougher Young tadi mereka sama sekali tak repot," jawab Jovan.
Sedang di tempat lain. Aldebaran tengah bercanda dengan semua putra dan putrinya. Demira membuat banyak makanan, ada lima maid di rumah wanita itu.
"Sayang!" panggil Aldebaran.
Mereka berdua sudah berganti pakaian. Demira selalu merona dipanggil begitu mesra oleh suaminya.
"Iya Mas,"
"Duduk di sini sayang!" pinta pria itu.
Demira duduk di sisi sang suami. Aldebaran menarik tubuh Demira dalam pelukannya. Semua anak tengah bermain dan tertawa.
"Mommy, ini enak," puji Nina pada makanan yang dibuat oleh Demira.
"Makasih sayang," sahut wanita itu.
"Apa kau bahagia sayang?" tanya Aldebaran.
"Iya aku sangat bahagia!" ujar wanita itu.
"Karena anak kita banyak, kita pindah rumah ya," ajak Aldebaran.
"Pindah ke mana sayang?" tanya Demira kini mulai berani meletakkan kepala di dada sang suami.
"Ke rumah lebih besar, mereka harus punya kamar sendiri-sendiri," jawab Aldebaran mengecup pucuk kepala istrinya.
"Aku ikut kemana kau pergi suamiku," sahut Demira makin menenggelamkan dirinya dalam pelukan sang suami.
Malam tiba, keduanya mereguk cinta yang begitu panas. Aldebaran begitu menikmati semua sesi percintaan mereka hingga ia terkapar lelah di sisi sang istri setelah menumpahkan semua cairan cintanya.
Bersambung.
hiks ... othor polos nih.
Next?