THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
ULANG TAHUN MANYA



Abraham sebenarnya ingin sekali pensiun, tetapi meninggalkan Jovan bekerja hanya berdua dengan Praja, ia tak tega.


Perusahaannya makin lama makin berkembang pesat. Terutama beberapa tender mereka bekerjasama dengan pebisnis ternama, Dougher Young.


Aldebaran masuk, pria itu datang hanya untuk mengganggu putranya. Semenjak, pernikahan Jovan dan lahirnya sepuluh keturunan. Hubungan keduanya jadi dekat.


"Nak," sapanya dengan senyum jahil.


Abraham berdecak. Berkas di depannya menumpuk, Praja hanya ingin ikut dengan tuan mudanya.


"Kenapa kertas ini hampir sama tinggi dengan Adelard?" kekeh Aldebaran meledek putranya.


"Diam lah Dad. Jika kau tak mau membantu!" ketus Abraham makin kesal.


Aldebaran terkikik geli. Putranya memang sangat sulit percaya dengan orang baru, pria itu sudah trauma dengan William yang berkhianat.


"Kau masih takut dikhianati Son?"


"Siapa yang mau dikhianati Dad?" Abraham balik bertanya.


"Aku sudah percaya bahkan ia nyaris tumbuh besar bersama Jovan. Tetapi dengan mudah ia berpaling karena ingin menguasai apa yang bukan miliknya!" lanjutnya.


Aldebaran sedih dengan hal itu. Ia juga merasa bersalah. Mantan istri dan anak yang kini di penjara seumur hidup mereka itu membuat hidup Abraham runyam.


"Maaf Son," sahutnya menyesal.


"Sudah, jangan ungkit lagi. Oh ya, ada urusan apa Daddy mau datang ke sini?"


"Mengganggumu," jawab Aldebaran santai.


Abraham menatap ayahnya malas. Ia berhadapan dengan Ten A versi bangkotan. Aldebaran yang menang datang hanya untuk mengganggu putranya itu duduk di sofa dan membaca majalah bisnis di sana dengan santai.


Abraham memilih membuatkan kopi untuk ayahnya itu. Di ruangan itu ada pantry kecil. Sekali lagi, Abraham yang tidak percaya siapapun mengurusinya kecuali sang istri. Memilih membuat kopi sendiri dari pada menyuruh sekretaris atau OB. Kecuali membersihkan ruangan itu.


"Minumlah Dad!" suruhnya sambil meletakkan kopi.


"Thanks Son!" ujar Aldebaran lalu mengangkat cangkir dan menyeruput isinya.


"Kau masih ingat rasa kopi kesukaanku," ujarnya lalu meletakkan cangkir di meja.


"Kau sama denganku Dad, kopi yang tidak terlalu manis," ujar Abraham juga meletakkan cangkir di atas meja.


"Lalu bagaimana semua pekerjaanmu?" tanya pria yang mirip dengan sepuluh cicitnya itu.


"Makin menumpuk, beruntung Jovan dan Praja masih membantuku Dad. Rumah sakit milik kita sudah bisa diserahkan pada Manya," jawab Abraham panjang lebar.


Aldebaran mengangguk, ia lalu melihat benda mahal yang melingkar di pergelangan kirinya. Pandangannya beralih pada putranya yang masih membaca semua berkas yang ia bawa ke sana. Beberapa dicoret-coret. Berbagai ekspresi diperlihatkan Abraham.


Abraham sangat mirip dengan mendiang istri pertamanya. Ada sebersit rindu Aldebaran pada mendiang istri yang meninggal karena kanker payudara itu.


"Nak, aku merindukan ibumu," ujarnya pelan.


Jika dulu ketika masih berselisih, Abraham akan menyahuti sang ayah dengan kasar, untuk menyusul ibunya. Pria itu akan mengatainya habis-habisan jika tak akan bertemu ibunya yang sudah ada di surga sedang ayah di neraka.


"Dad," peringat Abraham.


Kini pria itu tak ingin ayahnya cepat-cepat pergi meninggalkannya. Abraham meletakan semua berkasnya dan duduk di sebelah sang ayah.


Pria paru baya itu memeluk erat sang ayah dan meletakan kepalanya di dada pria itu. Aldebaran mengelusnya. Sungguh hampir seumur hidup Abraham, semenjak usianya Sepuluh tahun. Aldebaran tak pernah melakukan ini pada putranya.


"Jangan tinggalkan aku. Aku masih membutuhkanmu," ujar Abraham lirih.


"Oh sayang, maafkan aku. Sudah tua begini baru sadar jika aku membutuhkan putraku," sahut Aldebaran dengan suara bergetar.


Mereka berpelukan erat. Seakan tak ingin meninggalkan satu dengan lainnya.


"Ayo kita makan, ini sudah terlalu siang!" ajak Aldebaran.


Abraham mengangguk setuju. Pria itu memilih mengajak ayahnya pulang ke rumah menantunya. Manya.


"Kita mampir di penjual bunga dulu Pak Andre!" ujar Abraham ketika naik mobilnya.


"Baik Tuan," sahut sang supir lalu menutup pintu untuk Abraham dan juga Aldebaran.


Kendaraan mewah itu bergerak. Lalu sampai di sebuah kios bunga. Aldebaran membeli satu buket bunga yang berisi Mawar, Lili, Carnation, Tulip dan bunga Gerbera.


"Untuk Maira?" Abraham menggeleng.


"Jangan bilang kau memiliki kekasih simpanan!" tuduh Aldebaran.


Aldebaran berdecak kesal pada tuduhan sang ayah yang tidak beralasan. Pria itu membiarkan sang ayah mengoceh panjang pendek padanya.


"Jangan berbuat kesalahan, Nak. Ingat, aku tak pernah mengkhianati ibumu, aku menikah lagi karena usiamu masih terlalu kecil setelah kepergiannya," nasihat pria itu.


"Diamlah Dad. Aku bukan pria seperti itu!" sahut Abraham akhirnya tak tahan.


"Ini untuk menantuku!" lanjutnya.


"Atas dasar apa?" cecar Aldebaran.


"Kenapa kau tak bilang!" sentak Aldebaran marah.


"Ck ... untuk apa?" sahut Abraham malah bertanya.


"Aku juga ingin memberinya hadiah!"


"Kau tak pernah memberiku hadiah!" celetuk Abraham menyindir ayahnya.


"Abraham!"


"Dad, sudah lah ... sebentar lagi kita sampai. Jangan marah di depan cucuku!" perintah Abraham.


Aldebaran mengomel panjang pendek. Andre sang supir hanya tersenyum melihat dua tuannya yang sudah seperti anak kecil.


Mereka pun turun ketika sudah sampai di halaman rumah Manya. Keduanya masuk, mereka disambut oleh semua anak-anak.


"Popa!" pekik Reece paling mendominasi.


"Pom syana ... dali padhi sali-sali beulhatian!" dorong Adelard pada Paman kecilnya itu.


"Baby," peringat Manya.


"Hai sweetty, happy birthday!" ujar Abraham lalu menyerahkan buket bunga pada menantunya.


Bunga itu jadi sorotan semua anak-anak, melupakan keributan yang mereka buat sendiri tadi.


"Makasih Pi," sahut Manya dengan senyum indah.


Ia mengecup pipi mertua dan juga kakek dari suaminya itu. Anak-anak ribut bertanya apa yang dipegang oleh ibunya.


"Mama itu apa?" tanya Abraham kecil.


"Ini buket bunga Baby," jawab Manya.


"Puket puna?" ulang Aqila sampai miring kepalanya.


"Iya Baby,"


"Ditasih bedhitu pial pa'a Mama?" tanya Reece.


"Hari ini Mama kalian berulang tahun Babies," sahut Abraham.


Mereka kini ke ruang makan. Amertha dan Maira ada di sana. Kedua wanita itu mencium pipi Aldebaran. Amertha menyalami besannya.


"Popa atuh beultanya padhi!" pekik Reece tak sabaran.


"Buket ini sebagai tanda cinta boleh, tanda terima kasih juga boleh,," jawab pria itu.


Manya meletakan bunga itu di vas besar yang sudah diisi air. Bunga itu diletakkan di atas meja dekat dengan lemari hiasan.


"Oh ... beudithu!" sahut Reece tanda mengerti.


"Mama lulan pahun tot eundat lada tue?" tanya Aidan.


"Nanti sore kuenya sudah ada Baby," sahut Amertha menjawab pertanyaan cucunya.


"Hole ... panti pita poleh banyi?" tanya Adelard dengan binaran mata bahagia.


"Tentu Baby!" sahut Manya tersenyum.


"Ayo makan, habis ini kalian bobo siang ya," ujar Manya memberi perintah.


"Iya Mama!" sahut semua anak menurut.


Akhirnya sore menjelang. Kue ulang tahun berwarna coklat dan banyak hiasan beruang di sana. Amertha sengaja memesan kue yang disukai semua cucu plus putranya itu. Ia yakin Manya tak keberatan.


"Selamat ulang tahun sayang," ujar Jovan memberi satu hadiah kalung berlian indah di leher istrinya.


"Terima kasih sayang," ujar Manya dengan begitu bahagia.


"Ladhu ini puat Mama!" ujar triple A plus Reece.


"Pa'a yan tupelitan puntut Mama ... puntut Mama teulsayan. Tat tumiliti pesyuatu peulhalda ... puntut Mama teulsyintah ...!" sahut triple A bernyanyi.


"Panya imi tupanyi tan ... seulandun dali hatitu puntut Mama ...!" sahut Reece menyanyikan lagunya.


"Hanya sebuah lagu sederhana ... lagu cinta kami untuk Mama!" sahut Seven A mengakhiri lagu.


"Ba bowu Mama! Pepi besdey!" sahut semua bayi.


bersambung.


happy birthday Manya.


Ba bowu readers ❤️❤️❤️😍😍


next?