
"Dokter ... bagaimana keadaan putri saya?" tanya Amertha cemas.
Wanita itu telah memberitahu suaminya apa yang terjadi. Ramaputra akan datang sebentar lagi.
"Ada pendarahan otak yang kembali terjadi. Sepertinya nona mengalami guncangan hebat dan seperti dipaksakan untuk menerima sesuatu," jelas dokter panjang lebar.
Hal ini membuat Amertha mematung. Renita dan Irham yang baru saja datang, bertanya sekali lagi apa yang terjadi. Penjelasan yang sama dikatakan oleh dokter.
"Bisa dikatakan jika Nona Artha kembali mengalami krisis," lanjut dokter.
Amertha menangis rantang makanan yang ia bawa terlepas begitu saja. Para suster yang ada di sana mengambilnya.
"Apa kalian puas?" geram Amertha pada dua orang yang juga saling menangis.
"Aku terpaksa mengatakannya. Putriku memanggilmu terus menerus!"
Plak! Satu tamparan keras mendarat di pipi Renita hingga kepalanya menoleh.
"Beraninya kau menampar istriku!" pekik Irham tak terima.
Baru saja tangannya terangkat dan hendak melayang ke pipi Amertha. Sebuah tangan mencekal lengan Irham.
"Berani kau menyentuh istriku, kupastikan kau akan menggelandang di jalanan!"
Irham kesakitan ketika tangannya dipeluntir oleh Ramaputra.
"Tuan jangan buat keributan di rumah sakit!" peringat para suster.
Ramaputra yang geram akan Irham yang hendak menampar istrinya, langsung menarik keras pria itu hingga keluar rumah sakit. Di halaman parkir Rama menghajar pria itu habis-habisan. Beberapa orang datang mencoba melerai. Manya yang baru saja keluar dari ruang operasi dan hendak makan siang. Terkejut dengan keributan yang terjadi.
Amertha dan Renita sudah berteriak untuk meminta Ramaputra menghentikan pukulannya. Manya yang datang membelalakkan mata. Wanita itu langsung memeluk tubuh Ramaputra yang hendak melayangkan lagi pukulannya.
"Tuan hentikan!" pintanya memohon.
Deg! Deg! Deg!
Dua jantung bertalu. Manya yang memeluk erat belakang tubuh pria di depannya terasa hangat dan nyaman.
"Kenapa hangat seperti ini?" tanya wanita itu gelisah.
Sedang Ramaputra mematung merasakan pelukan hangat, ia seperti dipeluk oleh putrinya sendiri.
Renita menghambur ke arah suaminya yang terkapar dengan wajah berdarah karena pukulan Ramaputra. Beberapa tim medis membawa pria itu ke ruang praktek dokter Manya. Wanita itu memintanya.
Renita menangis melihat suaminya yang tengah ditangani oleh Manya.
"Nyonya tenangkan dirimu," ujar Manya lembut.
Usapan lembut dan penuh kasih yang diberikan oleh Manya membuat Renita terdiam. Manya tersenyum. Usai menangani Irham. Kini giliran buku tangan Ramaputra yang lecet diobati oleh Manya. Tujuh anaknya sedang tidur siang begitu juga dengan Maira, ruangan itu sedikit kedap suara jika tak terlalu berisik.
Manya meniup jemari yang lecet itu dan wajahnya sedikit ikut nyeri ketika mengobati buku tangan Ramaputra.
Pria itu hanya diam dengan debaran di dada. Amertha menatap suaminya yang memandangi Manya dengan tatapan lain. Amertha menahan semua rasa penasarannya.
"Nah, sudah diobati," ujarnya.
"Sekarang, apa kalian bisa bicara baik-baik?" tanyanya pada dua pasang suami istri itu.
"Tidak perlu. Kami akan memberi laporan atas tindakan kekerasan!" ketus Renita marah.
"Silahkan, dan saya akan menuntut anda dengan percobaan pembunuhan terhadap putri saya!" tekan Ramaputra tak mau kalah.
Renita terdiam, sedang Irham sudah tak bisa berkata apa-apa. Wajahnya sakit dengan bibir robek juga pelipisnya. Wajah tampannya babak belur dihajar pria yang ia ketahui kehebatan bisnisnya.
"Mama ... Mama!" teriak salah satu anak Manya dari ruang lain.
Ramaputra seperti mencari asal suara itu begitu juga Renita dan Irham. Sedang Amertha tentu sudah tau dari mana suara itu berasal.
Pintu geser terbuka. Satu wajah bayi baru bangun tidur menatap semua orang dewasa di sana.
"Baby, kok udah bangun?" tanya Manya.
"Mama ... imi budah sole ... huuuaaahh!" Abi menguap lebar.
"Mama ... lolan-lolan imi spasa?" tanyanya.
"Oh, ingat nenek ini?" Abi mengangguk.
"Kalau Tante ini, pasien mama, itu suaminya,"
"Waduh ... mutana tenapa mama ... tasyian setali?" tanyanya iba.
"Om basien ... tamu eundat pa'a-pa'a tan?" tanyanya khawatir.
Irham menggeleng pelan. Ada rasa kesakitan di wajah pria itu membuat Abi terenyuh.
"Poleh syium eundat mama? Pial Om basienna pembuh?" tanya Abi pada ibunya.
"Tanya sama om pasiennya apa boleh dicium?" ujar Manya menatap pada Renita dan Irham.
Abi memandang kedua orang itu dengan mata bulat dan jernih, ada permohonan dalam pandangan itu.
"Basti pembuh tot!' sahutnya yakin.
Irham mengangguk. Abi mencondongkan tubuhnya, Manya mendekatkan diri agar memudahkan putranya mencium pria itu.
Cup, satu kecupan mendarat di pipi Irham. Ia pun tersenyum.
"Sayang, kakek juga terluka loh," ujar Manya menunjuk tangan Ramaputra.
Bayi tampan itu mencium tangan sang pria. Ramaputra meleleh. Ia tersentuh dengan perbuatan manis bayi laki-laki itu.
"Mama!"
Semua menoleh. Bayi dengan wajah yang sama keluar. Ramaputra terkejut, Amertha berbisik padanya, dan membuat pria itu menoleh pada istrinya.
"Benarkah?" Amertha mengangguk.
Manya memasukkan dua anaknya yang keluar. Maira tak mau keluar karena ada pasien menantunya.
Manya keluar lagi dan terkejut empat orang itu masih ada di dalam ruang prakteknya.
"Tuan dan nyonya boleh pulang atau ke tempat lain untuk menyelesaikan perselisihan kalian!" ujar Manya setengah mengusir.
Irham bangkit dibantu istrinya. Ramaputra dan Amertha pun ikut pergi keluar ruangan. Manya menghela napas panjang. Ia meraba jantungnya. Ia menggeleng, menghilangkan semua perasaan yang tiba-tiba menyerang dirinya.
"Perasaan apa ini? Kenapa memeluk pria itu aku merasa memeluk ayahku sendiri?" tanyanya dalam hati.
Sedang Ramaputra langsung berada di ruang ICU di mana putrinya berada.
Dokter mengatakan jika kondisi Leticia memburuk secara mendadak setelah semuanya baik-baik saja.
Amertha menangis tersedu. Ia merasa bersalah karena langsung meninggalkan putrinya begitu saja. Ramaputra juga berasa bersalah, karena abai pada putrinya.
"Ini salah kami, dok. Karena beberapa permasalahan kami jadi mengabaikan putri kami," ujar Ramaputra menyesal.
"Saya harap anda terus mendampingi putri anda, dia sangat membutuhkan kehadiran kedua orang tuanya," saran dokter.
"Dokter, Leticia bukan putri kami," ujar Amertha.
"Tapi yang putri anda tau andalah kedua orang tuanya!" sahut dokter marah.
"Sungguh nona Leticia juga tak menginginkan dirinya ditukar oleh putri orang lain. Di sini bukan kalian korbannya tetapi putri anda sendiri, Leticia!"
Ramaputra dan Amertha terdiam. Mereka benar-benar merasa malu dan menyesal karena telah mengabaikan putrinya.
"Tolong, buang semua ego anda," ujar dokter.
"Baik dokter, terima kasih!" ujar keduanya.
Amertha menatap Renita dan Irham yang hanya duduk diam di sana. Tentu saja mendengar semua keterangan dari dokter. Keduanya menunduk malu.
"Kalian dengar apa kata dokter?" geram Amertha dingin pada Renita.
"Biar bagaimanapun, yang Leticia tau. Aku adalah ibunya, bukan kau!"
"Sudah sayang, ayo ... kita juga salah di sini mempercayakan putri kita pada ibunya sendiri," ajak Ramaputra sembari menyindir.
bersambung.
ah ... dikit lagi!
next?