THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
PERNIKAHAN



Djaya benar-benar membuktikan ucapannya menjadikan Wati istrinya. Pria itu mendatangi kediaman orang tua gadis itu bersama putranya.


Djaya yang yakin dengan menjadikan Wati istrinya setelah dua minggu pacaran. Ia tak mau berlama-lama berduaan dengan gadis itu jika tanpa ikatan.


"Kami selaku orang tua, hanya menyerahkan semuanya pada putri kami. Karena yang menjalani biduk rumah tangga itu adalah dia. Selaku orang tua. Kami ingin dia bahagia tentunya," ujar sang ayah begitu bijak.


Baik Wati dan Kedua orang tuanya sangat terkejut dengan kedatangan Djaya ke rumah. Pria itu bertanya kapan Wati ada di rumah. Hanya bermodal nekat dan yakin. Djaya datang bersama putranya, Hendi.


Sang ibu sebenarnya berat melepas putrinya menikah, terlebih pria itu seorang duda beranak satu. Wanita itu masih ingin mengurusi anak gadisnya. Tetapi, sang suami malah melepas putrinya dan menyerahkan segala keputusan pada Wati.


"Bismillahirrahmanirrahim ... saya menerima pinangan Mas Djaya," jawab Wati begitu yakin.


"Alhamdulillah!" pekik Djaya tertahan, sedangkan Hendi menangis dan memeluk Wati.


"Makasih Ma ... makasih sudah mau jadi Mamanya Hendi ... Hendi janji nggak nakal Ma ... hiks!" isak bocah itu.


Hati ibu dari Wati luluh ketika mendengar tangisan anak yang berusia sebelas tahun itu. Tampak sekali jika bocah itu merindukan kasih sayang dari seorang ibu.


Hanya butuh waktu saja, kini pernikahan Wati dan Djaya di depan mata. Manya begitu bahagia mendengar kabar bahagia itu. Begitu juga dengan semua rekannya.


"Ini undangannya. Datang ya Dok," pinta Wati dengan binaran bahagia.


"Tentu Sus," ujar Manya meyakinkan salah satu asistennya itu.


Sang ibu selalu meminta Hendi menginap di rumahnya. Ia jadi menyayangi cucu yang langsung ia dapatkan itu.


"Bu ... Hendi mau saya bawa. Saya sendirian tidurnya kalo Hendi nginap," ujar Djaya memohon.


Pria itu memang tak bisa tidur jika putranya jauh darinya. Semenjak usia lima tahun, Djaya merawat Hendi seorang diri ketika bercerai dengan mantan istrinya.


Tadinya hak asuh Hendi ada di tangan mantan istri. Tetapi ketika ibu dari putranya itu memiliki kekasih dan memutuskan menikah. Hendi berada di dalam pengasuhan Djaya. Tak sekalipun mantan istrinya itu menanyakan keberadaan atau keadaan putra mereka. Sang mantan hilang di telan bumi setelah menikah.


"Coba tanya anakmu, mau tidur sama Eyang atau tidur sama ayahnya?!" tantang sang calon mertua.


Hendi yang menang haus kasih sayang dari kakek dan neneknya. Tentu memilih bersama kedua orang tua calon istrinya.


"Sayang ... Papa gimana?" keluh Djaya memohon.


"Papa ... Hendi mau nginep," cicit bocah itu.


Mata Hendi telah menggenang. Hal itu membuat calon ayah mertuanya marah.


"Sudah pulang sana!" usirnya.


Djaya hanya bisa menghela napas panjang. Ia jadi terharu melihat betapa Hendi bahagia bersama kakek dan neneknya. Ia sadar, dari orang tua mantan istrinya tak menganggap Hendi ada setelah putri mereka menikah lagi.


"Sudah saatnya Hendi bahagia setelah enam tahun ditelantarkan kakek dan nenek kandungnya," monolognya dalam hati.


Djaya hidup sebatang kara di kota ini. Ia tak memiliki ayah ibu, ia berjuang sendirian dan berhasil dengan kesusksesan yang lumayan. Memiliki rumah walau sederhana, kendaraan roda empat untuk mobilitasnya sehari-hari. Pria itu mapan dari segi ekonomi.


Hari yang dinanti datang. Kini keduanya tengah duduk di depan penghulu dan wali sang gadis. Sebuah ijab kabul terucap lantang dari mulut Djaya.


"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya penghulu.


"Sah!" teriak para saksi.


Semua mengucap syukur. Kini sepasang pengantin duduk di pelaminan. Hendi duduk diapit ayah dan ibu barunya. Bocah itu tak mau lepas dari pelukan ibu sambungnya. Wati menyayangi Hendi seperti anak yang lahir dari rahimnya sendiri.


"Selamat ya!"


Manya menyalami pengantin.


"Makasih Dok, Tuan!" sahut Wati dengan senyum lebar.


Jovan juga memberi selamat pada suster yang kini tengah berbahagia. Seven A dan adik-adiknya tak ikut. Mereka menunggu di rumah bersama kakek dan nenek mereka.


Setelah mengucap selamat dan memberi bingkisan. Jovan dan Manya memilih langsung pulang. Mereka mengkhawatirkan semua anak-anak, karena para suster juga cuti untuk menghadiri pernikahan rekan mereka.


"Ayo Pa, cepat. Kasihan anak-anak!" ajak Manya.


"Nggak dicicip dulu makanannya?" tawar salah satu petugas wedding.


Jovan tak enak hati, ia mengambil beberapa kue dan mengantonginya. Pria itu mengingat semua anak kembarnya yang pasti akan bertanya makanan di pesta.


"Kok diambil?" tanya Manya yang buru-buru.


"Nggak enak sama yang punya pesta," jawab Jovan.


Ketika di mobil pria itu mengeluarkan sepuluh aneka kue dari saku celananya. Manya berdecak, tetapi ikut menghitung juga.


Mobil hendak bergerak, lalu tiba-tiba Manya membuka sit belt-nya.


"Pa berhenti dulu!" teriaknya.


Jovan menghentikan mobilnya mendadak, hampir saja Manya terantuk dashboard.


"Papa ih!" pekik Manya.


"Sayang ... kau mengagetkan ku!' teriak Jovan membela diri.


"Ada apa sih?" tanyanya gusar.


Manya tidak menjawab, ia memilih kembali ke pesta. Hal itu membuat Jovan mengerutkan keningnya. Butuh waktu sepuluh menit, Manya kembali membawa satu kotak sedang berisi banyak kue. Jovan melongo.


"Yuk Pa!" ajak Manya, lalu menaruh kotak berisi kue itu di pangkuannya.


"Ma?" Jovan tak mengerti.


"Papa cuma ambil sepuluh kue," jawab Manya.


"Loh emang bener kan. Anak kita hanya sepuluh!" sahut Jovan.


"Papa lupa Reece dan Liam?" pria itu menepuk keningnya.


Lalu tak lama kendaraan roda empat itu membelah jalan ibukota. Hanya butuh waktu dua puluh menit mereka sampai tempat tinggal mereka.


"Mama pulang!"


"Mama!" teriak semua anak.


"Wah ... Mama pawa pa'a?" tanya Liam langsung menyambar plastik kresek yang berisi kotak kue.


"Baby ... yang sopan!" tegur Amertha.


"Moma ... Iam banya pihat!" sahut bayi itu.


Reece merebut plastik dari tangan keponakan sepupu iparnya itu.


"Atuh yan palin tuwa pisyini!" Liam diam jika Reece berulah.


"Pisina tue!" pekik Reece senang.


Bayi tampan itu mulai membaginya. Semua saudara dapat kue, begitu juga dirinya.


"Moma sama Popa nggak dapat Baby?" goda Abraham.


"Popa pudah puwa ... pa'a Popa eundat pawu menalah Pama payi?" sindir Reece telak.


"Astaga ... anak ini!" gerutu Abraham gemas.


Ramaputra terkekeh mendengar keberanian putranya itu. Kue habis, Reece kurang jika hanya makan kue satu.


"Mama poleh atuh beulpanya?" tanyanya.


"Tanya apa Baby?"


"Mama bapat tue imi dali pana?" tanya bayi cerdas itu.


"Tadi dari pernikahan Suster Wati. Kenapa?" sahut Manya mengerutkan dahinya.


"Talo bedhitu, payo pita teusyana ladhi Mama, tue na tulan!" ajak Reece menarik tangan Manya.


"Mama buatin aja ya?" tawar Manya.


"Tenapa halus puat Mama talo pita pisa bapat tue delatiz!" sahut Aqila dengan mata bulatnya.


"Biya Mama ... Mama eundat susyah sape-sape bitin tue ... pita halus peulmemat uan!" sahut Liam setuju ide saudaranya itu.


"Biya Mama ... payo pita teupentat besta Bustel Wati puat matan tue setenyan-tenyana!" sahut Reece semangat.


Semua orang tua begitu gemas mendengar ajakan itu. Entah kenapa Manya akhirnya mengikuti keinginan para bayi untuk makan kue secara gratis. Tetapi bukan di pesta pernikahan Wati. Melainkan di sebuah kios kue, semua bayi bisa memilih kue yang mereka sukai sesukanya.


bersambung.


Aduh .. Reece ... ada aja idenya 🤭🤦


next?