THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
KESERUAN



"Astaga cucu-cucu ku!" pekik Ramaputra yang baru saja datang bersama istrinya.


Keduanya langsung mendekati panggung dan melihat aksi ketujuh batita menggemaskan itu.


"Bawu temana engtau bahai tisanat?" tanya Abi.


"Atuh inin beuldulu pada peundetal syatit, peundetal pulun lajapali!" jawab Syah.


"Hahaha ... puntut pa'a tau beuldulu pada peundetal tat bunya pulu ipu!" ledek Abi.


"Tat punya pulu?" tanya Syah bingung.


"Pa'a tah pia botat?"


Grrrrr! Semua tertawa terbahak. Drama masih berlanjut. Ramaputra dan Amertha memilih duduk dekat dengan panggung. Ia meminta para penonton dadakan itu juga duduk agar semua melihat pertunjukan gratis itu.


Semua duduk, acara mendadak hening seketika akibat pertunjukan dadakan yang dibuat oleh keturunan Dinata. Jovan ikut naik panggung. Entah mengapa tiba-tiba Agil menariknya.


"Bialah peundetal yan tau pilan tat bunya pulu ipu peudental!" sahutnya.


Jovan kesal bukan main, tiba-tiba ia harus bermain drama. Semua tertawa dan bertepuk tangan dengan hadirnya salah satu pebisnis di kota mereka itu.


"Ada apa kau memanggilku Kisanak?!" sahutnya dengan ekspresi gemas.


"Atuh beunantanmu peundetal!" sahut Abi jumawa.


Jovan mengangkat tubuh putranya itu sampai tergelak. Syah yang mestinya berguru dengan pendekar sakti ikut menyerang ayahnya.


"Kalian curang!" pekik Jovan pura-pura kalah.


"Aku akan memanggil pendekar lainnya!" lanjutnya.


Jovan turun panggung. Ia duduk lama dan menyaksikan tujuh anak kembarnya beraksi.


"Pihatlah ... peundetal yan tau pilan syatit ipu!" sahut Abi terkekeh.


"Baitlah atuh beuldulu padamu!" ujar Syah.


"Peundetal beuldulu pada peundetal yan pidat pahu manana eh namana ipu ... pati petiap beulajan san dulu syelalu teulpeuntal ..." ujar Abraham bernarasi.


"Tatana tau pidat syatit teunapa palah teunadamu tuat?!" pekik Abi tak terima.


Sungguh pertunjukan mereka memang tak pernah dilatih. Tetapi percakapan dan narasi sesuai dengan lakon mereka masing-masing.


"Ahilna peundetal beunitah dan pidup bahadia!'


Semua bertepuk tangan meriah. Seven A ke tengah panggung dan membungkuk hormat. Para pebisnis kembali ke acara, menyalami pengantin yang sudah kram perutnya akibat tertawa.


"Apa mereka seperti itu jika ada pesta?" tanya Lana mengusap matanya yang basah.


"Iya, sayang," jawab Bernhard.


"Mereka lucu sekali," sahut wanita itu.


"Kita punya anak sebanyak itu ya," pinta Bernhard.


"Sayang, kita masing-masing adalah keluarga tunggal, jika diberi satu saja aku sudah sangat bersyukur," jawab Lana.


Bernhard mengangguk tanda mengerti, ia tentu berharap diberi kepercayaan dari Tuhan anak yang banyak. Tetapi jika pun hanya satu, ia akan tetap bersyukur.


Pesta terus bergulir. Seven A sudah terlelap di kuris dorong mereka. Manya sudah lelah, tiga bayinya juga harus ia baringkan di boks mereka.


"Kita pamit yuk," ajak wanita itu.


Jovan mengangguk. Ayah dan ibunya juga sudah pulang setelah pertunjukan seven A selesai. Bahkan mertuanya juga tak berlama-lama di sana. Mereka bersama para suster pamit dari pesta.


"Makasih bro!" sahut Bernhard pada sahabatnya.


"Sama-sama bro!" sahut Jovan.


Lana menciumi bayi-bayi yang terlelap. Matanya berbinar melihat sepuluh bayi yang mirip satu dan lainnya.


"Kasihan Mama, nggak dapat bagian," ujarnya iba ketika melihat wajah sang ibu.


Manya hanya tersenyum dan mengangguk. Tetapi, ia sangat bahagia dengan kehadiran sepuluh. buah hatinya itu.


"Mirip siapa pun tak masalah, asal semua sehat dan pintar," tukas Manya.


Lana mengangguk setuju. Kini baik Manya dan Jovan pulang bersama para suster dengan dua mobil.


Supir membawa mereka kembali ke rumah mewah yang sudah direnovasi sesuai jumlah bayi. Butuh waktu dua puluh menit untuk sampai pada hunian mewah itu.


"Baik Dok!"


Kini Manya sudah merebahkan diri. Bayi-bayi di asuh oleh suster, tadinya perempuan itu ingin menyewa dua suster lagi. Tapi, belum ada satupun yang cocok di mata Manya.


"Ah ... lelahnya," ujar Jovan merebahkan dirinya di sisi sang istri.


"Sayang," panggilnya.


Pria itu masih terbayang-bayang pola tingkah seven A tadi. Jovan sampai senyum-senyum sendiri.


"Ya sayang?" jawab Manya lemah. Ia sudah mengantuk.


'Tadi anak-anak kita benar-benar luar biasa ya?" ujar pria itu takjub.


"Tentu sayang, mereka adalah campuran dari Dinata dan juga Artha. Pastinya mereka heboh," kekeh Manya.


"Iya ... aku jadi penasaran dengan tingkah triple A nantinya," sahut pria itu.


Manya hanya diam. Jovan menatap istrinya karena tak ada tanggapan dari wanita yang ia nikahi empat tahun lalu itu.


"Kau lelah ternyata," ujar Jovan lalu mengecup mesra kening sang istri.


Tak butuh waktu lama, ia pun ikut terlelap di sisi sang istri.


Sedang di tempat lain Aldebaran baru saja mendatangi pesta pernikahan salah satu sahabat cucunya itu. Kehadiran Aldebaran membuat semua orang heboh terutama dengan sosok yang bersamanya sekarang.


"Astaga apa itu Tuan Dougher Young?"


"Benar ... itu Tuan Darren Putra Dougher Young!' pekik para wartawan.


Semua mengerumuni kedua pria dengan ketampanan berbeda. Dilansir usia keduanya terpaut dua belas tahun lebih tua Aldebaran.


"Tuan Dougher Young ... tolong lihat kemari!" pekik para wartawan.


Darren menoleh dengan senyum indah. Tak lama salah satu putranya datang menyambangi. Iris abu-abu menjadikan sosok tampan itu sorotan dan pekik histeris para kaum hawa.


"Tuan Fatih Dougher Young, lihat sini please!"


Al Fatih Putra Dougher Young menoleh dan tersenyum tipis. Semua kaum hawa histeris. Ketiganya kini menyalami pengantin yang berbahagia. Tak ada kata-kata keluar dari bibir dua Dougher Young itu. Mereka memilih langsung pergi dan ikut Aldebaran ke rumah cucunya.


"Jadi benarkah Tuan Dinata memiliki cucu kembar yang banyak?" tanya Darren penasaran.


Mereka ada di mobil yang bergerak ke arah rumah Jovan. Pria itu telah mengirim kabar pada cucunya. Jovan sudah menanti mereka. Hari sudah beranjak sore.


Pertemuan Aldebaran dan Darren juga tanpa sengaja. Pria gaek itu tengah datang pada sebuah pagelaran komputerisasi yang diselenggarakan oleh perusahaan Hudoyo Cyber Tech yang kini dipimpin oleh salah satu keturunan Dougher Young di kota tersebut.


Aldebaran yang pernah melakukan kerjasama mengajak Darren untuk bertemu dengan cucu kembarnya. Darren yang sangat antusias dengan keturunan yang banyak langsung mau ikut.


Kini pria itu dihadapkan dengan tujuh batita yang sangat mirip satu dengan lainnya. Sedang Fatih sibuk dengan tiga bayi dan mengajak berbicara.


"Halo babies ... nama kalian siapa?" tanya Darren dengan mata berbinar.


"Balo judha ... nama atuh Bhijal, imi Api ... talo imi Syah, imi Aplaham," jawab Bhizar memperkenalkan saudara kembarnya yang laki-laki.


Darren tertawa lirih mendengar bahasa planet para bayi. Cucu dan cicitnya juga memakai bahasa itu.


"Talo Pom nanat spasa?" tanya Bhizar.


"Pijal ... tot tami eundat pipeultenaltan!' protes Lika kesal.


"Oh ... lupa," sahut Bhizar santai.


"Balo Pom ... atuh Lita, imi Adil dan imi Laina," sahut Lika centil memperkenalkan diri.


"Halo juga Babies!" sahut Darren.


Setelah acara perkenalan itu. Darren dan putranya pulang. Semua bayi melambaikan tangan.


"Bain ladhi ya Apah Dallen!"


"Lain kali Baby!" jawab Darren lalu melambaikan tangan dan masuk mobil.


bersambung


Ah ... ada Darren sudah tua ...


next?