
Reece tengah duduk di kursi teras belakang rumah kakaknya. Bayi belum dua tahun ini, tengah mengamati tiga keponakannya.
"Tamuh talo dedhe padhi pa'a?" tanya Aqila pada saudara laki-lakinya.
"Atuh bawu padhi tayat Papa Yayah!" jawab Adelard yakin.
"Teulza tayat Papa Yayah?" tanya ulang Aqila.
"Butan, pati zadhi Papa Yayah yan banat nanatna!" jawab Adelard.
"Woh, telus tamu tasih nanatna lolan matan pa'a?" sahut Aidan kesal.
"Tan lada Mama yan tasih matan," jawab Adelard santai.
"Ya pidat pisa bedhitu!" sewot Aidan. "Mama tan bastina pudah puwa!"
"Peulnel itu?" tanya Aqila sedih.
"Teunapa ladhi syih tamu!" pekik Aidan pada saudarinya yang suka sekali drama.
"Mama batalan puwa telus didina pindal puwa?"
Aqila tak mau membayangkan ibunya memiliki gigi yang hanya dua saja. Ia langsung terdiam dan larut dalam bayangan ketika ibunya sudah tua.
Reece tiba-tiba usil, bernyanyi burung kakak tua. Makin menangis lah Aqila. Bagaimana tidak menangis jika liriknya diganti oleh bayi usil itu.
"Mama Panya puwa ... bensylot pi sendela ... talo banti puwa ... didina pindal puwaaa!"
"Pom teusil pahat!" pekik Aqila lalu menangis histeris.
"Pom teunapa syih!" protes Aidan marah.
"Piya mih ... Pom eundat sayan Mama peulalti, Pom natain Mama!" sahut Adelard.
Reece jadi merasa bersalah, bermaksud hanya bercanda ia malah dituduh tidak sayang dengan kakak yang ia panggil Mama itu.
"Pom syayan tot syama Mama," akunya jujur.
"Talo sayan, teunapa Mama ditatain didina pindal puwa ... huuu ... hiks ... hiks!" sahut Aqila menangis.
"Pom syuma beuljanda Baby," ujar Reece jadi ikutan nangis.
"Hiks ... hiks!"
"Mamapin Pom ya Baby, Pom padhi eundat peulpatsut peunelan natain Mama ... hiks ... hiks!"
"Janan natain ladhi ya ... hiks ... hiks!" sahut Aqila lalu memberikan kelingkingnya.
Reece menautkan kelingkingnya, ia berjanji tak akan mengatai kakak yang ia panggil Mama itu.
Amertha terharu, ia baru saja ingin menenangkan para bayi dengan memberinya nasihat. Tapi Maira menahan besannya. Ia yakin jika anak-anak itu bisa menyelesaikan masalahnya.
Amertha pun tersenyum setelah melihat semua anak-anak kembali bermain. Beberapa kudapan pun tersaji, Maira memanggil mereka.
"Babies, ayo cuci tangan dulu sama Suster!" titahnya.
Anak-anak pun mengikuti suster mereka mencuci tangan. Sehabis cuci tangan, mereka pun makan pangsit goreng yang tadi dibuat oleh ibu mereka sebelum berangkat kerja.
"Jeng, ulang tahun anak-anak apa kita rayakan seperti seven A?" tanya Amertha.
"Kalau ditempat yang sama sepertinya membosankan. Bagaimana jika kita menyewa taman bermain seperti water park?" ujar Maira memberi saran.
"Wah ... iya ya. Jadi anak-anak bisa sepuasnya bermain, para orang tua juga bisa bermain dengan anak-anak mereka sendiri," sahut Amertha setuju.
"Ya sudah, sebaiknya kita harus rencanakan sedini mungkin. Berapa anak yang mesti diundang, usahakan minta kedua orang tuanya ikut," ujar Maira kembali memberi saran.
"Kita bisa tulis di undangannya kalau soal itu," sahut Amertha.
"Apa perlu gunakan jasa EO?" tanyanya.
"Tentu saja, kita tak bisa membuat konsep pesta sendiri. Jadi kita hanya tau beres dan memastikan semua keamanan dan kenyamanan anak-anak kita pada khususnya dan anak-anak lain pada umumnya," sahut Maira.
Kudapan habis. Jika soal makanan, anak-anak paling nomor satu menghabisinya. Makanya tubuh mereka sangat montok.
"Eh ... Pom teusil, talo dedhe banti, pawu zadhi pa'a?" tanya Aidan.
Seven A belum pulang sekolah. Hari masih pukul 08.30. masih terlalu dini jika mereka pulang kecuali para guru rapat.
"Pom talo dedhe pawu zadhi Popa," jawab bayi itu.
"Tayat Elald padhi zadhi lolan puwa?" Reece menggeleng.
"Mawu dantiin Popa teulza, pial Popa bistilahat," jawabnya.
"Atuh mawu tayat Mama zadhi doptel!" sahut Aqila.
"Sadhi doptel ipu halus binten Baby," sahut Reece mengingatkan.
"Peulajan pa'a. Tan peulum setolah?!" sahut Aqila.
"Talo beudithu, badhaipana talo setalan pita beulajan?" ajak Aidan.
"Poleh," sahut Reece dan Adelard bersamaan.
"Ah, sayan eundat lada Iam," sahut Reece menyayangkan.
"Biya. talo lada Iam, basti peubih lame," sahut Aidan.
Mereka diam sebentar, lalu saling tatap-tatapan. Tak lama seven A pun pulang, triple A dan Reece tidak jadi belajar. Mereka langsung berhamburan menuju tujuh saudara kembar mereka yang lebih tua.
"Hole ... Ata' pulan!" sahut triple A bertepuk tangan begitu juga Reece.
Seven A membuka sepatu sembarangan. Maira langsung memperingati cucu-cucunya.
"Babies?!"
Seven A lalu membereskan sepatu mereka. Para suster sedih karena sebentar lagi mereka tak dibutuhkan karena bertambah besarnya Bhizar, Agil, Abi, Laina. Syah, Lika dan juga Abraham.
"Mereka cepat sekali besar," ujar Saskia sedih.
Wanita itu kini sedang mengandung delapan minggu. Ia juga menerapkan bayi kembar. Sebagai seorang petugas yang mengerti bagaimana menciptakan bayi kembar, tentu ia tau trik dan cara mendapatkan bayi kembar.
"Mereka memang harus besar, Sus," sahut Amertha mengerti kesedihan para suster.
"Mereka harus menggantikan orang tua mereka," lanjutnya.
Empat suster mengangguk setuju. Mereka kini menantu seven A berganti baju, mereka bermain sebentar dengan adik-adik juga paman kecil mereka.
"Ata' padhi pita penen beulajan!" lapor Aqila.
"Terus udah belajarnya?" keempat bayi menggeleng.
Dari semua kembar tujuh, Bhizar, Abi dan Aqil sudah bisa mengucapkan huruf Er. Sedang yang lain masih cadel.
"Peulum," jawab Aqila menggeleng hingga membuat kuncir dua rambut keritingnya bergoyang lucu.
"Teunapa eh kenapa?" tanya Laina.
"Pita binun bawu peulajan pa'a Ata'!" jawab Aidan.
Reecedan Adelard mengangguk setuju. Mereka tidak tau harus belajar apa.
"Kalian kan bisa tanya Moma," ujar Lika.
"Ata', Moma tan syudah lama seutali pidat beulajan, bemanan pasih inat peulajanan?" sahut Reece meragukan kebisaan para ibu.
Amertha dan Maira kesal dan gemas jadi satu mendengar perkataan Reece. Maira ingin sekali mengigit pipi bakpau adik dari menantunya itu.
"Aah ... besan Gara-gara kamu nih, aku jadi ingin punya anak!" sahutnya gemas.
"Ya bikin lah," sahut Amertha santai.
"Ck ... setiap malam, aku membuatnya dengan berbagai posisi," keluh Maira frontal.
"Mungkin kau harus lebih lama terlentang setelah semprotan itu dan jangan langsung dicabut!" saran Amertha tak kalah frontal.
"Sepertinya begitu," sahut Maira membenarkan.
"Kau tau. bahkan Renita dan Irham juga ingin mencetak bibit baru," sahut Amertha memberitahu.
"Oh ya?" Amertha mengangguk.
"Kenapa nggak mau inseminasi buatan?" tanya Maira.
"Irham menolak, jika gagal berarti memang Tuhan menginginkan hanya Leticia menjadi anak mereka,"
"Suamiku juga berkata begitu," sahut Maira.
"Cucu kita sudah banyak, itu sih alasannya dia nggak mau inseminasi buatan," lanjutnya.
"Kalau begitu, bagaimana kita hamil barengan lagi? Aku masih ingin satu anak lagi," ajak Amertha.
"Kau serius?" Amertha mengangguk.
"Aku tengah masa subur, jadi sehabis hubungan aku akan meminum obat penguat janin," ujar Amertha memberi ide.
"Ide yang bagus!" sahut Maira setuju.
Bersambung.
Lah ... pada kepingin punya anak lagi.
Next?