
Triple A, Reece dan Liam akan menyiapkan diri untuk sekolah taman kanak-kanak. Dua balita itu sudah mengenal angka dan huruf bahkan bisa menulis walau masih berantakan.
"Wah ... yang udah mau sekolah," sahut Praja bangga.
"Iya dong Pa, Lees udah gede. Halus pisa eh bisa menggantikan Daddy," jawab Reece.
Balita ini sudah mahir bahasa dewasa, begitu juga Liam dan Triple A. Tita, Maiz dan Pram yang kini memakai bahasa bayi, karena mereka baru satu tahun.
"Papa ... Papa!" panggil Pram..
"Ada apa Nak?" Praja kini menggantikan Abraham sebagai Presdir di perusahaan PT Dinata Grup. Jovan menjadi CEO nya. Sedang Manya masih menjadi kepala rumah sakit. Wanita itu membuka klinik gratis di bangunan yang setengah tahun ia beli.
Seven A akan naik-naikan kelas dua, mereka kini sibuk belajar. Seperti rencana mereka akan berpisah kelas ketika kelas dua.
"Plam bawu setolah judha don!" sahut bayi itu.
"Tita judha!"
"Aiz judha!"
"Nanti kalau kalian besar ya!" jawab Praja.
Jovan hanya mendengar apa saja celoteh para perusuh yang berganti. Ia membayangkan jika anak-anak sudah besar. Maka moment ini akan hilang. Ia merindukan ocehan adik iparnya Reece yang sangat membuat semua orang tak bisa menjawab atau menyahuti balita itu. Begitulah juga Liam dan Triple A.
"Mereka cepat sekali besar!" keluh pria itu.
"Mereka harus besar sayang," sahut Aldebaran.
Pria itu sudah makin tua, Aldebaran ingin dekat dengan keluarganya. Pria itu merasa hidupnya sebentar lagi.
"Bahkan aku merindukan masa kecilmu dulu," lanjutnya.
Aldebaran lebih suka berada di rumah Manya. Mansion yang dijanjikan Jovan belum rampung. Masih ada perbaikan sana-sini.
"Apa mansionmu belum jadi?" Jovan mengangguk.
"Belum, Grandpa,"
"Papi malah menyuruh kami tinggal di mansionnya," lanjutnya menjawab.
"Sebaiknya begitu sayang, mansion itu cukup besar dan bisa kalian tinggali dengan anak-anakmu," ujar Aldebaran
"Biar kami tinggal di sini," lanjutnya.
"Papi juga bilang begitu, kalau kita akan tukar tempat. Mansion jauh lebih besar dan anak-anak sudah harus mendapat kamar sendiri-sendiri," jawab Jovan.
"Reece sudah ribut ingin kamar sendiri di sini!" lanjutnya gemas dengan adik iparnya itu.
"Padahal ayah dan ibunya telah menyiapkan kamar untuk anak itu. Tapi sepertinya, keponakannya yang banyak membuatnya betah di sini, sekarang Ramaputra dan Amertha sedang sibuk bercinta!" dumal Aldebaran kesal.
Mereka makan siang bersama. Rudi sudah menjadi CEO di perusahaan Ramaputra, pria itu benar-benar melepas kepengurusan perusahaan di tangan pria kepercayaannya. Leticia masih tetap membantu ayahnya hingga Lasyid siap menerima tapuk pimpinan perusahaan.
Usai makan siang, anak-anak di suruh tidur siang. Hal yang tak boleh dilanggar oleh anak-anak yakni tidur siang.
"Sayang, aku dengar jika anak-anak yang masuk ke dalam programmu makin banyak?" tanya Jovan pada istrinya.
"Iya, Mas. Walau tidak semua bisa diterima. Aku memakai sistem seleksi, jadi tidak semua anak bisa masuk jika tak memiliki kemauan kuat dan hanya ingin berleha-leha di sana," jawab Manya.
"Kenapa begitu?" tanya Abraham. "Kasihan jika mereka diperlakukan seperti itu."
"Itu harus Pi, Manya menekankan jika tempat itu bukan hanya sekadar tempat istirahat atau malah ingin tinggal di sana seperti rumah sendiri. Mereka harus berusaha untuk berjuang dan tidak berpangku tangan," jelas Manya lagi.
"Pantas saja tempatmu diprotes karena pilih kasih," sahut Amertha.
"Aku tidak pilih kasih Mom. Tapi untuk apa memelihara benalu. Kita akan kerepotan sendiri," sahut Manya.
"Ibu Dania juga bilang, kadang banyak orang yang memanfaatkan kebaikan kita dan juga memanfaatkan kemiskinan untuk terus dibantu," lanjut Manya.
Amertha dan Maira mengangguk setuju. Setidaknya orang kaya malas beramal karena menduga orang miskin memanfaatkan kekayaan mereka.
Manya memiliki prinsip yang kuat, ia akan menampung anak-anak yang memiliki daya juang tinggi. Karena tidak akan ada perubahan jika diri sendiri tak mau berubah.
Jovan dan Praja kembali ke perusahaan. Semenjak Praja menjadi Presdir perusahaan milik ayahnya. Jovan mesti memiliki asisten pribadi yang baru begitu juga Praja. Dua orang pria bernama Daniel Radcliffe dan Raul Fernando pemuda berusia dua puluh empat tahun.
Daniel dan Raul direkrut karena telah menggugurkan banyak pesaing dengan otaknya yang cerdas dan sangat kekinian.
Dua sekretaris menghadap, mereka memakai baju formal standar. Dua gadis cantik berusia muda. Melirik ketampanan pria-pria di depannya terutama Jovan.
'Astaga ganteng banget!' puji salah satunya.
"Daniel, apa pekerjaanku?" tanya Jovan.
Praja berada satu ruangan dengan CEO nya. Sebagai pemimpin tertinggi kedua, Praja masih harus menuruti perintah Jovan.
Daniel menjelaskan apa pekerjaan pria itu. Jovan mengangguk.
"Praj, aku akan ke meeting Tuan Surya di restauran xx!" ujar Jovan.
"Baik Tuan!" sahut Praja.
Praja telah melatih Daniel sedemikian rupa agar menjauhkan semua wanita yang hendak menggoda pria itu. Larissa mengikuti Jovan, sebagai sekretaris tentu gadis itu harus mengikuti kemana tuannya kecuali keperluan pribadi pria itu.
Sedang Safia berdiri menunggu perintah Praja. Raul mengatakan akan ada rapat divisi perusahaan.
"Baik, siapkan dalam sepuluh menit!" titah pria itu.
Di tempat lain, Jovan sudah mendatangi sebuah gedung mewah. Restauran itu milik ayah mertuanya. Daniel membuka pintu untuk tuannya, Larissa mengikuti Jovan.
Pria itu berhenti ketika berada di lobby restauran. Larissa yang menunduk tak sengaja menabraknya.
"Aduh!"
Jovan berdecak kesal. Larissa meminta maaf dengan membungkuk tubuhnya dalam-dalam. Dalam kisah salah satu novel yang ia baca, pemimpinnya memang bermuka datar di awal.
"Maaf Tuan," cicitnya.
Jovan berjalan lebar, Larissa harus terjajar mengejar atasan dan juga asisten pria itu. Lagi-lagi gadis itu mengerti, ini yang akan terjadi pada seorang sekretaris di awal kisah novel yang ia baca.
"Selamat datang Tuan Dinata!" sambut Surya pemilik acara temu itu.
Jovan tak memesan makanan karena ia baru makan di rumah. Namun untuk menghormati tuan rumah, ia memesan satu teh jahe.
Pertemuan berjalan lancar bahkan ada beberapa kesepakatan terjadi di sana. Jovan menjabat tangan Surya karena telah berhasil meyakinkannya untuk terus memberikan subsidi di kerjasama hari ini.
"Reviewnya bagus sekali!" puji Jovan salut.
"Terima kasih Tuan," ujar pria itu.
"Ah, untuk merayakan kerjasama ini, bagaimana jika kita nanti malam ke klub?!" ajak Surya.
"Tidak terima kasih Tuan, istri dan anak saya menunggu!" tolak Jovan tegas.
Surya tak mau memaksa pebisnis bertangan dingin itu. Jovan memang terkenal dengan kesetiaannya pada pasangan. Terbukti dengan jauhnya skandal dari pria itu.
Surya menatap punggung lebar Jovan. Ia menghela napas, padahal ia telah membooking banyak gadis cantik untuk meluluhkan Jovan agar lebih banyak lagi mencairkan subsidi di proyek mereka.
"Sepertinya, sekretaris itu akan jadi jalan untuk membuat skandal?" gumamnya lalu tersenyum penuh rencana.
Bersambung.
Eh ...
Next?