
Sepasang suami istri kaya raya mendatangi kantor kepolisian. Mereka melaporkan adanya dugaan kelalaian rumah sakit dan mengakibatkan bayi tertukar.
"Ini bukti yang kami dapatkan secara pribadi!' ujar pengacara menyerahkan bukti otentik berupa baju bayi yang berbeda dan tidak adanya rekap medis meninggalnya sang bayi. Juga pengakuan dari pihak rumah sakit jika memang ada kelalaian.
"Baik tuan, kami akan segera membentuk tim untuk menyusuri semuanya agar kasus ini terungkap cepat!" sahut perwira polisi langsung menangani kasus ini.
"Kami ingin di up secara publik, agar berhati-hati dan akan memiliki efek jera, pak," minta sang pria.
"Maaf, untuk masalah itu kami menolaknya tuan, kami takut ada komplotan lain terlibat dan melihat berita ini. Mereka malah akan menghilangkan barang bukti," tolak perwira polisi itu sekaligus menjelaskan.
Akhirnya tuan dan nyonya kaya itu menyerahkan semua penyelidikan kasusnya pada polisi.
Sedang di tempat lain. Ramaputra sibuk mengurusi proyek yang bermasalah. Pria itu lupa dengan amplop yang ia simpan dalam saku celananya. Sedangkan Amertha makin lama makin membaik keadaannya.
Manya sudah selesai dengan semua pekerjaannya. Ia akhirnya mendapat asisten baru setelah Saskia menempuh pendidikan kembali menjadi kepala perawat. Manya sudah merindukan semua anak-anak. Jovan datang menyambangi tempat praktiknya.
"Sayang," panggilnya.
Keduanya melakukan ciuman singkat. Lalu berjalan bergandengan menuju lobby. Sepasang mata menatap keduanya dengan pandangan marah. Bukan ke Jovan tapi kearah Manya.
"Ck ... apa benar jika tujuh anak itu adalah hasil perbuatan mereka?" desisnya tak percaya.
"Sejak kapan Tuanku Jovan mengunjungi desa lembah yang jauh dari internet dan prasarana lainnya?" lanjutnya masih tak percaya.
"Aku yakin kalau Tuanku Jovan itu kena guna-guna!" putusnya cepat.
"Aku harus menolong tuanku dari jerat wanita jahat itu!" lanjutnya dengan kilatan mata penuh rencana.
Dalam otaknya, ia berhasil membongkar kedok palsu dokter terbaik yang di miliki rumah sakit itu. Jovan dan keluarga Dinata akan mengelu-elukan dirinya.
"Terima kasih cintaku, kau telah menolongku dari jerat tipu daya wanita ular itu!" ujar Jovan penuh pandangan cinta pada dirinya.
Gadis itu terpekik senang bukan main. Khayalnya menjadi permaisuri raja akan kesampaian. Jovan akan memujanya dan mencintainya sampai akhirnya hayat dan mereka hidup bahagia selamanya. Gadis itu sampai keluar air liurnya membayangkan adegan panasnya di ranjang bersama Jovan.
"Ohh ... belum-belum kau membuatku basah tuanku," erangnya pelan sambil mengigit bibir bawahnya.
"Aku pasti akan menyingkirkan mu Dokter Manya!" sahutnya sangat yakin.
Sampai di mansion. Para bayi ribut ingin minta susu dengan segala rasa yang diinginkan mereka.
"Mama ... benata lama-lama teulja!" protes Laina dengan tangan terlipat di dada.
"Laina bawu tutu lasa pelimpin dali padhi pian!" ia mengerucutkan bibirnya.
Jovan gemas bukan main dengan wajah lucu itu. Ia menciumi sampai bayinya protes dan menangis kesal akibat ulahnya.
"Mama ... papa yayah natal ... eundat usyah tasih tutu lasa papapun!" demo bayi cantik itu.
"Jangan baby, ampun!" pinta pria itu.
Dua bayi tengah menyusu pada ibunya. Abi dan Abraham sangat protes dengan lamanya sang ibu kembali dari pekerjaan, hingga acara menyusu terlambat.
"Beustina pita itut mama teulja!" sahut Abi selesai dengan minum susu langsung dari sumbernya.
Belum juga Manya membersihkan areola dari liur putranya, Ailika sudah menyambar dan menghisap kuat.
"Ssshhh ... pelan-pelan sayang," ujar Manya.
Lika menarik mulutnya hingga berbunyi 'Plup'. Menatap ibunya.
"Mama imi lasa pa'a?" tanyanya.
"Masih rasa coklat sayang," jawab wanita itu.
"Kan tadi baby nggak bilang mau rasa apa," lanjutnya.
Lika mengangguk. Ia kembali menyusu dengan rakus di sana. Abi selesai, Abhizar menggantinya, semua akhirnya kebagian menyusu, para bayi tenang setelah mendapat apa yang diinginkan.
Put.ing Manya terasa perih akibat sedotan tujuh bayinya. Jovan menatap istri dengan alis naik turun.
"Sayang, nanti ya ... masih ... aaahhh!"
Pria itu tak peduli. Ia sudah menahannya dari tadi. Perbuatan tujuh anak kembarnya membuat pria itu langsung terpantik gairahnya. Manya menggeliat hebat kala mulut sang suami memberi rangsangan di daerah bekas liur tujuh bayi kembarnya.
Wanita itu menahan des.ahan dengan menggigit bibir bawahnya.
"Keluarkan suaramu sayang," pinta Jovan dengan suara serak dan sangat seksi.
Bibirnya tak berhenti menghisap, mencecap setiap inci tubuh istrinya. Bahkan indera perasanya ikut aktif hingga membuat Manya mabuk dan ingin lebih.
Baru saja Jovan menurunkan jarinya ke bawah, tiba-tiba ....
"Mama ... papal mama ... bawu bipuapin mama!" koor tujuh bayi kompak di depan pintu kamar wanita itu.
Semua aksi Jovan berhenti seketika. Manya dan suaminya langsung mengalami migrain karena hasrat mereka harus berhenti akibat ulah seven A.
Usai makan malam. Jovan terpaksa ke ruang kerjanya. Ada sedikit masalah pada perancangan kontruksi proyek. Perusahaannya kini bekerjasama dengan perusahaan Artha Corp. milik ayah dari Leticia. Jovan dan Praja baru bertemu di lokasi kerja hari ini.
"Bagaimana bisa salah hitungan tuan?" protes Jovan melihat bahan bangunan yang tidak sesuai.
"Maafkan atas kecerobohan ini. Saya sedikit kurang fokus akibat putri saya yang belum ada kabar Apakah ia berhasil keluar dari kritis atau belum," jawab pria itu sekaligus mencurahkan kegelisahannya.
Jovan mengerti keadaan Ramaputra. Pria paru baya itu tentu tak mengenali Jovan sebagai mantan kekasih putrinya. Mereka belum sempat bertemu.
"Aku sekarang bukan apa-apanya Leticia, jadi aku tak perlu mengatakan siapa diriku dan apa hubungan kami dulu," gumamnya dalam hati.
"Bro!" panggil Praja membuyarkan lamunan Jovan.
"Hmmm," sahut pria itu.
"Gimana kabar Leti?"
"Dia kritis," jawab Jovan pelan.
"Kamu udah jenguk dia?" Jovan menatap kesal pada saudara angkatnya itu.
"Setahuku, gadis itu diberikan treatment terbaik di rumah sakit," sahutnya masih menatap kesal pada Praja.
"Santai bro ... aku hanya bertanya," ujar pria tampan itu.
"Kalo kamu penasaran, kamu tengok aja sana," sahut Jovan kesal dan kembali fokus pada berkas di tangannya.
Sementara di rumah sakit, semua tim medis bertepuk tangan. Pasien mereka mengalami kemajuan.
"Syukurlah pasien lepas dari kritis, walau masih tahap awal. Pergerakan pasien sudah menunjukkan respon setiap percakapan yang kita ucapkan!" ujar kepala tim medis.
"Kita harus memberitahu pihak keluarga. Agar memberi support terbaik dan jangan mengingat keburukan atau kesalahan apapun pada pasien!" ujar salah satu dokter.
Semua mengangguk setuju. Semua menatap pasien mereka yang masih berbaring tak berdaya, tapi pergerakan Leticia cukup membahagiakan semua tim, terlebih responnya pada panggilan.
Pihak rumah sakit langsung memberitahu pada keluarga jika keadaan putri mereka sudah membaik dan lepas dari kritis, walau belum dianggap benar-benar pulih.
"Kami yakin jika dengan dukungan keluarga, pasien akan lebih cepat lepas dari semuanya!" ujar dokter memberitahu lewat saluran telepon.
Sementara di sebuah ruang cuci. Seroang maid menemukan amplop bergambar logo rumah sakit yang sudah dirobek amplopnya. Rasa penasaran begitu kuat untuk mengetahui apa isi amplop itu.
"Buka nggak ya?" tanyanya dilema.
"Hei ... cepetan masukin itu celana ke bak. Celana itu mesti dicuci pakai tangan!" titah kepala maid.
"Ba—baik nyonya!" sahut maid itu gugup.
"Apa di tanganmu?" tanya kepala maid.
Pelayan itu menyerahkan amplop pada Marisa, wanita itu mengambilnya dan menyimpannya dalam kantung celemek di dadanya lalu pergi ke area ruang tengah.
Wanita itu pergi ke ruang kerja tuannya dan menaruh amplop itu di atas meja lalu pergi keluar ruangan.
bersambung.
bakalan lama lagi ketauannya ...
next?