THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
PERISTIWA INDAH



"Sayang jangan berlarian seperti itu!" teriak Demira.


Mansion baru yang masih kosong membuat semua anak berlarian dan ricuh.


"Aku ... ku ... ku ... ku!"


Deana bersuara dan menggema.


Semua saudaranya tertawa senang, lalu mengikuti Deana. Aldebaran membiarkan semua anak bermain sepuasnya.


"Ayo pilih kamar kalian,' suruhnya.


Dua puluh anak menatap pria itu polos. Mereka seperti tak percaya dengan apa yang dikatakan ayah barunya itu.


"Kenapa kalian melihat Papa seperti itu?" tanya Aldebaran heran.


"Papa nggak bercanda kan?" tanya Alisa.


"Tidak sayang. Kalian boleh memilih kamar semua menghadap taman," jawab pria gaek itu.


Semua anak memeluk ayah baru mereka dan menangis haru. Demira sampai memarahi pria itu.


"Papa nggak marahin kami kok Ma. Kami terharu karena Papa memberi kami kamar," ujar Deni lalu menghapus air matanya.


Demira meminta maaf pada suaminya. Aldebaran tak mempermasalahkan. Anak-anak sangat bahagia mendapat kamar mereka sendiri.


"Tapi, Nana boleh tidul sama Mama nggak suatu hali?"


"Tentu sayang, Bagaimana jika kalian bobo sama Mama nanti malam?' tawar Demira.


'Boleh begitu?' tanya Sania tak percaya.


"Tentu sayang, apa yang tidak boleh?" sahut Aldebaran.


Anak-anak bersorak. Mereka akhirnya mendapat kamar masing-masing yang sama besarnya.


"Papa, Lea mau kamar Lea wanra ... wanra ...," Lea menggaruk kepalanya.


"Warna sayang," kekeh Aldebaran meralat perkataan putrinya.


"Nah maksudnya itu. Lea mau wanra bilu eh ... birlu," gadis kecil itu seperti kesulitan berbicara.


"Kau boleh mewarnai sesukamu Baby," ujar Aldebaran.


Lea tersenyum. Memang anak perempuan Aldebaran lebih banyak dibanding anak laki-laki. Berbeda dengan Ramaputra yang anak laki-lakinya jauh lebih banyak dibanding anak perempuan.


Sementara di mansion Ramaputra. Ten A sudah bermain bersama semua saudara mereka. Ten A memanggil mereka paman dan bibi.


"Paman Seto ... Lika nggak bisa buka ini!"


"Makasih Paman," ujar gadis kecil itu.


"Sama-sama, Lika," sahut Seto tersenyum.


"Ata' Peto ... Ita bawu judha!" pinta bayi mau dua tahun itu.


Seto mengambil satu botol air kemasan dan membuka tutupnya lalu diberikan pada Tita. Bocah itu juga membantu menuangkan air dalam mulut adik angkatnya itu perlahan-lahan.


"Sayang ... jangan banyak-banyak minum itu ya. Ini makan pastel!" teriak Saskia.


Semua anak mengerubungi makanan. Tentu saja semua habis dan masuk dalam perut mereka.


"Enak Mama ... makasih!" sahut semua anak dengan senyum lebar.


Saskia mengangguk, masih banyak makanan dan memang Ramaputra menyiapkan semua untuk anak-anak.


"Mama kaos kaki Kak Dina bolong. Tadi dia dikatain sama teman-temannya!' adu Siska.


"Ih ... nggak apa-apa, itu sudah biasa Mama!" sahut Dina.


"Sayang, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Amertha pada putrinya itu.


"Iya Ma ... sudah biasa kok," ujar gadis kecil itu santai.


Amertha sedih, ia memang belum membelikan baju atau perlengkapan sekolah untuk semua anak-anak.


"Mama ... anak buangan itu apa sih?" tanya Desi tiba-tiba.


"Siapa yang berkata seperti itu sayang?" tanya Saskia tak suka.


"Itu tadi ada anak bilang kalo Desi dan semuanya anak buangan makanya dipungut," jawaban polos Desi membuat Amertha menahan amarah pada anak yang mengatai semua anaknya seperti itu.


"Jangan dengarkan sayang. Biarkan mereka berkata buruk, yang penting jangan dibalas ya," sahutnya.


Ramaputra pulang makan siang bersama semua anaknya. Manya tidak pulang, ia ada jadwal operasi hari ini. Amertha menceritakan apa yang tadi terjadi.


"Ada yang bilang begitu pada anak-anakku?" tanya Ramaputra kesal.


"Iya, aku ingin sumpal mulut orang yang mengajari anak-anak berkata buruk seperti itu!" geram wanita itu.


"Sudah lah ... yang penting anak-anak tidak apa-apa. Kita nanti membelikan semua barang yang ia butuhkan, oke!" Amertha mengangguk setuju.


Anak-anak diminta tidur siang setelah makan. Beberapa anak masih ingin bermain. Tapi Ramaputra meminta semua anak menurut.


"Tidur ya sayang ... Papa mohon!"


Akhirnya beberapa anak itu mengangguk setuju dan pergi tidur siang.