
Akhirnya Jovan memberhentikan semua maidnya. Ia sangat tak suka jika para maid malas-malasan. Terlebih jika mereka menggerutu soal ketujuh anak kembarnya.
Akhirnya para maid didatangkan Maira dari rumah utama. Wanda menyiapkannya. Kini enam wanita berdiri di hadapan Manya.
"Sebenarnya aku lebih suka jika mantan maidku di rumah sebelumny bekerja denganku. Tetapi, mereka sudah bekerja di tempat lain," keluh Manya.
Setelah berkenalan dan mengerti tugas mereka, semua maid langsung menaruh barang-barang mereka dan langsung bekerja. Tak banyak, mereka hanya bebersih beberapa ruangan saja.
Manya ke ruangan bersama mertuanya. Hari ini Amertha bersama suaminya mengunjungi Leticia untuk konsul terakhirnya.
"Moma!' sambut semua bayi senang.
Mulut mereka penuh dengan makanan. Manya langsung menasehati semua anaknya.
"Sayang, habiskan dulu yang ada di mulut baru kau makan yang lain,"
"Mama ... manti pita eundat teubadian!" sanggah Abi dengan makanan masih ada di mulut.
"Baby kalau makan jangan bersuara!' tegur Manya lagi.
"Momo jodo jonon bolsoolo!" sahut Bhizar dengan mulut penuh.
Maira terkekeh melihat tingkah lucu para cucunya.
Manya sedikit melihat rumput agak tinggi, ia butuh tukang taman untuk membersihkan halaman.
"Mami, apa di mansion ada tukang kebun?" tanya wanita itu.
"Ada kenapa?"
"Aku rasa rumput di tamanku sudah tinggi, aku ingin tukang kebun merapikanya," sahut Manya lagi.
"Mami biasanya memanggil tukang kebun langganan sayang, mereka bekerja secara tim," jawab Maira lagi.
"Lagi pula halamanmu kan cukup luas, jadi memang perlu beberapa tukang kebun untuk merapikannya," lanjutnya.
"Kalau begitu apa aku boleh minta kontaknya, aku mau memanggil mereka nanti," pinta Manya.
"Papimu yang menyimpan nomornya sayang, nanti mami mintakan padanya oke," Manya mengangguk.
Sedang di perusahaan lain, seseorang sibuk mengamati seorang pria yang tengah bercengkrama dengan iparnya. Pria itu sedikit mengeratkan kepalan tangannya.
"Sial, Downson memihak padanya!" geramnya dalam hati.
"Bro!" panggil Abraham padanya.
Pria itu mengumbar senyum palsu. Ia mendekati dua sahabatnya semasa kuliah di negeri Paman Sam.
"Bro!" balasnya menyapa.
"Sayang Diego tak ada jika ada, pasti lebih lengkap," keluh salah satu pria yang ada di sisi Abraham.
"Kau benar Eddie, andai Diego tak meninggal dunia lebih dulu," sahut Abraham sendu.
"Ah, dia sudah bahagia di sana, mestinya kita mendoakannya," sahut pria satunya lagi.
"Kau benar Ronald, dia sudah bahagia ... di neraka,"
Eddie dan Ronald berdecak. Mereka tau bagaimana salah satu sahabatnya itu meninggal dunia, yakni di atas tubuh wanita malam. Diego mati over dosis obat kuat yang ia minum sebelumnya.
"Aku ingat, bagaimana para dokter harus melemahkan burung Diego yang masih tegak berdiri," ingat Eddie.
"Ya, bahkan ketika di peti, burung itu masih saja bangkit hingga peti ditutup setengah," lanjut Ronald terkekeh datar.
"Oh ya bagaimana denganmu, kenapa kau belum menikah hingga usia mau enam puluh?" tanya Eddie pada Ronald.
"Ck ... belum ada wanita yang bisa mengalahkan ku di ranjang," sahut Ronald memutar mata malas.
"Kau sudah tua, Ronald mestinya kau sudah punya cucu!" sela Abraham.
'Ya, kau sudah punya tujuh cucu kembar," sahut Eddie.
"Tentu saja," sahut Abraham bangga.
Ronald sangat kesal dengan percakapan itu. Ia memilih mundur dan pulang ke kantornya.
"Apa kita menyinggungnya?" tanya Eddie.
Abraham mengendikkan bahu tanda tak tahu. Ia pun meminum sampange-nya.
Sedang di mobil Ronald kesal bukan main. Sang supir jadi sasaran kekesalannya.
"Apa kau bisa menyetir hah!' bentaknya keras.
"Tuan, ini sudah kecepatan maksimal, kita akan tertangkap polisi jika melebihinya," jawab supir itu.
"Berengsek, kenapa kau menjawabku sialann!" makinya lagi.
"Kau mau kupecat!" ancamnya.
Supir itu menggeleng cepat, ia menekan pedal gas lebih dalam lagi. Walau supir harus mencuri-curi start agar lolos dari petugas polisi dan jalanan sedikit lengang.
"Kita ke klub!" titah Ronald lagi.
Arah sudah menuju perusahaan, jika ke klub maka, supir harus berputar arah. Pria itu tak menyahuti perkataan tuannya, ia memutar balik arah dan menuju sebuah klub langganan tuannya.
Hari masih terlalu sore untuk datang ke sebuah klub. Ronald terkejut ketika sang supir mengatakan jika mereka telah sampai.
"Kenapa kau mengantarkanku ke tempat ini bodoh!" teriak pria itu.
"Tuan yang memintanya tadi," cicit sang supir lirih.
"Kubilang diam!" bentak Ronald.
Pria paru baya itu hendak memukul supirnya. Tetapi sebuah panggilan lembut membuat pria itu menoleh.
"Tuan Ronald Frank, kau di sini?"
"Ah, Pretty ya aku di sini," sahut pria itu.
Pretty adalah wanita pemuas napsu lelaki yang menjadi primadona semua pria hidung belang. Selain cantik, kulitnya putih bersih dan halus. Wanita itu juga sangat cantik, tentu saja memiliki tubuh aduhai. Baik Ronald dan sang supir menarik saliva kasar melihat betapa moleknya tubuh wanita itu.
"Apa tuan hendak melihat debutku malam ini?" tanya wanita itu lembut sekali.
Ronald mengangguk antusias, ia adalah pelanggan dengan kartu akses vvip dengan list emas. Pertanda jika Ronald memang pelanggan istimewa.
Pretty mendekat ke arah Ronald. Jarinya yang lentik meraba dada pria itu dan ia memajukan kepalanya.
"Aku akan menari striptis malam ini tuan," bisiknya lalu menjilat telinga pria itu.
Ronald bagaikan tersengat listrik. Ia akan menyusupkan uang nantinya di selipan di antara dua benda bulat yang begitu sekal dan ranum. Pucuk wanita itu tercetak jelas, Pretty menggunakan dress tipis dan sangat seksi. Beberapa pengawal menjaganya berkeliling. Wanita itu meninggalkan Ronald.
"Pulanglah, jemput aku besok. Sepertinya aku akan menginap!" titah pria itu melangkah masuk.
Baru saja melangkah sebuah dering telepon membuyarkan lamunan mesum pria itu. Ronald mengangkat sambungan telepon itu dengan menggerutu. Ia memaki panjang pendek pria yang meneleponnya.
"Apa perlu aku beritahu bagaimana kau melakukan pekerjaanmu berengsek!" makinya lagi.
"Lakukan saja, apa yang kau bisa!' titahnya keras. "Jangan meneleponku hingga besok pagi!'
Ronald berdecak kesal. Ia pun menatap bangunan yang kini lampunya mulai berkelap-kelip.
Pria itu masuk ke dalam, ia akan masuk ke sebuah ballroom khusus. Tentu ia masuk dengan mudahnya.
Sementara itu di tempat lain seorang pria menatap ponselnya sambil mendengkus kesal.
"Kau pasti sedang berpesta memanjakan burung kurusmu itu Tuan Frank!" celanya pada sang tuan.
Pria itu menatap dua pria dengan baju berlapis dan topi. Dua pekerja pemotong rumput dan pendekor taman.
"Selesaikan tugasmu dengan rapi!" titah pria itu.
"Bayarannya akan lunas jika pekerjaan kalian beres!"
"Dan ingat!" tekan pria itu lagi.
"Jika kalian ketahuan. Maka aku akan lepas tanggung jawab!' peringatnya keras.
Dua pria itu menoleh. Namun demi uang yang kini ada di tangannya. Satu gepok uang seratusan ribu rupiah menjadi milik mereka sebagai bayaran awal. Akan dilipat gandakan jika berhasil.
"Pergi dan kerjakan!" usir bawahan Ronald itu.
Setelah keduanya pergi. Pria itu tersenyum. Satu gepok uang senilai sama ada di pegangannya.
Sebuah tangan mungil dan halus meraba dadanya terus turun hingga ke atas milik pria itu.
"Bang ... aku udah siap," rengek sang wanita lalu memberikan kecupan pada sang pria.
"Ayo ke kamar sayang!" ajak pria itu.
bersambung.
hemmm ...
next?