
Seven A menghadapi ujian semester pertamanya. Para bocah itu harus belajar banyak pihak sekolah juga memberi materi yang cukup berat untuk anak kelas satu SD. Manya sangat kesal dengan materi yang harus dipelajari oleh tujuh anak kembarnya.
"Kalian belajar sebanyak ini?" tanyanya gusar.
"Iya Mama," sahut Abhizar.
"Kalian baru kelas satu, masa harus tau segala hal sih!' protesnya.
"Mana kalian tau perbedaan atau juga arti dari sebuah istilah pribahasa!' lanjutnya mulai emosi.
"Nulis saja kalian baru bisa!"
Seven A hanya diam, mereka memang belum tau apa itu perbedaan dan juga pribahasa. Manya sangat kesal dengan kurikulum yang dibuat oleh pemerintah.
"Bikin anak malas sekolah ya ini nih! Selain pelajaran yang sulit, anak-anak dipaksa untuk tau semua hal!"
"Sudah jangan serius-serius belajarnya. Sebisa kalian saja. Mama tidak menargetkan kalian harus rangking satu. Yang penting kalian naik kelas!" ujarnya.
"Tapi Agil mau jadi dokter kayak Mama yang dapat beasiswa," sahut Agil.
"Jadi pengusaha aja, kalian bisa menciptakan lapangan kerja. Kalau mau jadi dokter nggak usah pakai jalur beasiswa, Mama masih bisa membiayainya!" tekan Manya lagi.
"Sudah main sana!" suruhnya.
Manya kesal dengan buku-buku yang harus dibawa semua anaknya ke sekolah. Begitu banyak hingga memberatkan punggung mereka.
"Udah ngalah-ngalahin anak kuliahan aja belajarnya!" omelnya pelan.
Seven A pun bermain bersama adik-adik dan juga om nya. Amertha dan Maira bingung melihat tujuh cucunya bermain.
"Loh, kok kalian nggak belajar?" tanya wanita itu.
"Disuruh main sama Mama, Moma!' jawab Lika santai.
Manya turun dan menyiapkan makan siang untuk semua orang. Wanita itu tak ada jadwal praktek dan. juga operasi.
"Nak, kamu kok nyuruh seven A main?" tanya Amertha.
"Iya Mom," jawab Manya tak mau ambil pusing.
"Loh kenapa?" tanya Amertha lagi.
"Abis kesel Mom. Masa anak kelas satu SD harus tau perbedaan kiri dan kanan lalu harus tau juga arti pribahasa!" jawab Manya emosi.
"Astaga ... apa seberat itu pelajarannya?" tanya Maira tak percaya.
"Iya Mi, buku yang dibawa tiap hari juga banyak. Ngalah-ngalahin anak kuliahan aja. Manya ambil kedokteran nggak sebanyak seven A bawa buku!" dumal wanita itu.
Reece mengamati kakaknya yang mengomel panjang pendek begitu juga Liam dan triple A. Kelima batita itu saling pandang satu dan lainnya.
"Kenapa baby?" tanya Bhizar melihat adik dan omnya melihat sang ibu.
"Pitu ... Mama teunapa syih?" tanya Liam.
"Mama lagi bete," jawab Laina.
"Pete?" tanya Aqila sampai miring kepalanya.
"Iya lagi bete," jawab Laina lagi.
"Pete pa'a Ata'?" tanya Aqila lagi.
"Bete itu lagi kesel, sebel sama orang," jawab Laina.
"Oh ... beudithu," angguk Aqila mengerti.
"Mama pete pama spasa ya?" tanya bayi cantik itu.
"Mama bete sama pelajaran Kakak!" jawab Abi.
"Woh pemana peulajalan Ata' peunata?" tanya Aidan bingung.
"Pa'a tah peulajanan Ata' beumpuat Mama supin sujuh telilin?" tanyanya lagi.
"Bisa jadi, kata Mama pelajaran kakak itu sulit," jawab Abi.
"Butantah Mama peulnah meunatatan talo pesyulit pa'a talo pita eundat peulajan ya pita eundat pisa melaih hasil yan sempulna?" sahut Aidan panjang lebar.
Manya berdecak mendengar perkataan bayinya yang super itu. Sedang Amertha dan Maira terkikik geli.
"Masalahnya tidak sesederhana itu baby," sahut Manya membela diri.
Lagi-lagi Manya berdecak. Wanita itu menciumi anak perempuannya dengan gemas. Hal itu membuat semua ingin dicium juga. Manya tak keberatan sama sekali.
Jovan datang bersama Praja dan Abraham juga Aldebaran. Mereka duduk ikut makan siang bersama.
"Papa Lalja ... teunapa setalan eundat peulna peuliin pita tue ladhi?" tanya Aidan.
"Baby, kan Mama sudah sering buatin kalian kue, nanti kalau Papa Praja bawain kalian kue bisa nggak habis jadi mubazir," sahut Manya.
"Pa'a yan banzir Mama?" tanya Liam sambil mengunyah makanannya.
"Habiskan dulu makanan di mulutmu sayang," peringat Abraham.
Liam menelan nasi yang ada di mulutnya, sedang Maizah dan Tita sudah MPASI. Kedua bayi cantik itu memakan biskuit yang dihancurkan dengan air.
"Bukan banjir Baby. Tapi mubazir yang artinya sia-sia," jawab Abraham lagi.
"Oh beudithu," sahut Aidan mengangguk tanda mengerti.
"Lain kali Papa belikan ya," ujar Praja.
"Bawa juga bayimu ke sini Praj!' pinta Abraham.
"Biar mereka dekat dengan saudaranya," lanjutnya.
"Iya Mas," sahut Praja.
Pembangunan proyek masih berlangsung. Ramaputra masih sibuk dengan semua pekerjaan hingga bangunan itu rampung. Pria itu meminta Rudi memesan makanan via online. Mereka baru saja menghabiskan makanan itu.
"Pa, kita harus meeting. Sepertinya pembangunan sedikit molor dari jadwal akibat pemberhentian kemarin," ujar Rudi.
"Baiklah, kumpulkan semua kolega yang menangani proyek ini. Kita lanjutkan pembangunan setelah tahun baru. Karena perkiraan selesai awal bulan Februari yang mestinya pertengahan Januari,"
Rudi menghubungi semua kolega dan mengadakan rapat. Semua setuju dengan pembangunan sedikit molor akibat persiapan tutup buku, liburan tahun baru dan kendala cuaca lainnya.
Semua kembali bekerja setelah mencapai kesepakatan. kembali ke rumah Manya, semua anak sedang tidur siang. Manya juga memilih mengistirahatkan tubuhnya. Jovan belum berangkat kerja entah kenapa ia malas, ia pun menyerahkan semua pekerjaan pada Praja. Pria itu ikut merebahkan diri di sisi sang istri.
"Sayang," Jovan memeluk Manya erat.
"Kau seksi sekali," pujinya sambil meremas gundukan kenyal Manya.
"Uuuhhh ... Mas," rengek wanita itu melenguh.
Jovan menciumi tengkuk sang istri. Manya membalikkan tubuh menatap pada netra hazel pria itu. Wanita itu mengusap pipi suaminya lembut.
"Mas, aku mencintaimu," ujarnya tulus.
"Aku juga mencintaimu," ujar Jovan.
Hidungnya ia dekatkan ke hidung suaminya. Bibirnya pun mengecup lembut bibir Jovan. Pria itu tentu menyambar cepat bibir sang istri dan memagutnya. Jovan memang pria setia. Walau ia tampan dan pastinya banyak wanita yang menggandrunginya. Tetapi, jika hatinya sudah condong pada satu wanita. Pria itu tak akan mau melepas wanita itu.
"Kapan kita program anak lagi?" tanya Jovan.
"Kenapa sayang?"
"Bayi-bayi kita sudah tak mau dianggap bayi lagi!" keluh pria itu mencebik kesal.
Manya terkekeh, ia juga sangat gemas dengan bayi-bayi yang merasa sudah besar itu.
"Aku sudah berusia di atas tiga puluh lima tahun sayang," sahut wanita itu mengingatkan.
Jovan mengeratkan pelukannya. Memang sangat riskan untuk wanita hamil di usia lanjut. Ia tentu tak mau terjadi apa-apa pada istrinya itu.
"Baiklah, sepuluh anak juga sudah cukup. Belum lagi Liam, Aislin, Reece, Maizah dan Tita yang pasti akan menjadi anak kita," ujar Jovan.
"Belum lagi nanti mereka menikah ...."
"Jangan bicara pernikahan!" tukas Jovan tak suka.
"Mereka masih bayi!" lanjutnya.
Manya hanya bengong. Jovan mendadak posesif dan cemberut. Ia pun bete membayangkan satu persatu putra dan putrinya pergi meninggalkan dirinya untuk ke jenjang berikutnya.
"Tidak .... masih lama. mereka masih bayi!"
bersambung.
Bayi juga nanti gede Papa Yayah!🤦
next?