THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
SEBUAH PERDEBATAN



Kehadiran penerus baru di keluarga Artha membuat heboh semua pebisnis. Terlebih usia Amertha yang cukup riskan jika mengandung janin di dalam rahimnya.


"Bagaimana kau bisa punya anak Tuan Artha? Istrimu sudah tidak muda lagi?" tanya salah satu kolega takjub ketika diundang ke acara selamatan.


"Jika Tuhan berkehendak, semua yang tak mungkin menjadi mungkin Tuan Eliot," jawab Ramaputra dengan senyum lebar.


Sebagai laki-laki tentu ia merasa bangga, di usianya yang sudah tidak muda lagi dapat memiliki anak dari rahim istrinya yang juga usianya tak lagi muda.


"Ternyata Tuan Artha masih tokcer juga," guyon koleganya itu.


Semua tertawa lirih mendengar guyonan itu termasuk Ramaputra. Sahamnya merambat naik, beberapa usahanya banyak diminati dan dimintai kerjasama.


"Keturunan masih menjadi pondasi kuatnya sebuah perbisnisan. Dengan adanya keturunan, kami merasa aman karena pasti ada yang melanjutkannya," ujar salah satu kolega.


Semua mengangguk setuju. Kini meeting selesai. Ramaputra buru-buru ingin pulang dan melihat putranya. Ia sudah rindu. Rudi mengikuti langkah tuannya.


"Tuan, hati-hati!" peringat Rudi.


"Aku merindukan putra juga istriku, Rudi!' sahut Ramaputra tak sabaran.


"Iya, tapi keselamatan anda juga penting," sahut Rudi.


Mereka melangkah menuju lift khusus. Salah satu kolega perempuan ikut bersama keduanya.


"Tuan selamat atas kelahiran putranya ya," ujar wanita itu lembut.


"Terima kasih Nona Beatrice," sahut Ramaputra.


Wanita itu melirik pria tampan yang tengah tersenyum dan tak sabar.


'Masih tampan walau sudah tua,,' gumamnya dalam hati.


"Kenapa benda ini lama sekali!" dumal Ramaputra protes.


"Yang sabar Tuan," kekeh Beatrice.


Rudi melirik gelagat wanita itu. Pria itu menyorong tubuhnya dan membelah jarak antara Beatrice dan juga tuannya.


Ramaputra memang tak peka pada sekitar. pria itu hanya fokus pada apa yang akan dia lakukan. Rudi tak mau mengulang kesalahan sama.


Dulu ia tak peduli dan sedikit menutupi perselingkuhan atasannya itu. Kali ini ia tak akan memberi ruang sedikit pun pada wanita yang menggoda atasannya. Pintu terbuka tubuh pria itu menahan laju Beatrice agar tak bersinggungan dengan tubuh atasannya yang seperti mengejar maling. Wanita itu berdecak kesal.


Rudi melangkah lebar mengejar tuannya. Sedang wanita itu menghentak kaki kuat.


"Sialan!" umpatnya kesal.


"Tidak apa, lain kali, pasti bisa!" monolognya dengan senyum penuh rencana.


Tak lama, mobil Ramaputra sudah berada di mansionnya yang mewah. Pria itu nyaris melompat mobil jika saja Rudi tak menahannya.


"Apa Tuan mau mati!" omel asisten pribadi Rama itu marah.


"Mobil belum berhenti!'


Rudi benar-benar kesal. Ramaputra menggaruk pelipisnya, ia memang tak sabaran menemui putranya itu.


"Popa pulang!' sahutnya ketika pintu terbuka.


Tujuh batita berlari ke arahnya diiringi tiga lainnya yang masih merangkak. Ramaputra mencium semua bayi dan mereka mengikuti pria besar itu. Amertha duduk di sisi putrinya yang sedang menggendong adiknya.


"Sayang," ujar pria itu lalu mengecup kening dua wanita bergantian.


"Kalian adalah wanita terbaik yang aku miliki!' ujarnya,Kemudian mencium Bara yang terlelap di gendongan Manya.


"Kau juga adalah pria hebat yang kami miliki," sahut Amertha membalas sanjungan suaminya.


"Bagaimana, apa acaranya sudah kalian pikirkan mau bagaimana?" tanya pria itu lalu duduk bersama sepuluh cucunya.


"Nanti saja kita bicarakan itu. Lebih baik Popa segera mandi dan berganti pakaian!" titah Amertha.


"Moma ... pita bawu pium Popa dulu!" protes Lika.


"Popa kotor sayang, kan habis dari luar," ujar Manya.


"Sudah, biarkan mereka menciumiku dulu," kekeh Ramaputra..


Sepuluh bayi menghujaninya dengan ciuman, hingga pria tua itu tergelak. Amertha dan Manya tersenyum mendengarnya.


Setelah puas, barulah para anak kembali bermain. Sedangkan Ramaputra pergi ke kamar di temani istrinya.


"Papa Yayah pulang!"


"Papa Yayah!" pekik semua anak. Bahkan Reece langsung bangun.


"Halo Baby," ujar Jovan menciumi bayi yang ada di dalam gendongan istrinya.


"Papa Yayah, Pom teusilna popo mulu," ujar Abi.


"Bayi memang begitu baby, kemarin triple A juga kan kerjanya bobo aja," jawab Jovan.


Semua mengangguk setuju. Manya meletakan Reece dalam keretanya.


"Jangan bangunin ya, Sus tolong jagain ya," pinta Manya.


"Jadi kalian ingin pesta sederhana di mansion ini?" tanya Rama setelah makan malam.


Mereka tengah berembuk untuk mengadakan pesta untuk menyambut kehadiran Reece di dunia. Tentu ungkapan syukur mereka panjatkan pada Tuhan.


"Iya, Dad. Acaranya sama ketika triple A kemarin. Tetapi, Manya sih pengennya bertema laut dan lumba-lumba," ujar wanita itu.


"Eh ... sepertinya seru ya, setelah acara kita kembali mengajak anak-anak untuk melihat lumba-lumba langsung dari laut," celetuk Jovan.


"Astaga ... jangan bicarakan yang lain dulu," keluh Manya kesal.


Jovan cemberut. Baik Amertha dan Ramaputra tersenyum sambil menggeleng melihat tingkah keduanya itu.


"Atur saja sesuai keinginanmu sayang," ujar Ramaputra.


"Mommy bagaimana?" tanya Manya.


"Mommy ikut kamu sayang," jawab wanita itu.


Manya tersenyum lebar. Sedang seven A tampak berembuk akan sesuatu. Semua tampak serius.


"Jadi, pita napain .. jujul, atuh posen sama banyi-banyi pelus," sahut Syah malas.


"Ah ... pita bain dlama ladhi aja?!" ide Abraham.


"Poleh judha ... teumalin pita bifawel banat wuwan dali pom-pom danten," sahut Agil setuju.


"Eh ... wuwan pita teumalin pita peliin hadiah puat Pom teusil aja?!" ide Laina.


"Hadiah pa'a?" tanya Bhizar.


"Paju?"


"Paju Pom teusil basti pudah banat!' sahut Lika tak setuju.


"Bepatu?!" seru Syah.


"Tamu eundat pihat bi lemali tamal Pom teusil?" sahut Lika kini.


"Woh biya ya ... bepatuna satu lemali," ujar Syah ingat.


"Telus pa'a don?" tanya Abi gusar.


"Biya, pa'a?" tanya Bhizar juga kesal.


"Popa syama Moma ipu tan beusibnis,' sahut Lika.


"Peupisnis Lita!" ralat Syah.


"Biya patsutna ipu!" sahut Lika lagi.


"Tlus ... pa'a pubunanna?" tanya Abraham.


"Meuleta basti panat wuwit!" sahut Lika, "Padhi pita eundat pelu tasyih ladiah puat Pom teusil!"


"Badhaibana pisa beudithu!' seru Agil tak setuju.


"Pial banat wuwan, Popa pama Moma eundat peulnah nolat hadiah!' sahut Abraham.


"Woh ... atuh puma ninetin ... janan puan wuwan jita pupasil!" sahut Lika mulai mendebat.


"Yan pilan pupasil spasa?" tanya Abi.


"Setelan talian pitil deh ... tati Pom teusil hanya duwa ... pihat peupatuna ... satu lemali!' lanjutnya.


"Tan ipu pial danti-danti!' sahut Laina.


"Satu lemali pisa puat belpahun-pahun!" sahut Lika mendebat.


"Lita ... pihat petatu tamu! Banat judha tan?"


"Pati eundat bampai satu lemali!' sahut Lika membela diri.


"Teunapa balah libutin yan lain syih. Talo bawu tasih tado ya tasih laja ... toh putitna pita judha selin bitasyih palan-palan tat beulduna!" sahut Abraham pusing dengan debat tak jelas saudaranya itu.


"Bemana tamu eundat bawu talo pitasyih hadiah poneta?" tanyanya lagi pada Lika.


Batita cantik itu mengangguk.


"Setalan pitiltan poneta tamu yan banat tepalana lepas ... ipu bawu bitubul pa'a bipuan syama bibi?" tanya Abraham lagi.


"Bawu pitubul laja," jawab Lika.


Sedang para orang tua hanya melongo mendengar perdebatan tak jelas anak-anak.


bersambung.


dikubur terus dikasih nisan ya boneka tanpa kepalanya Lika 🤦


next?