
Kini banyak anak mendatangi seven A. Rata-rata mereka juga ingin bekerja dengan tujuh anak kembar itu.
"Ayolah Bi, aku juga mau punya penghasilan," pinta salah satu temannya.
"Wah ... maaf ya, kalo tanpa persetujuan orang tua kalian. Kami tidak bisa memasukkan kalian. Lagi pula, kalian kan anak mampu," jawab Abi panjang lebar.
Seven A begitu kerepotan, bahkan Denta, Anton, Nita dan anak-anak lain juga dimintai pekerjaan. Para guru mulai melarang seven A berjualan atau apapun itu.
"Kalian masih sekolah, jadi dilarang untuk berdagang atau apapun ya di sekolah!" larang kepala sekolah.
"Saya juga akan menelepon orang tua kalian agar melarang kalian melakukan kegiatan di luar jam sekolah selain belajar!" tekan pria itu lagi.
Seven A hanya diam. Denta yang tadinya mau memberikan uang hasil penjualan yang kini makin banyak saja jumlahnya.
"Mama bilang kalau kita disuruh buka rekening saja," ujar Denta ketika jam istirahat.
"Kita bicarakan setelah pulang sekolah," sahut Abraham.
Denta mengangguk tanda mengerti. Para guru sudah menelepon wali mereka masing-masing untuk melarang semua kegiatan selain belajar di sekolah.
Pulang sekolah, mereka dijemput oleh wali mereka masing-masing, hanya seven A yang diwakili oleh Sidik.
"Jadi Pak, saya mohon setelah pulang sekolah, anak-anak langsung pulang ya. Tolong hentikan apapun kegiatan mereka, mencari uang bukan tanggung jawab anak-anak kan!" ujar kepala sekolah.
"Memang Pak, tapi apa Bapak tau jika Dwi, Angga, Sapto, Rina dan anak-anak lain yang kurang beruntung malah terselamatkan dengan program ini?" sahut Sidik.
"Selama mereka masih bisa mengikuti pelajaran. Anda tidak berhak mengatur apa yang dilakukan oleh semua anak-anak. Saya rasa anak-anak majikan saya cerdas hingga mendapat rangking kelas!" tukas Pak Sidik membela anak majikannya.
"Ini peraturan sekolah Pak!" tukas kepala sekolah.
"Lalu apa solusi dari anak-anak seperti Dwi dan lainnya? Mereka harus dan dipaksa bekerja oleh orang tua mereka. Namun setelah adanya perusahaan ini, mereka terbantu dan tak lagi bekerja di pasar!" tekan Sidik.
Kepala sekolah terdiam. Seven A yang digadang-gadang memiliki perusahaan menjadi banyak anak ingin juga menghasilkan uang.
"Mestinya anda sebagai guru, membimbing anak-anak bagaimana mengelola mereka Tolong beritahu pada semua wali murid untuk melarang anak-anaknya mencari uang, jangan seven A yang disalahkan!" sahut Sidik sengit.
Waktunya pulang sekolah, banyak orang tua menjemput anak mereka. Anak-anak senang bukan main.
"Coba bapak tanya, kenapa kalian ingin bekerja?" tanya Sidik pada semua anak-anak.
"Biar Mama dan Papa nggak ribut soal uang Pak!"
"Biar Mama nggak pergi dengan alasan cari uang Pak!"
Berbagai jawaban diterima oleh Sidik. Hal yang begitu pribadi yang tak bisa dicampuri oleh siapapun. Kepala sekolah pun diam mendengar jawaban semua anak-anak yang ingin bekerja. Sedang para orang tua merasa malu. Mereka pun membawa anak-anak mereka masing-masing ke rumah.
Denta kembali membawa teman-temannya ke bangunan yang menjadi lokasi studio mereka. Dania menyambut semuanya, menyuruh mereka makan terlebih dahulu. Semua makan dengan lahap.
"Jadi Tante akan mengajak kalian ke bank untuk membuka rekening tabungan ya, jadi nanti Tante tinggal transfer uang hasil kerja kalian," jelas Dania.
Semua anak di bawa ke bank pemerintah yang dekat dengan studio mereka. Dania mendaftarkan lima belas anak untuk menabung. Petugas bank menjelaskan bagaimana mereka mengambil uang dari tabungan.
"Saya akan mendampingi mereka jika mereka butuh uang," ujar Dania menyanggupi tanggung jawab itu.
"Baik, kami hanya mempercayai anda selaku wali dari semua anak-anak ini!" sahut petugas bank.
Anak-anak melihat buku tabungan mereka. Dania sudah mentransfer sebagian hasil dari upah mereka.
"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh ... wah ada tujuh huruf!' seru Angga senang.
"Tante, apa saya bisa beliin ibu saya rumah dari uang ini?" tanyanya antusias.
"Tentu sayang. Nanti Tante bantu ya," jawab Dania tersenyum.
Wanita itu juga telah merekrut beberapa anak sebagai model kontennya, semua ia ambil dari anak-anak jalanan yang kehilangan rumah dan kasih sayang orang tua.
Mereka pun pulang setelah berpamitan. Seven A begitu bahagia dengan buku tabungan di tangan mereka.
"Kami pulang!" seru Abi.
"Halo sayang, ayo ganti baju cepet, kita ke rumah Papa Gerard kalian!" suruh Jovan.
"Papa lihat ini!" Bhizar menunjuk bukunya.
"Wah ... uangnya banyak sekali?!" seru Jovan kagum.
"Iya Papa, sekarang upah kami akan dimasukkan ke dalam ini," sahut Syah senang.
Jovan mencium semua anak-anaknya. Manya bangga dengan hasil yang dicapai seven A. Manya sudah menyiapkan semua pakaian anak-anak. Mereka akan menginap di rumah baru Gerard. Sidik diminta pulang cepat dan kembali bekerja hari Senin.
Hanya butuh dua puluh menit mereka telah sampai di rumah tingkat dua, rumah yang sama besar dengan rumah milik Jovan dan Manya. Ada banyak kamar untuk anak-anak dan mereka, jika tak muat, semua bisa pindah ke mansion milik orang tua Gerard.
"Ayo masuk-masuk!" ajak Gerard menyambut semuanya.
Seven A langsung disuruh tidur siang, Gerard telah menyiapkan banyak permainan ketika sore menjelang.
Tak lama, keluarga Dinata dan Artha datang. Mereka membawa anak dan istri mereka. Aldebaran membawa banyak pastel yang pasti diserbu semua perusuh gembul itu.
"Jangan repot-repot Grandpa," ujar Denna ketika menerima bingkisan itu.
"Tidak masalah sayang," sahut Aldebaran.
Sore menjelang, semua anak sudah ribut ingin berenang di kolam bola. Para suster tentu sibuk, Praja datang bersama Saskia dan putra mereka. Begitu juga Rudi dan Leticia bersama dua anak kembar sepasang mereka.
"Huuuwaaaa!" pekik Liam ketika meluncur di perosotan.
Gelak tawa anak-anak terdengar, mereka ribut bermain air dan bola, para ayah mengawasi mereka.
"Papa Iden lulunsur!" pekik Raiden meluncur di perosotan.
"Ayo makanan sudah siap!" seru Manya.
Semua anak-anak keluar dari kolam dangkal itu. Para ayah membantu mereka. Banyaknya makanan membuat mereka bingung ingin makan apa.
"Wah ... matananna panyat seutali!" sahut Tita dengan mata berbinar.
"Makan yang mana ya?" Aqila mulai mengambil pastel.
Lalu dalam sekejap, sudah banyak makanan yang masuk ke perut anak-anak. Mereka mengusap perut mereka yang buncit. Gerard gemas dan menciumi perut gembul itu.
"Papa deli Papa!" gelak Raiden, Raichia, Tita dan Maiz.
Walau Tita dan Maiz merupakan adik. Mereka memanggil semua ayah dan ibu adalah Mama dan Papa atau Daddy.
"Huueek!" Manya tiba-tiba mual.
"Sayang?" Maira dan Amertha langsung khawatir.
Jovan mengelus punggung istrinya. Manya yang mual langsung lari ke wastafel. Jovan mengikuti istrinya, sedang yang lain mengajak semua anak kembali bermain.
"Mama tidak apa-apa kan Papa Rudi?" tanya Bhizar khawatir.
"Tidak apa-apa, Baby ... mungkin Mama masuk angin," jawab Pria itu menenangkan Bhizar.
Bersambung.
Aha ... ada penerus barukah?
Next?