
Tak terasa waktu berlalu. Kini kandungan Amertha, Maira dan Renita sudah besar. ketiga wanita itu memamerkan perut buncit mereka.
Leticia hanya menganga melihat tiga ibu yang super sibuk. Perutnya yang besar karena mengandung dua janin, biasa saja.
"Sayang, ayo sini kita pamerkan perut kita!" ajak Amertha.
Leticia kini sudah santai datang ke mansion ibu asuhnya itu. Jovan dan Manya terlebih Ramaputra tak lagi mempermasalahkan kesalahannya. Terlebih, Leticia tengah mengandung.
"Tamuh spasa?" tanya Liam pada Leticia.
"Aku Aunty Leticia Baby," jawab wanita itu gemas.
"Anti Psepsipita?" rupanya Liam belum lancar bicara.
"Panggil saja Tante Leti," ujar wanita itu tersenyum.
"Oh Pante Bleti," sahut Liam mengangguk.
Leticia mencebik, ia mencium gemas pipi gembul Liam yang kemerahan itu. Jovan, Praja, Rudi, Gerard tengah mengobrol.
"Aku dengar jika putra Lektor telah lahir di Amerika," ujar Gerard.
"Ya, pria itu kan memang warga negara sana. Begitu juga orang tuanya," sahut Jovan.
"Lalu menyusul dengan Hasan, Bima dan Bernhard,'' lanjutnya.
"Ya kita akan kedatangan banyak bayi nanti," kekeh Rudi.
Sementara itu, Clara tengah asik bermain dengan para cucu. Ia tak tertarik untuk punya anak lagi, padahal Gerard ingin punya adik.
"Mom, masa Mommy Ira bisa punya anak. Mommy tidak," rengeknya setengah menyindir.
"Kau kira hamil itu enak apa!" sahut wanita itu kesal.
Eddie juga tak masalah jika sang istri tak ingin hamil lagi. Usia mereka sudah cukup tua, untuk memiliki anak.
"Sudah, kau ambil saja Reece dan jadikan dia adikmu," suruh Eddie.
"Aku akan dibunuh Mommy Amertha kalau mengambil putranya yang menggemaskan itu!" sungut Gerard.
"Mom ... ayo lah," pintanya merengek.
"Tidak!" tolak Clara tegas.
Ia tak mau ikut-ikutan gila dengan kakak perempuannya. Anak-anak tengah berkumpul.
"Ata' Blaham ... tot eundat peulnah pelajan?" tanya Liam.
"Kan besok libur Baby," jawab Abraham.
"Oh ya ... pupa," sahut Liam teringat.
"Pita napain dithu. Pasa piem-biem laja?!" sungut Reece kesal.
"Pemana bawu napain?" tanya Aidan.
"Napain dithu, jodet, banyi ..."
"Posen Pom teusil!" sahut Aqila dan Adelard bersamaan.
"Ata'!"
"Hmm ... mau dengerin cerita nggak?" tawar Bhizar.
"Mawu deh ... dalipada penon tayat pasi ponpon!" sahut Liam dan Reece.
"Oke, dengerin ya," ujar Bhizar.
Semua diam dan menyimak
"Pada suatu hari seekor kancil mengendap-endap di tengah ladang. Kemarin ia hendak mencuri mentimun tetapi gagal karena pak tani berhasil mengusirnya. Selama dua hari kancil mengintai ladang pak tani. Binatang itu mengawasi kapan petani itu datang ke ladang dan berapa lama petani itu di sana,"
"Hari ketiga, kancil merasa sudah waktunya ia kembali mencuri. Petani akan muncul ketika matahari sedikit tinggi. Hari masih terlalu pagi untuk petani datang!"
Abraham menghentikan kisahnya, ia seperti berpikir apa kelanjutannya. Sementara baik Reece, Liam dan triple A sudah tidak sabar mendengar ceritanya.
"Plaham!" tegur Reece.
"Sebentar Om!" sahut Abraham sedikit mengerjai om kecilnya itu.
"Bastina tetantep don!" sahut Aidan yakin.
"Kancil melompat pelan menuju ladang. Kepalanya menengok kiri dan kanan bergantian, memastikan petani tidak muncul," lanjut Abraham bercerita.
"Lalu kancil menuju ladang timun. Namun ketika sampai sana binatang itu terkejut karena tak ada tanaman satu pun. Ladang itu kosong!"
"Tasihan seutali tansyil," seru Aqila mencebik sedih.
"Kancil akhirnya lesu, binatang itu pun hendak pergi dari ladang. Kancil merasa jika hidupnya sebentar lagi, sudah tiga hari ia belum makan,"
"Hiks ... hiks ... tansyil ... balanna pasibmu!" isak Adelard sedih.
"Kancil yang sedih melihat satu titik, ia melihat tumpukan timun dan wortel yang masih segar dan sengaja dipotong-potong. Kancil hendak mendekat, ia mengawasi, takut hanya jebakan,"
"Janan tesyitu tansyil!" pekik Liam dan Adelard berbarengan panik.
"Tapi kancil yang lapar tetap mendekat dan memakan potongan wortel dan timun hingga habis tak tersisa," ujar Abraham mengakhiri kisahnya. "Kancil pun pulang ke hutan dan berjanji tak mencuri hasil tanaman petani lagi!"
"Syukul lah ... akhilnya kancil sadal," ujar Laina lega.
"Eh, kakak juga punya lagu tentang kancil," ujar Abi pada adik-adiknya.
"Tayat dimana Ta'?" tanya Aidan.
"Nih dengelin ya," ujar Abi.
"Si kancil anak nakal, suka menculi ketimun ayo lekas dikejal jangan dibeli ampun!"
Abi menyanyikan lagu itu dengan ceria. Aqila sedih mendengar lagu itu begitu juga Laina. Mereka tak tega membunuh seekor semut apa lagi hewan sebesar kancil.
"Kok lagunya jahat ya?" ujar Laina mengusap air matanya.
"Itu hanya lagu. Kan kancil menculi, jadi halus dihukum agal jela dan tak lagi menculi ketimun," sahut Abi.
"Atuh eundat pawu banyi ladhu si pansyil;" tolak Reece langsung.
"Spasa syih yan siptain ipu ladhu?" tanya Aidan kesal.
"Puntin biya eundat sayan syama pinatan!" sahut Aqila juga kesal.
"Ada loh lagu yang lebih seram dari kancil," sahut Syah tiba-tiba usil.
"Ladhu tayat dimana?" tanya Aidan dan Liam bersamaan.
"Potong bebek angsa ... angsa ...."
"Pepet mah tan pinatan yan pisa bimatan banusia!" sela Liam memotong lagu yang dinyanyikan Abi.
Semua terkekeh mendengar hal itu. Lalu semua makan siang bersama di mansion Abraham. Usai makan mereka menyuruh semua anak-anak tidur siang.
Malam tiba, kali Liam diperbolehkan menginap oleh Momanya. Denna juga tak keberatan putranya menginap bersama semua saudaranya. Sementara Renita sudah pulang ke rumah Rudi. Amertha kembali pulang bersama sang suami tanpa putranya yang tidak mau ikut pulang.
Ramaputra merebahkan dirinya di sisi sang istri. Ia mengelus pelan perut besar istrinya. Kandungannya sudah berusia enam bulan.
"Sehat terus ya sayang. Daddy menunggumu dengan cinta dan kasih sayang," ujar pria itu lalu mengecup perut istrinya.
"Sayang," panggil Amertha mesra.
Ramaputra selalu suka dengan panggilan istrinya jika begini. Ia menatap sang istri dan menggodanya di bawah sana. Amertha tentu belingsatan tubuhnya menggelinjang karena serangan tangan sang suami yang mengelus nakal bahkan sesekali mencubit kacang yang membuat wanita itu mengerang nikmat.
"Sayang!" rengek wanita itu.
Ramaputra memberikan apa yang istrinya inginkan. Ia juga sudah terbakar gairah. Lalu keduanya menyatu dalam ombak cinta yang dahsyat. Kali ini Amertha memimpin, Ramaputra meremas dada bulat istrinya yang kini mulai membesar karena memproduksi ASI.
"Terus sayang!" pinta pria itu mengerang nikmat.
Tubuh keduanya memacu seperti ingin mengalahkan satu sama lain. Amertha kalah, ia orgasme hebat hingga tubuhnya ambruk di dada sang suami.
Ramaputra masih memacu di bawah sang istri dua detik kemudian ia melepas kembali bibit-bibit unggul di rahim sang istri untuk memudahkan kelahiran anaknya nanti.
bersambung.
gempur terus!
Othor masih polos 😱😅
next?