
Menjelang hari kemerdekaan Republik Indonesia, anak-anak sengaja diliburkan oleh sekolah. Mereka diminta untuk ikut lomba di daerahnya lalu menceritakannya di depan kelas ketika masuk nanti.
"Mama, kita ke kampungnya Anton aja, di sana pasti banyak perlombaan!" saran Syah.
"Iya Mama, di sini orang elit semua mana ada lomba-lomba panjat pinang atau balap kalung," sahut Agil.
"Iya juga ya," sahut Manya.
"Baiklah, coba tanya Anton apa ada perlombaan di kampungnya menyambut hari kemerdekaan.
"Wah, di kampung acara puncak pas tujuh belasan Nyonya," jawab Sidik. "Kalo sekarang nggak ada."
Seven A setengah kecewa. Mereka akan melangsungkan final ketika acara puncak.
"Gimana kalau ke mall. Di sana ada loh perlombaan untuk anak-anak," ajak Jovan.
"Boleh Papa Yayah?" tanya Lika antusias.
"Tentu Baby," jawab pria itu dengan senyum lebar.
"Atuh itut!" pekik Reece.
"Reece nanti nonton aja ya," ujar Amertha.
"Teunapa sih Moma?" tanya Aqila heran.
"Moma syelalu lalan-lalan Om teucil bain pama wowan seupelti Ata'Anton?" lanjutnya.
"Nggak Moma nggak pernah larang tuh!" elak Amertha membantah.
"Baby, ayo!" ajak Abraham tak mengindahkan besannya.
Reece minta gendong pria itu. Ramaputra terkadang kesal dengan bayinya itu.
"Hei ... aku ini Papamu," protesnya menggerutu.
"Popa ... Lees tan penen Popa Labaham yan dendon," sahut Reece santai.
Mereka akhirnya pergi ke mall. Benar saja di sana banyak perlombaan dari menggambar, menyanyi hingga mewarnai juga lomba fashion show.
"Satu anak hanya boleh ikut satu perlombaan ya," ujar panitia. "Juga untuk anak di atas tiga tahun."
"Janan dithu don!" protes Reece.
Tentu panitia tak mengerti bahasa anak-anak. Wanita itu tersenyum saja mendengar bahasa bayi yang diucapkan Reece.
"Atuh mawu itut pompa besein pow!" lanjutnya.
Akhirnya Reece dan triple A boleh ikut lomba fashion show itu. Mereka akan memilih baju-baju yang akan mereka kenakan di panggung.
"Itu bajunya bersih nggak?" tanya Amertha.
"Ini bersih Nyonya," ujar panitia memutar mata malas. "Tapi kalo ragu mending mundur aja!"
Amertha tentu kesal mendengar perkataan panitia itu. Ia pun langsung mereview jelek mall ini.
"Aku pastikan kalian sengsara setelah ini!" sungutnya pelan. "Sombong!"
"Mom," peringat Manya.
Seven A memilih ikut lomba mewarnai. Mereka ditunggui oleh Jovan, Ramaputra, Praja, Saskia dan juga Wati.
Sedang Reece, Aidan, Aqila dan Adelard diawasi oleh Manya, Amertha, Maira. Abraham, Wati dan Leni juga Nina perawat Reece. Mereka berlima mengikuti lomba fashion show. Karena baju-baju mereka yang sudah bagus. Maka panita pun memperbolehkan mereka tak memakai baju yang ada.
“Soba ada Iam ya,” keluh Aidan.
“Biya, sayan setali Iam jalan peulnah itut pita,” sahut Reece.
Empat bayi di sematkan nomor peserta, mereka akan berlenggok sesuai usia. Karena mereka adalah peserta terkecil dan termuda, mereka diminta untuk mulai terlebih dulu.
“Kita tampilkan peserta di nomor dua tiga dua!” seru pembawa acara.
Aqila tampil dengan berlenggang malu-malu, semua gemas melihatnya terlebih mata hazel yang dimiliki bayi cantik itu. Amertha mencontohkan cara bergaya, Aqila pun mengikuti gaya neneknya itu. Bayi cantik itu berlenggok dengan tangan satu di letakkan di pinggang.
“tepuk tangan untuk peserta cantik inI!” ujar pembawa acara.
Aqila melakukan cium jauh dan melambaikan tangan ketika berlenggok ke belakang panggung. Peserta berlanjut pada tiga bayi tampan lainnya. Aidan, Adelard dan juga Reece, mereka berjalan seperti hendak berkelahi.
Adelard bersidekap sambil mengangkat dagu, Aidan berkacak pinggang dengan posisi tubuh miring, sedang Reece memasukkan dua tangannya di saku kanan dan kiri celananya. Semua bersorak melihat gaya menggemaskan tiga bayi tampan itu. Maira dan Manya histeris begitu juga Amertha.nak pun tampil.
Perlombaan berlangsung seru, semua begitu gembira mendapat pengalaman baru, bahkan Ailika dapat teman baru yang asik dan sama rusuhnya dengan mereka. Sosok balita tampan dengan mata birunya.
“Hi, kenalan dong!” pinta Lika centil.
“Nama kamu spasa?” tanya balita cantik itu.
“Nama atuh, Elang,” jawab balita itu menjulurkan tangannya.
“Tamu spasa?” ujarnya bertanya.
“Atuh Ailika, pandhil saja Lika,” jawab Lika sambil tersenyum malu.
Lika menyambut tangan itu malu-malu. Jovan mendengkus kesal, ia mengajak putrinya itu makan.
“Baby, ayo!”
“Iya Papa yayah.” sahut balita cantik itu menurut.
“Dadah Elang ... kita akan beuljumpa ladhi ya,” pamit Lika melambaikan tangannya.
Elang melambaikan tangan, seorang ibu bermata sama dengan putranya itu hanya tersenyum melihat tingkah genit anak-anak jaman sekarang.
“Ayo, Baby,” ajaknya.
“Piya Mommy,”
Bayi itu menggandeng ibunya dan dihampiri seorang pira bermata gelap, sang wanita tersenyum dengan rona di pipinya. Pria itu menjulurkan lengannya setelah menggendong sang putra.
“Tuan Muhammad Arsyad Putra Gotranda!” panggil salah satu pria bersetelan formal.
“Tuan Praja?” keduanya saling bersalaman.
Praja memperkenalkan istrinya, mereka sling bercengkrama sebentar. Lalu pria yang menggendong bayi pamit pulang.
“Tidak mau makan siang bersama?” tawar Praja.
“Mungkin lain waktu Tuan,” tolak Arsyad.
Praja mengangguk tanda mengerti. Ia sangat paham konsep kerja pria yang barusan bersamanya. Keluarga adalah nomor satu. Ia yakin jika keluarga besar pebisnis nomor satu di negara ini tengah berkumpul di suatu tempat.
“Mas, mereka sangat serasi,” ujar Saskia.
“Benar, Tuan Gotranda menikahi salah satu keturunan Dougher Young. Mereka berputar di situ-situ saja,” jawab Praja.
“Mas, aku ingin anak perempuan yang banyak, agar bisa menikah dengan salah satu putra dokter,” ujar sang istri penuh harap.
“Aamiin, semoga ya sayang,” ujar pria itu.
Tak lama ponsel Praja berdering. Pria itu sangat yakin siapa yang meneleponnya. Ia pun mengangkatnya, terlihat ia menjauhkan benda pipih nan canggih itu dari telinganya.
“Di mana kau?!” bentak Jovan di seberang telepon.
“Cepat kemari!” lanjutnya lalu memutus sambungan telepon.
Praja hanya bisa menghela napas panjang. Ia menggandeng tangan istrinya dan membawanya ke tempat di mana atasannya berada.
Usai makan mereka kembali ke tempat lomba. Siapa sangka triple A dan juga om kecil mereka memenangkan kategori peserta termuda dan terbaik juga favorit. Seven A juga diberi penghargaan sebagai peserta termuda dan terfavorit.
Mereka melompat kegirangan ketika dipanggil dan mendapat trophy. Ada satu peserta yang memang tapi dianggap gugur karena tak maju ke depan. Lika sedih melihat piala kecil untuk teman pria barunya itu diletakkan di atas meja.
“Itu piala untuk Elang,” gumamnya lirih.
Balita cantik itu menatap pialanya, ia pun tiba-tiba tersenyum penuh arti. Manya sampai heran melihat senyum putrinya itu. Tentu ia tak tau jika gadis kecilnya yang baru berusia lima tahun itu telah berkenalan dengan teman pria.
“Baby, kamu kenapa tersenyum” tanyanya penuh curiga.
“Eundat pa’a-pa’a Mama,” jawab Lika penuh misteri.
“Baby,” keluh Manya mencebik.
Lika hanya tersenyum manis, manya hanya bisa menghela napas panjang. Ia pun mengecup pipi gembul salah satu putrinya itu.
“Jangan genit-genit ya. Kamu masih kecil!” peringatnya.
“Genit apa’a Mama?” tanya Lika ingin tau.
“Udah ah. Pulang yuk!” ajak manya.
Mereka pun pulang ke rumah dengan perasaan gembira dan memegang piala masing-masing. Jovan tersenyum melihatnya, ia melirik dua ayahnya yang mengacungkan jempol akan ide brilian putranya itu.
Bersambung.
Sepertinya kemenangan anak-anak penuh konspirasi deh? 😅
Next?