
"Moma ... padhi ada yan ulan pahun woh di kelas!' seru Abraham memberitahu.
"Oh ya?"
Amertha memang sering di rumah Putri kandungnya, Reece akan mengamuk jika ia menolak. Semua baru selesai beraksi di atas meja.
"Wah ... kalau begitu lusa kita kasih kadonya ya," ujar sang nenek.
Semua mengangguk setuju. Tak lama Manya dan Jovan datang bersama Praja lalu disusul Ramaputra dan Rudi. Kedua orang tua Jovan belum kembali dari Amerika.
"Mama!" pekik semua anak termasuk Reece.
Manya mencium gemas semua bayi. Jovan kesal karena dia diabaikan.
"Papa Yayah nggak disambut?" sahutnya iri.
"Papa Yayah ba bowu!" sahut para bayi perempuan.
Barulah Jovan senang. Ramaputra tak peduli mau disambut atau tidak oleh cucu dan juga putra bungsunya, ia langsung menggelitik semua bayi hingga tergelak.
"Popa ... deli!" pekik Aqila.
"Kenapa kalian cepat besar?" keluhnya gemas.
"Popa ... pita tan nanat banusia padhi pita basti beusal!" sahut Agil sok.
"Kau pintar sekali sih!" gemas pria itu.
"Tan cucu Popa pemua bintal-pintal!" sahut Bhizar mengambil hati.
'Uuhhh ... so sweet!" sahut Amertha.
Manya dan Jovan hanya tersenyum mendengar perkataan semua anaknya.
Usai makan malam, Amertha memutuskan menginap, karena putranya tak mau pulang. Padahal bayi lima belas bulan itu masih menyusui, walau tidak dari dada ibunya lagi.
"Pom teusil, basih pinum tutu pama Moma?" tanya Agil ingin tau.
"Pasih!" jawab Reece mengangguk.
"Tutu Moma lasa pa'a?" tanya Agil lagi.
"Eundat lada lasa pa'a-pa'a!" jawab Reece lagi.
"Ah ... bayah talo dithu!" sahut Bhizar.
"Mama ada lasa stobeli, apel, manda, bambutan!"
"Yan peulnel?" tanya Reece tak percaya.
"Biya ... Asal kita bilan dulu mau lasa pa'a," jawab Bhizar lagi.
"Moma!" panggil Reece.
Bayi itu berjalan tertatih, Amertha dan semua tengah bercengkrama di ruang tengah, sedang para bayi berada di ruang sama hanya beda tempat saja. Bayi itu naik ke pangkuan ibunya.
"Moma, tata Bijal, Mama bunya tutu lasa pemua puah?" tanyanya.
Amertha menatap putrinya, Manya juga masih menyusui tiga bayinya, walau sekarang sudah mulai disapih.
"Iya sayang, rasa coklat, vanila juga ada," sahut Jovan menyeringai jahil.
Amertha dan Manya berdecak kesal pada pria tampan itu. Sedang Ramaputra hanya diam mengamati. Praja sudah membawa pulang istrinya. Rudi masih di sana menunggu, pria itu hendak berbicara sesuatu pada keluarga ini. Hanya saja ia menunggu semua bayi tidur.
"Lees poleh coba yan lasa soslat?" pintanya berharap.
Manya mengangguk. Reece adalah adik kandungnya, jadi ia boleh menyusui bayi itu.
"Tapi sambil bobo ya?!" ujarnya.
Bayi itu mengangguk. Semuanya akhirnya masuk kamar. Ramaputra menatap ajudannya yang gelisah dari tadi.
"Kau kenapa?" tanyanya.
Rudi berdebar, ia menatap tiga orang. Sebenarnya akan lengkap jika Manya ada di sana.
"Tuan ada yang ingin saya ungkapkan di sini," ujarnya sedikit gugup.
Jovan sudah menduga apa yang ingin dikatakan Rudi, namun pria itu masih menunggu ajudan mertuanya itu mengatakan sendiri.
"Apa yang ingin kau katakan Rud?" tanya Amertha gusar.
"Sudah jangan terlalu berbelit-belit. Kamu mau bicara apa, bicara lah!" tukas Ramaputra.
Rudi menghela napas berulang kali untuk menetralkan degup jantungnya. Pria itu memantapkan hatinya.
"Saya ingin menikahi Nona Leticia Renina Wijaya," ucapnya pada akhirnya.
Amertha dan Ramaputra terkejut. Mereka tak menyangka jika Rudi benar-benar memiliki rasa untuk putri asuh mereka.
"Apa kau serius?" tanya Ramaputra.
"Saya serius Tuan, saya mencintai Leticia!" jawab Rudi penuh penekanan.
"Kau taukan trek record putriku?" ujar pria itu datar.
"Saya tau Tuan! Saya mencintai Nona Leticia apa adanya!" aku Rudi jujur.
"Kau tau Rudi. Aku adalah orang yang paling berbahagia ketika ada laki-laki yang mencintai putriku apa adanya. Hanya saja, aku ingin memastikan jika kau benar-benar mencintainya tak lagi mengungkit masa lalunya!" ujar Amertha tegas.
"Nyonya. Percaya lah, saya memang sangat mencintai putri anda!" aku Rudi sungguh-sungguh.
Jovan hanya diam. Ia tak ikut campur dengan urusan ini. Ia juga senang jika memang Rudi mencintai Leticia dan menerima gadis itu apa adanya.
"Sebenarnya Leti bukan lagi tanggung jawab kami, ada kedua orang tua yang lebih berhak atas anak itu!" ujar Ramaputra.
"Apa kau sudah mengutarakan maksudmu?" lanjutnya bertanya.
"Sudah Tuan," jawab Rudi lemah.
"Hasilnya saya dipukuli dan dihina oleh Tuan Wijaya," lanjutnya.
"Kami hanya mendukungmu, saja Rudi. Maaf, jika dia masih putriku. Tentu aku akan setuju menikahkanmu dengan Leticia!" sahut Amertha mendukung usaha Rudi.
"Terima kasih Nyonya. Saya hanya mengutarakan apa keinginan saya," ujarnya.
"Aku akan coba membantumu Rud!' sahut Ramaputra.
"Tapi sekali lagi aku tak menjanjikan apa-apa!" lanjutnya menekankan.
Jovan menepuk bahu pria itu. Ia juga mendukung usaha Rudi untuk mendapat cintanya. Pria itu begitu terharu. Ia akan sekuat tenaga untuk mendapatkan gadis yang ia cintai semenjak pertama kali melihatnya.
Sementara di kamar Leticia yang mewah. Gadis itu setia memejamkan matanya. Irham begitu cemas dengan keadaan putrinya. Tubuh Leticia tiba-tiba mengalami pembengkakan. Menurut dokter akibat depresi yang gadis itu alami hingga membuat seluruh fungsi jantung gagal mentransfer aliran darah ke seluruh tubuh.
"Nak ... jangan buat Papa seperti pembunuh, Nak!' pinta pria itu.
"Apa masalahmu Mas?" tanya Renita lirih.
"Ada pria yang sungguh-sungguh mencintai putri kita tanpa melihat masa lalunya,"
"Apa kau yakin itu Renita?" desis Irham.
"Aku seorang ibu, aku tau!"
"Dan aku seorang ayah, aku juga tau harus apa!" tekan Irham tak mau kalah.
"Pria itu mencintai putri kita, Mas! Aku bisa melihat pendar di matanya!"
"Aku hanya menjaga putriku dari pria yang manipulatif!" teriak Irham.
"Dia adalah ajudan dari Ramaputra! Aku ...."
"Apa masalahnya soal itu?" pekik Renita tertahan.
Wanita itu tak kuasa, ia menarik tangan suaminya dan keluar dari kamar sang putri agar lebih leluasa berbicara dengan Irham.
"Apa masalahmu? Selama ini putri kita dipacari oleh beberapa pria yang hanya ingin menikmati tubuhnya! Kau tak keberatan soal itu!" tekan Renita mulai marah.
"Aku ...."
"Jangan sok ingin menjaga putrimu! Aku selalu mengingatkan Leticia agar memilih pria yang benar, kau hanya berani mengancam di mulut saja!" sahut wanita itu berang.
Irham terdiam. Selama ini ia tak melarang anak gadisnya memiliki hubungan dengan siapapun. Ia memang mengatakan pada Leticia tak akan membiarkan laki-laki itu menyakitinya. Tetapi bukti berkata lain. Irham, membiarkan anak gadisnya disakiti oleh pria yang mengencani gadis itu.
"Apa karena Rudi adalah orang kepercayaan Ramaputra? Kau takut bersaing dengan pria itu?" terka Renita sinis.
"Jika boleh aku beritahu padamu Mas. Kita sudah kalah jauh dengan mereka berdua!" lanjutnya langsung menohok jantung Irham.
bersambung.
next?