THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
PENJARA



Leonita tengah menikmati sentuhan bibir pria bayarannya. Ia memang sudah tua tetapi tubuhnya masih bugar dan segar. Bahkan gundukan kenyal di dadanya masih sekal, silikon benar-benar membantunya.


"Ah ... lebih dalam sayang," rengeknya ketika indera perasa pria di bawahnya menerjang di sana.


Leonita terengah, sedikit lagi ia akan mendapatkan pelepasannya, semakin lama bunyi kecipak di bawah sana semakin cepat hingga ketika titik itu datang.


Brak!


"Bangsat kau wanita sialan!"


Sebuah teriakan menggema dan mengagetkan keduanya. Pria dan wanita tanpa busana berdiri di depan seorang pria. Aldebaran sangat marah luar biasa setelah kenyataan yang baru saja ia dapatkan.


"Tiga puluh tahun kau membohongiku Leonita!" desis Aldebaran.


Leonita tersenyum sinis penuh kemenangan. Ia mengangkat dagu sombong.


"Bagaimana rasanya Aldebaran? Dibohongi oleh wanita yang kau cintai?" tanyanya penuh keculasan.


"Tapi aku tak pernah mencintaimu," sahut Aldebaran santai.


"Yah, biar nggak asal tidur sama wanita ... apa salahnya menikmati tubuhmu, toh aku membayarmu kan?" lanjutnya.


Darah Leonita mendidih mendengar perkataan Aldebaran Ia hanya dianggap pemuas napsu pria itu.


"Aku berhasil menyingkirkan sang nyonya," ujarnya berani.


"Istriku memiliki penyakit kanker payudara dan itu lah yang menyebabkan kematiannya. Justru istriku lah yang menyuruh menikahimu," sahutnya santai.


"Tapi setidaknya aku bisa menipumu selama ini. Menyangka Ardi adalah putramu," ujar wanita itu.


"Ya ... hanya itu kesalahanku. Menutup mata dan memberimu kesempatan karena aku sudah tua, tetapi melihat apa yang tersaji tadi dengan pria bayaranmu ...?" Aldebaran menghentikan perkataannya.


"Aku pastikan kau berakhir hidup di penjara bersama putramu itu seumur hidup," ujarnya tenang.


Leonita pucat. Aldebaran bukan pria yang kenal kasihan bahkan Ardi yang ia anggap putra tadinya, dibiarkan dipenjara oleh Jovan, cucunya. Pria itu tak mau mengeluarkan uang sepeserpun.


"Tolong jangan penjarakan aku Aldebaran!" pinta wanita itu memohon.


Pria bayaran sudah memakai bajunya. Ia tak ada urusan, walau setengah mati menenangkan pusakanya yang tadi berdiri tegak.


"Selamat tinggal Leonita ... jujur pelayanan ranjangmu selama ini tak memuaskanku," keluh pria itu.


"Tapi sekali lagi kukatakan, kau hanya pemuas nafsuku saja," tekannya lagi.


Aldebaran pun pergi. Leonita meraung sejadi-jadinya. Kini ia sadar dengan apa yang dikatakan Jovan belum lama ini tentang kejahatan kakeknya.


"Aldebaran!" teriaknya marah. "Sialan kau!"


Jeritan putus asa wanita yang telah melayaninya selama ini, membingkai senyum sinis pria itu. Aldebaran memang membuat siapa saja percaya jika ia memanjakan wanita itu dan sangat mencintainya. Bahkan Abraham yang begitu vokal menolak si ibu tiri juga percaya jika ayahnya mencintai wanita itu.


"Ah ... penipu sialan. Kukira Ardi adalah putraku!" keluhnya protes.


"Ck usiaku memang sudah tua ketika menikahinya," lanjutnya.


Ia melangkah gontai persoalan ini akan berimbas pada bisnisnya. Tetapi kebenaran harus diungkap.


"Tak masalah, yang penting Ardi bukan putraku lagi," ujarnya santai.


Pria tua itu masuk dalam mobilnya. Beberapa petugas menarik paksa Leonita ke dalam mobil polisi. Ia didakwa banyak kasus, seperti penipuan dan pembunuhan berencana.


"Aku butuh pengacara!" teriaknya.


Sedang di mansion Ramaputra. Seven A tengah bercengkrama, para suster siap merekam kegiatan mereka.


Amertha dan Maira tengah menyiapkan makan siang. Ramaputra dan Abraham mendatangi perusahaan. Nyaris seharian Jovan belum pulang memberesi semua data perusahaan yang tumpang tindih dan mematikan beberapa akun yang tak terpakai.


Ketika keduanya sampai Jovan baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Lingkaran hitam di mata pria itu tercetak jelas wajahnya sedikit pucat.


"Son? kau tak apa-apa?" tanya Ramaputra.


"Aku lelah dad," jawab pria itu lemah.


Ramaputra melihat kontrol panel utama. Ia melihat puas kinerja menantunya itu. Tak salah jika Jovan bisa langsung menduduki tahta tertinggi di dunia bisnis.


"Ini luar biasa ... sistem jadi lebih ringan dan mudah terkendali, chip pengaman data juga sangat terbantu," pujinya nya bangga.


"Ayo pulang sayang," ajak Abraham.


"Anak-anak sudah menunggu, kata mami mu mereka tengah mempersiapkan atraksi untuk menyambut kalian," ajaknya sambil memberitahu.


"Istriku?"


"Dia ada jadwal empat operasi, sayang, nanti malam baru pulang," jawab Abraham.


Mereka pun pulang. Sampai rumah, baik Gerard, Lektor, Bernhard, Hasan dan Bima juga sudah sampai. Ramaputra yang meminta mereka untuk datang setelah tugas yang kemarin diberikan oleh besannya.


Tampak tangan kelima pria itu memerah. Amertha dan Maira menyambut mereka.


"Suster, tolong obati tangan mereka," pinta Maira.


Leni langsung mengerjakan perintah mertua atasannya. Ia memang suster penjaga anak-anak tetapi, gadis itu juga bertugas untuk merawat siapapun yang terluka atau sakit. Denna ikut membantunya.


Gerard meringis ketika Denna menyentuh lukanya. Gadis itu sampai berdecak kesal karena Gerard menarik tangannya.


"Tuan!"


"Itu perih!" kilah Gerard kesal.


"Kalau tak mau perih jangan pukulin orang!" sahut Denna sengit.


Gerard sangat ingat bagaimana gadis yang tengah menorehkan obat di buku tangannya yang lecet itu menangkis tamparan Ronald dengan kakinya. Netranya menyusuri wajah manis gadis itu. Hidung, kecil, pipi chuby rambut hitam legam sebahu dan alisnya yang tebal diperindah dengan bulu mata lentik. Denna begitu manis, terlebih jika ia tersenyum dan memperlihatkan gingsulnya.


"Berapa usiamu?" tanya Gerard.


"Hah?"


"Apa kau tuli?" desis pria itu kesal.


"Oh, tuan bertanya pada saya?" tanya Denna polos.


"Kau kira apa ada setan di sini?" tanya Gerard nyinyir.


"Tuan ... saya bukan setan!" sungut Denna kesal.


"Yang mengatai kau setan siapa?" tanya pria itu lagi dengan kesal.


"Saya punya nama tuan!" sahut Denna lagi.


"Lalu siapa namamu?" tanya Gerard.


"Saya Denna Aprilia, tuan!" jawab gadis itu.


"Aku Gerard!" sahut Gerard juga tak kalah keras suaranya.


"Kenapa tuan bicara keras padaku?" tanya gadis itu tak suka.


"Kau dulu bersuara keras padaku!" sahut Gerard.


"Tidak ... aku tidak ...."


"Nah tuh ... kau berteriak padaku!" sela Gerard memotong perkataan Denna.


Sedang tujuh bayi tengah menikmati perdebatan dua orang dewasa. Mereka terkadang menatap Gerard ketika bicara lalu ketika Denna yang bicara, seven A akan menoleh pada Denna.


Kedua orang beda jenis itu tak sadar jika jadi pusat perhatian semua orang.


"Woi!" sentak Bhizar mulai pusing melihat perdebatan itu.


Keduanya diam dan menoleh pada bayi yang baru saja berusia dua tahun. Bhizar berkacak pinggang, semua orang dewasa gemas melihat tingkah batita itu.


"Talian janan beulisit ... talo bawu bacalan ... syana!" usirnya sambil mengoceh.


"Apa dia baru mengusirku?" tanya Gerard gemas.


"Papa yayah Lelat ... tami imi bawu bempeulsempah tan sepuah beultundutan!' sahut Abraham kecil.


"Biya pita bawu namen!" sahut Abi.


Semua bayi mengangguk. Akhirnya orang-orang dewasa duduk tenang. Para bayi sudah tau apa yang ingin mereka persembahkan.


"Jodet ... jodet ... au ... au ... jodet ... jodet!"


Ketujuh bayi menggoyang pinggul dan bokong mereka di hadapan semua nenek, kakek dan ayah juga om serta para suster.


"Mmprrrfffhhh!" semua nyaris menyembur ludah mereka.


Seven A terus bergoyang heboh dengan musik yang mereka ciptakan sendiri. Sedang di sebuah ruang dingin dan pengap. Seorang wanita berpakaian tahanan menggenggam jeruji besi yang menahannya. Hilang semua fasilitas kekayaan pria yang sudah sah berpisah dengannya kemarin. Ia kini harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di jeruji besi.


"Aldebaran sialan!" teriaknya memaki.


bersambung.


rasain Lo!


next?