
Pernikahan Gerard dengan seorang gadis yang hanya seorang perawat bayi membuat beberapa kolega Eddie melakukan protes.
"Kemarin aku mengajukan putriku Anna, kenapa malah kau tolak dan beralasan jika putramu tak mau menikah?"
"Putraku yang memilih bukan aku!" sahut Eddie santai.
"Jika Jovan kita mengerti terlebih ia menikah dengan seorang dokter," ujar salah satu kolega yang juga protes.
"Ini hanya baby sitter. Apa bagusnya?" lanjutnya menyindir profesi seseorang.
"Menantuku bukan baby sitter, tapi dia adalah seorang perawat medis dan ahli gizi anak!" lanjut Eddie tak suka.
"Oh ya kau bilang putrimu itu jauh lebih baik hanya karena memiliki usaha bukan?"
"Ya memang kenapa?''
"Tuan Funstone punya anak laki-laki, kenapa tidak kalian nikahkan saja?" usulnya.
"Putraku memiliki seorang kekasih!"
"Oh ... kan bisa diputuskan demi kepentingan bisnis!" sahut Eddie menyindir.
Pria itu sedikit kesal akibat para kolega yang memaksakan kehendak pada dirinya tetapi jika dibalik keadaannya. Mereka juga menolak pernikahan bisnis itu.
"Ana adalah gadis cantik dan pintar, aku yakin dia mendapat pasangan yang baik," sahut Eddie mengakhiri perdebatan.
Sedang di tempat lain. Abraham sedang melakukan rapat dengan beberapa koleganya. Pria itu tengah mendengarkan presentasi salah satu pebisnis baru.
"Begitulah penjelasan saya, apa ada yang ditanyakan?"
Seorang pebisnis wanita, cantik dan elegan. Abraham sebenarnya sedikit tak menyukai cara presentasi gadis itu karena meninggikan dirinya sendiri.
Beberapa kolega juga ada yang berdecak tak suka dengan cara gadis bernama Lana Ariana. Rapat selesai, Lana tampak tak suka dengan para kolega yang seperti tak menghargai dirinya. Selama dua puluh menit ia menjelaskan kelebihan perusahaannya, tetapi tak satupun ada yang mengajukan kerjasama.
"Apa anda jika mengelola limbahnya?" tanya salah satu kolega.
"Limbah saya serahkan pada PT FutherSon Corp.," jawab gadis itu.
Pria itu mengangguk. Lalu barulah mengajukan kerjasama walau tidak banyak. Namun membuat Lana sedikit semangat.
"Tuan Dinata!' panggil Lana ketika pria itu hendak pergi.
"Apa?" sahut pria itu.
"Tuan, ada salam dari paman saya Tuan Joe Brooks," ujar gadis itu.
Abraham mengerutkan keningnya. Ia memang sudah lama tak bersosialisasi, ia jadi lupa beberapa kolega penting.
"Joe Brooks dari perusahaan Brook?" tanyanya mulai antusias.
"Benar Tuan, beliau ingin sekali bertemu dengan anda dan putra anda," ujar Lana dengan senyum indah.
"Boleh, kapan dia mau bertemu?" tanya Abraham.
"Ini kartu namanya, beliau ingin Tuan menghubunginya," sahut Lana memberikan kartu nama.
Abraham mengangguk. Pria itu mengantonginya dan berlalu dari sana.
Lana tersenyum dengan indah. Gadis itu sudah menyetujui untuk melakukan perjodohan bisnis.
"Jovan pria tampan dan mapan, siapa yang menolak menjadi pasangan hidupnya," gumamnya bermonolog.
Sementara di rumah sakit, Manya yang tengah menjalani program s2nya sebagai ahli bedah. Ia sedang menghadapi tesis terakhirnya.
"Dokter Manya. Jika kita berhasil mengoperasi dan mengangkat jaringan sel mati di bawah kulit. Kau langsung lulus dan mendapat nilai tertinggi!" jelas Profesor Ridwan.
Manya mengangguk. Wanita itu belajar serius, ia ingin segera menyelesaikan program S2 nya itu. Menjadi dokter bedah adalah cita-citanya.
"Operasi akan berlangsung dua hari lagi. Belajar lah dengan giat," ujar Profesor.
"Sayang," panggil Jovan.
Manya menoleh. Sudah waktunya makan siang, pria itu mendatangi istrinya. Manya selalu membawa bekal untuk mereka. Keduanya kini saling suap menyuapi. Jovan begitu lahap dengan masakan sang istri.
"Enak sekali, terima kasih," ujarnya ketika ia merasa kenyang.
"Sayang, kemari lah!"
Jovan menarik tubuh sang istri ke pangkuannya. Wanita itu selalu tersipu malu jika Jovan berlaku mesra seperti itu. Bibir sang suami langsung menaut, bibir istrinya. Keduanya berciuman lama. Bahkan kini lidah Jovan bermain di dalam rongga mulut istrinya.
"Sayang, kapan kau selesai dengan pendidikan mu?" tanya Jovan setelah melepas tautan bibirnya.
Napas keduanya menderu kening mereka menempel. Manya mengalungkan lengan di leher suaminya. Kali ini perempuan itu yang memagut bibir Jovan dengan penuh perasaan. Manya duduk mengangkangi kaki sang suami. Jovan mendesis akibat perlakuan sang istri.
"Sayang," erang pria itu.
"Sayang, tunggu seven A tiga tahun baru program hamil," ujar wanita itu lalu menautkan lagi bibirnya. Tangan Jovan tak tinggal diam, ikut beraksi memberikan remasan pada gundukan yang menghasilkan susu berbagai rasa untuk tujuh anak kembarnya.
"Sayang, mau tutu rasa cinta dong!" pintanya dengan suara serak.
"Nanti malam sayang, karena sebentar lagi aku praktek," ujar wanita itu.
"Sayang ... aku sudah berdiri!" keluh Jovan kesal.
Manya bangkit dari pangkuan pria itu. Tapi Jovan langsung mendudukan lagi istrinya dan membuka resleting celana serta mengeluarkan isinya. Entah bagaimana, keduanya kini menyatu dalam ombak cinta yang buru-buru.
"Kau harus tanggung jawab sayang ...!" erang Jovan menikmati semua gerakan istrinya.
Keduanya harus segera mencapai ******* kurang dari sepuluh menit. Gerakan itu makin cepat dan liar, hingga keduanya tak bisa mengendalikan diri dan akhirnya lepas semua benih di dalam sana.
Napas keduanya menderu. Manya bangkit dari pangkuan suaminya. Benda itu masih berdiri padahal baru saja menyemburkan benihnya. Jovan terpaksa menidurkannya dengan air dingin.
"Aku tunggu nanti malam!" ujar pria itu lalu mengecup cepat bibir istrinya.
Satu menit kemudian, pria itu keluar bersamaan dengan Saskia, asisten Manya.
Hari berganti begitu cepat. Tak terasa Manya sudah selesai dengan ujian terakhirnya. Ia berhasil mengangkat jaringan mati yang ada di bawah kulit tanpa harus merusak kulit itu.
"Operasi berhasil. Beri tepuk tangan pada Dokter Manya!" ucap Profesor Ridwan.
Semua dokter yang terlibat dan operasi memberi salut pada Manya. Ia lulus dengan nilai sempurna. Wanita itu akan mendapat gelarnya sebagai spesialis bedah umum dua minggu mendatang.
Sementara itu di tempat lain. Abraham meninggalkan koleganya ketika mulai berbicara tentang perjodohan bisnis.
"Keponakanku memiliki usahanya sendiri ketika masih belia. Kurang apa dia?" ujar Joe tak mengerti.
"Putraku sudah menikah, istrinya adalah seorang dokter spesialis bedah!" sahut Abraham lalu meninggalkan makan siang itu.
Joe menatap keponakannya. Ia meminta maaf.
"Dia sudah beristri. Apa kau mau dengan Bernhard?"
"Dengan siapapun aku mau paman, asal sudah menikah, jika bercerai nantinya, tak ada yang mempermasalahkan keperawanan, tentunya," sahut Lana datar.
Joe menghela napas panjang. Ia tak mengerti pergaulan keponakannya. Lana yang bebas memiliki hubungan dengan beberapa lawan jenis. Entah bagaimana apa yang ia jaga hilang begitu saja.
"Penyesalan itu tak berguna Lana!" tekan Joe membuyarkan lamunan gadis itu.
Lana hanya menatap pria itu kesal. Gadis itu akhirnya hanya bisa mengikuti keinginan pamannya. Jikapun perlu ia akan membayar seorang pria untuk menjadi suami pura-puranya.
bersambung.
wedew ...
next?