
Berita pernikahan bisnis yang dilakukan dua pengusaha ternama. Terlebih Leticia dulu pernah dirawat oleh Ramaputra dan istrinya selama dua puluh sembilan tahun. Nyarsi tiga puluh tahun, setelah sang putri ditemukan yang ternyata berprofesi seorang dokter di sebuah rumah sakit besar.
Foto sepasang pengantin yang begitu serasi. Munculnya Rudi Hardiansyah menjadi sorortan setelah selama ini ia hanya bayangan dari Tuan Artha. Kekayaannya ditelusuri, masalalunya diselidiki, semua yang berhubungan dengan pria itu akan menjadi buruan awak media.
“Ternyata Tuan Hardiansyah, pria yang lurus dan tak banyak ulah. Tak ada trek rekor buruk menyertai pria itu. Taat hukum dan pajak, ia benar-benar bersih!” seru wartawan dalam sebuah sub headline “Pria terbersih!”.
Rudi membawa istrinya ke sebuah kawasan elite yang asri di mana huniannya berada. Pria itu memiliki rumah dengan nilai jual senilai 5 miliar. Rumah berlantai satu dengan luas bangunan 200m persegi dan luas tanah 500m persegi. Rudi juga memiliki tiga mobil mewah dan satu motor besar dan satu motor matic.
“Selamat datang di istanamu sayang!” sambut Rudi ketiak membuka pintu mobil.
Para maid berjejer rapi menyambut mereka. Rudi menggandeng istrinya mesra. Ia memang membeli dan mendesign rumah ini seusai dengan selera gadis pujaannya. Terlihat dari pancaran mata bahagia Leticia yang memandang semua bangunan.
“Kau suka sayang?” tanya pria itu.
“Aku suka ... suka sekali sayang!’ pekik gadis itu senang.
“Dari mana kau tau bagaimana rumah impianku?” lanjutnya bertanya.
“karena aku tau apa yang diinginkan calon istriku kelak,”
Jawaban Rudi membuat Leticia berkaca-kaca. Ia begitu haru mendapat cinta besar dari pria yang tak pernah ia anggap dulu. Tiba-tiba gadis itu merasa tak pantas disanjung sedemikian rupa oleh Rudi, ia mundur daan menundukkan kepala.
“Aku tak pantas mendapat ini,” cicitnya lirih.
Rudi menarik tangan sang istri dan mendekapnya erat. Ia memang begitu mencintai sang istri hingga semua kesalahan Leticia di masalalu tertutupi karena cintanya. Gadis itu terisak. Mereka kini sudah ada dalam kamar mereka.
Tadinya hotel tempat mereka melakukan resepsi Irham dan Ramaputra telah menyiapkan kamar indah untuk melepas malam pertama mereka. Namun Rudi menolak, ia ingin langsung membawa istri ke kediaman pribadi yang memang telah ia siapkan selama ini.
“Kau pantas sayang,” ujar pria itu.
Rudi memeluk istrinya erat, ia menautkan bibirnya menyalurkan semua perasaannya. Leticia membalas tautan itu dengan penuh keraguan. Rudi memperdalam tautannya, pria itu memang sangat menginginkan gadis ini semenjak lama.
“Aku mencintaimu!” ujarnya di sela-sela ciumannya.
Keduanya kini berpeluh dengan tubuh menyatu. Rudi mampu menghapus semua kenangan buruk dari dalam tubuh istrinya. Leticia merasa diinginkan, ia begitu dipuja dan didamba ketika bercumbu. Rudi begitu sangat menghormatinya.
“Aaaah!” pekik pria itu ketika melepas semua bibit unggulnya.
Sedang Leticia pasrah menerima semua cairan yang masuk dalam rahimnya, wanita itu sudah pelepasan keempat kalinya. Rudi benar-benar pria jantan dan perkasa. Leticia memeluk erat suaminya. Memang tak ada persembahan kesucian malam ini. Leticia begitu merasa bersalah.
“Maafkan aku,” ujarnya ketika memeluk suaminya.
Rudi memeluk erat istrinya, ia sangat paham akan terjadi seperti ini. Tetapi, ia tidak memperdulikan hal itu. Baginya cinta dari sang istri sudah cukup baginya.
“Kau minta maaf untuk apa?” tanya Rudi mengecup mesra keningnya.
“Aku tak mampu mempersembahkan diriku secara utuh,” jawab Leticia sangat pelan.
Rudi memeluk istrinya. Ia menghempaskan semua rasa kecewa yang mendera. Bukankah ia telah tau siapa gadis yang dinikahinya? Pikirnya. Lalu apa lagi yang ia harapkan?
“Jika suatu hari kau marah padaku ...,” Leticia menghentikan ucapannya.
“Tolong jangan katakan semua keburukanku di masa lalu. Cukup kau diamkan, jika tetap tak bisa ... kembalikan aku pada ayahku,’ pintanya setelah cukup lama berdiam.
“Tidak akan sayang. Aku sudah memilihmu, aku sangat tau konsekuensinya. Aku benar-benar mencintaimu,” sahut Rudi sungguh-sungguh.
Leticia memeluk erat sang suami. Untuk saat ini ia hanya bermodal percaya akan kesungguhan pria yang baru menikahinya beberapa jam lalu. Keduanya kembali menyatukan penyatuan, Rudi menginginkan sang istri.
‘Jika Tuhan berkehendak. Aku ingin punya banyak anak darimu,” pintanya.
“Aamiin!” sahut Leticia dengan wajah tersipu.
Sementara di tempat lain, Rama putra menatap pria sebagai ayah kandung dari putri yang pernah diasuhnya. Irham tengah menatap kaca besar di sebuah ballroom hotel. Sisa-sisa pesta masih ada, para karyawan tengah membersihkan kericuhan yang terjadi di pesta beberapa jam yang lalu.
“Kenapa kau tak langsung mengatakan jika ingin menikahkan putrimu dengan Rudi?” tanya Ramaputra.
“Aku masih ingin tau bagaimana perjuangannya mendapatkan putriku,” jawab Irham lalu menyesap wine hingga gelas itu kosong.
“Aku melihat putriku membunuh dirinya secara perlahan ...,” jawab Irham lirih.
“Maksudmu?”
“Leticia bersiap untuk berpura-pura seumur hidupnya!” jawab pria itu dengan mata menerawang.
“Lalu aku menelusuri semuanya. Rudi menyiapkan hunian cantik sesuai impian gadis itu,” lanjutnya. “Ayah mana yang tega membunuh perasaan putrinya jika melihat ia tak bersanding dengan pria yang tulus mencintainya!”
Satu tetes bening jatuh dari pelupuk mata pria itu. Ramaputra menenangkan besannya. Rudi juga sudah ia anggap sebagai putranya sendiri. Irham menatap pria yang menjadi cinta pertama anak perempuannya.
“Aku bersumpah akan membunuh Rudi jika ia sampai menyakiti putriku!” ujarnya berapi-api.
“Jangankan kau ... aku juga akan melakukan hal yang sama!” sahut Ramaputra meyakinkan Irham.
“Ayo kita masuk ke kamar. Para istri kita telah menunggu,” ajak Ramaputra.
“Ah ... apa Reece adalah putramu?”
“Ya! Memangnya kenapa?”
“Boleh aku pinjam dan kubawa pulang?” ujar Irham setengah memohon.
“Kau pikir putraku barang apa!” sahut Ramaputra sengit. “Kau buat sendiri!”
“Ah ... jangan pelit begitu. Ingat cucumu sepuluh!” sahut Irham memaksa.
“Kau kira menantuku mau memberikan anaknya begitu saja!” pekik Ramaputra benar-benar kesal dengan Irham.
“Oh ... ternyata sifat pelit putrimu menurun darimu Artha!” sahut Irham tak mau kalah.
”Buat sendiri, jika kau mampu!” ledek Ramaputra tak kalah pedas.
“Sialan kau!” umpat Irham kesal.
“Aku pastikan anak Leticia lebih dari kembar tujuh!” sahut Irham tak mau kalah.
“Aamiin!” sahut Ramaputra santai.
Irham berdecih, ia melirik kolega sekaligus rekan bisnis dan juga besannya sebal. Ramaputra santai menanggapi pria yang tingginya hanya sekupingnya. Pintu lift terbuka, mereka saling lirik, lalu membuang muka. Irham mendumal panjang pendek.
“Kau kenapa mas?” tanya Renita ketika sang suami masuk kamarnya.
“Itu ... si Artha!” sahutnya kesal.
Renita sampai mengerutkan keningnya, karena tidak mengerti. Perasaan sebelumnya hubungan sang suami dan Artha baik-baik saja, bahkan keduanya terlibat dalam prank paling sukses bagi dirinya.
“Kenapa dengan Artha?” tanyanya.
“Ck ... kau perlu tau dia itu pelit!” adu Irham.
“Pelit?”
“Iya pelit. Masa aku pinjam Reece sebentar tak noleh. Malah aku disuruh bikin anak sendiri,” sungutnya benar-benar kesal.
“Sayang ... ayo kita buat anak,” rengeknya seperti anak kecil yang minta dibelikan permen.
Renita hanya melongo saja, wanita itu pasrah ketika sang suami begitu menggebu memproduksi anak dalam rahimnya. Renita hanya berdoa agar keinginan sang suami terkabul walau ia merasa tak yakin.
Bersambung.
Lah si Irham ... di kira Reece bola kali ya bisa dipinjem?
Next?