THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
HARI YANG BERGANTI



Tak ada yang bisa mengganti waktu. Kini seven A sudah mau naik kelas dua SD. Kini mereka bersiap menghadapi ujian naik kelas. Seven A sangat semangat untuk naik kelas dua.


"Wah ... jadi kita tambah besar nih!" sahut Bhizar semangat.


"Iya, kita akan naik kelas dua, berarti sudah usia tujuh tahun!" sahut Anton.


"Ih ... padahal kita mau banget cepat gede loh!' sahut Laina.


"Emang kamu mau ngapain cepet gede?" tanya Nita.


"Mau gantiin tugas Mama. Biar Mama istirahat di rumah," jawab Laina.


"Cita-cita kamu dokter?" tanya Nita lagi.


"Iya, aku mau jadi dokter seperti Mama!" jawab Laina.


"Kamu cita-citanya apa?" tanyanya ulang pada Nita.


"Mau jadi dokter juga sih, tapi kasihan Bapak. Biayanya pasti mahal," jawabnya dengan nada sedih.


"Kamu bisa ambil beasiswa, Nit!" sahut Abraham menyarankan.


"Eh ... emang ada beasiswa itu?"


"Adalah ... Mamaku kan sekolah kedokteran dari beasiswa," jawab Abraham lagi.


"Iya, lagi pula kamu selalu masuk sepuluh besar dengan kami. Kelas dua pisah kelas aja biar bisa dapat rangking semua," lanjutnya.


"Eh kan kelas dua ada empat ya, dua A sampe dua E. Kita bisa mencar tuh biar dapat rengking masuk lima besar!" sebuah ide tercetus.


"Kita sembilan bisa ambil perkelas tiga anak. Jadi bisa masuk tiga besar!' lanjutnya.


"Emang yakin bisa dapat rangking?" tanya Anton ragu.


"Ya harus yakin kalau mau berhasil!" sahut Abraham.


"Boleh juga," sahut Abi mengangguk setuju.


'Aku mau ambil kelas dua A!" lanjutnya langsung memilih kelas.


"Hmm ... kalau gitu Agil sama Syah ikut kamu!" putus Bhizar.


"Aku kelas dua Be!" lanjutnya. "Laina dan Anton ikut aku!"


"Dua C, Abraham, Lika dan Nita!' putus Bhizar.


Mereka mengangguk setuju. Akhirnya kesembilan anak itu masuk kembali ke kelas. Wati masih sering datang ke sekolah menunggui putranya atau bahkan kedua orang tua dari Wati. yang menunggu cucu mereka terlebih sekarang wanita itu tengah berbadan dua.


Bel pulang berbunyi, semua keluar kelas. Para suster sudah menunggu mereka.


"Mari Sus Wati!" sahut Leni pamit.


Wati menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Mereka pun naik mobil, seperti biasa Sidik mengantar dua anak angkatnya dulu pulang. Baru membawa pulang seven A dan para suster ke rumah majikannya.


"Kami pulang!' seven A berteriak dan melepas sepatu mereka sembarangan.


"Babies!" tegur Maira.


Seven A harus kembali menyusun sepatunya di rak sepatu. Setelah itu mereka berhamburan melihat Baby Tita dan Baby Mai.


"Cuci tangan dan ganti baju Babies!" titah Amertha.


"Iya Moma!" teriak mereka.


Para suster membantu tujuh anak kembar itu. Triple A bersama Liam dan Reece bermain di taman belakang. Seven A mendatangi adik-adiknya setelah mencium dua Tante bayi mereka.


"Hai ... lagi apa nih?' tanya Syah pada triple A, Liam dan Reece.


"Pita sedan peulmain pom pimpa!" jawab Reece.


Syah dan lainnya terkekeh. Mereka ingat dengan salah satu sahabat ayahnya itu. Semenjak menikah om yang biasa mereka panggil Pom Pimpa itu sudah tak lagi datang ke rumah mereka lagi. Bukan hanya Bima, Lektor, Bernhard dan Hasan sudah tak lagi datang kecuali acara-acara besar yang diadakan Jovan, itu pun jarang.


"Apa kabar ya om-om semuanya?" tanya Syah bergumam.


"Mereka tinggal di luar kota. Terlebih Om Lektor tinggal di Amerika," ujar Abi.


"Meuleta spasa Ata'?" tanya Aidan.


"Oh ... mereka sahabat-sahabat Papa Yayah. Kalian masih kecil ketika mereka masih sering ke sini," jawab Abi.


"Seperti kacang lupa sama kulit ya," celetuk Laina.


"Pemanan pejat tapan tasan bunya inatan?" tanya Liam bingung.


"Oh ... Iam tila peunelan tasan bunya inatan," sahut Aidan santai.


Baik Amertha dan Maira membiarkan semua cucunya berkata apa saja. Terkadang mereka merekam kegiatan cucu-cucunya.


Malam menjelang. Manya pulang bersama suaminya dan Praja, Saskia ada di rumah suaminya. Pria itu pamit pulang.


"Hati-hati di jalan Praj!" ujar Jovan.


"Baik Tuan, terima kasih!" sahut Praja.


"Mama, kita bentar lagi kan naik kelas dua. Kita mau pisah kelas Ma!" ujar Bhizar memberitahu.


Kini mereka ada di ruang makan. Semua balita sudah bisa makan sendiri. Para suster pun mulai ringan tugasnya.


"Kenapa pisah kelas?" tanya Jovan.


"Biar kita bisa masuk tiga besar, Pa!" jawab Bhizar.


"Yakin kalian bisa masuk tiga besar. Pelajaran kan makin lama makin sulit!" sahut Jovan lagi.


"Kita yakin Pa, Nita mau jadi Dokter. Dia mau juara satu setiap tahun supaya dapat beasiswa agar tak menyusahkan ayah dan ibu angkatnya," jawab Bhizar.


Jovan dan Manya tersenyum mendengar perkataan putranya itu. Keduanya sangat suka dengan ide dari Bhizar.


"Mama sih terserah kalian. Jika kalian sanggup ya lakukan!' sahut Manya memberi jalan.


"Kami janji Ma. Tidak akan mengecewakan Mama dan Papa!' ujar Bhizar berjanji.


"Mama dan Papa pegang janji kamu!" sahut Jovan tegas.


"Sayang ... pulang yuk!' ajak Amertha pada putranya.


"No ... Moma!" tolak Reece langsung.


"Sayang, Moma kangen Reece," rajuk wanita itu.


"Moma ulusin baby Tita saza!" ujar balita tampan itu.


"Baby ... nggak sayang Moma lagi?" rengek Amertha berdrama.


"Moma!" tegur Manya.


Amertha cemberut. Ia sangat merindukan putranya tidur bersamanya. Sudah hampir satu tahun Reece tidur di tempat kakaknya. Ia yakin, bayinya Miquita Ariani Artha juga akan berlaku sama sebentar lagi.


"Mama ... Tata endon!" pinta bayi mau satu tahun itu.


Manya langsung menggendong adiknya itu. Ia mencium bayi itu hingga terlelap dalam gendongannya.


"Papapapapa!" pekik Mai pada Jovan.


Pria itu pun menggendong adiknya yang berusia sama dengan adik iparnya. Maira cemberut, ia yakin putrinya akan sulit diambil jika sudah ada di tangan putranya itu.


'Sudah. Mama sama Papa pulang aja. Biar Baby sama kita!" putus Jovan.


"Dia masih menyusu!" seru Maira.


"Mama ... Baby Mai kan minum susu kaleng!" sahut Jovan Malas.


"Iya, soal Tita juga Manya bisa kok susui dia!" sahut Manya.


Baik Maira dan Amertha berdecak kesal. Ramaputra dan Abraham hanya menggeleng. Keduanya membiarkan anak-anak perempuan mereka diasuh oleh Jovan dan Manya.


"Ayo pulang Ma. Nanti Daddy pulang nggak ada kita dia marah-marah loh!' peringat Abraham pada istrinya.


Akhirnya, keduanya pun pergi dan membiarkan dua bayinya berada di tangan Jovan dan Manya. Bahkan Liam juga tadi tak mau ikut Clara ketika dijemput.


"Anak-anak kita sudah banyak belum?" kekeh Jovan mengecup leher istrinya.


Manya tersenyum, ia menatap anak-anaknya, lalu menoleh pada suaminya.


"Sepertinya tambah dua lagi tak masalah. Biar mengalahkan keturunan Dougher Young," sahut Manya.


"Kita tak bisa mengalahkan mereka sayang. Kau tau pria-pria Dougher Young sangat banyak, begitu juga Pratama, Triatmodjo, Starlight, Sanz dan Dewangga," sahut Jovan.


"Hmmm ... aku ingin salah satu keturunanku berjodoh dengan Dougher Young, Pratama atau pun Triatmodjo," harap wanita itu.


"Aamiin!"


Bersambung.


Next?