THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
MEMBASMI PENJAHAT



Tiga pria duduk di lantai. Mereka gemetaran, netra Jovan menatap tajam dua pria itu.


"Siapa yang menyuruh kalian?" tanya pria itu datar.


Ketiga tukang kebun gadungan itu hanya diam. Para pengawal Jovan memukuli tiga pria itu hingga babak belur.


"Mereka tak mau bicara?"


"Benar tuan!" sahut para pengawal.


"Culik anaknya!'


"Tuan ... jangan!!" pinta tiga pria itu memohon.


"Katakan siapa!" bentak pengawal.


"Tuan Ferdy Lumanto!" jawab pria itu.


Jovan menyeringai. Ia sangat tau siapa pria itu.


"Kau punya bukti jika dia yang membayarmu?"


"Di ponsel saya ada percakapan kami tuan," jawab pria itu.


Ponsel sang pria ada di meja. Benda pipih itu terkunci, pria itu menyembutkan kata sandinya.


"Aku akan mengambil rekaman ini," ujar Jovan.


"Lepaskan mereka dan beri uang untuk berobat dan belanja istrinya!" titah Jovan.


Jovan memang tau kenapa tiga pria itu mengambil pekerjaan di luar kemampuan mereka. Anak mereka sakit keras dan butuh biaya.


Jovan melihat binatang kalajengking yang siap menyengat siapa saja. Beruntung kepala bodyguard bisa menemukan binatang melata itu dan mengambilnya dengan bantuan sebuah kayu.


"Aku kira dia melempar ular, ternyata kalajengking," gumam pria itu lega.


Jovan berkali-kali memastikan hewan yang dilempar oleh salah satu dari tiga pria itu adalah kalajengking. Seluruh rumah digeledah, binatang kalajengking biasanya menempati daerah lembab dan gelap. Para bodyguard mencari di sudut-sudut taman belakang.


"Apa yang akan tuan lakukan pada Tuan Ferdy Lumanto?"


"Kita akan pancing dia untuk melakukan lagi kejahatannya!' ujar Jovan.


"Apa tuan maksud memancing dengan seven A?" tanya para pengawal cemas.


Semua pengawal dekat dengan seven A. Kecerdasan ketujuh bayi kembar itu di atas rata-rata. Mereka yang sempat dikerjai oleh para bayi ketika masih merangkak. Kecepatan mereka kalah akan kecerdasan seven A.


"Apa tidak berbahaya tuan?"


"Jangan khawatir, bukan kah anak-anakku tak takut pada dua pria itu?"


Semua pergerakan bayi terlihat di kamera pengintai. Bagaimana Bhizar, Abi, Agil, Syah, Laina, Lika dan Abraham meniru pengancaman tiga pria tersebut.


"Apa nyonya akan setuju?" tanya salah satu pengawal.


Jovan terdiam. Pria itu akan kesulitan untuk mendapat ijin dari istrinya itu. Tetapi untuk memancing lawan beraksi. Itu satu-satunya jalan.


Tiga pria diajak bekerjasama. Mereka membuat rumor dan mengamankan anak dan istri mereka.


Sementara di tempat lain. Ronald belum tau jika perbuatannya telah diketahui oleh Jovan. Pria itu kini tengah asik mendekap seorang wanita yang baru saja memberinya kenikmatan.


"Tuan, kau perkasa sekali," puji wanita itu dengan suara serak dan manja.


Ronald tersenyum sombong. Ia memang seorang player yang handal. Ia mampu membuat wanita merasakan pelepasan berkali-kali.


"Jadi apa kau masih ingin bermain denganku?" tawar pria itu.


"Tentu ... kali ini biar aku melayanimu tuan," ujar Pretty.


Sungguh wanita itu tadinya tak memilih Ronald untuk menikmati dirinya. Tetapi, tadi malam pria itu melakukan pelepasan ketika melakukan tarian striptis. Ronald memang lihai bergerak menyusuri wanita incarannya.


Jovan tiba di mansion kedua orang tuanya. Abraham langsung mencecarnya dengan pertanyaan begitu juga Maira. Kedua orang tua Manya akan tiba sore ini mereka juga sudah mengetahui kejadian yang menimpa kepada cucu mereka.


"Bagaimana, apa kau sudah mengetahui semuanya?" tanya Abraham penasaran.


"Tenanglah Pi," ujar Jovan menenangkan ayahnya.


Ia sebenarnya sangat berat jika mengatakan kebenaran ini. Sosok yang akan disebutnya adalah sahabat karib ayahnya.


"Pi ... kau tidak akan percaya. Tapi, kau dengarlah ini dulu,"


Jovan memutar percakapan antara para pria. Sebuah rencana pembunuhan kepada tujuh keturunan Dinata.


"Ingat, jika kalian tertangkap. Tuan Ronald Frank menolak bertanggung jawab termasuk juga diriku!"


Abraham langsung terduduk di kursi. Maira langsung menenangkan suaminya. Wajah pucat pria itu membuat Jovan khawatir.


"Papi!"


Seven A bersama ibunya tengah mandi sore. Mereka akan menyambut kedatangan moma mereka yang katanya membawa banyak oleh-oleh.


"Papa yayah!" teriak seven A.


Manya tersenyum lalu berubah khawatir karena melihat mertuanya bermuka pucat.


Jovan langsung mendatangi bayi-bayinya sedang Manya mendekati sang ayah mertua.


"Papi ... papi kenapa?" tanyanya khawatir.


Lalu tak lama Ramaputra datang bersama istrinya. Keduanya yang tadi semringah melihat pekik gembira para bayi langsung khawatir melihat keadaan besan mereka.


Abraham menenangkan dirinya. Akhirnya dia bisa mengontrol, wajahnya tak lagi pucat.


"Ada apa?" tanya Amertha.


"Nanti aku beritahu, yang penting kita bermain dengan anak-anak dulu," ajak Jovan.


Akhirnya mereka kembali bermain dengan tujuh bayi kembar itu.


"Popa ... pihat Api bunya peleta lapi!' ujar Abi memperlihatkan mainan kereta apinya.


"Ada lagunya loh itu," ujar Abraham.


"Padhaibana ladhuna?" tanya Lika penasaran.


"Naik kereta api tut tut tut siapa hendak turut ...,"


"Bait beuleta papi ... tut ... tut ... tut ... biapa pawu pitut ...."


"Ke Bandung-Surabaya ...."


"Pe dandun ... lulapaya ...."


"Bolehlah naik dengan percuma ...,"


"Poleh lah .... bait buma beulbuma ...."


"Ayo kawanku ...,"


"Payo tawantu ...,"


"Cepat naik!" lanjut Abraham.


"Bepat pait!" koor para bayi mengikuti.


"Kereta ku tak berhenti lama!"


"Letatu tat peulbenti paama!"


Abraham bertepuk tangan. seven A ikut bertepuk tangan.


Malam pun tiba, semua anak tidur kecuali orang dewasa. Jovan meminta istrinya untuk ikut mendengar apa yang akan dia bicarakan.


Jovan mengatakan semuanya. Termasuk bukti-bukti keterlibatan Ronald untuk menyingkirkan seven A.


"Jadi apa rencanamu nak?" tanya Ramaputra.


Pria itu sangat geram. Perusahaan milik Ronald memiliki sangkutan utang padanya. Ia bisa menghancurkan perusahaan pria itu dengan mudah.


"Aku akan menggunakan seven A untuk memancing kemarahan Ronald dad," jawab pria itu.


"Apa kau gila!" teriak Maira dan Amertha bersamaan.


"Aku setuju!" sahut Manya yang mengagetkan semuanya.


"Sayang," peringat dua ibu bersamaan.


"Mom, mi ... kau lihat bagaimana anak-anakku beraksi," sahut Manya dengan senyum menyeringai.


"Sayang?" Jovan tersenyum.


"Aku tau maksudmu sayang," ujar Manya ikut tersenyum.


Jovan sangat penasaran dengan istrinya. Jika untuk berjalan-jalan, Manya sangat berat melepas putra dan putrinya.


"Baik sayang,"


"Baiklah aku mendukung rencanamu," ujar Ramaputra.


Abraham juga menyetujui rencana putranya. Ia akan memberitahu Aldebaran yang sekarang tengah mengurus perusahaannya di Amerika.


Sementara itu Ferdy didatangi dua pria meminta bayaran mereka.


"Bayaran apa??!" tanyanya dengan santai.


Salah satu dari pria itu menarik kerah baju Ferdy hingga membuat pria itu ketakutan setengah mati.


"Aku berikan ... aku berikan!" teriaknya dengan wajah pucat.


"Cepat serahkan!" titah pria itu tetap mencekik leher Ferdy.


Pria itu menarik laci. Salah satu pria tukang kebun palsu itu mengambil semua uang dalam laci.


"Hei ... jangan semua!" teriaknya dengan suara kecil.


"Diam!" bentak pria yang mencekiknya.


"Sudah semua?" pria itu mengangguk.


"Ambil ponselnya dan hancurkan!"


rekannya itu mengambil ponsel Ferdy dan membantingnya hingga hancur lebur. Pria yang mencekiknya melempar Ferdy hingga terjungkal di lantai. Keduanya pergi meninggalkan pria itu yang kini mengerang kesakitan.


bersambung.


mampus ...


next?