THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
MASUK SD



Pagi hari semua anak sibuk. Seven A yang baru saja masuk sekolah dasar. Amertha dan Maira gemas melihat anak-anak yang memakai seragam putih-putih. Hari ini hari senin jadi itulah seragam mereka hari ini.


"Ih ... lucu amat sih!" gemas Amertha geregetan.


Bhizar dan enam saudaranya yang lain memakai seragam lengkap dengan dasi dan topinya. Mereka dijemput pun berangkat bersama. Keluarga Dinata yang paling banyak orangnya di sana.


"Hari pertama saja masuknya jam tujuh pagi ya. Besok masuk jam delapan pulang jam sepuluh!' ujar guru menerangkan.


Seven A menolak jika kelas mereka terpisah. Begitu juga Denta dan Anton. Mereka ingin bersama di satu kelas. Bahkan mereka sudah duduk di bangku paling depan.


"Anton di depan aku aja! Biar aku sama Denta duduk di kursi barisan nomor dua!" ujar Abraham.


Anton memang bertubuh lebih kecil dibanding seven A terlebih dengan. Denta. Maka Abraham meminta sahabatnya itu duduk di depan bersama Syah. Tidak ada pelajaran karena hari pertama hanya diisi oleh perkenalan para guru dan seluruh anak-anak di kelas yang berjumlah dua puluh lima anak. Semua seragam ada nama di dada mereka. Di sekolah itu juga meminta para orang tua atau wali murid menjemput mereka ke sekolah.


"Jika ada pergantian yang menjemput, pihak wali sah yang harus mengatakan sendiri pada pihak sekolah!" terang kepala sekolah.


"Apa dimengerti Pak, Bu?"


"Mengerti Bu!" sahut para orang tua.


Manya langsung mendaftarkan empat susternya dan juga Pak Sidiq sebagai wali yang mengantar dan menjemput seven A.


"Jadi dengan Mba Wati, Mba Lena, Mba Tati, Mba Sari yang menunggu seven A ya?"


"Iya, Bu!" jawab Manya. "Dan Pak Sidik ini yang selalu mengantar dan menjemput Seven A!"


Guru pendataan murid meminta empat suster dan juga Pak Sidik menandatangani surat pernyataan. Mereka difoto untuk keperluan pendataan.


"Jadi Bu Manya, kami tidak akan menyerahkan seven A pada siapapun pengganti selain Pak Sidik dan empat suster ini kecuali Bu Manya sendiri yang menjemput Seven A!' ujar wanita itu menjelaskan. "Apa bisa di mengerti?


"Bisa Bu! Saya mengerti!" sahut Manya.


Sedang di depan kelas triple A tengah duduk bersama kakek dan neneknya. Mereka menunggu hingga anak-anak pulang sekolah. Ibunya Anton datang, Manya sekaligus meminta pendataan sama jika Pak Sidik tak bisa menjemput seven A. Tak lama seven A , Anton dan Denta keluar kelas. Mereka telah ditunggu oleh wali mereka masing-masing.


"Ata'!" pekik Aidan.


Seven A mendatangi keluarganya. Setelah itu Anton dan Denta pamit pulang duluan.


"Ikut kami saja Bu," tawar Jovan pada Minah, istri Sidik.


"Rumah kami dekat Tuan," tolak wanita sederhana itu.


"Ya sudah, hati-hati ya," ujar Jovan.


Minah mengangguk dan Anton mencium punggung tangan semua orang dewasa.


"Anton eundat syium tanan pama Lees?" decak Reece.


Anton tersenyum lebar, bocah itu mencium punggung tangan Reece seusai keinginan bayi itu. Setelah itu barulah Manya keluar ruangan guru bersama Sidik.


"Nyonya, terima kasih telah membayar iuran Anton selama satu tahun!" ujar pria itu begitu bersyukur.


"Hanya bantuan kecil Pak. Jangan berlebihan," ujar Manya.


Manya baru saja membayar penuh uang sekolah tujuh anak kembarnya plus Anton. Ia beralasan takut lupa.


"Jika ada kekurangan bayaran. Langsung beri surat atau pesan di nomor telepon saya ya Bu. Jangan bebankan pada putra dan putri saya!" tekan Manya.


"Iya Bu!" sahut guru yang bertugas dengan ramah.


Mereka pun pulang ke rumah Manya. Dua bayi berada di kereta dorong mereka tampak masih asik terlelap.


"Babies, bangun sayang," pinta Lika menciumi dua bayi.


Baby Mai dan Baby Tita hanya mengangkat dua tangannya, keduanya menggeliat sambil mengerucutkan bibirnya.


"Ihh ... emes amat sih!" ujar Laina sampai giginya bunyi gemelutuk.


"Lees mawu sosis yan tayat bi setolah Ma!" rengeknya.


"Yang kayak gimana?" keluh Manya yang tidak tau.


"Itu loh, Dok. Tadi baby Reece lihat anak jajan sosis bentuk cumi," jawab Tuti.


"Oh ... makan siang dulu Baby. Baru makan sosis!"


"Mama ... tan pisa puat matan pate nasi!" sahut Reece.


"Baby, Mama biar bernapas dulu," ujar Manya.


"Mama!" pekik Reece tak mau tau.


"Baby!" tegur Ramaputra.


Reece langsung diam dan berlari menuju Praja yang dari tadi hanya diam. Istrinya sudah mengajukan cuti melahirkan, pria itu tengah menanti kelahiran anaknya yang sepertinya melewati usia normal.


"Papa Lalja," bayi itu memeluk erat Praja dan menyembunyikan kepalanya di ceruk leher pria itu.


Ramaputra hanya bisa menghela napas panjang. Manya yang melihat adiknya merajuk langsung membuat makanan yang diinginkan oleh Reece.


"Baby ... itu sosisnya udah jadi," ujar Manya merayu adiknya yang ngambek.


"Eundat mawu ... banti Popa balahin Lees," cicitnya lirih.


"Baby ... Popa nggak marah sayang. Popa nggak suka kalau kamu membentak Kak Manya!" ujar Ramaputra.


Reece tambah mengeratkan pelukannya. Jovan mendekati dan mengambil alih adik iparnya yang memang jauh lebih manja dari sepuluh anaknya itu.


"Sini Baby, sama Papa Yayah," Reece kini ada di gendongan Jovan.


"Pergilah Praj. Kabari setelah istrimu lahiran," ujar Jovan.


"Terima kasih Tuan!" sahut Praja.


Pria itu akhirnya pergi ke rumah sakit di mana ia meninggalkan istrinya di sana. Memang kehamilan Saskia lewat dari sembilan bulan. Beberapa kali melakukan induksi untuk merangsang bayi tapi tetap saja tidak ada tanda-tanda kontraksi.


"Bayinya masih betah di perut ibunya," ujar Dokter.


"Apa tidak Cesar saja?" pinta Praja.


"Nggak mau. Aku mau normal!' tolak Saskia.


"Sayang," pinta Praja memohon.


"Sebenarnya tak masalah jika ibu ingin normal. Tetapi bulan lahir sudah lewat," ujar dokter yang menangani Saskia.


Setelah lama membujuk. Akhirnya Saskia mau di operasi cesar. Wanita itu telah menyiapkan diri, setelah dilakukan suntikan tepatnya di dekat area saraf sumsum tulang belakang. Jarum suntik kemudian dilepas dan menyisakan tabung kateter di tulang belakang Saskia.


Wanita itu menjalani Enhanced Recovery After Cesarean Surgery (ERAC) adalah metode operasi caesar dengan pendekatan khusus perawatan untuk mengoptimalkan kesehatan ibu, sebelum, selama, dan setelah menjalani operasi caesar. Tujuannya, agar mobilitas dan proses penyembuhan atau recovery persalinan dapat dipercepat. (Google).


Jadi Saskia tak akan berlama-lama di rumah sakit. Operasi di jalankan Bayi dikeluarkan bersama kantung pembungkus janin. Dokter merobeknya di luar. Butuh waktu lama membuat bayi yang memang belum mau lahir itu menangis. Setelah dua menit terdiam. Barulah bayi itu menangis kuat. Saskia sudah berada di ruang rawat.


Kini bayi tampan itu telah selesai disusui oleh sang ibu. Bahkan kateter yang ada di tulang sumsum belakang telah dilepas. Saskia bisa ke kamar mandi sendiri.


"Welcome Pramana Rasja Anugrah Dinata!" ada ujarnya pada bayi yang baru saja lahir itu.


bersambung.


Welcome Baby Pram!


Next?