
Reece, Liam dan triple A sedang bermain bersama. Mereka kini menyusun batu bata entah mau dibuat apa. Leni terus mengawasi.
"Jangan seperti itu nyusunnya Baby, tapi seperti ini," ujarnya memberi contoh.
"Peulat!" keluh Aqila.
"Tamu sewet lemah amat!" ledek Aidan pada saudarinya.
"Biya tatana eundat bawu talah dali sowot!" sela Adelard.
"Nantatna tamu salah," Liam membenarkan pegangan Aqila.
"Nah ... setalan peulat pidat?" Aqila menggeleng.
"Sudah jangan tinggi-tinggi!" ujar Leni menyudahi tumpukan batu itu. .
"Ini buat apa memangnya?" tanya wanita itu kemudian.
"Ini puat tendan ... heaaa!" pekik Reece menendang bata yang disusun tadi.
Brak! Batu yang telah disusun kembali berhamburan akibat tendangan kuat balita tampan itu.
"Aduh!"
"Nah kan?!"
Kaki Reece lecet akibat tendangan asalnya. Balita sok jago itu menahan tangisnya. Kakinya mulai terasa sakit.
"Hiks ... hiks!"
"Oh ... sakit ya?" Reece mengangguk.
Amertha yang baru saja datang dari mall langsung mendatangi putranya. Ia melihat kaki lecet Reece.
"Oh jagoan Mommy," wanita itu pun memeluknya.
"Sekarang, apa masih mau jagoan lagi?" tanyanya sambil mengulum senyum.
"Eundat Mommy," janji Reece kapok.
"Sudah, kan Reece jagoan. Malu tuh sama ponakannya," lanjut sang ibu.
"Mamap Moma, tami sanzi eundat matal ladhi,' ujar empat anak merasa bersalah.
Mereka baru tiga kali latihan silat. Tapi Reece sepertinya sudah merasa jagoan, ia melihat kakak tingkatnya memecahkan bata hanya dengan satu tendangan.
"Pati Lees bawu pisa nendan tayat Aa' Lahman!" ujar Reece.
"Siapa Rahman?"
"Ipu Moma, tata tintat pita," jawab Aqila.
"Oh sudah besar?" mereka mengangguk.
Seven A baru perjalanan pulang dari sekolah.
"Berarti Kak Rahman sudah lama latihannya Baby," ujar Amertha memberi tahu.
"Lees judha sudah tida tali Patihan!" sahut Reece tak mau kalah.
"Baby ... untuk kuat, kita harus latihan secara disiplin selama bertahun-tahun, Reece baru tiga kali, tentu belum bisa semahir yang lain," terang Amertha.
"Lihat ini, akibat kamu sok jago!" lanjutnya memperlihatkan lecet di jemari kaki balita tampan itu.
Reece menunduk, ia memang sangat ingin bisa menguasai bela diri itu.
"Lees bawu pisa Mommy," rengeknya.
Begitulah Reece, jika manjanya kumat maka ibunya ia panggil Mommy bukan Moma lagi.
"Sabar ya sayang. Semua butuh proses," sahut wanita itu lalu mencium pipi putranya.
Kini mereka kembali bermain, Reece jadi seperti raja. Empat keponakannya sangat menuruti om kecilnya itu.
"Ah ... ternyata kalian juga memanjakan om kalian," keluh Amertha.
Sore menjelang, anak-anak sudah rapi dan kini tengah memakan kudapan. Makanan manis memang tak terlalu disentuh oleh mereka puding buah buatan Denna tak habis dimakan.
"Makanan Mama nggak enak ya?" tanyanya sedih.
"Bukan begitu Ma. Kami memang tak suka makanan manis," jawab Abi.
"Mama eundat susyah syedih ... Atila suta tot pudin!' ujar Aqila kembali memakan puding dengan vla susu.
"Ah ... aku juga mau satu," sahut Laina kembali menyendok puding coklat itu.
Amertha dan lainnya juga kebagian, itu karena pusing. Manya sengaja tak membuat kudapan asin seperti gorengan.
Akhirnya puding habis. Anak-anak sekarang kembali bermain, Ramaputra melihat kaki putranya yang diplester.
"Jadi dia tadi sok jago menendang batu bata?" tanyanya sambil menggeleng tak percaya.
"Ya ... anakmu kan sok jagoan. Sudah itu semua jadi pelayannya," lapor Amertha.
Maira dan Abraham hanya menggeleng melihat kelakuan anak dari besannya itu. Tita, putri mereka juga sudah mulai menampakkan kebisaannya, bayi itu melempar semua benda yang dekat dengan tangannya.
"Baby Tita, Baby Maizah ... talian halus denal tata Ata'Lees ya!" perintah Reece sok besar.
"No!" tolak Mai sambil menggeleng.
"No da!" Tita mengangguk setuju.
"Janan peumpantah tata Ata'Lees!" peringat Reece bossy.
"Banti talian Ata' tutut sadhi patu!" ancamnya.
Dua bayi cantik itu malah merangkak meninggalkan kakak mereka. Reece hanya berkacak pinggang dan menggeleng melihat kelakuan dua adiknya itu.
"Dasal nanat teusil ... Palin susah puat bipilanin!" dumalnya.
Reece mengikuti Mai dan Tita, dua bayi itu memang lincah jika menggunakan dengkul dan tangannya.
"Baby ... janan teusana!' larang Reece.
"Bustel!" pekiknya memanggil suster yang mestinya menjaga dua adiknya.
Dua Babysiter itu tengah bercengkrama di dapur.
"Eh ... dipanggil tuh!" ujar salah satu maid.
"Ck ... apaan sih, biarin aja!' sahut gadis itu.
Reece yang melihat tanda bahaya karena dua adiknya merangkak menuju guci-guci besar. Leni dan Raya dua suster tengah menyiapkan makanan para bayi.
"Bustel!" pekik Reece lagi.
Liam dan triple A datang. Mereka hendak mendekati dua tante mereka.
"Janan banti palah meleta lali!" larang Reece.
"Baby ... simi Baby!' panghil Aqila.
"Atuh bunya soslat woh!" lanjutnya tentu berbohong.
"Bana soslatna?" tanya Aidan dan Liam.
"Atuh suma pohon aja," bisik Aqila "Bial meuleta teultalit."
Manya pulang sendiri, hari ini ia pulamg setelah mengadakan briffing antar departemen rumah sakit.
"Babies?" ia melihat semua bayi berkumpul.
Matanya membola. Leni dan Raya baru selesai membuat makanan untuk anak-anak. Manya memang membedakan makanan untuk anak-anak yang sesuai pertumbuhan di usia mereka dengan makanan untuk orang dewasa.
Wanita itu geram bukan main. Leni dan Raya tidak bertanggung jawab atas Mai dan Tita, ada dua Babysiter yang menjaga mereka berdua.
"Babies," panggilnya pada dua bayi cantik itu.
"Mama!" semua anak lega.
Dua bayi akhirnya merangkak menjauhi guci-guci itu. Manya langsung menggendong keduanya. Ia pun menaruh dua adiknya di kursi khusus.
"Mana dua Babysiter yang harusnya menjaga dia?" tanyanya datar.
"Kami tidak tau Dok, tadi kami tengah memasak, kemungkinan di ruang para maid," jawab Leni.
Manya menuju dapur, di sana ia mendengar tawa dua perempuan itu sambil mengatai dirinya sebagai nyonya rumah.
"Ih ... nama majikan kok kek kampungan gitu," kikiknya lucu.
"Kenapa dengan nama saya suster?" tanya Manya dengan tangan dilipat di dada.
Dua gadis langsung bermuka pucat. Sedang para maid menunduk takut. Mereka semua ikut menikmati gunjingan dua Babysiter yang menggosipi majikan mereka.
"Jadi ini kerja kalian jika dibelakan saya?" tanya Manya lagi dengan suara lebih keras.
'Nyo ... nya ...," cicit mereka.
"Saya tak peduli. Kemasi barang kalian, kalian saya pecat!" tukas Manya tegas.
"Anda tak berhak memecat kami!" sanggah dua suster itu dengan berani.
Manya maju dan menampar dua suster itu dengan begitu keras.
"Kalian tak bekerja secara profesional membiarkan anak-anak dalam bahaya dan kalian masih berani melawan saya?!" desis Manya sampai memicing matanya.
"Ingat, nyonya kalian adalah ibuku. Apa yang aku katakan pasti ibuku setuju. Jadi bersiaplah kalian tak mendapat pekerjaan seumur hidup kalian!" ujarnya tak main-main.
Manya meninggalkan empat perempuan yang kini hanya bisa menyesali perbuatannya. Sedang maid yang lain sudah memperingati mereka.
"Kalian, aku sudah bilang dari tadi. Jangan menggunjing majikan yang membayar kalian," ujar salah satu maid dengan nada kesal.
Bersambung.
Baru jadi babu ... belagu.
Next?