THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
PENCARIAN DI DEPAN MATA 2



"Tenanglah Nyonya," pinta Manya memeluk wanita yang menangis pilu.


"Hiks ... hiks ... dokter ... saya harus apa, saya belum rela jika saya bukan ibu kandung dari putri yang telah saya rawat dan susui dari dia lahir," ujar Amertha tergugu.


"Nyonya," tenang Manya.


Tangisan Amertha membuat Maira dan tujuh cucunya penasaran. Abi yang sangat antusias langsung merangkak dan membuka pintu geser begitu saja tanpa bisa dicegah.


"Mama ... spasa yan nayis?" tanyanya.


Amertha melihat bayi laki-laki mengenakan baju kodok warna biru.


"Ah baby, kenapa kamu keluar? Sus!"


"Baby ayo sini!" ajak Suster langsung menggendong Abimanyu.


"Mama ... spasa yan nayis!" teriak bayi itu marah.


"Ini pasien mama baby," jawab Manya.


Abi akan memaksa dan ribut jika pertanyaannya tak di jawab oleh ibunya atau siapapun itu.


"Oh, pedhitu!" angguk bayi tampan itu lalu ia baru mau diajak masuk.


"Dokter itu putranya?" Manya mengangguk.


"Maaf jika mengganggumu, nyonya," ujar Manya minta maaf.


"Tidak apa-apa. Boleh saya berkenalan?" pinta Amertha.


Manya sedikit ragu mengenalkan tujuh anak kembarnya. Bukan apa-apa, ia malas jika ditanya macam-macam.


"Kalau tidak boleh ya tidak apa-apa," sahut Amertha lirih.


Tetesan bening yang mengalir di pelupuk mata wanita itu membuat Manya iba. Ia akhirnya membawa masuk nyonya kaya itu dan mengenalkan pada mertua juga tujuh anak kembarnya.


"Nyonya, perkenalkan ini ibuku dan tujuh anak kembarku,"


Amertha menatap takjub pada tujuh bayi yang sangat mirip itu. Mulutnya sampai ternganga dengan mata berbinar.


"Halo nyonya, perkenalkan saya Maira Sugandi istri dari Abraham Dinata," ujar Maira memperkenalkan dirinya.


Amertha menyambut tangan wanita itu.


"Saya adalah Amerta Franklin istri dari ....."


Drrtt ... ddrrttt ... bunyi ponsel Amertha berdering. Wanita itu segera meminta maaf untuk menerima telepon. Sang suami ternyata menelepon dirinya.


"Halo sayang!"


"........!"


"Apa kau yakin sayang?" tanya Amertha dengan luapan kegembiraan.


".......!"


"Baik sayang, aku akan menunggumu," ujar wanita itu lalu menutup ponselnya.


Wanita itu berbalik dan menatap Manya dan Maira dengan pandangan berkaca-kaca.


"Nyonya ada apa?" tanya Manya bingung.


"Putriku akhirnya ditemukan dok!' ujarnya bahagia.


Manya tersenyum lebar. Ia bahagia pasiennya telah menemukan kembali putrinya yang telah lama berpisah. Ia memeluk wanita itu. Amertha akhirnya pergi dari ruangan praktek Manya.


Sedang di ruangan lain. Leticia memanggil ibunya sambil menangis.


"Mommy ... mommy!" teriaknya.


"Sayang tenanglah, mama ada di sini," ujar Renita panik.


"Enggak mau ... aku mau mommy ... aku mau mommy ... huuuuu ... mommy ... hiks ... hiks!"


"Hentikan kau panggil wanita itu mommy!" teriak Renita tak tahan.


Leticia terdiam. Ia menatap wanita yang baru beberapa minggu itu.


"Apa maksudmu?" tanyanya dengan mata basah.


Renita menatap putrinya ia akan membuat penilaian gadis itu terhadap Amerta buruk.


"Ada satu rahasia besar yang kau tidak tau selama ini sayang," ujar wanita itu.


Leticia mengerutkan keningnya. Ia tak tau apa-apa. Renita mendekat.


"Aku tau kau pasti bingung, tapi aku yakin apa yang terjadi padamu karena wanita yang kau panggil mommy itu pasti merencanakannya baby," hasut Renita.


"A—apa .... rahasia apa!" teriak Leticia gusar.


"Rahasia jika kau bukanlah putri kandungnya!"


Deg!


Sedang Amertha yang begitu bahagia akan kabar tentang putrinya melupakan satu putri yang masih membutuhkan dirinya.


Wanita itu bergegas pulang dan menunggu suaminya. Ia memasak makanan kesukaan sang suami.


"Nyonya ada apa. Kenapa masak banyak sekali?" tanya kepala maid.


"Bukankah putri nyonya ada di rumah sakit?"


Amertha terdiam. Ia belum memberitahu pada kepala maid jika putri sesungguhnya bukanlah Leticia.


"Nyonya?" panggilan Marina membuyarkan lamunan majikannya.


"Marina, ada satu hal yang harus kau tau ...."


Amertha menceritakan tentang bayinya yang ditukar oleh pihak tak bertanggung jawab. Jadi yang ia rawat dan ia susui adalah bukan putri kandungnya.


"Jadi putri nyonya yang asli ada di mana?" tanya Marina.


"Suamiku akan memberitahukannya nanti," ujar wanita itu.


"Lalu bagaimana dengan Nona Leticia, nyonya?" tanya Marina cemas.


"Nona juga putrimu," lanjutnya.


Amertha terkejut. Ia tadi begitu senang sampai lupa akan putrinya yang kini membutuhkan dirinya.


"Siapkan sup sosis kesukaan putriku itu Marina. Aku akan menyuapinya," ujar Amertha.


Marina langsung mengerjakan apa yang diperintahkan. Tak butuh waktu lama, Amertha membawa makanan kesukaan putrinya itu.


Tak butuh waktu lama, wanita itu sudah sampai ke rumah sakit. Ia sudah berganti pakaian dan wajahnya jauh lebih segar dan ceria.


"Sayang mommy datang!"


"Pergi kau!" usir Leticia tiba-tiba.


"Sayang ... a—apa maksudmu?" tanya Amertha.


"Kau bukan ibuku, tapi dia adalah ibuku!" teriak Leticia lagi.


"Siapa yang mengatakan itu!"


"Aku sudah mengatakannya, dia adalah putriku!" terang Renita dengan senyum sinis.


"Kau sengaja membiarkan aku seperti ini, kau tak menyayangiku karena aku bukan putrimu!" teriak Leticia.


Gadis itu langsung histeris. Ia mengamuk sejadi-jadinya. Amertha langsung memencet bel. Para dokter langsung berdatangan dan memberi suntikan penenang.


"Aku ingin membawa putriku dan di rawat di luar negeri!" putus Renita.


"Maaf nyonya, kondisi pasien kembali drop!" ujar dokter panik.


"Siapkan ruang scan. Kita lihat apa yang mengganggu dirinya!" titah dokter membawa Leticia ke sebuah ruangan.


Renita dan Amertha terdiam. Amertha menatap wanita egois di depannya dengan tatapan tajam.


"Apa kau puas?!" tanyanya sinis.


"Jika iya. Selamat!" ujarnya meninggalkan Renita sendiri di ruangan itu.


Wanita itu terduduk lemas. Ia tak menyangka kenekatannya membuat anak gadisnya kembali drop.


"Aku ibunya ... apa aku salah ... hiks ... hiks!"


Irham masuk dan mendapati istrinya menangis langsung datang menghampiri.


"Sayang ... ada apa?" tanyanya. Ia menatap ruangan yang kosong.


"Mana Leticia?"


Renita menangis tersedu ketika sang suami bertanya pada putrinya. Wanita itu ingin mengatakan jika ia berbuat suatu kesalahan besar, tapi ia menolaknya.


"Ini karena wanita itu ... hiks ... hiks!"


"Apa siapa?" tanya Irham gusar.


"Siapa lagi kalau bukan wanita yang mengaku ibu dari putriku itu!" teriak Renita sambil terisak.


"Apa ... apa yang dilakukannya hingga membuat putriku drop?"


"Dia ... dia tak sabar mengatakan jika dia bukan ibu dari Leticia," bohong Renita.


"Renita!" panggil Irham.


Wanita itu terkejut mendengar hanya namanya yang dipanggil sang suami. Pria itu menatap ada ketidak jujuran di mata sang istri.


"Jangan berbohong padaku, kau tau aku tak suka dan aku sangat mengenalmu jika kau berdusta!"


Renita diam. Inilah kekuatan suaminya, pria itu tak bisa dibohongi oleh siapa saja.


"Aku tak tahan!" akhirnya Renita mengaku.


"Leticia terus menerus memanggil mommy pada wanita itu, sedang ada aku di sana menungguinya!"


Irham sangat paham akan maksud istrinya. Ia juga sangat kesal ketika sang putri terus menerus bertanya mana Ramaputra yang gadis itu panggil daddy.


"Lalu jika dengan begitu kita mendapatkan putri kita kembali drop, bagaimana sayang?" tanya pria itu.


Renita menangis begitu juga Irham. Keduanya begitu egois hingga lupa, selama putrinya berada di tangan Amertha, Leticia hanya tau jika ibunya adalah Amertha bukan Renita.


bersambung.


next?