THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
ALL BABIES



Amertha sudah melahirkan putri ketiganya. Wanita itu senang bukan main, ia kini bisa merawat lagi seorang putri kandung.


"Hai Aunty kecil!" sapa Manya ketika menggendong adik perempuannya.


Dokter menyarankan agar itu adalah anak terakhir Amertha. Mereka angkat tangan jika wanita itu hamil kembali.


"Saya minta di steril saja Dok," pinta wanita itu.


Akhirnya Amertha disterilkan. Ia tak akan punya bayi lagi. Bahkan Ramaputra minta difasektomi.


"Sayang, jangan lakukan itu," ujar Amertha pada suaminya.


"Tidak masalah sayang," sahut Ramaputra.


Kini keduanya sudah kembali ke mansion mereka. Semua anak sibuk ingin melihat bayi cantik itu.


"Mama Aunty nya cantik banget," puji Lika dengan mata berbinar.


"Aunty," panggil seven A pada bayi cantik itu.


"Anti teusil," panggil triple A plus Reece dan Liam.


"Cantik sekali kau sayang," puji Abraham mencium bayi itu.


"Rambutnya tebal kemerahan. Persis Manya," ujar Maira yang menggendong putrinya juga.


"Namanya siapa Popa?" tanya Bhizar.


"Namanya, Miquita Ariani Artha, dipanggilnya Baby Quita," jawab Ramaputra.


"Hi, Baby Tita!" sambut Aidan.


"Ah ... Baby Tita juga bagus," sahut Ramaputra tercerahkan.


Akhirnya semua memanggil bayi cantik itu dengan Baby Tita. Maira senang putrinya memiliki teman sebaya.


"Padhi pita bunya puwa Pom syama puwa Tante," sahut Aqila bertepuk tangan.


"Iya, Baby," sahut Manya tersenyum lebar.


"Pom Lees, Pom Lasid, Tante Mai pama Tante Tita!" sahut Aidan lagi.


Irham telah memiliki putra penerus bisnisnya, yang diberi Nama Lazid Irhamputra Wijaya. Sedang bayi kembar Rudi dan Leticia bernama Raiden Putra Hardiansyah dan Raichia Putri Hardiansyah. Mereka akan membuat pesta besar untuk memperkenalkan semua keturunan mereka.


"Kita buat jadi satu saja," saran Praja.


Kini Saskia juga tengah mengandung, usianya baru empat bulan. Manya senang bukan main. Putra dan putrinya sudah banyak keluarga. Ia merasa cukup punya anak banyak.


"Mama, Lees bawu puna ponatan ladhi dali Mama!" pinta Reece.


"Ponakan mu sudah dua belas mau tiga belas Baby," sahut Manya gemas.


"Tan pelum buwa buluh Mama!" sahut Aidan.


Manya hanya menganga. Jovan langsung menempel pada istrinya. Ia ingin punya anak lagi.


"Biar kita menyaingi Keluarga Dougher Young, Pratama, Triatmodjo, Starlight, Sanz dan Dewantara sayang," ujarnya.


"Astaga sayang .. aku tak sanggup melahirkan sebanyak itu," ujar Manya berbisik.


"Dua lagi yang terakhir ... ya, ya, ya!" pinta pria itu membujuk.


Manya menggeleng kuat. Ia yakin semua anaknya akan menikah dan memiliki anak-anak sendiri. Manya takut ia tak hapal seluruh keturunannya nanti.


"Sayang," rengek Jovan.


"Kita lihat nanti ya sayang," ujar Manya.


Jovan akhirnya menyerah. Ia memang sangat terinspirasi dari keluarga pebisnis itu. Selain pebisnis dunia mafia mereka kuasai.


"Mereka benar-benar keluarga yang mengerikan," gumamnya pelan.


Sementara itu. Beatrice terkejut mendengar kabar jika Ramaputra memiliki dua orang anak yang masih kecil. Ia mengira pria itu sudah tak bisa bereproduksi lagi.


"Ah ... aku juga mau punya anak dari pria itu," ujarnya mengkhayal.


"Tapi sulit sekali menemuinya. Bahkan tender ini dia serahkan pada ajudannya yang dingin itu!" gerutunya kesal.


"Bagaimana bisa mendekati Artha?" tanyanya bermonolog.


"Aarrrgghh!" pekiknya kesal.


Beatrice benar-benar buntu. Segala cara ia lakukan untuk menggoda pria itu. Tetapi Rudi selalu menghalanginya. Wanita itu kesal bukan main.


"Rina!" pekiknya pada sang sekretaris.


"Saya Nona!" sahut perempuan dalam balutan ketat.


"Kau tau Tuan Hardiansyah?"


"Ajudan atau asisten Tuan Artha?"


"Hanya kenal biasa Nona, kenapa?"


"Rayu dia. Buat dia bertekuk lutut padamu!" titah Beatrice.


"Nona ...."


"Turuti perintahku atau ... kau tau semua kartumu ada padaku!" ancam Beatrice.


Rina menelan saliva kasar. Gadis itu adalah seorang Voyeurisme Tukang intip (voyeur) adalah orang yang mendapat gairah dengan menyaksikan sesuatu yang privat. Kadang-kadang mereka terpuaskan dengan membicarakan atau menuliskan khayalan tersebut, tapi kebanyakan voyeur tentu saja lebih senang … mengintip. (sumber. Google).


"Nona," cicit Rina.


"Aku akan menutup semua lubang di dinding tempatmu sering mengintip Rina," ancam Beatrice dengan seringai licik.


"Kau bisa memuaskan fantasimu dengan mengintip Rudi mandi. Kau bisa bayangkan betapa besar alat reproduksinya, bagaimana kau mendesah nikmat di bawah kukungan laki-laki itu," bisiknya pada sang sekretaris.


Rina memejam mata. Ia jadi benar-benar membayangkan apa yang dibisikkan atasannya. Bawahnya tiba-tiba berkedut, hanya dengan membayangkan saja ia sudah basah.


"Bagaimana, apa kau merasa gatal?" bisik Beatrice bertanya sambil tangannya menyelinap di bawah sana.


"Ouuhhh!" pekik sang sekretaris menahan gejolaknya yang hendak meledak.


"Enak Rin?" tanya Beatrice terus memberikan rangsangan pada gadis yang telah bekerja selama tiga tahun itu.


"Nona ... aaahhh ... ouuhh!" lenguh Rina dengan mata sayu.


Napas gadis itu putus-putus. Ia sudah mendapat pelepasan padahal hanya digesek oleh jari sang direktur wanitanya. Wajahnya memerah menahan malu. Beatrice duduk setelah mencuci tangannya. Ia tersenyum penuh arti.


"Pergi dan lakukan apa yang kursuruh!" titahnya.


Rina mengontrol dirinya setelah tenang dan menguasai diri. Ia pun pamit dan mengerjakan tugasnya. Gadis itu sedang naik birahi, ia akan menarik salah satu rekan kerjanya ke sebuah losmen di dekat perusahaan untuk menuntaskan hasrat biologisnya.


Sedang di rumah Rudi. Pria itu mencium sepasang bayi kembarnya. Ia tak mau menukar apapun dengan kebahagiaan yang ia dapatkan hari ini.


"Sayang, Baby Rai dan Baby Chia mau dimandikan," ujar Leticia.


"Aku bantu sayang," ujar Rudi.


Sepasang suami istri itu memandikan bayinya. Leticia cukup terkejut dengan dirinya yang mampu mengurus bayi padahal ia baru saja jadi seorang ibu.


"Sayang, Daddy dan Mommy berencana menjadikan satu acara pesta perkenalan bayi-bayi," ujar pria itu setelah memakaikan baju pada putrinya.


"Aku terserah saja, sayang," sahut Leticia.


Kedua bayi merengek, lalu keduanya menangis kencang. Leticia segera mendudukkan diri dan menyusui Raiden terlebih dulu. Ternyata Chia makin kencang nangisnya.


"Sayang, bisa minta tolong letakkan Baby Chia di kiri sini, biar aku susui juga," pintanya.


Rudi meletakkan bayi di dada sebelah kiri istrinya. Bayi perempuan itu dengan lahap menyusu.


"Kalau dua-duanya menyusu begini. Papa nyusu di mana?" goda Rudi.


Leticia berdecak kesal walau pipinya merona. Rudi mencium kening istrinya. Wanita yang begitu dicintainya, kini memberinya dua anak sekaligus.


Sementara di mansion Ramaputra. Reece tampak duduk sambil menggosok dagunya.


"Pom teusil ... tamu napain?" tanya Liam.


"Atuh sedan beulpitiltan pesuatu!" jawab bayi sok bossy itu.


"Mitilin pa'a Pom?" tanya Aidan.


"Pom peumpayantan talo pudah peusal pemua," jawab Reece.


"Pemanan tenapa talo pudah peusal?" tanya Aqila.


"Pom atan sibut tasyih uan pada talian. Zadhi Pom atan beutelza dali setalan," jelasnya.


"Pemana bawu teulza pa'a Pom?" tanya Liam lagi.


Seven A hanya melihat apa saja pada bayi itu. Mereka hanya mengikuti apapun kelakuan para adik dan om kecilnya.


"Peubental!"


Reece mengambil mik dan meminta Praja menyalakannya.


"Pelamat sian pemuana ... atuh Lees pinta teitlsan pemua untut mempeulitan atuh seditit uan ...!" ujarnya.


"Pidat-picat pilindin piam-biam mewawap patan setotol bamut hap lalu pitantap!"


Reece mengamen, dan semua orang dewasa hanya melongo.


Bersambung.


Atur aja Reece 🤭🤦


Next?