
Bulan terlewati, kini Amertha sedang berada di ruangan steril. Ia akan melahirkan bayinya sebentar lagi, Ramaputra berada di sisi sang istri memberinya kekuatan.
"Silahkan menungging ya, Bu," pinta salah satu perawat.
Amertha menggenggam erat tangan suaminya. Satu bulir air bening menetes dari sudut matanya. Ia kesakitan bukan main ketika jarum panjang dan tajam itu menembus kulit di tulang ekornya.
"Sshhh!" desis ya sambil mencengkram kuat tangan suaminya.
"Sayang," panggil Ramaputra sedih.
Ia mengusap jejak basah di pipi Amertha. Para suster mendorong kursi roda wanita itu. dan membawanya ke ruang operasi.
Manya, Jovan menunggu di ruangan yang akan dipakai ibu mereka nanti.
"Mas ... Mommy akan baik-baik saja kan?' tanya Manya cemas.
"Doakan Mommy sayang," pinta Jovan. "Pikirkan baik-baik ya."
Manya duduk dengan gelisah. Sepuluh anaknya ada di rumah bersama ayah dan ibu Jovan. Mereka juga sama cemasnya.
"Bustel ... Mama teumana dali padhi?" tanya Bhizar yang tak melihat ibunya semenjak pagi.
"Mama ada di rumah sakit baby, menunggu Moma Mertha yang akan melahirkan," jawab Saskia.
"Meulahiltan?"
"Iya Baby, sekarang kita doain Moma biar lahirannya lancar ya," suruh Saskia pada para bayi.
Mata ketujuh batita membulat. Mereka saling tatap. Tiga bayi sudah menginjak delapan bulan hingga mereka sedang aktif merangkak kemana-mana.
"Dedet baby ... temali pemuana!" titah Abraham
Triple A menurut dan mendekati kakaknya itu. Aidan, Aqila dan Adelard kini duduk bersama kakak mereka.
"Pita beuldoa yut pial Om Teusil lahin denan selamat!" ajak Abraham.
"Pini Det peuldoana," ajar Lika pada Aqila.
Lika memangku adiknya dan menengadahkan kedua tangannya. Lalu diikuti oleh Laina dan Agil yang memangku dua adik lainnya.
"Tuhan ... beulamatan Moma dan Om Teusil denan selamat, semuana sehat dan pidat tulan pa'a-pa'a, aamiin!' ujar Abraham memimpin doa.
"Aamiin!" semua mengusap muka dengan tangannya.
"Dah?" tanya Adelard sambil mengangguk.
"Pudah Baby," jawab Laina yang memangkunya.
"Ata' ... in ut!' ajak Aidan.
"Bain pa'a?" tanya Syah.
Ketiganya mengendikkan bahu tanda tak tahu. Lalu Aidan, Aqila dan Adelard memilih menuju suster mereka dan meminta susu. Ketiganya pun merebahkan diri lalu memejamkan mata.
Maira dan Abraham tak pernah kerepotan menunggui sepuluh cucu keduanya. Semua bayi sangat pintar dan mandiri jika manja mereka tidak kumat.
"Aduh ... pinter amat sih cucu Moma," ujar Maira mencium pipi tiga bayi yang sudah terlelap.
"Halo Dad, ada di mana?" tanya Abraham pada Aldebaran, ayahnya.
"Halo ... aku ada di Kota J, Nak. Ada di perusahaan Black Pristers Steel Company!" jawab Aldebaran di sambungan telepon.
"Daddy bisa ada di perusahaan baja itu bagaimana ceritanya?" tanya Abraham tak percaya.
"Tentu bisa, perusahaan ini kini dikelola oleh salah satu cicit dari mendiang Tuan Virgou Black Dougher Young," jawab Aldebaran di seberang telepon.
"Dad, katakan ... apa mereka masih menggeluti mafia?" tanya Abraham berbisik.
"Daddy tidak tau, tapi nama DeathAngel dan ShadowAngel masih santer terdengar kebengisannya di klan BlackAngel," bisik Aldebaran juga di ujung telepon.
"Astaga ... apa Daddy di sana ingin melakukan kerjasama?" tanya Abraham lagi.
"Iya, Tuan Rion Hugrid Dougher Young dan juga adiknya Harun Black Dougher Young ingin membuka cabang pabrik baja di kota kita," jawab Aldebaran.
"Tu-tuan Rion?" tanya Abraham bergidik.
"Ya, Nak. Tuan Rion akan datang ke rumah kita, ia sangat antusias mendengar cicit kembarku yang banyak," jelas pria itu.
"Oh ya, apa sudah ada kabar?" tanya Aldebaran di seberang telepon.
"Belum Dad. Kami masih menunggu,"
"Baiklah, Daddy tutup dulu. Tuan Rion baru saja datang bersama salah satu putranya. Kau tau Nak. Otak mereka benar-benar luar biasa!" sahut pria itu dengan suara takjub.
Obrolan pun berhenti. Maira datang dan duduk di sebelah suaminya. Melihat suaminya tengah melamun, ia pun menegurnya.
"Pi!"
"Eh ... maaf sayang," ujar Abraham terkejut.
"Kenapa melamun?"
"Kau tau. Salah satu keturunan Dougher Young akan kembali mengunjungi kita," jawab pria itu memberitahu.
"Apa? Kok bisa? Kenapa?" tanya Maira beruntun.
"Karena banyaknya cucu kita sekali lahir, sayang," jawab Abraham.
"Kemarin Tuan Darren yang datang. Papi ... dia sudah tua, tapi sangat tampan, apalagi putranya," puji Maira.
"Yang ini lebih tampan dari kakaknya, Tuan Rion Hugrid Dougher Young,"
"Ri-Rion?" Abraham mengangguk.
"Menurut kabar yang beredar. Jika dia dijuluki raja bayi. Semua bayi yang melihatnya akan langsung lengket dan tak mau lepas," jelas Abraham.
"Wah ... cucu-cucuku?"
"Ya, bisa jadi ten A akan nempel pada Tuan Rion," angguk Abraham memastikan.
"Papi ... kita harus apa dengan kedatangan beliau?" tanya Maira.
"Tak perlu disambut seperti apa. Cukup kita ajak makan siang bersama saja. Bukankah masakan menantu kita sangat enak?" Maira mengangguk ragu.
"Sudah lah, kau lihat sendiri.. Kemarin Tuan Darren datang hanya penasaran dengan sepuluh cucu kita yang semua mirip itu. Beliau tak mempermasalahkan apapun," sahut Abraham.
Maira hanya menghela nafas panjang. Ia kembali menunggu berita kelahiran dari besannya. Wanita itu sudah tak lagi meributkan ingin hamil.
Lima jam mereka menunggu. Akhirnya apa yang mereka tunggu lahir sudah. Amertha melahirkan seorang bayi laki-laki. Persalinan cukup lama akibat bayi yang terlilit ari-ari.
Manya mengucap syukur berulang kali melihat adiknya lahir dengan selamat dan tak kurang dari apapun..
"Bagaimana dengan keadaan ibunya, Dok?" tanyanya.
"Ibunya baik-baik saja, hanya kelelahan akibat terlalu lama. Kamu terpaksa memotong tali pusat di dalam hingga memudahkan bayi keluar dengan cepat," jelas dokter.
Kini mereka semua ada di ruang perawatan ekslusif. Bayi tampan yang masih merah itu tampak terlelap setelah diberi ASI oleh ibunya.
"Selamat Mommy," ujar Manya mengecup kening Amertha. Jovan pun mengikuti apa yang dilakukan istrinya.
"Terima kasih sayang," ujar Amertha yang berbaring kaku tak bergerak.
"Rileks Mom, jahitannya kuat kok," seloroh Jovan yang membuat sang mertua memukulnya pelan.
"Kau ini!" gerutunya.
Jovan terkekeh lalu kembali mengecup pipi mertuanya. Ia pun mendekati Ramaputra dan memeluknya erat.
"Selamat ya Dad, masih diberi kepercayaan lagi,"
"Iya, Nak. Terima kasih ya," ujar pria itu terharu.
"Oh ya, udah siapin nama belum?" tanya Jovan.
"Namanya Bara Reece Artha yang artinya semangat hidup yang membara," jawab Ramaputra dengan bangga.
"Halo Baby Reece, welcome to the world!" sapa Manya pada adiknya.
Kini tinggal sepasang suami istri yang baru saja dikaruniai anak di usia mereka yang menginjak senja. Pria itu mengecup kening sang istri.
"Terima kasih telah mencintaiku begitu dalam sayang," ujarnya lirih.
"Sayang ...."
"Tidak sayang. Aku memang benar-benar beruntung dicintai olehmu," potong Rama sungguh-sungguh.
"Karena aku yakin, kau tengah khilaf waktu itu. Semua orang memiliki kesalahan, memang sakit. Tapi, aku yakin akan ada pelangi setelah badai datang," jawab Amertha panjang lebar.
"Kini aku tengah merasakannya sayang," lanjutnya.
bersambung.
Welcome baby Reece
next?