THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
RUTINITAS



"Om Lees!" panggil Aqila.


"Hmmm," sahut balita itu.


"Kita ikut kakak belbuat baik yuk,' ajak balita cantik itu.


"Poleh eh ... boleh," sahut Reece.


"Ita itut Ata'," ujar Tita.


"Ayo Baby," sahut Reece.


"Telus kita lakuin apa Om?" tanya Adelard bingung.


"Mmm ... apa ya?" Reece berpikir sebentar.


"Ah ... atuh pahu!' seru Pram ikut-ikutan.


"Apa Baby?" tanya Reece.


"Pita janan matal, janan pusyahin Mama," jawab Pram serius.


"Oh iya ya ... itu juga peulbuatan baik," sahut Reece.


"Kamu pintel Baby!" lanjutnya memuji.


Pram tersenyum senang mendengar pujian itu. Adelard dan Aidan bertepuk tangan ikut memuji kepintaran Pram.


"Kalo begitu kita sekalang bantuin Mama yuk!" ajak Reece.


Semuanya mengangguk. Reece, Tita, Maiz dan Pram menuju Manya yang sedang berkutat di dapur.


"Mama ... apakah Lees boleh bantuin?" ujar Reece pada kakaknya itu.


Seven A tengah bermain bersama Liam dan Aislin. Aldebaran dan Ramaputra belum datang bersama anak-anak angkat mereka. Hari ini rumah Manya kembali jadi tempat untuk makan siang. Jovan sedang mencari mansion agar semua bisa menginap di sana.


"Sudah kalian duduk manis saja. Itu sudah membantu Mama sayang," ujar Manya dengan senyum.


"Pati pita bawu peulpuat pait Mama," ujar Maiz dengan mata memohon.


"Oh ... sayang, Mama senang sekali kalian bantuin Mama. Tapi kalian sudah cantik dan rapi. Bagaimana nanti sore aja bantuin Mama bikin kue sus?" tawar Manya.


"Baitlah!" sahut Tita menurut.


Reece akhirnya juga menurut, balita itu kembali ke taman belakang. Tak lama rumah Manya sudah penuh dengan anak-anak. Mereka berceloteh riang. Reece tak berhenti bertanya pada kakak-kakaknya.


"Lees juga mau sekolah tahun depan!" ujar Reece bangga.


"Wah ... Reece udah gede ya," ujar Dina.


"Iya don ... masa kesil melulu," sahut Reece.


Semua tersenyum lebar mendengar perkataan Reece. Setelah makan siang Manya meminta semua anak tidur siang. Perut wanita itu sudah mulai terlihat.


"Sayang, kamu juga harus banyak istirahat," pinta Demira.


"Iya Grandma," ujar Manya menurut.


Wanita itu merebahkan diri di ranjangnya. Ia mengusap perutnya yang sudah mulai membuncit. Tak lama Manya sudah terlelap. Jovan masuk ke kamar melihat istrinya yang tertidur.


Perlahan pria itu naik ke ranjangnya lalu mengusap perut sang istri. Jovan mengecup mesra kening Manya.


"Kau lelah sekali sayang?' ujarnya lirih.


Jovan memilih bangkit dari ranjang dan mengurusi dirinya sendiri. Ia memang sudah begitu tergantung dengan istrinya. Pria itu tidak bisa hidup tanpa Manya.


Usai mengurusi dirinya. Jovan turun dan langsung makan siang, Maira sang ibu membantunya. Jovan memang semanja itu pada ibunya.


"Kau masih manja ternyata," ledek Aldebaran.


"Daddy, jangan mengatai diri sendiri. Ingat, kau juga manja," balas Abraham meledek.


Aldebaran berdecak kesal. Pria gaek itu memang manja pada istrinya bahkan dulu ketika masih bersama Leonita, Aldebaran juga harus diurusi wanita yang entah bagaimana nasibnya di penjara.


Jovan tak mau ambil pusing dengan semuanya. Usai makan, pria itu kembali ke perusahaan bersama Praja dan Rudi. Tiga pria tampan itu memang jadi magnet bagi para kaum hawa.


"Astaga ... mereka tampan sekali," puji salah satu karyawati.


Jovan mengangguk, mereka bertiga masuk ke dalam ruang tamu. Rudi yang menjabat CEO di perusahaan Ramaputra, juga ikut dalam rapat bisnis.


"... jadi seperti itu penjelasannya! Apa ada yang kurang jelas?" tanya Jovan setelah mereview kontraknya.


"Ini bagus sekali Tuan, kami pasti langsung setuju!" ujar pria dari Brunei Darussalam dengan logat melayunya.


Rudi mengangguk setuju begitu juga kolega yang lain. Proyek baru akan dicanangkan. Bahkan utusan dari perusahaan baja milik Black Dougher Young sangat puas dengan review Jovan.


"Ternyata apa kata dari Tuan Kean Black Dougher Young tentang anda itu benar adanya," ujar pria itu sambil menyalami Jovan.


"Oh ya, apa Tuan berkenan untuk datang di pernikahan Nona Aisya Hugrid Dougher Young?" ujar pria itu lalu menyerahkan satu surat undangan yang begitu ekslusif.


"Tentu Tuan!" sahut Jovan senang, "ini kehormatan bagi saya!"


Pria itu pun pergi bersama asistennya. Jovan membuka surat itu dan melihat siapa calon suami dari Aisya Hugrid Dougher Young, putri dari Darren Hugrid Dougher Young.


"Astaga, CEO ternama dari Nusa Tenggara Timur, yang telah menjadi pengawal selama delapan tahun!" seru Jovan.


"Tau dari mana Kak?" tanya Rudi.


"Ini di bawah nama calon mempelai pria masih ditulis profesinya," tunjuk Jovan.


"Bodyguard SaveLived, aku yakin dia juga salah satu ketua pengawal!" terka Jovan lagi.


"Apa aku bentuk Pram dan menyekolahkannya masuk SaveLived agar bisa berjodoh dengan keturunan Dougher Young, Pratama, Triatmodjo, Starlight, Sanz, Dewangga, atau Budiman?" tanya Praja.


"Mungkin harus begitu. Buktinya semua orang tua memilih orang-orang yang mereka kenal secara dekat," jawab Jovan.


"Iya mereka mempercayai orang-orang terdekat mereka," sahut Praja setuju.


Pertemuan usai, beberapa karyawati hanya bisa mengagumi atasan mereka dari jauh. Tiga pria tampan itu memang sulit sekali didekati.


Sementara itu di rumah Manya sudah sepi. Semua anak sudah pulang dibawa oleh orang tua mereka.


"Reece, Liam, Tita, Maiz, Aislin nggak mau nginep di rumah Mama?" tanya Manya sedih.


"Maaf Mama. Iam mau temenin mommy dulu ya," jawab Liam begitu dewasa.


"Ais judha!' sahut Aislin.


Denna senang dua anaknya mau pulang. Gerard tidak datang karena sedang berada di luar kota, Denna datang bersama Clara.


Ten A juga sedih ditinggal oleh semuanya. Manya masuk rumah setelah kedatangan suaminya. Jovan juga tak bisa melarang semua adiknya ikut orang tua mereka.


"Papa ditinggal?"


"Besok Papa ke mansion Mama kan?" ujar Anwar.


Jovan mengangguk sambil mencebik bibirnya. Pria itu melambaikan tangan. Praja juga pulang membawa istri dan putranya.


"Tak bisa kah kalian menginap?" pinta Manya.


"Maaf Dokter," ujar Saskia.


"Mama ... makan malamnya apa?" tanya Jovan tak semangat.


"Ini ada daging iris bumbu barbeque, lalu sayur jagung, tumis pare, ikan dan tempe goreng juga sambel terasi," jawab Manya.


Usai makan malam Baik Jovan dan Manya menemani tujuh anak kembarnya belajar. Triple A ikut belajar bersama kakak mereka.


"Mama, kata Anton kita sudah dapat tanah untuk pembangunan masjid loh," ujar Bhizar memberitahu.


"Oh ya ... cepat sekali?" ujar Manya kagum.


"Iya Ma. Lokasinya di dekat kampung Pak Sidik. Di sana masjid jauh harus naik angkot atau motor. Banyakan mushola," jawab Abi kini.


"Ya sudah, Mama serahkan semua pada kalian. Yang penting kalian amanah ya," ujar Manya lagi.


Seven A mengangguk tanda mengerti. Akhirnya selesai belajar semua anak naik tempat tidur. Manya merebahkan dirinya di ranjang sambil terus mengelus perutnya.


"Sayang," Jovan memeluk sang istri mesra. Keduanya pun tertidur lelap.


bersambung


next?