
Pagi menjelang, keributan kembali terjadi di rumah Manya. Suara didominasi oleh Jovan dan semua anak-anak. Manya harus sigap melayani mereka semuanya.
“Mama ... kaus kaki Lika yang gambal stobeli mana?” tanya balita cantik itu.
“Mama, Laina nggak nemuin tas Laina!”
“Mama Bhizal nggak punya sepatu!”
“Ma, kaos kaki Papa Yayah mana?” tanya Jovan.
“Mama mawu pup!” pekik Adelard langsung membuka celananya.
Bayi yang mau dua tahun itu berjongkok di lantai, hingga membuat Saskia langsung mengangkat tubuh kecil bayi tampan yang nakal itu ke atas closed. Bukan hanya Adelard berkelakuan seperti itu, Aqila dan Aidan pun sama. Hal itu membuat Manya mengurut keningnya.
“Lika, kalau kaos kakinya nggak kelihatan pakai yang lainnya Nak, Laina tas kami ada di lemari belajar, Abraham sepatu kamu satu lemari, di mana yang nggak punya itu!” ujarnya. ‘'Kaos kaki papa ada di laci nomor dua paling bawah!”
“Lika maunya yan stobeli Mama ...,” rengek balita itu.
“Baby ... jangan buat Mama naik darah ya!” pinta wanita itu.
“Mama ... pemanan dalah Mama mawu temana?” tanya Aqila yang sedang dipakaikan celana.
“Memangnya dalah Mama bisa naik angkot?” tanya Abi bingung.
Manya tak bisa menyahuti pertanyaan itu. Ia hendak tersenyum tapi kebisingan setiap pagi ini benar-benar membuatnya nyaris darah tinggi. Akhirnya wanita itu membantu putrinya mencari kaos kaki yang diinginkannya. Mengambil tas Laina dan sepatu Bhizar, tak lupa memasang kaos kaki pada suaminya.
Dari semua anak. Memang hanya Agil, Abi, Abraham dan Syah yang lebih mandiri di banding saudara kembar lainnya. Sedangkan triple A memang masih terlalu dini untuk mandiri. Mereka latah jika kakak-kakanya sibuk.
Akhirnya semua beres, sang suami sudah tampan dengan setelan fomal mewahnya sedang tujuh anak kembar sudah rapi dengan seragam mereka. Anton datang dan menunggu mereka di luar bersama sang ayah. Usai sarapan seven A berangkat terlebih dahulu, baru setelahnya Jovan berangkat bersama Praja.
Rumah kembali sepi, Amertha datang bersama putranya. Wanita itu tak bisa menahan Reece untuk diam di mansion padahal semua mainan ada di ruangan khusus. B
ayi itu akan mengamuk pada ibunya jika tak pergi ke rumah kakak perempuannya.
“Bistel ... atuh datan!” serunya ketika masuk rumah.
Seperti biasa ia membuka sepatu dan meletakkannya begitu saja. Bayi itu akan langsung duduk di meja makan dan meminta sarapannya. Manya yang tau, langsung memberikan nasi goreng sosis pada bayi sok bossy itu.
“Ini Boss!”
“Ata’, buapin!” pintanya.
“Pom teusil ... tami sazha matan beuldili. Pasa Pom binta pipuapin!” protes triple A kompak.
“Janan melalan Pom ... tamu dulhata!” sahut Reece seenaknya.
“Mom?” Manya menatap ibunya.
“Dari mana perkataan Reece?” tanyanya.
“Kau lupa ketika mendengar kisah dari istri Pak Sidik?” sahut Amertha mencebik kesal.
“Oh ... tentang Malin Kundang?” Amertha mengangguk.
“Astaga anak ini,” Manya menggeleng dan menyuapi adiknya.
“Daddy mana Mom?” tanyanya kemudian.
“Mama ... pita judha mawu pisusapin!” pinta triple A.
“Moma yang suapin ya,” tawar sang nenek.
“Baitlah,” ujar ketiganya setuju.
“Daddymu langsung ke kantor tadi nggak sempat masuk,” jawab Amertha sambil menyuapi triple A bergantian.
Manya mengangguk tanda mengerti. Usai memakan sarapan keempat bayi itu bermain di taman belakang. Mereka tengah mendiskusikan sesuatu hal penting. Yakni tentang cerita malin kundang kemarin.
“Pemana teunapa denan Palin Pundan ipu Pom?” tanya Aqila.
“Atuh panya heyan denan nanat Pundo Malin yan peulnama Pande Lupiah ipu,” jawab Reece tak habis pikir.
“Teunapa heyan?” tanya Adelard.
“Pasa ada nanat yan eundat pawu menatui pibuna!” jawab Reece lagi kesal.
“Tan ipu banya selita Pom Teusil, eundat lada beunelan,” sahut Aidan remeh.
“Pahu dali mana?” tanya Aidan tak percaya.
“Popa yan pilan! Lada peulitana bi lintelmet!” jawabnya yakin.
“Talau tat peulsaya, panya Mama!” lanjutnya.
“Ma ...!” panggil triple A.
Memang Manya kembali tak masuk bekerja hari ini. Ia tidak ada jadwal operasi juga praktek. Wanita itu lebih memilih di rumah melihat tumbuh kembang anak-anaknya.
“Kenapa Babies?’ sahutnya.
“Mama pa’a beunel Balin Sundan ipu lada?” tanya Aidan dengan mata bulat.
Reece melipat tangannya, ia begitu yakin dengan jawaban kakak perempuannya itu jika Malin kundang itu ada. Ingin wanita itu mengerjai sang adik, tetapi kisah legenda itu memang begitu melekat di ingatannya.
“Benar Babies. Malin kundang itu ada,” akhirnya ia tak bisa bohong.
“Bana butitna?”
Manya merogoh saku dan mencari portal berita tentang Malin Kundang berikut fotonya. Para bayi berdecak tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Batu karang itu benar-benar mirip dengan orang yang tengah bersujud meminta ampun.
“Mama tasihan Balin Sundan padhi patu,” ujar Adelard iba.
“Kok kasihan?” tanya Manya.
“Biya, Aidan sanat yatin Mamana Palin Bundan basti nayis peutelah tutut nanatna padhi patu!” lanjutnya berasumsi.
“Benar baby, Mande Rubiyah ibunya Malin Kundang menangis dan menyesal telah mengutuk putra kesayangannya. Ibu Malin meninggal di atas putranya yang telah menjadi batu,” jawab Manya.
Walau sebenarnya kisah itu adalah bohong, tetapi untuk sebuah dongeng sebelum tidur yang penuh dengan nilai, agar seorang anak tak boleh durhaka pada orang tuanya terutama terhadap ibu. Kisah itu masih santer terdengar hingga sekarang.
“Padhi talian pidat poleh beulawan lolan yan peubih puwa!” sahut Reece sok bijak. “Pom teusil imi peubih puwa dali talian!”
“Pidat pisa ... pidat pisa!” tolak triple A sambil menggeleng.
“Woh teunapa, atuh beman peubih puwa!” sahut Reece tidak terima.
“Pom teusil ... sumul pita zyama, balahan puluan pita woh lahinna!” sahut Aidan memberitahu.
“Pati atuh adit Mama talian!” sahut Reece tak terima.
“Talo adit Mama ... janan pandhil Mama judha!” sahut Adelard kini. “Pandhil Ata’ Banya!”
“Mama pidat seubelatan tot!” sahut Reece santai. "Iya tan Mama?”
“Talian judha eundat inat, atuh judah mimit tutu Mama teumalin yan lasa andul!” lanjutnya mengingatkan.
“Zadhi atuh nanat mama judha!”
Manya gemas dengan kecerdasan adiknya itu. Ia menciumi Reece dengan gemas, sedang triple A mencerna perkataan om kecilnya.
“Peubeultina lada yan pidat peles,” ujar Aqila menggosok dagunya.
“Atuh judha beulpitil semitian,” sahut Aidan sependapat.
“Lada yan tat peles imi. Pasa adit pisa padhi nanat mama?” sahut Adelarfd tak terima.
“Pati pisa padhi beuditu woh,” sahut Aqila tiba-tiba.
“Badhaipana pisa bedithu?” tanya Aidan menyangkal.
“Papa Yayah suta penen mimit tutu Mama tan?” sahut Aqila mengingat momen di mana ayah mereka minta susu pada istrinya.
“Beulalti Papa Yayah sudha nanat Mama!” lanjutnya berasumsi.
Ainda dan Adelard menggaruk kepala mereka yang gatal. Amertha dan Manya begitu gemas dengan percakapan keempat bayi sok tau itu. Sang ibu telah merekam percakapan dan mengirimkan via chat grup yang langsung disambut heboh semua anggota.
Bersambung.
Dah lah heboh aja mereka!
Next?