
Esok pagi. Ramaputra dan Amertha mengantar putrinya ke bandara milik pribadi Keluarga Artha. Irham dan Renita menggunakan jet pribadinya sendiri untuk membawa mereka ke kota M. Amertha memeluk dan menciumi wajah Leticia.
"Mommy akan merindukanmu sayang. Jika ada waktu, mommy dan daddy akan mengunjungimu," ujar wanita itu dengan mata berkaca-kaca.
"Kalian boleh mengunjunginya kapanpun kalian mau," ucap Renita.
Wanita itu memeluk Amertha dan mengucap banyak terima kasih.
"Maaf jika kemarin aku egois. Kau tau tiga puluh tahun itu waktu yang lama," ujarnya minta dimengerti.
Amertha sangat paham akan keadaan Renita. Ia juga berat ketika tau putri yang selama ini ia rawat ternyata bukan putrinya.
"Aku titip putriku," ujarnya lirih.
"Jangan khawatir, dia akan bahagia bersama kami!" janji Irham.
Ramaputra menjabat tangan pria itu dan mereka saling memeluk dan menepuk bahu. Rama juga mencium kening putrinya lama.
"Maafkan aku daddy, aku membuatmu kecewa," Rama menggeleng.
"Tidak sayang, kau adalah putriku yang terbaik yang aku miliki," ujar pria itu jujur.
"I love you daddy ... mommy!"
Leticia melambaikan tangan ketika Irham mendorong kursi rodanya. Amertha menangis melihat kepergian putrinya.
"I love you sayang!" teriaknya sebelum gadis itu menghilang. Amertha memeluk suaminya dan menangis di dada bidangnya.
"Sayang ... putri kita ... putri kita!" isaknya.
Ramaputra juga sedih, pria itu sudah merawat gadis itu walau selalu bersama mendiang ibunya dulu, Leticia adalah putri kebanggaannya.
"Sayang, dia tetap putri kita selamanya sayang," ujar pria itu menenangkan.
Sementara di sebuah ruangan. Sosok pria tampan yang tengah menangani beberapa berkas, ia menatap ponsel yang bergambar foto gadis idamannya.
"Sampai jumpa lagi nona, aku harap kita tetap berjodoh suatu kelak, walau itu tak mungkin," harap pria itu.
Ramaputra menjadwalkan pertemuan dengan Jovan Dinata. Pria itu akan membicarakan perihal pernikahan ulang pada menantunya itu.
Ramaputra telah menyelidiki semuanya tentang pernikahan mendadak antara putrinya dengan pria itu.
Ia cukup terkejut ternyata yang terbawa catatan rumah sakit adalah milik pria itu sendiri makanya Jovan menikah sah karena Manya memakai nama ayah aslinya.
"Terima kasih Tuhan. Kau mudahkan putriku yang malang dengan pernikahan sah, jadi seluruh cucuku bukan anak hasil di luar nikah," ucapnya lega.
Amertha mendengar hal itu juga sangat bersyukur. Semua memang sudah menjadi takdir bagi anak perempuannya itu.
Ramaputra kini berada satu meja makan dengan Jovan menantunya. Pria itu juga membawa ayah juga kakeknya. Abraham dan Aldebaran.
"Jadi dia adalah putrimu yang tertukar?" tanya Aldebaran sedikit merasa lucu.
"Iya tuan," jawab Ramaputra sedikit tersenyum.
"Sudah macam FTV saja kisah cucu menantuku itu," kekeh pria itu.
Jovan menyenggol sang kakek dengan bahunya agar menjaga ucapannya.
"Apa sih!" sahut pria itu tak peka.
Abraham sedikit berdecak. Pria itu buru-buru meminta maaf.
"Maaf, ayahku terlalu ceplas-ceplos,"
"Tidak masalah, memang ada benarnya kok, kalau kisah putriku mirip FTV di stasiun televisi ikan terbang," sahut Rama dengan tersenyum.
"Tuh dia saja tak masalah," sahut Aldebaran merasa tak bersalah.
Ramaputra sedikit tersinggung, namun ia berusaha menahan diri. Ia memang pebisnis nomor satu saat ini. Tetapi, Aldebaran adalah legenda bisnis, pria itu juga dijuluki hantu atau monster bisnis. Ramaputra tentu harus berhati-hati jika berurusan dengan pria satu itu.
Mereka makan siang dengan diselingi obrolan ringan. Artha ingin menggelar resepsi besar sekalian mengumumkan jika Manya adalah putri yang akan mewarisi semua bisnis dan kekayaannya.
Aldebaran paling semangat mendengarnya. Ia malah mencetuskan ide-ide bisnis yang bisa dibangun keduanya jika melakukan kerjasama. Ramaputra menganga dengan ide yang dicetuskan oleh pria delapan puluh tahun itu.
"Ck ... dia bukan lagi legenda bisnis tetapi juga dewa bisnis!" kagum Rama dalam hati.
Mereka pun berpisah dan akan kembali merencanakan semua dengan persetujuan Manya tentunya.
"Aku belum melihat tujuh cucu kembarku," ujar Rama.
"Kau bisa mengunjunginya kapanpun kau mau Rama!" sahut Aldebaran.
Pria itu mengangguk. Ia akan datang besok bersama istrinya. Besok adalah hari Sabtu. Manya tak ada jadwal operasi dan juga praktek.
Leticia terpukau dengan kamarnya yang sudah seperti kamar putri raja. Renita benar-benar menepati janjinya. Wanita itu menempatkan empat maid yang mengurusi gadis itu.
"Ini adalah nona muda kalian. Hormati dia, jika ada yang berani mencela atau protes dengan sikapnya. Silahkan kalian keluar dari mansion ini dan jangan pernah berharap bisa bekerja di manapun!" ancam Renita dengan tatapan tajam pada semua maid yang berkumpul di kamar anak gadisnya.
"Sayang, apa kau suka kamarmu?" tanya Irham lembut.
Leticia mengangguk antusias.
"Papa lapar, apa aku boleh minta sup sosis?"
"Tentu sayang, mama akan memasaknya untukmu!" jawab Renita antusias.
Wanita itu akan belajar memasak mulai sekarang. Ia ingin sama dengan Amertha yang selalu dipuji oleh putrinya.
Leticia mengangguk senang. Irham membantu putrinya mengganti pakaian. Pria itu benar-benar ingin menggantikan sosok Ramaputra di mata putrinya itu.
"Memang butuh waktu, tapi tak masalah, asal kau mencintai kami lebih, nak," gumamnya pelan.
Sedang Renita mulai ribut dengan semua alat masak di dapur mewahnya. Wanita itu bertanya semua alat masak pada para maid yang ada di sana. Tentu saja maid menjelaskan apa saja benda yang dipegang oleh majikannya itu.
Masakan sudah siap. Renita mencicipi sendiri masakannya. Bumbunya pas dan tidak keasinan itu yang penting baginya.
"Ini enak nyonya besar, sungguh!" ungkap maid yang mencicipi masakan majikannya.
"Kau tidak bohong kan?'
"Tidak nyonya. Saya. mana berani!" sumpah maid itu tegas.
Renita menghidangkan masakannya di meja. Ia takut sekali. Ada ikan goreng yang sedikit hancur karena ketika menggoreng minyaknya belum panas hingga membuat kulitnya lengket.
Leticia menyuap sup kesukaannya itu, memang rasanya sedikit berbeda dengan masakan yang dibuat oleh Amertha. Tapi, gadis itu mengakui jika masakan ibu kandungnya ini benar-benar enak.
"Enak ma ... sungguh!" pujinya jujur.
Irham penasaran. seumur hidupnya ia tak pernah memakan masakan istrinya. Ia mencoba masakan itu.
"Benar sayang. Ini enak sekali!" pujinya sungguh-sungguh.
Renita terharu. Masakan pertamanya tidak gagal. Ia pun kini memakan lahap hasil olahannya yang menurutnya biasa saja di lidahnya itu.
Sore hari menjelang. Ramaputra kini sudah berkunjung ke mansion mewah milik Abraham.
Tujuh bayi yang sama wajah dengan bibit mereka, Aldebaran dan Jovan.
"Babies ... ini Oma dan opa kalian," ujar Manya memperkenalkan kedua orang tuanya.
"Nah mereka adalah papa dan mamanya mama," jelasnya.
Tujuh bayi menggaruk kepala mereka hingga rambutnya acak-acakan. Ramaputra terbahak melihat tingkah lucu ketujuh cucunya.
"Tlus ... pita pandhil pa'a mama?" tanya Abi bingung.
"Ya sama Oma dan opa," jawab Manya.
"Popa pama moma judha?" tanya Bhizar memastikan.
"Benar baby, mereka opa dan oma kalian juga karena mama adalah anak mereka berdua," ujar Maira menjelaskan.
"Oooo ... Mama nanat meuleta toh!" sahut semuanya mengangguk.
"Moma ... moma bunya tutu lasa lupeli?" tanya Syah.
"Hah, apa?" tanya Amertha tak mengerti.
Manya menjelaskan pertanyaan anaknya itu. Amertha tertawa mendengarnya.
"Nanti moma belikan ya," ujar wanita itu.
"Pidat busah moma. Mama bunya tot tutu syemua lasa!' sahut Lika mengangguk.
"Oh ya, apa kau punya pabriknya?" tanya Amertha bingung.
"Bablit pa'a?" tanya Abraham bingung.
"Buntin pisyimi mama lada bablitna!" tunjuk Laina pada dada ibunya.
bersambung.
iya baby ... di dada ibumu ada pabrik susu.
next?