
Akhirnya ujian pun tiba. Semua anak sudah. bersiap di tempat duduk mereka. Tak ada yang boleh mencontek. Guru selalu berjalan mengitari anak-anak. Manya melihat itu dari kaca jendela sekolah. Ia sebal bukan main dengan guru yang sangat otoriter.
"Apa-apaan sih! Itu baru kelas satu loh!' gerutunya kesal.
"Gimana anak bisa tenang menjawab jika diperhatikan sedemikian rupa!" sungutnya berapi-api.
"Tenang Dok," sahut Leni menenangkan dokter itu.
"Coba lihat Sus, jagainnya udah ngejagain maling aja. Koruptor aja nggak seketat itu kok penjagaannya!" dumal Manya.
Semua ibu menoleh pada wanita cantik itu lalu menatap kaca di mana guru sudah seperti malaikat pencabut nyawa.
"Nggak bisa dibiarkan. Ini menyangkut kenyamanan anak-anak kita!" sahut Manya.
Wanita itu bergerak diikuti semua ibu-ibu. Manya mendatangi kantor kepala sekolah dan mengajukan protes.
"Jika anak kami sampai depresi gara-gara penjagaan yang ketat begitu. Saya akan memindahkan semua anak saya di sekolah lain!" ancam Manya.
"Iya, kita juga mau pindahin anak-anak kita. Udah jagain apa aja sampai segitunya!" sahut ibu lain ikut protes.
"Bu ... kami memang terpaksa melakukan itu agar anak tidak melakukan kebiasaan buruk sejak dini!" sahut kepala sekolah membela diri.
"Nggak gitu juga kali. Anak-anak kami baru kelas satu. Mereka belum mengerti, jika pun salah jangan dihukum seakan-akan kesalahannya tak termaafkan!" sentak Manya.
"Koruptor aja masih bisa calonin diri jadi anggota legislatif. Ini ngalah-ngalahin pemasok narkoba!" gerutu Manya.
Akhirnya guru killer itu dipanggil dan dipindahkan ke kelas lain benar saja, kepergian guru killer tadi membuat anak-anak berani menangis. Mereka minta pulang dan tidak mau sekolah.
Seven A juga ketakutan, mereka belum mengisi satu soal pun karena takut bergerak.
Keributan di kelas satu A membuat semuanya sibuk. Ibu-ibu akhirnya membawa anak mereka pulang dan memaki sekolahan.
"Dasar nggak berprikemanusiaan! Ini baru kelas satu dia udah jahat banget. Jika diteruskan bisa-bisa anak saya juga takut untuk bernapas!" seru salah satu wali murid.
"Mama pulang Ma!" pekik rata-rata anak.
Anton juga menangis bersama Nita. Keduanya nyaris kehabisan napas. Karena setiap ia menulis, guru itu berdehem dan berdiri di sisi mereka lama.
"Jangan nyontek. Kamu lirik-lirik jawaban teman kamu!" tekan guru itu.
Padahal teman sebangkunya juga belum menulis jawaban apapun. Manya melihat soal yang diberikan pada anak-anak.
"Apa-apaan ini. Bu mana mereka tau apa itu kalimat subjek, predikat objek dan keterangan!" teriak Manya.
Semua ibu melihat soal yang diberikan pada anak-anak. Sungguh pertanyaan itu akan sulit dikerjakan oleh anak kelas satu SD.
"Apa soal ini nggak keterlaluan! Mereka baru saja bisa baca Bu ... baru bisa nulis juga!" teriak salah satu ibu.
"Kami hanya membagikan saja. Semua soal disesuaikan kurikulum seluruh sekolah di rayon kami. Jadi itu soal yang dibagikan memang untuk anak kelas satu SD!" sahut kepala sekolah tak mau disalahkan.
"Pantas saja anak-anak bukan fokus pada pelajaran jika sulit seperti ini!" keluh salah satu wali murid.
"Kami hanya menjalankan prosedur direktorat pendidikan saja, Bu!"
"Jadi ibu-ibu lah yang membantu kami mengajari hal lain selain pelajaran sekolah!" lanjutnya.
"Enak banget ngomong kayak gitu!" teriak ibu-ibu mulai emosi.
"Kalau kita mah pengen anak-anak nggak usah sekolah! Cukup bisa baca tulis agar tak dibodohi orang!" sahut salah satu wali murid marah.
"Ya silahkan, kan yang susah cari pekerjaan anak ibu," sahut kepala sekolah santai.
"Oh ... mau nantangin apa! Guna kamu sebagai guru apa! Hah!" sentak wali murid tadi.
"Mak dikipe, ngadi-ngadi aja ini orang ya!" lanjutnya.
"Bu ... yang berpendidikan tinggi saja sulit berjuang dalam menggapai karier. Apa lagi jika tak memiliki pendidikan!" sahut Kepala sekolah.
"Kami minta ulangan susulan!" teriak ibu-ibu.
"Kalau nggak dikabulkan saya akan robohkan sekolah ini!" ancam ibu-ibu itu.
Akhirnya, anak-anak diperbolehkan pulang dan akan mendapatkan ulangan susulan. Manya menenangkan seven A yang masih ketakutan.
"Sayang," Manya memeluk seven A dengan penuh kasih sayang.
"Ata'," triple A dan Liam sedih melihat tujuh kakaknya masih gemetaran.
"Ih ... peubelin ... soba aza Lees pudah dedhe!" sungut Reece mengepal tinjunya.
"Lees pubuhin ipu sekolah setalian ibu duluna!" lanjutnya emosi.
Manya terkekeh geli melihat ekspresi Reece yang lucu. Maira dan Amertha mengambil tujuh cucu mereka. Bersama para suster mengganti baju semuanya.
"Jangan takut lagi sayang," ujar Maira lirih.
Tubuh Bhizar masih gemetaran. Wanita itu memeluk erat, ia akan melaporkan ini ke dewan pendidikan pusat. Guru-guru otoriter harus ditiadakan di seluruh sekolah. Terlebih bukan jamannya lagi memakai kekerasan dalam menangani anak-anak.
'Moma janji, hal ini tidak akan terjadi lagi," ujar wanita itu.
Abraham mendengar masalah yang menimpa tujuh cucunya. Melalui kekuasaannya, ia menuntut pihak departemen pendidikan untuk mengatur lagi soal ujian anak dan juga guru-guru killer.
"Cucu saya sampai ketakutan hingga tubuh mereka gemetaran!" teriaknya di departemen itu.
"Kami akan membicarakannya dengan dewan kabinet!" janji salah satu staf.
"Berengsek!" maki Abraham emosi.
Pria itu mengadu di Komnas perlindungan anak. Jawaban sama lagi-lagi ia terima dari ketua organisasi itu.
"Kami akan mendiskusikan hal ini di dewan rapat nanti!"
"Sialan!" maki Abraham lagi.
"Jika begini terus. Maka jangan salahkan pihak asosiasi pengusaha bergerak menciptakan perekrutan kerja. Abraham akan membentuk dewan independen yang menarik para putra dan putri putus sekolah. Mereka akan dibiayai sekolah di luar negeri jika lulus seleksi dan akan dipekerjakan di perusahaan dan bisa memangku jabatan sebagai staf di grade dua hingga personalia.
"Ijazah kalian tak akan berguna jika aku menciptakan sistem ini!" seringainya penuh dendam.
"Deon!" panggilnya pada sosok pria besar yang selalu bersamanya kini.
"Saya Tuan!" sahut pria itu.
"Bentuk komite pada semua perusahaan yang mau mencari bibit-bibit berbakat tapi tak memiliki biaya di luar sana untuk kita kembangkan. Buat proposal perjanjian pada mereka yang ikut serta dan lolos agar mengabdi pada perusahaan sampai mereka pensiun!" titahnya.
"Baik Tuan!" sahut Deon membungkuk hormat.
Pria besar itu langsung melakukan lobi pada perusahaan. Tentu saja beberapa perusahaan begitu berminat. Bahkan perusahaan spesifik, seperti kelistrikan, permesinan dan juga sirkulasi internet ikut bergabung dalam aliansi.
"Tuan, kami butuh nama dan naungan perusahaan!" lapor Deon.
"Buat nama berantas pengangguran dan mengentaskan kebodohan!" jawab Abraham. "Letakkan nama perusahaan kita untuk menaungi mereka!"
Adanya gerakan pengambilan anak-anak putus sekolah tapi berprestasi, menjadi sorotan. Perusahaan Hudoyo, Black Steel Company, Triatmodjo, Starlight, Sanz, Dewantara dan Budiman ikut serta dalam kelompok tersebut.
"Banyak anak-anak tak sekolah karena dianggap biang masalah oleh guru-guru mereka. Sudah selayaknya kita merekrut mereka dan memberi kesempatan untuk menunjukkan diri jika mereka bukanlah beban keluarga!" Tugas Muhammad Kean Black Dougher Young mendukung gebrakan yang dilakukan oleh Presiden direktur Dinata Corp.
bersambung.
Ah ... andai nyata ada kek Popa Abraham ... othor pasti nggak nganggur.
Next?